Dalam sejarah panjang Nahdlatul Ulama—organisasi yang sudah kenyang pengalaman, dari meredam konflik nasional sampai merumuskan fiqih wudhu di kamar mandi pesantren—barangkali inilah pertama kalinya PBNU terseret ke sebuah episode yang layak diberi judul “Pemakzulan: The Series”. Drama yang biasanya hanya hidup di dunia perpolitikan kini mampir ke organisasi para kiai. Tentu saja, banyak yang terkejut. Bahkan beberapa kiai sepuh mungkin sempat mengecek kalender, memastikan ini bukan tanggal 1 April.
Di tengah hiruk-pikuk itu, muncullah sosok K.H. Ma’ruf
Amin—tokoh yang rekam jejaknya sudah sepanjang daftar hadir muktamar—dengan
analisis sejuk yang kira-kira bunyinya, “Ayo, kita ini ormas, bukan sinetron.
Tenang.” Dengan gaya khas kiai sepuh yang kalem tapi mengena, beliau seakan
berkata: Masalah boleh panas, tapi kepala jangan sampai ikut mendidih.
1. Kedaulatan AD/ART: Jangan-jangan Kita Lupa Baca Buku
Panduan
Kiai Ma’ruf mengingatkan bahwa dalam NU, pemimpin hanya bisa
naik atau turun jabatan di Muktamar. Mau Muktamar biasa, luar biasa, atau luar
biasa sekali—pokoknya harus Muktamar. Tidak bisa lewat rapat sampingan, rapat
samping-sampingan, atau rapat yang judulnya “cuma ngobrol tapi serius”.
Semuanya harus sesuai AD/ART, bukan AD/ART versi
interpretasi kreatif.
2. Kiai Sepuh dan Mustasyar: Konsultan Spiritual, Bukan
Tim Avengers
Ketika para kiai sepuh berkumpul di Tebuireng, banyak orang
mengira ini adalah deklarasi kubu baru. Padahal, kalau ditanya, mereka mungkin
menjawab, “Lho, ini cuma kopi darat. Sambil ngopi beneran.”
Tujuan mereka simpel: mencegah NU pecah. Karena kalau sampai
PBNU retak, bisa-bisa setiap pengurus cabang sibuk membuat “tim sukses islah”
sendiri-sendiri. Dan itu jelas bukan visi para muassis.
3. Tabayyun dan Tahqiq: Fitnah Itu Berat—Bukan Cuma di
Iklan Sinema
Dalam isu ini, ada yang dituduh, ada yang menuduh, ada yang
menonton, dan ada pula yang kebingungan. Tetapi menurut para kiai, sebelum
mengangkat-angkat palu sidang, harus ada tabayyun.
Bukankah dalam budaya NU, setiap kabar perlu diverifikasi,
bukan disebarkan seperti broadcast WhatsApp dari paman jauh yang rajin mengirim
video motivasi?
4. Intervensi Eksternal: NU Ini Bukan Drama Korea
Pesan yang ini cukup keras: jangan sampai masalah NU
diselesaikan pihak luar. Selama ini NU dikenal menyelesaikan masalah negara.
Masa sekarang negara harus turun tangan menyelesaikan masalah NU? Itu seperti
dokter spesialis yang tiba-tiba perlu diobati oleh pasiennya.
“Jangan sampai,” kata Kiai Ma’ruf, “NU ini yang biasanya
mendamaikan, malah minta didamaikan.”
5. Ajakan Damai: Jangan Sampai Jam’iyyah Pecah Karena
‘Kronologi’
Pada akhirnya, Kiai Ma’ruf mengajak semua warga NU untuk
berdoa dan bersatu. Jangan sampai perbedaan pendapat berubah menjadi tafarruq,
apalagi taghadhub, apalagi takhasum—apalagi kalau sudah masuk
babak saling sindir di media sosial, itu sudah tingkat lanjut.
Krisis ini, kata beliau, bukan sekadar rebutan kursi. Ini
ujian apakah NU bisa menjaga martabat organisasinya. Jangan sampai nanti
sejarah mencatat bahwa perpecahan dimulai dari rapat yang judulnya “santai tapi
panas”.
Penutup: Antara Martabat dan Marbot
Drama pemakzulan di PBNU ini memang bikin banyak orang
geleng-geleng kepala. Tapi di saat yang sama, ia mengingatkan betapa pentingnya
menjaga etika, adab, dan akal sehat dalam organisasi sebesar NU. Para kiai
sepuh sudah memberi contoh: masalah besar bisa didekati dengan hati besar.
Semoga para pengurus bisa duduk bersama, meredam ego, dan
memilih jalur maslahat. Karena kalau tidak, bisa-bisa nanti marbot masjid
bertanya, “Lho, PBNU kok rame banget? Kayak rapat panitia Idul Fitri.”
Dan kita tentu tidak ingin sampai ke tahap itu.
Wallâhu a’lam bis-shawâb.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.