Di zaman modern yang penuh notifikasi, cicilan online, dan podcast motivasi yang isinya “jadilah diri sendiri” tapi tidak bilang yang mana, perjalanan spiritual sering terasa seperti nyalain lampu kamar yang saklarnya disembunyikan semesta. Ada yang sibuk dengan ritus lahiriah, ada pula yang terbang bebas dengan spiritualitas cair—mirip gelato, enak tapi cepat meleleh.
Lalu datanglah seorang Kiai dengan analogi yang begitu
jenius, sampai PLN mungkin ingin mendaftarkan hak cipta: ibadah itu seperti
instalasi listrik. Bagi masyarakat yang hidupnya tak lepas dari token
listrik dan bunyi meteran “tit-tit-tit”, analogi ini benar-benar masuk.
Syariat = Instalasi Rumah. Hakikat = Arusnya.
Syariat itu kabel, saklar, dan lampu. Pokoknya struktur
dasar. Tanpa itu, bagaimana Anda mau terang? Tapi tanpa hakikat—ikhlas, sabar,
cinta, iman—ibadah itu cuma pajangan. Seperti masang lampu hias 5 juta tapi
lupa beli listrik. Atau lebih parah, punya saklar tapi tidak tahu saklar itu
untuk lampu, bukan untuk kipas angin.
Ternyata, ribuan tahun salat pun tak menjamin lampu ruhani
menyala kalau colokannya tidak terhubung. Ini bukan salah ritualnya; mungkin
arusnya belum masuk… atau mungkin “MCB-nya turun” karena hati sering konslet
oleh ego.
Tarekat = PLN Versi Spiritual
Di sinilah analogi PLN makin cemerlang: tarekat adalah jaringan distribusi cahaya ilahi.
Silsilah itu kabel tegangan tinggi dari gardu induk utama:
Allah → Rasulullah → para guru → Anda.
Guru mursyid? Itu petugas resmi PLN yang datang dengan
seragam lengkap—eh, maksudnya—dengan izin spiritual. Tugasnya memastikan
sambungan Anda resmi, tidak menyimpang, tidak korsleting, dan yang
paling penting: tidak “nyantol” listrik tetangga spiritual.
Dalam dunia mistik, sambungan liar itu bahaya,
Saudara-saudara. Bisa-bisa yang masuk bukan cahaya, tapi “makhluk lain” yang
ikut numpang ngecharge.
Tapi… Ada Kritiknya Juga
Tentu saja, konsep “harus melalui jaringan resmi” sering
membuat orang merasa: wah, ini elit banget, apa saya harus antre di loket dulu?
Ada aliran Islam lain yang berkata hubungan dengan Tuhan itu direct
connection—kayak Wi-Fi tanpa password.
Belum lagi isu akses, gender, dan tantangan digitalisasi.
Padahal di 2025, orang belajar tasawuf bisa sambil rebahan lewat TikTok. Tapi
pesan Kiai ini menegaskan: spiritualitas itu bukan konten dua menit.
Transformasi batin butuh disiplin, bimbingan, dan jalur aman, bukan tutorial
instan yang kadang lebih bahaya daripada gunanya.
Audit Spiritual: Sudah Nyala atau Cuma Kedap-Kedip?
Akhirnya, pesan ini bukan sekadar metafora lucu, tapi ajakan
audit spiritual. Cek kabel hati. Periksa sambungan iman. Ganti steker yang aus.
Tanya diri sendiri:
- Lampu
ibadah saya sudah menyala atau cuma merdup karena cicilan batin?
- Ritual
saya sudah ada arus hakikatnya atau cuma gerakan setoran kewajiban?
- Saya
tersambung ke sumber cahaya, atau masih hidup dari “power bank” motivasi
temporer?
Di tengah dunia yang semakin gelap oleh overthinking dan
materialisme, mungkin inilah waktunya menyalakan lampu hati melalui tarekat
yang otentik. Bukan sekadar terang buat diri sendiri, tapi juga menerangi
sekitar—tanpa membuat tetangga mengeluh “dayanya turun”.
Karena pada akhirnya, kita semua adalah rumah yang punya
instalasi. Tinggal pertanyaannya: sudahkah kita benar-benar colok ke Sumber
Cahaya?
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.