Minggu, 07 Desember 2025

Khittah, Tambang, dan Masyayih : NU dalam Drama “Batubara Bersaudara”

Di sebuah sudut Pesantren Tebuireng yang biasanya lebih akrab dengan aroma kitab kuning dan kopi hitam, tiba-tiba muncul aroma lain: aroma drama. Bukan drama sinetron, bukan pula drama rebutan sandal saat jamaah bubar, melainkan drama tambang—sebuah genre baru yang tampaknya sedang digemari para elite organisasi besar zaman now.

Pada 6 Desember 2025, seorang sesepuh dengan reputasi ilmiah, spiritual, dan humor khas pesantren—sebut saja beliau Sang Kiai yang Banyak Tafsir—mengusulkan sesuatu yang membuat semua peserta silaturahim terhenyak:
“Kembalikan saja konsesi tambang itu.”

Seketika suasana hening. Bahkan kipas angin pun seperti berhenti berputar. Seolah-olah semua sedang bertanya dalam hati:
“Ini serius atau sindiran tingkat wahid?”

Namun, ternyata ini serius. Bahkan sangat serius. Karena menurut Kiai tersebut, urusan tambang yang awalnya tampak seperti rezeki nomplok dari langit, kini berubah menjadi beban seberat batu bara itu sendiri. Ibarat diberi hadiah motor baru, tapi ternyata motornya minta bensin mahal, suratnya ribet, dan malah jadi bahan rebutan dua cucu yang sama-sama ngaku paling berhak memakai.

Ketika Tambang Menjadi Ujian Iman (dan Kesabaran)

Pada mulanya, konsesi tambang ini dipandang sebagai tanda cinta negara kepada organisasi. Mirip-mirip hadiah kejutan:
“Ini tambang buat NU, semoga bermanfaat.”

Semua tersenyum. Semua optimis. Bahkan beberapa mungkin sudah mulai merancang program-program ekonomi umat versi “berbasis batu bara”.

Tapi seiring waktu, hadiah itu berubah seperti kucing hadiah dari tetangga: awalnya lucu, lama-lama menyerang gorden, mengacak-acak rumah, dan membuat pemilik bingung apakah ini memang kucing atau reinkarnasi singa.

Konflik pun meledak.
Bukan soal batubara-nya—batunya baik-baik saja, tidak menyalahkan siapa pun—tapi soal investor.
Satu pimpinan ingin investor A karena dekat pemerintah baru.
Satu lagi ingin investor B karena sudah lama bekerja sama.
Dua-duanya yakin pilihan mereka paling maslahat.
Dan dua-duanya juga punya pengikut setia yang siap berdebat tiga babak.

Singkatnya:
Tambangnya cuma satu, investornya dua, yang ribut satu negara.

Kiai Said dan Kaidah Fikih ala Humor Pesantren

Di tengah hiruk-pikuk itu, Kiai tetua ini tampil seperti ninja ulama—datang tidak untuk menambah ribut, tapi untuk memberikan jurus pamungkas:
“Kalau lebih banyak mudaratnya, ya tinggalkan.”

Kaidah fikih klasik. Sederhana. Tidak rumit. Bahkan santri baru pun hafal.
Namun ternyata, menerapkannya pada batu bara tidak semudah menerapkannya pada tinggalkan hutang atau tinggalkan mantan.

Maksud sang Kiai: NU ini jam’iyah diniyah ijtima’iyah—organisasi agama dan sosial—bukan startup tambang syariah.
NU itu tempat membina umat, bukan membina ekskavator.
NU itu pembawa keberkahan, bukan pemilik izin galian C.

Ia juga mengingatkan bahwa keberkahan NU bukan berasal dari mineral fosil, tapi dari:

  • ketulusan,
  • amanah,
  • ilmu, dan
  • kopi panas jam tiga pagi saat bahtsul masail.

Tambang dan Banjir: Sebuah Plot Twist Alam Semesta

Ketika drama ini berlangsung, alam semesta seakan ikut memberi komentar—Sumatra dilanda banjir dan longsor.
Seolah bumi sedang berdakwah:
“Kalau kalian ribut soal tambang, lihat ini akibat tambang yang tak beres.”

Tentu NU tak ingin dicap sebagai ormas yang sibuk bikin lingkungan stres. Apalagi banom NU terkenal paling cepat turun tangan saat bencana. Tidak lucu kalau mereka ikut menyelesaikan masalah yang secara tidak sengaja mereka ikuti sumbernya.

Islah: NU Versi Healing dan Terapi Kiai Sepuh

Yang menarik, banyak lembaga dan banom mendukung usulan Tebuireng, sambil menolak rapat sepihak yang membuat konflik makin panas.
Mereka seolah berkata:
“Sudahlah, mari kita kembali jadi NU yang damai. NU yang adem. NU yang tidak trending karena investor.”

Usulan pengembalian konsesi ini kemudian menjadi semacam “taubat organisasi”.
Ibarat seseorang yang sadar bahwa diet keto tidak cocok, lalu kembali makan nasi tanpa rasa bersalah.

Dengan mengembalikan konsesi, NU bisa mengembalikan kompas moralnya, merawat martabatnya, dan memastikan bahwa masa depan organisasi tidak ditentukan oleh harga batu bara global.

Penutup: NU Tetap Besar Tanpa Alat Berat

Pada akhirnya, seruan dari Tebuireng bukan sekadar saran manajemen aset.
Ini lebih mirip pengingat dari orang tua yang berkata dengan lembut namun menusuk:
“Anakku, kamu itu besar bukan karena tambang. Tapi karena akhlakmu.”

Jika NU ingin tetap menjadi mercusuar moral bangsa, mungkin benar kata sang Kiai:
Saatnya berhenti menggali tanah, dan mulai kembali menggali hikmah.

Dan siapa tahu, setelah tambang dikembalikan, suasana jadi lebih ringan.
Semua kembali fokus pada hal-hal penting…
seperti ngopi, ngaji, dan memastikan sandal jamaah tidak tertukar.

abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.