Rabu, 24 Desember 2025

Dari Deadline ke Dzikir: Cara Kiai Mengajari Waktu Agar Tidak Galak

Zaman sekarang, waktu itu seperti debt collector: selalu datang lebih cepat dari kesiapan kita. Baru juga subuh, tahu-tahu sudah asar. Baru niat hidup tenang, tahu-tahu kalender Google berbunyi seperti kentongan ronda. Maka tidak heran jika banyak orang mengeluh, “Hidup kok rasanya capek, tapi hasilnya segitu-gitu saja.” Dalam situasi inilah Kiai Haji Muhammad Luqman Hakim datang membawa kabar yang menenangkan sekaligus agak menampar: masalah kita bukan kurang waktu, tapi kurang barakah.

Dalam kajian Al-Hikam bertajuk “Selubung Dzikir”, Kiai Luqman mengajak kita berdamai dengan waktu—bukan dengan cara menambah jam, melainkan dengan mengubah isinya. Beliau membuka dengan hikmah Ibnu Athaillah yang terdengar seperti sindiran halus bagi para pencinta umur panjang tapi lupa tujuan: betapa banyak usia yang panjang tapi isinya tipis, dan betapa banyak usia pendek tapi pahalanya jumbo. Seperti pulsa: kuota besar tapi sinyal E, atau kuota kecil tapi Wi-Fi pesantren—stabil dan berkah.

Masalahnya, kata Kiai Luqman, kita ini sering terjebak pada akuntansi duniawi. Waktu dihitung seperti laporan keuangan: jam kerja, jam lembur, jam scroll media sosial (yang entah kenapa tidak pernah kita laporkan). Padahal, kalau jujur, dari 24 jam hidup kita, waktu yang benar-benar sadar sedang “bersama Allah” mungkin cuma seujung sajadah. Sisanya? Diisi dengan aktivitas sah tapi kosong makna—alias al-kidlan al-khidlan, kesibukan yang rajin tapi tak berbekas.

Lalu datanglah tafsir sufistik Surah Al-‘Asr yang bikin kita meringis sambil senyum. “Demi masa,” kata Allah. Tapi Kiai Luqman menambahkan: bisa juga dibaca “demi waktu Asar”—waktu yang pendek, mepet, tapi menentukan. Usia manusia itu seperti waktu Asar: sebentar, rawan kelupaan, dan sering ditunda dengan kalimat, “Nanti aja, masih ada waktu.” Padahal, yang masih ada waktu itu cuma sangkaan kita, bukan jaminan.

Solusinya bukan resign dari dunia, apalagi pindah ke gua. Kuncinya ada pada niat sakti bernama billah lillah. Bekerja karena Allah, untuk Allah. Kalau niat ini hidup, maka dari menyapu lantai sampai mengurus deadline bisa naik kelas menjadi ibadah. Bahkan kata para sufi—yang kata-katanya sering bikin orang awam bengong—setiap waktu bisa jadi Lailatul Qadar. Artinya, bukan malamnya yang istimewa, tapi hatinya yang hadir. Bukan jamnya yang mahal, tapi kesadarannya yang penuh.

Sayangnya, jalan menuju kesadaran ini sering tersandung dua batu besar: takabur dan riya’. Takabur lahir dari satu kata pendek tapi efeknya panjang: “aku”. Aku paling sibuk, aku paling capek, aku paling berkontribusi. Sedangkan riya’ membuat amal seperti foto makanan di medsos: tampak indah, tapi yang kenyang orang lain. Kiai Luqman mengingatkan, dzikir paling bernilai justru yang sunyi—yang tidak perlu like, tidak perlu applause, bahkan tidak perlu diketahui malaikat pencatat.

Di sinilah tasawuf terasa sangat relevan dengan dunia modern yang kelelahan. Di tengah budaya hustle yang memuja kerja tanpa henti, tasawuf tidak melarang kerja keras—ia hanya menambahkan hati yang hadir. Bisnis bukan soal omzet saja, tapi soal apakah ia membuat pelakunya makin sabar atau makin sombong. Belajar bukan sekadar mengejar IPK, tapi membaca jejak kebijaksanaan Allah di balik ilmu. Dengan begitu, stres berkurang, karena beban dunia berubah menjadi jalan pulang.

Tahapan spiritualnya pun jelas, meski tidak instan seperti tutorial YouTube: takhalli (buang penyakit hati), tahalli (isi dengan akhlak), lalu tajalli (cahaya datang sendiri). Tobat menjadi sapu pertama untuk membersihkan hati yang selama ini penuh debu niat campur aduk. Setelah itu, barulah hati cukup lapang untuk menyadari bahwa bumi Allah itu luas—bukan karena kita pindah tempat, tapi karena kita pindah kesadaran.

Maka pesan Kiai Luqman sesungguhnya sederhana tapi menantang: jangan sibuk menambah usia, sibuklah menambah makna. Waktu yang berduri bisa berubah menjadi mawar, asal disiram dengan dzikir dan kesadaran. Tidak perlu menunggu Ramadan, tidak perlu menunggu libur panjang. Cukup hadir dalam satu jam tafakkur, satu tarikan napas yang disadari, satu niat yang diluruskan.

Pada akhirnya, hidup yang beruntung bukan yang kalendernya penuh, tapi yang hatinya hidup. Ketika setiap detik diselimuti dzikir, maka waktu tak lagi galak—ia justru menjadi sahabat yang mengantar kita, pelan-pelan, menuju keabadian.

abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.