Jumat, 05 Desember 2025

Tebuireng: Pesantren yang Mendadak Jadi Pusat “Service Center” Konflik PBNU

Jika NU adalah sebuah kapal raksasa, maka Tebuireng adalah semacam bengkel resmi tempat kapal itu biasanya mampir untuk “ganti oli spiritual”. Dari zaman Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari sampai sekarang, tempat ini punya fungsi khusus: menyejukkan yang panas, menenangkan yang bising, dan—sesekali—menyapu puing-puing kericuhan warga sendiri.

Maka ketika PBNU mulai “demam politik dalam negeri”, Tebuireng pun kembali dipanggil seperti dokter keluarga: “Dok, NU lagi panas nih, 39 derajat. Tolong dicek.”

Narasi Resmi vs. Suara Hati: Dua Kubu, Dua Dunia

Di atas kertas, Syuriyah dan Tanfidziyah sedang sibuk berdebat soal AD/ART—semacam kitab undang-undang yang, jujur saja, hanya benar-benar dibuka saat suasana sudah mulai ribut-ribut halus. Yang satu bilang wewenangnya lebih tinggi daripada menara pesantren, yang satu lagi bilang dirinya mandataris Muktamar, alias “dipilih langsung, bos”.

Di luar kertas, para kader muda NU mulai bersuara:

“Halo para kiai, kita ini bukan negara adidaya. Kalau bisa musyawarah dulu, kenapa langsung ‘tancap gas’?”

Mereka seperti mahasiswa yang baru pulang dari kajian filsafat lalu berkata:
“Kiai, ini bukan soal pasal. Ini soal rasa.”

Tebuireng: Tempat Damai Sekaligus Tempat Diam-Diam Tegang

Melihat kegaduhan ini, keluarga Tebuireng mengambil peran seperti nenek bijak yang berkata,
“Sudah, mari ke rumah nenek. Kita bicarakan baik-baik.”

Gus Umar pun menjadi sohibul hajat, meski dengan rendah hati bilang,
“Saya bukan pejabat struktural, saya hanya galau nasional.”

Undangan dikirim. Daftar tamu panjang, seperti acara pernikahan keluarga besar yang semua kerabatnya punya gelar kiai. Bahkan ada dua sesi:

  • Pagi untuk Rais Aam,
  • Siang untuk Ketua Umum.

Desainnya halus, rapi, penuh seni diplomasi yang bahkan KTT G20 pun mungkin iri.

Namun sebagaimana acara keluarga besar lainnya, selalu saja ada satu paman yang SMS-nya berbunyi:
“Maaf, saya tidak bisa hadir. Ada acara mendadak.”

Dalam hal ini, PMO acara mendadak itu bernama “Rapat Pleno 9–10 Desember”.

Absennya Satu Pihak: Ketika Islah Menjadi Monolog

Keputusan Rais Aam untuk tidak hadir membuat suasana seperti rapat penting tanpa salah satu bos besar. Semua hadir, slide sudah siap, kopi sudah dituang—tapi kursi utama kosong.

Seorang sumber bahkan berkomentar:
“Ini momentum besar! Tapi bagaimana mau peluk-pelukan kalau salah satu pihak tidak datang?”

Gus Yahya hadir di sesi siang, seperti murid yang tidak ingin dianggap membolos. Ketidakhadiran lawannya memberi efek dramatis:
“Yang mau islah siapa, yang tidak mau siapa?”
Pertanyaan itu menggantung seperti lampu kamar yang lupa dimatikan.

Dampak: Jalan Buntu yang Tetap Memberi Cahaya

Meski pertemuan berubah dari dialog menjadi monolog berkualitas tinggi, Tebuireng tetap berhasil melakukan satu hal: memberi tamparan moral yang lembut tapi menohok. Semacam pesan:
“Hei, ini rumah kita semua. Kalau kalian mau ribut, ributlah di teras. Jangan di ruang tamu.”

Sementara itu, kader muda dan warga NU di bawah menyuarakan hal sederhana:
“Kami pusing, tapi kami tetap cinta. Tolong islah lah, kiai-kiai.”

Masa depan PBNU kini seperti sinetron Ramadan: penuh drama, tapi semua berharap akhirnya bahagia.

Penutup: Pulanglah ke Rumah

NU kini punya dua jalan:

  • Jalan formal AD/ART yang tegak lurus—tapi kadang memicu sakit pinggang.
  • Atau jalan Tebuireng yang penuh teduh dan nasihat sepuh—tempat semua orang diingatkan bahwa NU bukan milik pasal, tapi milik jamaah.

Tebuireng hari ini memang belum menyelesaikan konflik. Tapi ia sudah mengingatkan semua pihak tentang satu hal penting:

Kadang, untuk menyelesaikan masalah besar, cukup duduk sebentar di rumah sendiri dan mengingat darimana semuanya bermula.

Dan kalau masih belum selesai juga… ya, Tebuireng siap buka sesi berikutnya. Biaya konsultasi? Tetap sama: keikhlasan.

abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.