Jika NU adalah sebuah kapal raksasa, maka Tebuireng adalah semacam bengkel resmi tempat kapal itu biasanya mampir untuk “ganti oli spiritual”. Dari zaman Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari sampai sekarang, tempat ini punya fungsi khusus: menyejukkan yang panas, menenangkan yang bising, dan—sesekali—menyapu puing-puing kericuhan warga sendiri.
Maka ketika PBNU mulai “demam politik dalam negeri”,
Tebuireng pun kembali dipanggil seperti dokter keluarga: “Dok, NU lagi panas
nih, 39 derajat. Tolong dicek.”
Narasi Resmi vs. Suara Hati: Dua Kubu, Dua Dunia
Di atas kertas, Syuriyah dan Tanfidziyah sedang sibuk
berdebat soal AD/ART—semacam kitab undang-undang yang, jujur saja, hanya
benar-benar dibuka saat suasana sudah mulai ribut-ribut halus. Yang satu
bilang wewenangnya lebih tinggi daripada menara pesantren, yang satu lagi
bilang dirinya mandataris Muktamar, alias “dipilih langsung, bos”.
Di luar kertas, para kader muda NU mulai bersuara:
“Halo para kiai, kita ini bukan negara adidaya. Kalau bisa
musyawarah dulu, kenapa langsung ‘tancap gas’?”
Tebuireng: Tempat Damai Sekaligus Tempat Diam-Diam Tegang
Undangan dikirim. Daftar tamu panjang, seperti acara
pernikahan keluarga besar yang semua kerabatnya punya gelar kiai. Bahkan ada
dua sesi:
- Pagi
untuk Rais Aam,
- Siang
untuk Ketua Umum.
Desainnya halus, rapi, penuh seni diplomasi yang bahkan KTT
G20 pun mungkin iri.
Dalam hal ini, PMO acara mendadak itu bernama “Rapat Pleno
9–10 Desember”.
Absennya Satu Pihak: Ketika Islah Menjadi Monolog
Keputusan Rais Aam untuk tidak hadir membuat suasana seperti
rapat penting tanpa salah satu bos besar. Semua hadir, slide sudah siap, kopi
sudah dituang—tapi kursi utama kosong.
Dampak: Jalan Buntu yang Tetap Memberi Cahaya
Masa depan PBNU kini seperti sinetron Ramadan: penuh drama,
tapi semua berharap akhirnya bahagia.
Penutup: Pulanglah ke Rumah
NU kini punya dua jalan:
- Jalan
formal AD/ART yang tegak lurus—tapi kadang memicu sakit pinggang.
- Atau
jalan Tebuireng yang penuh teduh dan nasihat sepuh—tempat semua orang
diingatkan bahwa NU bukan milik pasal, tapi milik jamaah.
Tebuireng hari ini memang belum menyelesaikan konflik. Tapi
ia sudah mengingatkan semua pihak tentang satu hal penting:
Kadang, untuk menyelesaikan masalah besar, cukup duduk
sebentar di rumah sendiri dan mengingat darimana semuanya bermula.
Dan kalau masih belum selesai juga… ya, Tebuireng siap buka
sesi berikutnya. Biaya konsultasi? Tetap sama: keikhlasan.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.