Selasa, 23 Desember 2025

Dari Kue, Nilam, hingga Rumput Laut: Ketika Sains Indonesia Disuruh Turun ke Bumi tapi Diminta Bermimpi Setinggi Awan

Jika pidato biasanya membuat hadirin menguap sopan sambil menatap jam tangan, pidato Profesor Stella Christie justru dimulai dengan sesuatu yang berbahaya bagi konsentrasi: kue. Ya, kue. Bukan kue anggaran, tapi potongan kue ala Johann Radon. Dari situlah kita diingatkan bahwa kemajuan peradaban manusia—termasuk CT Scan—berawal dari pertanyaan sederhana: “Kalau kue ini dipotong dari segala arah, apa yang bisa kita pelajari?” Pertanyaan yang tampaknya sepele, tapi dampaknya membuat dokter bisa melihat isi tubuh kita tanpa harus membuka paketnya.

Dengan gaya seorang profesor yang sudah kenyang data tapi tetap ramah imajinasi, Profesor Stella mengajak kita percaya bahwa Google lahir bukan dari ritual mistik Silicon Valley, melainkan dari skripsi dua mahasiswa yang mungkin juga dikejar deadline. Pesannya jelas: jangan remehkan riset, sekecil apa pun. Hari ini riset tentang kue, besok rumah sakit, lusa IPO.

Namun pidato ini tidak berhenti di Amerika dan Eropa—tempat riset sering lahir di kampus megah dengan mesin kopi pintar. Profesor Stella membawanya pulang ke Indonesia, tempat logika sering tumbuh di kebun, laut, dan tempat pembuangan limbah. Daun nilam Aceh, misalnya, yang selama ini hanya kita kenal sebagai wangi minyak gosok atau parfum lokal, ternyata bisa naik kasta menjadi komoditas global. Limbah tulang ikan tuna—yang biasanya berakhir di tempat yang tidak ingin kita bicarakan—disulap menjadi kolagen kosmetik. Sebuah kemajuan sains yang sekaligus menghibur: ikan tidak hanya membuat kenyang, tapi juga bikin awet muda.

Puncaknya tentu saja rumput laut. Selama ini ia dikenal sebagai teman setia es cendol dan sushi, kini diproyeksikan menjadi bahan bakar pesawat. Bayangkan, suatu hari kita terbang ke luar negeri dengan pesawat yang tenaganya berasal dari rumput laut Lombok. Pramugari mungkin tidak lagi berkata “harap matikan ponsel Anda”, tapi “harap jangan lapar, karena pesawat ini aromanya agak laut”.

Di sinilah bagian “melangit” bekerja. Profesor Stella mengutip Stanford dan China dengan persentase PDB yang membuat universitas Indonesia refleks menarik napas panjang. Tapi alih-alih minder, kita diajak berkhayal terukur: universitas bukan hanya tempat wisuda dan jaket almamater, melainkan mesin ekonomi nasional. Bukan lagi kampus bertanya “lulusan mau kerja di mana?”, tapi industri bertanya “riset kampus mana yang bisa menyelamatkan bisnis kami?”

Pidato ini juga cerdik secara politik—dalam arti paling positif. Meritokrasi diumumkan kembali, kampus ditarik mendekat ke industri, riset direbranding dari “beban anggaran” menjadi “investasi masa depan”. Bahkan Profesor Stella memastikan bahwa inovasi bukan hanya milik para jenius berkacamata tebal yang bicara dengan papan tulis, tapi juga milik petani, nelayan, dan mahasiswa yang IPK-nya naik-turun tapi imajinasinya stabil.

Tentu saja, di balik optimisme ini ada realitas yang mengintip pelan-pelan. Anggaran riset kita masih sering diet, regulasi kadang lebih rumit dari rumus yang diteliti, dan mimpi biofuel harus bernegosiasi dengan ekologi, pasar global, dan teknologi yang tidak bisa di-copy-paste. Profesor Stella sendiri sadar, survei yang optimistis sering diisi oleh orang-orang yang memang sudah optimistis. Sisanya masih bertanya: “Ini riset buat siapa, dan kapan hasilnya bisa dirasakan?”

Maka pidato ini sejatinya bukan garis finis, melainkan starter pistol. Tepuk tangan boleh meriah, tapi yang menentukan adalah apakah setelah itu laboratorium benar-benar hidup, kolaborasi benar-benar jalan, dan rumput laut benar-benar terbang (secara metaforis, tentu).

Pada akhirnya, “Membumikan Sains, Melangitkan Imajinasi” adalah ajakan yang sederhana tapi menantang: berpikir serius tanpa kehilangan rasa ingin tahu. Percaya bahwa masa depan Indonesia bisa dibangun dari daun, tulang, dan ganggang—asal kita mau berpikir logis tentang yang remeh dan berani bermimpi tentang yang tampak mustahil. Karena siapa tahu, peradaban besar memang selalu dimulai dari pertanyaan kecil… sering kali sambil memotong kue. 🍰

abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.