Jika Ibnu Athaillah hidup di zaman sekarang, mungkin beliau akan menghela napas panjang sambil melihat manusia modern memegang tiga benda keramat: planner mingguan, to-do list digital, dan kopi literan—tiga alat bantu untuk mempertahankan ilusi bahwa hidup ini sepenuhnya dalam kendali mereka. Padahal, jangankan masa depan seminggu dari sekarang, kadang password WiFi sendiri saja suka lupa.
Ikhtiar ala Sufi vs Ikhtiar ala Zaman Now
Namun Ibnu Athaillah membalikkan formula itu. Ikhtiar tetap
perlu—karena bahkan di dunia sufi, tidak ada kiswah emas yang jatuh dari langit
begitu saja. Tapi hasilnya? Itu bukan urusan Anda, Pak. Itu domain Iradah
dan Masyiah—bagian yang tidak bisa ditawar, dinego, atau di-email
follow-up.
Dalam ceramah, pembicara menggambarkan bagaimana manusia
jatuh bangun mengejar berbagai target, hanya untuk akhirnya sadar: yang Maha
Mengatur sudah menuliskan skenarionya jauh sebelum kita sibuk membuat
rencana cadangan A sampai Z (dan Z.1, Z.2, Z.3).
Tawakal bukan resign dari kehidupan, tapi resign dari ilusi
bahwa kita manajer tunggal semesta.
Kefakiran: CV Resmi Menuju Allah
Sederhana, elegan, dan membanting ego dengan cantik.
Api Kehidupan dan AC Ilahi
Dan anehnya, sering kali setelah bilang begitu, hati
langsung plong—meski masalahnya masih nongkrong di depan mata seperti
cicilan Shopee PayLater.
Zaman Now: Nikmat Disembah, Pemberi Nikmat Lupa Dijahit
Pembicara dalam ceramah menegur halus mentalitas modern:
nikmat dijadikan tujuan, bukan jembatan. Hedonisme hari ini seakan mengajarkan
bahwa jika hidup tidak estetik, maka tidak layak di-post.
Bahkan penderitaan pun, yang sering kita blokir seperti
iklan YouTube, ternyata adalah “rumah sakit” spiritual yang mengembalikan kita
dari lupa menjadi ingat. Allah bukan marah; kita hanya butuh check-up batin.
Akhirnya: Tuhan Selalu Dekat, Kita Saja yang Sering
Jalan-Jalan
Allah lebih dekat dari urat leher, tapi kita lebih dekat
dengan hp yang baterainya tinggal 3%.
Kesimpulan
Munajat Ketujuh bukan sekadar bacaan klasik, tapi panduan
hidup anti-ambyar di era digital:
- Berusaha,
iya.
- Gigit
jari kalau gagal, boleh.
- Tapi
jangan lupa: hasil itu bukan kerja kerasmu, tapi kemurahan-Nya.
Pada akhirnya, yang harus kita lepaskan bukan ambisi, tetapi
ilusi bahwa kita memegang kendali penuh. Begitu ilusi itu runtuh—entah
karena gagal, lelah, atau tersandung sandal sendiri—di situlah kita menemukan
kedamaian.
Dan ketika hati sudah sampai pada titik itu, beban “mengurus
diri sendiri” terasa jauh lebih ringan… karena akhirnya kita sadar siapa
Pemiliknya.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.