Senin, 08 Desember 2025

Ketika Seorang Saintis Balik Kampung dan Masuk ke Dunia Pendidikan Feodal

Ada satu fenomena menarik di negeri ini: sesekali muncul seorang ilmuwan yang sudah melanglang buana, hidup di laboratorium ber-AC dingin, lalu tiba-tiba memutuskan pulang kampung dan masuk ke dunia birokrasi—suatu habitat baru yang lebih panas daripada tabung reaksi meledak.

Dalam sebuah podcast politik santai—yang sebenarnya tidak santai—sang pemandu acara berbincang dengan seorang pejabat baru di sektor pendidikan dan sains. Nada wawancaranya seperti campuran antara harapan, kekhawatiran, dan sedikit trauma masa kecil waktu nilai Matematika merah.

1. Seorang Ilmuwan Pulang Kampung: Antara Idealime dan Tekad Nekat

Sang pejabat pendidikan ini datang dari dunia penelitian yang berbasis data, jurnal, dan percobaan ilmiah yang harus reliable. Lalu ia masuk ke ruang rapat birokrasi yang sering kali berbasis:

  • feeling,
  • kebiasaan turun-temurun,
  • dan keputusan “pokoknya besok harus selesai”.

Jika di laboratorium semua eksperimen dicatat rapi, di sini bahkan jadwal rapat pun bisa berubah “mendadak terpikir”.

2. Tupoksi yang Tidak Bertupoksi

Begitu diangkat, ia diberi tugas sederhana: “Tolong bangun sains dan teknologi negeri ini.”

Tolong.
Bangun.
Sains dan teknologi.
Sederhana sekali, seperti meminta seseorang:

  • memperbaiki AC,
  • membetulkan instalasi listrik,
  • sekaligus membangun pembangkit nuklir.

Tetapi sang pejabat menerima tugas itu dengan senyum yang kalau diterjemahkan kira-kira berarti:
“Baik, mari kita coba—meski ini seperti menata ulang seluruh isi lemari sambil digoyang gempa.”

3. Program Sekolah Unggul: Antara Mimpi Besar dan Dompet Tipis

Program unggulan pun dicanangkan: ada sekolah baru, ada sekolah lama yang ditransformasi, ada kurikulum internasional, ada riset sejak dini, ada asrama untuk membentuk karakter.

Tujuannya mulia: mencetak ribuan pemimpin masa depan.

Namun ada pertanyaan filosofis yang muncul dari para orang tua:
“Kalau anak saya ikut kurikulum internasional, berarti saya juga harus ikut belajar ulang, ya? Soalnya matematika zaman sekarang bentuknya aneh-aneh.”

4. Menghadapi Sistem Pendidikan Lokal: Feodalisme dalam Seragam Putih Abu-Abu

Salah satu tema yang muncul dalam diskusi itu adalah budaya feodal yang merasuki banyak aspek pendidikan:

  • tanya sedikit, dianggap mengkritik,
  • datang tepat waktu, dianggap terlalu idealis,
  • memberi pendapat, dianggap cari perhatian,
  • meminta penjelasan, dianggap kurang ajar.

Sang pejabat pendidikan berkata bahwa semua anak sebenarnya punya kemampuan logis sejak kecil. Masalahnya, sistemnya yang sering lebih mengutamakan kesunyian kelas dibanding rasa ingin tahu.

Di beberapa sekolah, jika murid mengangkat tangan terlalu sering, guru bisa berbisik,
“Diam dulu, Nak… nanti kamu dikira sombong.”

5. Pendidikan Tinggi: Kampus atau Panggung Lainnya?

Ketika menyentuh perguruan tinggi, suasana pembicaraan berubah seperti investigasi detektif.

Disebutkan bahwa kampus sering berfungsi bukan sebagai ladang riset, melainkan:

  • kantor kecil dengan hirarki panjang,
  • tempat pertemuan politik internal,
  • arena lomba jabatan manajerial.

Sementara laboratorium yang harusnya sibuk, kadang kalah ramai dari ruang rapat senat.

6. Dana Riset: Banyak Jika Dilihat Sendiri, Sedikit Jika Dibandingkan Tetangga

Ada kabar baik: anggaran riset dinaikkan secara signifikan.

Tetapi ketika dibandingkan dengan negara tetangga dan negara raksasa, rasanya seperti membanggakan senter 3 watt sambil berdiri di samping lampu sorot stadion.

Tetap saja, niat itu dihargai. Segala revolusi sains memang dimulai dari niat… dan sedikit dana yang tidak dipotong birokrasi.

7. Penutup: Optimisme yang Dicampur Humor, Disajikan Hangat

Podcast ditutup dengan harapan bahwa reformasi ini bisa membongkar budaya feodal, membuat kampus kembali ke jalur riset, dan menjadikan sekolah sebagai sarang inovasi, bukan hanya lorong panjang menuju ujian nasional.

Sang ilmuwan yang kini jadi pejabat tampak menjaga optimisme, meski mungkin dalam hati membatin:

“Ya Tuhan, ternyata membangun laboratorium mudah sekali dibanding membangun budaya disiplin.”

Kesimpulan: Reformasi Pendidikan Ini Perlu Data, Tekad, dan Sedikit Keajaiban

Diskusi tersebut mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah arena di mana:

  • idealisme bertemu realitas,
  • inovasi bertemu birokrasi,
  • dan harapan bertemu kebiasaan lama yang keras kepala.

Namun jika seseorang yang biasa hidup dalam dunia eksperimen ilmiah saja berani menantang sistem ini…
mungkin perubahan benar-benar bisa terjadi.

Dengan syarat: jangan marah kalau nanti murid SD mulai bertanya,
“Buk, menurut data dan evidensi, PR ini sebenarnya perlu nggak?”

abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

---


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.