KH Ubadullah Shodaqah mungkin tak menyangka bahwa pidatonya yang lirih itu akan menjadi semacam MRI bagi politik Indonesia tahun 2025. Di video yang diunggah NU Online, suaranya terdengar seperti ringtone HP jadul: kecil, sederhana, tapi berhasil membuat semua orang berhenti dan menatap layar. “Saya tidak berani neko-neko,” ujarnya. Di negeri yang setiap jam ada konferensi pers politik baru, kalimat itu terdengar seperti deklarasi partai paling jujur sepanjang sejarah demokrasi.
Ketika beliau menyebut para kiai kampung yang berjuang di
“ruangan berdebu dan panas”, kita langsung membayangkan dua hal: suasana
pengajian kampung… dan rapat partai yang AC-nya mati karena tagihan belum
dibayar. Ironi pun muncul: para kiai kampung bekerja dalam debu tetapi bersih
dari kepentingan, sementara sebagian elite politik bekerja di ruangan bersih
tetapi penuh debu… moral.
Dan ketika Kiai Ubadullah berkata ia takut mengkhianati para
kiai kecil itu, seluruh Indonesia tiba-tiba sadar: oh, ternyata masih ada orang
yang takut mengkhianati sesuatu selain elektabilitas.
Kiai, Ruangan Berdebu, dan Partai Politik Ber-AC yang
Bunyinya Sering Error
Kisah “kiai-kiai akar rumput” yang tak dapat panggung tetapi
justru memegang moral paling tebal adalah satir alami dari kondisi politik
Indonesia. Riset menunjukkan kepercayaan publik terhadap partai politik menurun
drastis. Memang wajar—bagaimana publik mau percaya kalau yang tampil di
televisi tiap minggu bukan prestasi, tapi klarifikasi?
Sementara itu, kiai kampung—tanpa studio podcast, tanpa
lighting, tanpa buzzer—justru menjadi saluran aspirasi rakyat yang paling
dipercaya. Mereka menjadi semacam customer service rakyat kecil ketika
negara sibuk mengurusi drama koalisi yang berubah lebih cepat daripada promo flash
sale.
Nilai-nilai yang disebut Kiai Ubadullah—tawadhu, ikhlas, dan
kesetiaan pada basis—tiba-tiba terdengar seperti antivirus yang efektif untuk
politik era echo chamber. Di tengah dunia maya yang saling maki, kiai
kampung muncul sebagai cooling system sosial yang tidak perlu pendingin
ruangan.
Fragmentasi Politik 2025: Generasi Z Masuk, Struktur Lama
Kaget
Ketika Kiai Ubadullah mengaku minder, itu bukan karena
beliau kurang percaya diri. Itu metafora halus bahwa struktur politik lama
mulai kerepotan menghadapi energi baru yang datang bergulung-gulung.
Generasi Z datang dengan gaya politik yang cair: hari ini
mendukung isu lingkungan, besok isu fintech, lusa isu “kakak kelas yang suka
memotong antrean”. Mereka tidak punya loyalitas ideologi; yang mereka punya
adalah loyalitas terhadap hal yang lagi trending. Maka ketika partai
lama sibuk rapat internal, Gen Z sudah membuat gerakan digital yang menyebar
lebih cepat daripada link giveaway palsu.
Tahun 2025 pun menjadi eranya startup politik.
Muncullah Partai Hijau Nusantara, Partai Digital Indonesia, dan mungkin
sebentar lagi Partai Emotikon Bersatu. Semua muncul dengan narasi segar, walau
tetap menghadapi tembok kekuasaan lama yang tebalnya kira-kira sama dengan
sampul buku UU Pemilu.
Masa Depan: Oligarki Masih Kuat, Tapi Harapan Tidak
Sepenuhnya Habis
Kiai Ubadullah dengan halus menyebut “kekuasaan yang lalim”.
Ini bukan ilmu nujum; ini observasi jujur tentang oligarki yang memperlakukan
negara seperti franchise keluarga.
Di tengah politik uang yang tetap laris seperti es teh di
warung makan, partai-partai baru dan energi Gen Z harus berjuang menembus
sistem dinasti, transaksi jabatan, dan koalisi yang bubarnya lebih cepat
daripada bubarnya janji kampanye setelah pelantikan.
Namun tetap ada harapan: kiai dengan otoritas moralnya bisa
menjadi penyetabil server demokrasi, memastikan sistem tidak crash
ketika beban oligarki terlalu besar. Mereka bisa menuntun energi liar Gen Z
agar berubah dari “bara dalam sekam” menjadi “obor pembaruan”—tanpa membakar
gedung DPR tentu saja.
Penutup: Demokrasi yang Merindukan Bau Debu Akar Rumput
Pidato singkat Kiai Ubadullah adalah semacam cermin: jernih,
sederhana, tapi menunjukkan segala kerutan di wajah demokrasi Indonesia. Ketika
elite sibuk menyusun koalisi, membuat baliho, dan menghibur partai koalisi lain
yang ngambek, beliau justru mengingatkan bahwa jiwa demokrasi tidak tinggal di
ruang rapat ber-AC.
Ia tinggal di ruangan berdebu, panas, dan penuh
ketulusan—ruangan yang tidak pernah masuk instastory, tetapi justru
menjadi fondasi sosial bangsa.
Dan mungkin, di tahun 2025 ini, politik Indonesia sebenarnya
sedang rindu debu itu.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.