Di zaman ketika gelar akademik dipajang lebih sering daripada foto keluarga, dan pencapaian diumumkan lebih cepat daripada niatnya, manusia modern mendadak rindu pada satu hal yang tampak sepele tapi langka: orang pintar yang tidak kelihatan pintar. Kerinduan semacam ini, untungnya, masih bisa disegarkan lewat ceramah Gus Qoyyum tentang satu sifat klasik yang sering salah kostum di era digital: tawadhu.
Tawadhu kerap disalahpahami sebagai minder berjamaah atau
rendah diri permanen. Padahal, para ulama justru menjadikannya mahkota
akhlak—dipakai, bukan disembunyikan. Dan yang menarik, semakin tinggi
ilmunya, semakin rendah posisi kepalanya. Bukan karena salah bantal, tapi
karena sadar diri.
Rasulullah: Nabi Agung yang Tidak Minta Standing Ovation
Kalau bicara tawadhu, tidak mungkin kita melewati Rasulullah
SAW. Bayangkan: seorang nabi, pemimpin spiritual dan sosial, bisa saja hidup
sebagai “Nabi yang Raja”. Tapi beliau justru memilih menjadi “Nabi yang Hamba”.
Ini bukan downgrade jabatan, melainkan upgrade makna hidup.
Rasulullah menambal sandal sendiri, menjahit baju sendiri,
dan duduk bersama siapa saja tanpa kartu VIP. Bahkan beliau melarang sahabat
berdiri untuk menghormatinya. Kalau beliau hidup sekarang, mungkin beliau akan
bingung melihat budaya “self branding”: “Ini siapa yang disuruh berdiri?
Saya cuma mau ngopi.”
Ulama Nusantara: Pintar Tapi Ngerti Ukuran
Warisan tawadhu ini hidup subur di Nusantara. Gus Qoyyum
menyebut para kiai sepuh sebagai orang-orang yang ngerti takeran-takerane.
Mereka tahu kapan harus bicara, kapan cukup diam, dan kapan ilmu tinggi
sebaiknya disajikan dalam porsi santri, bukan porsi seminar internasional.
Bayangkan kiai yang hafal kitab berat seperti Al-Milal wa
an-Nihal, tapi memilih mengajarkan akhlak dulu sebelum debat teologi. Ini
bukan karena ilmunya kurang, tapi karena akhlaknya kebanyakan.
Ayah Gus Qoyyum bahkan melarang anaknya terlalu sering
“masuk perpustakaan”—bukan anti-buku, tapi anti-sombong. Rupanya, tidak semua
yang raknya penuh kitab, hatinya ikut penuh hikmah.
Para Kiai yang Hebat Tanpa Perlu Heboh
Kita mengenal sosok-sosok ulama Nusantara yang hidupnya
seperti footnote sejarah: tidak besar di judul, tapi menentukan isi.
- KH.
Ahmad Shobari, guru Gus Dur, memilih mengabdi tanpa jabatan—karena
baginya, ilmu itu utang, bukan aset untuk dipamerkan.
- Mbah
Dullah Kajen, yang bisa menjamu ribuan orang tiap pekan, tapi menolak
sedekah karena merasa dirinya “bukan fakir”. Di era sekarang, ini mungkin
disebut anti-crowdfunding.
- KH.
Ahmad Basyir Jekulo, progresif tapi prihatin. Sekolahkan anak, tapi
tetap tirakat. Prinsipnya sederhana: muda prihatin, tua panen
derajat—bukan panen like.
Mereka ini cocok dengan delapan ciri tawadhu ala Syekh Yusuf
bin Asbath: menerima kebenaran dari siapa pun, lembut pada yang di bawah,
hormat pada yang di atas, jarang marah, gampang memaafkan, dan hanya “sombong”
pada orang kaya yang sok—itu pun untuk mendidik, bukan pamer.
Zaman Pamer: Ketika Tawadhu Harus Pakai Helm
Masalahnya, dunia modern tidak terlalu ramah pada tawadhu.
Media sosial mengajarkan bahwa yang tidak terlihat, dianggap tidak ada.
Akhirnya, amal pun ikut branding, tradisi pun naik panggung, dan
kesalehan kadang kalah oleh kemasan.
Gus Qoyyum dengan halus mengingatkan: jangan sampai manakib
berubah jadi event organizer, dan keilmuan berubah jadi ajang flexing
dalil. Tawadhu itu urusan batin, bukan dekorasi panggung.
Penutup: Tawadhu, Ilmu, dan Kepala yang Tetap Aman
Pada akhirnya, tawadhu adalah jalan pembebasan: membebaskan
kita dari kelelahan ingin diakui, dari stres ingin terlihat, dan dari
ketergantungan pada tepuk tangan. Ia membuat orang berilmu tetap waras, orang
saleh tetap manusia, dan orang biasa tetap punya harapan.
Di dunia yang penuh persaingan dan kepenatan, tawadhu adalah
rem spiritual. Ia menjaga agar ilmu tidak kebablasan, dan akhlak tidak tergilas
popularitas.
Sebab ternyata, semakin seseorang menunduk karena Allah,
semakin aman kepalanya—bukan dari benturan dunia, tapi dari kejatuhan makna.
Dan seperti janji Ilahi, justru dari kerendahan itulah ketinggian sejati
diam-diam tumbuh.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.