Kalau NU itu sebuah olahraga, maka ia bukan bulu tangkis yang anggun, apalagi senam lantai yang penuh senyum. NU lebih mirip MMA: penuh peluh, keringat ideologis, dan kadang—maaf—sikut dari kawan sendiri. Inilah kesan pertama yang muncul saat membaca tulisan “Ngoyak Layangan Pedhot”, sebuah esai yang tidak sekadar mendukung Gus Yahya, tapi juga mengajak warga NU untuk pakai helm sejarah sebelum masuk gelanggang. Penulisnya tampaknya sadar betul: di NU, musuh paling berbahaya bukanlah yang pakai seragam lawan, melainkan yang masih satu grup WhatsApp. Maka, seperti dalang yang lihai, ia memanggil roh Gus Dur ke panggung. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk mengingatkan: “Hei, kita pernah jatuh karena terlalu percaya pada tim sendiri.” Trauma “The Dream Team” pun diangkat kembali—sebuah tim yang namanya keren, tapi bubarnya tragis, seperti boyband tahun 90-an.
Gus Yahya, dalam esai ini, digambarkan sebagai murid sejarah yang rajin. Ia tahu bahwa Gus Dur bukan tumbang karena kurang ide, tapi karena terlalu banyak yang mendadak “sibuk sendiri” setelah mencium aroma kekuasaan. Maka pesan implisitnya jelas: hati-hati, NU, jangan sampai mengulang kesalahan dengan versi update dan fitur tambahan.
Lalu masuklah kita ke arena utama: NU versi MMA. Di sini tidak ada wasit yang benar-benar netral, tidak ada jeda minum isotonic, dan yang ada justru rapat pemakzulan di hotel, reshuffle mendadak, serta wacana muktamar yang datang lebih cepat dari undangan nikahan. Semua sah sebagai jurus, bahkan yang sedikit di bawah sabuk.
Namun metafora paling jenius adalah “ngoyak layangan pedhot”. Ini bukan sekadar permainan anak kampung, tapi filsafat konflik tingkat tinggi. Ketika seseorang tak bisa memiliki layangan, ia memilih merobeknya. Logikanya sederhana: “Kalau aku tidak jadi ketua, ya jangan ada ketua sekalian.” Sebuah filosofi yang tampaknya diwariskan lintas generasi, lintas struktur, dan lintas grup pengajian.
Istilah “sampyuh” pun melengkapi suasana. Ini bukan sekadar ribut, tapi ribut sepenuh jiwa. Bar ji bar beh. Pokoknya kalau NU pecah, pecahnya harus niat, jangan setengah-setengah. Untungnya, penulis esai ini masih percaya bahwa NU bukan layangan murahan yang sekali sobek langsung jatuh ke sawah.
Di tengah semua hiruk-pikuk itu, Gus Yahya digambarkan tetap sibuk mengurus banjir dan bencana. Sebuah ironi yang indah: ketika elit sibuk menghitung dukungan, ketua umum justru menghitung karung bantuan. Ini semacam pesan halus bahwa kerja nyata sering kalah viral dibanding drama internal.
Akhirnya, esai ini ditutup dengan doa, karena di NU, doa adalah tombol reset paling ampuh. Hashtag #final_countdown memberi kesan bahwa ini bukan sekadar konflik, tapi episode terakhir sebuah sinetron panjang—mudah-mudahan bukan berlanjut ke season berikutnya.
Pesan jenakanya jelas: NU boleh ribut, boleh keras, bahkan boleh MMA. Tapi jangan sampai berubah jadi anak-anak yang lebih senang merobek layangan daripada menerbangkannya. Sebab kalau layangannya hancur, yang rugi bukan hanya pemainnya, tapi seluruh lapangan.
Dan seperti kata Gus Dur (yang pasti akan tertawa membaca semua ini): NU itu besar bukan karena bebas konflik, tapi karena mampu menertawakan dirinya sendiri—lalu kembali waras.
Insya Allah. Amin.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.