Kitab Al-Hikam karya Syaikh Ibn Atha’illah as-Sakandari sering dibaca dengan wajah serius, alis berkerut, dan napas ditahan. Padahal, hikmah pertamanya justru seperti lelucon kosmik yang halus: “Di antara tanda orang yang mengandalkan amalnya adalah berkurangnya harapan kepada Allah saat ia melakukan kesalahan.” Terjemahan bebasnya kira-kira begini: orang yang terlalu percaya diri pada amalnya akan panik ketika amal itu sedikit penyok. Ibarat CV spiritual yang kena typo.
Di sinilah penyakit klasik kaum rajin ibadah muncul: merasa punya portofolio amal. Salat tepat waktu jadi aset tetap, puasa sunnah masuk investasi jangka panjang, sedekah dicatat sebagai dana darurat akhirat. Maka ketika suatu hari tergelincir—entah lupa dzikir atau emosi di jalan—langsung muncul bisikan hati, “Waduh, reputasi hancur.” Padahal, yang hancur bukan amalnya, tapi egonya yang selama ini disamarkan sebagai kesalehan.
Tasawuf dengan santai menampar kesadaran kita: mengandalkan amal itu bukan tanda kedewasaan spiritual, melainkan tanda belum move on dari diri sendiri. Dari sinilah lahir trio penyakit hati yang legendaris: ‘ujub, riya’, dan takabbur. Amal yang awalnya tangga menuju Allah, berubah fungsi menjadi podium untuk memamerkan diri—lengkap dengan spanduk tak terlihat bertuliskan “Hasil Usaha Sendiri”.
Dampaknya terlihat jelas saat seseorang jatuh dalam dosa. Orang yang mengandalkan amal akan langsung masuk mode pesimis: harapan pada Allah mengecil seiring rasa bangga yang dulu membesar. Sebaliknya, orang yang benar-benar bergantung pada Allah justru bersikap lebih tenang. Ia tahu dirinya lemah sejak awal. Dosa baginya bukan akhir cerita, melainkan alarm lembut yang berbunyi: “Saatnya kembali, jangan sok kuat.” Bahkan Nabi Adam AS pun “bersyukur” atas kesalahannya—bukan karena dosanya indah, tetapi karena dari sanalah penghambaan sejati dimulai.
Lalu, bagaimana cara lepas dari ketergantungan halus pada diri sendiri ini? Tasawuf menawarkan rumus sederhana tapi menohok: Minallāh – Ilallāh – Billāh – Lillāh. Semua dari Allah, menuju Allah, dengan pertolongan Allah, dan untuk Allah. Rumus ini seperti pengingat spiritual agar kita berhenti merasa jadi aktor utama. Kita ini lebih mirip figuran yang diberi kehormatan muncul di panggung, itu pun karena izin sutradara.
Relevansinya di zaman sekarang terasa sangat nyata. Di era media sosial, amal sering tanpa sadar ikut tampil. Jumlah, konsistensi, dan pencapaian spiritual kadang lebih kita hitung daripada keikhlasan. Akibatnya, hati mudah gelisah: takut amal ditolak, resah dengan dosa kecil, atau—diam-diam—merasa sedikit lebih suci dari tetangga. Tasawuf datang bukan untuk melarang amal, tapi untuk mengembalikan amal ke tempatnya: sebagai jalan, bukan tujuan.
Peringatan tentang istidrāj al-‘ārifīn pun terasa seperti humor paling serius dalam dunia spiritual. Bahaya terbesar bukan saat kita merasa jauh dari Allah, melainkan saat kita merasa sudah dekat lalu lupa siapa yang mendekatkan. Ketika kagum pada pengalaman batin sendiri, saat itulah ego mengenakan jubah sufi dan menyelinap ke dalam hati.
Akhir dari perjalanan ini bukanlah piala kesalehan, melainkan fana’—lenyapnya rasa “aku”. Bukan karena kita tidak beramal, tetapi karena kita sadar: amal pun bukan milik kita. Pada titik inilah hubungan dengan Allah berubah, dari transaksi pahala menjadi penyerahan total.
Pesan akhirnya sederhana tapi menenangkan: yang menyelamatkan bukan CV amal kita, melainkan rahmat Allah. Dan mungkin, justru ketika kita berhenti terlalu percaya diri pada diri sendiri, kita mulai benar-benar percaya kepada-Nya.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.