Di era media sosial, menjadi tokoh publik itu mirip hidup di akuarium: semua gerak terlihat, semua napas dikomentari, dan kalau salah gerak sedikit, langsung dituduh ikan asing. KH. Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya, Ketua Umum PBNU, tampaknya sedang merasakan versi paling ekstrem dari hidup berakuarium itu. Ia dituding macam-macam, dari “liberal kebablasan” sampai “agen Zionis”—sebuah jabatan misterius yang, entah mengapa, selalu muncul tanpa SK pengangkatan.
Menariknya, respons atas tuduhan ini bukan berupa
klarifikasi sambil mengepalkan tangan, bukan pula debat kusir di kolom
komentar. Justru sebaliknya: disodorkanlah transkrip dialog. Ya, teks.
Tulisan. Benda kuno yang jarang dibaca tuntas, tapi tiba-tiba jadi senjata
pamungkas. Di tengah budaya copas judul tanpa klik, strategi ini terasa
nyeleneh sekaligus jenaka: melawan fitnah digital dengan dokumen lengkap.
Seperti memadamkan kebakaran hoaks pakai air galon isi ulang.
Tabayyun ala Pesantren: Baca Dulu, Baru Marah
Tulisan yang dianalisis ini diam-diam sedang menyindir
kebiasaan baru umat modern: share dulu, pikir belakangan. Dengan
memaparkan terjemahan dialog Gus Yahya di forum Yahudi internasional, penulis
mengajak pembaca melakukan tabayyun versi pesantren: “monggo dibaca dulu,
silakan kalau mau tidak setuju, tapi minimal tahu isinya.”
Efeknya lucu sekaligus ironis. Tuduhan yang semula
dimaksudkan untuk menjatuhkan justru memancing rasa ingin tahu warga NU. Dan
warga NU, seperti santri menemukan kitab kuning baru, punya kebiasaan khas:
dibaca pelan-pelan, sambil ngopi, sambil mikir, sambil nyengir. Fitnah pun
kehilangan daya magisnya. Ternyata, kebisingan paling ampuh memang bisa
dipatahkan oleh kesunyian fakta.
Bukan Zionis, Ini Cuma Ponakan Gus Dur
Dari transkrip itu, terlihat jelas bahwa Gus Yahya bukan
sedang membuka cabang diplomasi rahasia, melainkan melanjutkan warisan
keluarga: legacy Gus Dur. Kalau Gus Dur dulu dikenal hobi dialog lintas
iman—bahkan ke tempat yang bikin sebagian orang gatal—Gus Yahya tampaknya hanya
meneruskan tradisi itu dengan gaya lebih sistematis dan jargon lebih akademik.
Ia tidak memosisikan diri sebagai pembaharu revolusioner,
apalagi tokoh kontroversial dadakan. Ia tampil sebagai ponakan yang taat
silsilah: “Ini bukan ide baru, ini warisan keluarga.” Dan di NU, silsilah itu
penting. Kalau sanad-nya jelas, tuduhan biasanya langsung loyo. Mau bilang
menyimpang? Lah, ini jalur lama, cuma diperbaiki cat-nya.
Teks Suci, Sejarah, dan Ketakutan pada Kata ‘Konteks’
Bagian paling “menegangkan” bagi para penggemar literalisme
tentu ketika Gus Yahya bicara soal reinterpretasi teks. Kata “problematic” di
dekat ayat dan hadis terdengar seperti alarm kebakaran bagi sebagian kalangan.
Padahal, yang dimaksud Gus Yahya bukan membongkar Al-Qur’an, melainkan
membacanya dengan kacamata sejarah—sesuatu yang di pesantren NU sudah dilakukan
sejak lama, hanya biasanya tanpa istilah keren.
Ia memperlakukan sebagian teks sebagai rekaman respons
historis, bukan manual konflik abadi. Ini bukan liberalisme impor, melainkan
ijtihad klasik yang dikemas ulang. Senjatanya bukan slogan, tapi rahmah.
Dan di sinilah letak kelucuannya: ekstremisme dilawan bukan dengan teriakan,
tapi dengan kasih sayang. Ibarat diserang pakai pentungan, lalu dibalas dengan
senyum dan catatan kaki.
Rahmah: Kata Lembut yang Ditakuti Banyak Orang
Ketika Gus Yahya mengangkat konsep rahmah sebagai fondasi,
sebagian orang mungkin kecewa: “Kok tidak teriak Palestina? Kok tidak menyebut
penjajah?” Tapi justru di situ manuvernya. Ia tidak bermain di level slogan
politik yang sudah macet, melainkan naik kelas ke pertanyaan dasar: agama
ini mau dipakai buat apa?
Rahmah, dalam kerangka ini, bukan basa-basi. Ia adalah
kritik halus terhadap agama yang berubah jadi mesin kemarahan. Tanpa rahmah,
keadilan mudah tergelincir jadi balas dendam. Dan di dunia yang penuh konflik,
pesan semacam ini memang berisiko disalahpahami—terlalu lembut untuk yang
terbiasa keras, terlalu filosofis untuk yang ingin cepat viral.
Dialog Itu Risiko, Tapi Diam Itu Bunuh Diri
Tentu saja, pendekatan ini tidak tanpa masalah. Bagi
kalangan anti-normalisasi, dialog di Yerusalem tetap terasa seperti zona
terlarang. Sementara bagi aktivis politik, fokus pada etika universal bisa
dianggap mengaburkan ketidakadilan struktural. Ini dilema klasik dialog
antaragama: kalau terlalu normatif, dibilang kabur; kalau terlalu politis,
dibilang partisan.
Namun tulisan ini tampaknya sadar betul akan risikonya. Ia
tidak menawarkan solusi instan, apalagi klaim suci. Ia hanya menyodorkan satu
hal yang makin langka: berpikir pelan-pelan di tengah dunia yang suka cepat
marah.
Penutup: Transkrip sebagai Amalan Sunah
Pada akhirnya, tulisan ini bukan sekadar pembelaan Gus
Yahya. Ia adalah manifesto mini Islam Wasathiyah ala NU: tenang, berlapis, dan
agak susah dipahami kalau bacanya sambil emosi. Di tengah zaman ketika agama
sering dipakai sebagai senjata, pendekatan ini terasa jenaka sekaligus
subversif: melawan ekstremisme dengan tabayyun, melawan fitnah dengan teks, dan
melawan kebencian dengan rahmah.
Dan mungkin, di situlah letak “bahayanya” bagi para penyuka
keributan: Gus Yahya tidak sedang sibuk membela diri. Ia sedang mengajak kita
semua membaca—dan di zaman ini, membaca adalah tindakan paling radikal. 📚😄
abah-arul.blogspot.com. ,Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.