Ada satu fenomena menarik di negeri ini: sesekali muncul seorang ilmuwan yang sudah melanglang buana, hidup di laboratorium ber-AC dingin, lalu tiba-tiba memutuskan pulang kampung dan masuk ke dunia birokrasi—suatu habitat baru yang lebih panas daripada tabung reaksi meledak.
Dalam sebuah podcast politik santai—yang sebenarnya tidak
santai—sang pemandu acara berbincang dengan seorang pejabat baru di sektor
pendidikan dan sains. Nada wawancaranya seperti campuran antara harapan,
kekhawatiran, dan sedikit trauma masa kecil waktu nilai Matematika merah.
1. Seorang Ilmuwan Pulang Kampung: Antara Idealime dan
Tekad Nekat
Sang pejabat pendidikan ini datang dari dunia penelitian
yang berbasis data, jurnal, dan percobaan ilmiah yang harus reliable.
Lalu ia masuk ke ruang rapat birokrasi yang sering kali berbasis:
- feeling,
- kebiasaan
turun-temurun,
- dan
keputusan “pokoknya besok harus selesai”.
Jika di laboratorium semua eksperimen dicatat rapi, di sini
bahkan jadwal rapat pun bisa berubah “mendadak terpikir”.
2. Tupoksi yang Tidak Bertupoksi
Begitu diangkat, ia diberi tugas sederhana: “Tolong
bangun sains dan teknologi negeri ini.”
Tolong.
Bangun.
Sains dan teknologi.
Sederhana sekali, seperti meminta seseorang:
- memperbaiki
AC,
- membetulkan
instalasi listrik,
- sekaligus
membangun pembangkit nuklir.
Tetapi sang pejabat menerima tugas itu dengan senyum yang
kalau diterjemahkan kira-kira berarti:
“Baik, mari kita coba—meski ini seperti menata ulang seluruh isi lemari sambil
digoyang gempa.”
3. Program Sekolah Unggul: Antara Mimpi Besar dan Dompet
Tipis
Program unggulan pun dicanangkan: ada sekolah baru, ada
sekolah lama yang ditransformasi, ada kurikulum internasional, ada riset sejak
dini, ada asrama untuk membentuk karakter.
Tujuannya mulia: mencetak ribuan pemimpin masa depan.
Namun ada pertanyaan filosofis yang muncul dari para orang
tua:
“Kalau anak saya ikut kurikulum internasional, berarti saya juga harus ikut
belajar ulang, ya? Soalnya matematika zaman sekarang bentuknya aneh-aneh.”
4. Menghadapi Sistem Pendidikan Lokal: Feodalisme dalam
Seragam Putih Abu-Abu
Salah satu tema yang muncul dalam diskusi itu adalah budaya
feodal yang merasuki banyak aspek pendidikan:
- tanya
sedikit, dianggap mengkritik,
- datang
tepat waktu, dianggap terlalu idealis,
- memberi
pendapat, dianggap cari perhatian,
- meminta
penjelasan, dianggap kurang ajar.
Sang pejabat pendidikan berkata bahwa semua anak sebenarnya
punya kemampuan logis sejak kecil. Masalahnya, sistemnya yang sering lebih
mengutamakan kesunyian kelas dibanding rasa ingin tahu.
Di beberapa sekolah, jika murid mengangkat tangan terlalu
sering, guru bisa berbisik,
“Diam dulu, Nak… nanti kamu dikira sombong.”
5. Pendidikan Tinggi: Kampus atau Panggung Lainnya?
Ketika menyentuh perguruan tinggi, suasana pembicaraan
berubah seperti investigasi detektif.
Disebutkan bahwa kampus sering berfungsi bukan sebagai
ladang riset, melainkan:
- kantor
kecil dengan hirarki panjang,
- tempat
pertemuan politik internal,
- arena
lomba jabatan manajerial.
Sementara laboratorium yang harusnya sibuk, kadang kalah
ramai dari ruang rapat senat.
6. Dana Riset: Banyak Jika Dilihat Sendiri, Sedikit Jika
Dibandingkan Tetangga
Ada kabar baik: anggaran riset dinaikkan secara signifikan.
Tetapi ketika dibandingkan dengan negara tetangga dan negara
raksasa, rasanya seperti membanggakan senter 3 watt sambil berdiri di samping
lampu sorot stadion.
Tetap saja, niat itu dihargai. Segala revolusi sains memang
dimulai dari niat… dan sedikit dana yang tidak dipotong birokrasi.
7. Penutup: Optimisme yang Dicampur Humor, Disajikan
Hangat
Podcast ditutup dengan harapan bahwa reformasi ini bisa
membongkar budaya feodal, membuat kampus kembali ke jalur riset, dan menjadikan
sekolah sebagai sarang inovasi, bukan hanya lorong panjang menuju ujian
nasional.
Sang ilmuwan yang kini jadi pejabat tampak menjaga
optimisme, meski mungkin dalam hati membatin:
“Ya Tuhan, ternyata membangun laboratorium mudah sekali
dibanding membangun budaya disiplin.”
Kesimpulan: Reformasi Pendidikan Ini Perlu Data, Tekad,
dan Sedikit Keajaiban
Diskusi tersebut mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah
arena di mana:
- idealisme
bertemu realitas,
- inovasi
bertemu birokrasi,
- dan
harapan bertemu kebiasaan lama yang keras kepala.
Namun jika seseorang yang biasa hidup dalam dunia eksperimen
ilmiah saja berani menantang sistem ini…
mungkin perubahan benar-benar bisa terjadi.
Dengan syarat: jangan marah kalau nanti murid SD mulai
bertanya,
“Buk, menurut data dan evidensi, PR ini sebenarnya perlu nggak?”
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025
---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.