Kamis, 11 Desember 2025

Islah di Tengah Islah: Ketika PBNU Masuk Musim Drama dan Kiai-Kiai Jadi Pemadam Kebakaran

Dalam sejarah panjang Nahdlatul Ulama—organisasi yang sudah kenyang pengalaman, dari meredam konflik nasional sampai merumuskan fiqih wudhu di kamar mandi pesantren—barangkali inilah pertama kalinya PBNU terseret ke sebuah episode yang layak diberi judul “Pemakzulan: The Series”. Drama yang biasanya hanya hidup di dunia perpolitikan kini mampir ke organisasi para kiai. Tentu saja, banyak yang terkejut. Bahkan beberapa kiai sepuh mungkin sempat mengecek kalender, memastikan ini bukan tanggal 1 April.

Di tengah hiruk-pikuk itu, muncullah sosok K.H. Ma’ruf Amin—tokoh yang rekam jejaknya sudah sepanjang daftar hadir muktamar—dengan analisis sejuk yang kira-kira bunyinya, “Ayo, kita ini ormas, bukan sinetron. Tenang.” Dengan gaya khas kiai sepuh yang kalem tapi mengena, beliau seakan berkata: Masalah boleh panas, tapi kepala jangan sampai ikut mendidih.

1. Kedaulatan AD/ART: Jangan-jangan Kita Lupa Baca Buku Panduan

Kiai Ma’ruf mengingatkan bahwa dalam NU, pemimpin hanya bisa naik atau turun jabatan di Muktamar. Mau Muktamar biasa, luar biasa, atau luar biasa sekali—pokoknya harus Muktamar. Tidak bisa lewat rapat sampingan, rapat samping-sampingan, atau rapat yang judulnya “cuma ngobrol tapi serius”.

Beliau dengan halus menyampaikan pesan universal:
“Kalau main game, jangan lupa baca rule book; kalau menjalankan organisasi, jangan tiba-tiba bikin level rahasia sendiri.”

Semuanya harus sesuai AD/ART, bukan AD/ART versi interpretasi kreatif.

2. Kiai Sepuh dan Mustasyar: Konsultan Spiritual, Bukan Tim Avengers

Ketika para kiai sepuh berkumpul di Tebuireng, banyak orang mengira ini adalah deklarasi kubu baru. Padahal, kalau ditanya, mereka mungkin menjawab, “Lho, ini cuma kopi darat. Sambil ngopi beneran.”

Tujuan mereka simpel: mencegah NU pecah. Karena kalau sampai PBNU retak, bisa-bisa setiap pengurus cabang sibuk membuat “tim sukses islah” sendiri-sendiri. Dan itu jelas bukan visi para muassis.

Kiai Ma’ruf kira-kira menegaskan:
“Kami ini juru damai, bukan juru gugat.”
Bahkan superhero pun akan berkeringat kalau harus mencegah pemakzulan inkonstitusional. Para sesepuh memilih cara lama yang selalu bekerja: islah, ngobrol baik-baik, tarik napas panjang, jangan buru-buru pencet tombol panik.

3. Tabayyun dan Tahqiq: Fitnah Itu Berat—Bukan Cuma di Iklan Sinema

Dalam isu ini, ada yang dituduh, ada yang menuduh, ada yang menonton, dan ada pula yang kebingungan. Tetapi menurut para kiai, sebelum mengangkat-angkat palu sidang, harus ada tabayyun.

Bukankah dalam budaya NU, setiap kabar perlu diverifikasi, bukan disebarkan seperti broadcast WhatsApp dari paman jauh yang rajin mengirim video motivasi?

Kiai Ma’ruf seolah ingin bilang:
“Kalau memang salah, ya diselesaikan dengan cara NU. Kalau tidak salah, jangan dipaksa salah.”
Dan kalau pun harus ada pergantian, itu pun harus elegan—soft landing—bukan hard landing seperti sandal tertendang saat jalan cepat ke masjid.

4. Intervensi Eksternal: NU Ini Bukan Drama Korea

Pesan yang ini cukup keras: jangan sampai masalah NU diselesaikan pihak luar. Selama ini NU dikenal menyelesaikan masalah negara. Masa sekarang negara harus turun tangan menyelesaikan masalah NU? Itu seperti dokter spesialis yang tiba-tiba perlu diobati oleh pasiennya.

“Jangan sampai,” kata Kiai Ma’ruf, “NU ini yang biasanya mendamaikan, malah minta didamaikan.”

Analoginya mungkin seperti ini:
Kalau kapal besar bocor sedikit, penumpang biasanya percaya nahkoda bisa memperbaiki. Tapi kalau sampai nelayan di samping harus ikut memperbaiki, itu tandanya situasinya terlalu absurd.

5. Ajakan Damai: Jangan Sampai Jam’iyyah Pecah Karena ‘Kronologi’

Pada akhirnya, Kiai Ma’ruf mengajak semua warga NU untuk berdoa dan bersatu. Jangan sampai perbedaan pendapat berubah menjadi tafarruq, apalagi taghadhub, apalagi takhasum—apalagi kalau sudah masuk babak saling sindir di media sosial, itu sudah tingkat lanjut.

Krisis ini, kata beliau, bukan sekadar rebutan kursi. Ini ujian apakah NU bisa menjaga martabat organisasinya. Jangan sampai nanti sejarah mencatat bahwa perpecahan dimulai dari rapat yang judulnya “santai tapi panas”.

Penutup: Antara Martabat dan Marbot

Drama pemakzulan di PBNU ini memang bikin banyak orang geleng-geleng kepala. Tapi di saat yang sama, ia mengingatkan betapa pentingnya menjaga etika, adab, dan akal sehat dalam organisasi sebesar NU. Para kiai sepuh sudah memberi contoh: masalah besar bisa didekati dengan hati besar.

Semoga para pengurus bisa duduk bersama, meredam ego, dan memilih jalur maslahat. Karena kalau tidak, bisa-bisa nanti marbot masjid bertanya, “Lho, PBNU kok rame banget? Kayak rapat panitia Idul Fitri.”

Dan kita tentu tidak ingin sampai ke tahap itu.

Wallâhu a’lam bis-shawâb.

abah-arul.blogspot.com., Desember 2025


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.