Rabu, 03 Desember 2025

Tawakal: Antara Pasrah, Ikhtiar, dan Drama Kehidupan Modern

Jika Ibnu Athaillah hidup di zaman sekarang, mungkin beliau akan menghela napas panjang sambil melihat manusia modern memegang tiga benda keramat: planner mingguan, to-do list digital, dan kopi literan—tiga alat bantu untuk mempertahankan ilusi bahwa hidup ini sepenuhnya dalam kendali mereka. Padahal, jangankan masa depan seminggu dari sekarang, kadang password WiFi sendiri saja suka lupa.

Di tengah kesibukan dunia yang doyan kejar-kejaran dengan ambisi, datanglah Munajat Ketujuh Ibnu Athaillah dengan gaya lembut tapi menohok. Ia memulai dengan pertanyaan eksistensial yang sebenarnya cocok jadi status WhatsApp:
“Ya Tuhan, kok aku disuruh bertanggung jawab atas diriku, tapi Engkau juga menyuruhku bertawakal pada-Mu?”

Seketika seluruh umat manusia yang sering overthinking terdiam:
“Nah iya, betul juga…”

Ikhtiar ala Sufi vs Ikhtiar ala Zaman Now

Manusia modern biasanya berpikir begini:
“Selama kita kerja keras, networking kuat, pakai skincare yang mahal, dan doa secukupnya… hidup pasti beres.”

Namun Ibnu Athaillah membalikkan formula itu. Ikhtiar tetap perlu—karena bahkan di dunia sufi, tidak ada kiswah emas yang jatuh dari langit begitu saja. Tapi hasilnya? Itu bukan urusan Anda, Pak. Itu domain Iradah dan Masyiah—bagian yang tidak bisa ditawar, dinego, atau di-email follow-up.

Dalam ceramah, pembicara menggambarkan bagaimana manusia jatuh bangun mengejar berbagai target, hanya untuk akhirnya sadar: yang Maha Mengatur sudah menuliskan skenarionya jauh sebelum kita sibuk membuat rencana cadangan A sampai Z (dan Z.1, Z.2, Z.3).

Tawakal bukan resign dari kehidupan, tapi resign dari ilusi bahwa kita manajer tunggal semesta.

Kefakiran: CV Resmi Menuju Allah

Ada satu momen epik dalam munajat ini: ketika sang hamba berkata bahwa ia bertawasul kepada Allah melalui kefakirannya.
Dalam budaya modern, mengaku fakir itu bisa bikin minder. Tapi dalam tasawuf?
Itu justru golden ticket menuju penerimaan Ilahi.

Sufi itu unik—yang lain pakai prestasi untuk mendekat kepada Allah, mereka justru pakai kelemahan. Orang-orang mengejar self-branding, sedangkan Ibnu Athaillah mengajarkan soul-branding:
“Makin aku lemah, makin jelas aku butuh-Mu.”

Sederhana, elegan, dan membanting ego dengan cantik.

Api Kehidupan dan AC Ilahi

Kisah Nabi Ibrahim juga muncul sebagai ilustrasi. Ketika masuk ke dalam api, malaikat Jibril menawarkan bantuan. Jawabannya?
“Aku butuh Allah, bukan kamu.”
(Catatan: ini tidak disarankan di kantor atau dalam hubungan pertemanan.)

Intinya: masalah hidup itu seperti api. Kita bisa panik, bisa lempar bensin (sering terjadi), atau bisa bilang:
“Ya Allah, kalau Engkau mau, jadikan dingin.”

Dan anehnya, sering kali setelah bilang begitu, hati langsung plong—meski masalahnya masih nongkrong di depan mata seperti cicilan Shopee PayLater.

Zaman Now: Nikmat Disembah, Pemberi Nikmat Lupa Dijahit

Pembicara dalam ceramah menegur halus mentalitas modern: nikmat dijadikan tujuan, bukan jembatan. Hedonisme hari ini seakan mengajarkan bahwa jika hidup tidak estetik, maka tidak layak di-post.

Padahal sufi sudah sejak lama memberi spoiler:
Nikmat itu bukan destinasi, tapi jalan tikus menuju Allah.

Bahkan penderitaan pun, yang sering kita blokir seperti iklan YouTube, ternyata adalah “rumah sakit” spiritual yang mengembalikan kita dari lupa menjadi ingat. Allah bukan marah; kita hanya butuh check-up batin.

Akhirnya: Tuhan Selalu Dekat, Kita Saja yang Sering Jalan-Jalan

Munajat ditutup dengan kalimat yang bikin hati hangat dan ego tertampar ringan:
“Betapa lembut kasih-Mu, meski aku bodoh.”

Di titik ini, setiap manusia yang pernah merasa “jauh dari Tuhan” perlu tahu: jarak itu hanya efek samping dari pikiran yang terlalu sibuk memikirkan hal-hal remeh seperti:
“Kenapa notifikasi tidak muncul?” atau
“Kok dia tidak balas chat?”

Allah lebih dekat dari urat leher, tapi kita lebih dekat dengan hp yang baterainya tinggal 3%.

Kesimpulan 

Munajat Ketujuh bukan sekadar bacaan klasik, tapi panduan hidup anti-ambyar di era digital:

  • Berusaha, iya.
  • Gigit jari kalau gagal, boleh.
  • Tapi jangan lupa: hasil itu bukan kerja kerasmu, tapi kemurahan-Nya.

Tawakal berarti:
“Aku bergerak, tapi Engkau yang menentukan. Aku berencana, tapi Engkau yang menyempurnakan. Dan aku pasrah, tapi pasrah yang cerdas, bukan pasrah putus asa.”

Pada akhirnya, yang harus kita lepaskan bukan ambisi, tetapi ilusi bahwa kita memegang kendali penuh. Begitu ilusi itu runtuh—entah karena gagal, lelah, atau tersandung sandal sendiri—di situlah kita menemukan kedamaian.

Dan ketika hati sudah sampai pada titik itu, beban “mengurus diri sendiri” terasa jauh lebih ringan… karena akhirnya kita sadar siapa Pemiliknya.

abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.