Sabtu, 20 Desember 2025

Fikih Tasamuh: Ilmu Fikih yang Tidak Mudah Tersinggung

Di zaman serba sibuk ini, ada sosok manusia multitasking yang jika ditulis di kartu nama, tulisannya harus dua halaman. Pagi hari ia kepala rumah tangga, siang jadi guru, sore dosen, malam dai, akhir pekan tokoh pemuda, dan di sela-sela itu masih sempat jadi penggerak masyarakat. Jika hidup adalah aplikasi, maka orang ini jelas terlalu banyak tab browser yang terbuka—dan anehnya, semuanya tetap berjalan tanpa “not responding”.

Dalam kondisi seperti itu, wajar jika dibutuhkan sebuah fikih yang tidak ikut-ikutan stres. Maka muncullah Fikih Tasamuh—bukan fikih baru yang perlu kitab setebal bantal, melainkan cara membaca fikih dengan kacamata yang lensanya tidak buram oleh emosi. Fikih ini tidak alergi perbedaan, tidak gatal melihat tetangga beda keyakinan, dan tidak langsung panas ketika mendengar kata “plural”.

Secara sederhana, Fikih Tasamuh adalah fikih yang sudah lulus pelatihan pengendalian diri. Berasal dari kata tasamuh—yang berarti lapang dada, murah hati, dan tidak hobi mencari kesalahan orang—pendekatan ini mengajarkan bahwa hukum Islam tidak diturunkan untuk membuat manusia hidup seperti di ruang sidang permanen. Dalilnya jelas, ayatnya ada, dan pesannya tegas: iman itu serius, tapi hidup bermasyarakat tidak harus tegang seperti kabel listrik.

Prinsipnya pun rapi dan tidak ribet, berdiri di atas empat kaki kokoh khas Ahlussunnah wal Jamaah: tawassuth (tidak ke kanan terlalu keras, tidak ke kiri terlalu nekat), tawazun (imbang seperti tukang nasi padang yang adil membagi lauk), i’tidal (tegak lurus, tidak miring demi kepentingan), dan tentu saja tasamuh (kemampuan untuk berkata, “oh begitu, ya sudah”). Dengan prinsip ini, Fikih Tasamuh tahu kapan harus tegas soal akidah, dan kapan cukup tersenyum saat berhadapan dengan urusan sosial yang memang tidak harus diseragamkan.

Keindahan Fikih Tasamuh bukan hanya teori, tapi juga praktik. Di sebuah desa yang dijuluki “Kampung Moderasi Beragama”, umat berbagai agama hidup berdampingan tanpa perlu lomba adu dalil. Mereka gotong royong membangun rumah ibadah, kerja bakti tanpa bertanya KTP iman, dan saling membantu tanpa takut pahala bocor ke tetangga. Di sini, fikih turun dari rak kitab dan ikut ngopi di pos ronda.

Di era media sosial—tempat satu potongan video bisa memicu perang komentar tiga hari tiga malam—Fikih Tasamuh berfungsi seperti kipas angin di tengah cuaca panas. Ia mendinginkan kepala, menenangkan jempol, dan mengingatkan bahwa perbedaan dalam urusan muamalah bukan ancaman nasional. Pendekatan ini cocok sekali dengan semangat moderasi beragama: tidak gampang mengkafirkan, tidak hobi membenci, dan tidak menjadikan agama sebagai bahan bakar konflik.

Pada akhirnya, Fikih Tasamuh adalah wajah Islam yang ramah, santun, dan tidak mudah tersinggung. Ia hadir sebagai jawaban bagi individu super sibuk dan masyarakat super majemuk. Seperti seorang manusia yang harus menyeimbangkan peran rumah tangga, profesi, dan pengabdian sosial, bangsa ini pun membutuhkan fikih yang bisa menata perbedaan tanpa ribut. Karena di negeri yang beragam ini, kerukunan bukan lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan untuk berbeda tanpa kehilangan rasa kemanusiaan—dan tentu saja, tanpa kehilangan selera humor.

abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.