Di Mahkamah Agung Amerika Serikat—sebuah tempat yang sering dianggap sebagai versi dewasa dari rapat kelas OSIS—hadirlah satu sosok yang suaranya bening seperti denting gelas kristal, namun isinya bisa membuat mayoritas konservatif tersedak kopi: Justice Ketanji Brown Jackson.
Sebagai hakim termuda sekaligus satu-satunya perempuan kulit
hitam dalam sejarah lembaga itu, Jackson seperti satu-satunya pemain jazz dalam
orkestra simfoni yang sangat yakin partitur Beethoven tidak perlu improvisasi.
Tapi masalahnya, improvisasi Jackson memang membuat ruangan hidup:
kadang jadi konser, kadang jadi kebakaran kecil.
Dissent: Ketika Tidak Setuju Menjadi Seni Bela Diri
Para hakim biasanya menulis perbedaan pendapat dengan bahasa
halus seperti “saya dengan hormat… berbeda pandangan.” Jackson? Ia menulis
dissent seolah-olah membuat poster kampanye “Ingatkan Negara Sebelum
Terlambat”.
Dalam kasus Trump v. CASA, misalnya, Jackson mengatakan
bahwa keputusan mayoritas adalah “ancaman eksistensial bagi supremasi
hukum”—sebuah frasa yang biasanya hanya muncul dalam film fiksi ilmiah ketika
robot mulai memberontak.
Tak cukup sampai situ, ia bahkan mengutip Ernst Fraenkel dan
membandingkan struktur hukum tertentu dengan… ya, hal yang membuat setiap orang
di ruang sidang mendadak mencari AC: rezim Nazi. Para hakim lain mungkin
membaca catatan kaki itu sambil berpikir, “Astaga, ini catatan kaki atau granat
tangan intelektual?”
Namun begitulah Jackson: ketika ia menulis dissent,
halamannya bukan sekadar argumen hukum, melainkan TED Talk darurat untuk
keselamatan demokrasi.
Drama Tiga Hakim Liberal: Sitkom dengan Skrip Akademis
Ketiganya pun akhirnya memiliki gaya khas:
- Sotomayor:
emosional
- Kagan:
pragmatis
- Jackson:
“Izinkan saya mengutip 14 buku, 3 sejarawan, dan satu tragedi bangsa
sebagai penjelasan.”
Trump v. Slaughter: Ketika FTC Menjadi Arena Gladiator
Mayoritas konservatif tampak ingin mengatakan “Kenapa
tidak?”, tapi Jackson mengingatkan bahwa tanpa perlindungan bagi ahli ekonomi
atau regulator, presiden bisa saja menunjuk “loyalis” yang bahkan bingung cara
membaca peta inflasi.
Dengan sopan tetapi tajam, ia pada dasarnya bertanya,
“Bapak-Ibu sekalian, kita ini membuat negara atau membuat acara reality show
tentang siapa yang paling loyal?”
Shadow Docket: Tempat Jackson Menunjukkan Ninja Move
Analis hukum pun kagum: “Oh, ternyata beliau bukan hanya
petarung, tapi strateg juga.”
Warisan: Dari Segregasi ke Supreme Court—Naik Level
Bagaikan RPG
Jackson sering mengingatkan publik bahwa keluarganya hanya
butuh satu generasi untuk naik kelas dari segregasi ke Mahkamah Agung. Jika itu
game RPG, itu bukan sekadar naik level, itu loncat langsung dari “desaku
dibakar goblin” ke “jadi penguasa kerajaan”.
Kesimpulan: Minoritas Suara, Mayoritas Nurani
Justice Ketanji Brown Jackson mungkin berada dalam minoritas
suara di Mahkamah Agung, tapi dalam hal keberanian moral—dia seperti megafon
yang di-set ke volume 11.
Ia bukan berusaha memenangkan setiap kasus; ia menjaga agar
demokrasi tidak lupa memakai seatbelt.
Di tengah badai politik, kompromi yang rapuh, dan upaya
eksekutif yang kadang lebih kreatif daripada aman, Jackson berdiri teguh sambil
mengetik dissent yang bisa membuat presiden, akademisi, dan netizen sama-sama
terdiam.
Jika Mahkamah Agung adalah orkestra yang sedang terseret
arus politik, maka Jackson adalah pemain timpani yang memukul drum tepat ketika
penonton mulai mengantuk dan berkata:
“Hei, demokrasi sedang dipertaruhkan. Jangan tidur.”
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.