Minggu, 07 Desember 2025

Tausyiah Kiai Ubadullah: Ketika Debu Pesantren Menertawakan Politik Indonesia

KH Ubadullah Shodaqah mungkin tak menyangka bahwa pidatonya yang lirih itu akan menjadi semacam MRI bagi politik Indonesia tahun 2025. Di video yang diunggah NU Online, suaranya terdengar seperti ringtone HP jadul: kecil, sederhana, tapi berhasil membuat semua orang berhenti dan menatap layar. “Saya tidak berani neko-neko,” ujarnya. Di negeri yang setiap jam ada konferensi pers politik baru, kalimat itu terdengar seperti deklarasi partai paling jujur sepanjang sejarah demokrasi.

Ketika beliau menyebut para kiai kampung yang berjuang di “ruangan berdebu dan panas”, kita langsung membayangkan dua hal: suasana pengajian kampung… dan rapat partai yang AC-nya mati karena tagihan belum dibayar. Ironi pun muncul: para kiai kampung bekerja dalam debu tetapi bersih dari kepentingan, sementara sebagian elite politik bekerja di ruangan bersih tetapi penuh debu… moral.

Dan ketika Kiai Ubadullah berkata ia takut mengkhianati para kiai kecil itu, seluruh Indonesia tiba-tiba sadar: oh, ternyata masih ada orang yang takut mengkhianati sesuatu selain elektabilitas.

Kiai, Ruangan Berdebu, dan Partai Politik Ber-AC yang Bunyinya Sering Error

Kisah “kiai-kiai akar rumput” yang tak dapat panggung tetapi justru memegang moral paling tebal adalah satir alami dari kondisi politik Indonesia. Riset menunjukkan kepercayaan publik terhadap partai politik menurun drastis. Memang wajar—bagaimana publik mau percaya kalau yang tampil di televisi tiap minggu bukan prestasi, tapi klarifikasi?

Sementara itu, kiai kampung—tanpa studio podcast, tanpa lighting, tanpa buzzer—justru menjadi saluran aspirasi rakyat yang paling dipercaya. Mereka menjadi semacam customer service rakyat kecil ketika negara sibuk mengurusi drama koalisi yang berubah lebih cepat daripada promo flash sale.

Nilai-nilai yang disebut Kiai Ubadullah—tawadhu, ikhlas, dan kesetiaan pada basis—tiba-tiba terdengar seperti antivirus yang efektif untuk politik era echo chamber. Di tengah dunia maya yang saling maki, kiai kampung muncul sebagai cooling system sosial yang tidak perlu pendingin ruangan.

Fragmentasi Politik 2025: Generasi Z Masuk, Struktur Lama Kaget

Ketika Kiai Ubadullah mengaku minder, itu bukan karena beliau kurang percaya diri. Itu metafora halus bahwa struktur politik lama mulai kerepotan menghadapi energi baru yang datang bergulung-gulung.

Generasi Z datang dengan gaya politik yang cair: hari ini mendukung isu lingkungan, besok isu fintech, lusa isu “kakak kelas yang suka memotong antrean”. Mereka tidak punya loyalitas ideologi; yang mereka punya adalah loyalitas terhadap hal yang lagi trending. Maka ketika partai lama sibuk rapat internal, Gen Z sudah membuat gerakan digital yang menyebar lebih cepat daripada link giveaway palsu.

Tahun 2025 pun menjadi eranya startup politik. Muncullah Partai Hijau Nusantara, Partai Digital Indonesia, dan mungkin sebentar lagi Partai Emotikon Bersatu. Semua muncul dengan narasi segar, walau tetap menghadapi tembok kekuasaan lama yang tebalnya kira-kira sama dengan sampul buku UU Pemilu.

Masa Depan: Oligarki Masih Kuat, Tapi Harapan Tidak Sepenuhnya Habis

Kiai Ubadullah dengan halus menyebut “kekuasaan yang lalim”. Ini bukan ilmu nujum; ini observasi jujur tentang oligarki yang memperlakukan negara seperti franchise keluarga.

Di tengah politik uang yang tetap laris seperti es teh di warung makan, partai-partai baru dan energi Gen Z harus berjuang menembus sistem dinasti, transaksi jabatan, dan koalisi yang bubarnya lebih cepat daripada bubarnya janji kampanye setelah pelantikan.

Namun tetap ada harapan: kiai dengan otoritas moralnya bisa menjadi penyetabil server demokrasi, memastikan sistem tidak crash ketika beban oligarki terlalu besar. Mereka bisa menuntun energi liar Gen Z agar berubah dari “bara dalam sekam” menjadi “obor pembaruan”—tanpa membakar gedung DPR tentu saja.

Penutup: Demokrasi yang Merindukan Bau Debu Akar Rumput

Pidato singkat Kiai Ubadullah adalah semacam cermin: jernih, sederhana, tapi menunjukkan segala kerutan di wajah demokrasi Indonesia. Ketika elite sibuk menyusun koalisi, membuat baliho, dan menghibur partai koalisi lain yang ngambek, beliau justru mengingatkan bahwa jiwa demokrasi tidak tinggal di ruang rapat ber-AC.

Ia tinggal di ruangan berdebu, panas, dan penuh ketulusan—ruangan yang tidak pernah masuk instastory, tetapi justru menjadi fondasi sosial bangsa.

Dan mungkin, di tahun 2025 ini, politik Indonesia sebenarnya sedang rindu debu itu.

abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.