Kamis, 18 Desember 2025

Imam Al-Ghazali: Ketika Akal, Hati, dan Realitas Sosial Duduk di Warung Kopi yang Sama

Imam Al-Ghazali sering diperlakukan seperti barang antik di museum: dihormati, dipajang, tapi jarang dipakai. Padahal, jika beliau hidup hari ini, besar kemungkinan ia sudah viral—bukan karena joget, tapi karena kritiknya yang tajam terhadap akal yang kebablasan, spiritualitas yang sok tinggi, dan kesalehan yang gemar foto bersama pejabat. Melalui ceramah KH Said Aqil Siroj, Al-Ghazali dihadirkan kembali bukan sebagai fosil intelektual, melainkan sebagai moderator yang sabar di tengah debat kusir antara filsafat, tasawuf, dan realitas sosial.

Akal Boleh Jalan, Tapi Jangan Ngebut

Dalam Tahafut al-Falasifah, Al-Ghazali tampil seperti wasit yang meniup peluit keras-keras kepada para filsuf. Bukan karena mereka berpikir, tetapi karena berpikirnya sudah kelewat batas, sampai wahyu ditinggal di pinggir jalan. Tiga hal ia coret dengan tinta merah: alam yang dianggap kekal, Tuhan yang “kurang update” terhadap detail dunia, dan akhirat yang terlalu spiritual sampai lupa tubuh.

Namun yang menarik, Al-Ghazali mengkritik filsafat pakai filsafat. Ini seperti menegur orang yang salah hitung, tapi dengan kalkulator ilmiah. Artinya jelas: beliau tidak anti-akal, hanya anti-akal yang merasa dirinya Tuhan. Sebuah pesan yang terasa sangat relevan di zaman sekarang, ketika teknologi dianggap maha benar, dan iman disuruh menunggu update versi berikutnya.

Syariat Tanpa Hati Itu Seperti WiFi Tanpa Internet

Kontribusi terbesar Al-Ghazali adalah mendamaikan dua kubu yang dulu sering saling curiga: ahli fiqih dan kaum sufi. Yang satu sibuk mengukur sah-tidak sah, yang lain sibuk merasa “sudah sampai”. Dalam Ihya Ulumiddin, Al-Ghazali berkata: “Tenang, dua-duanya penting.”

Ibadah tanpa penyucian hati ibarat sepatu kinclong tapi kaki bau. Sebaliknya, spiritualitas tanpa syariat seperti naik motor tanpa helm sambil mengaku pasrah. Analogi “melepas sepatu” Nabi Musa dipakai Al-Ghazali untuk mengingatkan: ke hadirat Tuhan itu tidak cukup hanya wudu lahir, tapi juga cuci nafsu.

Di zaman sekarang, pesan ini masih relevan. Banyak yang rajin ibadah tapi mudah marah di kolom komentar, atau mengaku “spiritual banget” tapi zakatnya nanti dulu.

Tauhid Itu Bertingkat, Bukan Sekadar Status

Al-Ghazali punya cara unik menjelaskan tauhid: pakai kelapa. Dari kulit luar sampai minyak paling dalam. Artinya, iman itu bukan cuma soal pengakuan lisan atau status bio media sosial, tapi soal kedalaman pengalaman.

Di era sekarang, di mana tauhid sering dipakai sebagai label identitas, Al-Ghazali seakan bertanya dengan halus tapi menyengat: “Imanmu sudah sampai santan, atau masih di kulit?” Bukan untuk menghakimi, tapi untuk introspeksi. Karena boleh jadi kita rajin bicara soal Tuhan, tapi jarang benar-benar hadir bersama-Nya.

Orang Tertipu Itu Biasanya Merasa Paling Benar

Bab Asnaful Maghrurin dalam Ihya terasa seperti berita harian. Al-Ghazali mengingatkan bahwa yang paling mudah tertipu justru bukan orang awam, tapi mereka yang merasa sudah “paham agama”. Ulama yang silau jabatan, pejabat yang rajin sedekah tapi lupa amanah, dan aktivis yang teriak kebenaran sambil diam-diam memelihara nafsu politik.

KH Said Aqil dengan santai mengaitkannya dengan kondisi Indonesia hari ini: agama yang dijadikan spanduk, ibadah yang dijadikan alat tawar, dan kesalehan yang rajin tampil tapi malas berubah. Musuhnya bukan kafir imajiner, melainkan nafsu yang pakai baju religius.

Ketika Profesor Memilih Mundur demi Cahaya

Puncak kejujuran Al-Ghazali justru saat ia meninggalkan jabatan rektor dan popularitas. Ia sadar ilmunya penuh, tapi hatinya kosong. Maka ia pergi—bukan healing ala konten Instagram, tapi perjalanan sunyi mencari makna.

Konsep khatir (lintasan hati) yang ia rumuskan terasa sangat cocok di zaman notifikasi tanpa henti. Tidak semua bisikan itu ilham; sebagian hanya nafsu yang pandai menyamar. Al-Ghazali mengajarkan filter batin, jauh sebelum kita kenal spam detector.

Penutup: Jangan Sampai Saleh Tapi Tertipu

Imam Al-Ghazali, lewat KH Said Aqil Siroj, mengingatkan kita bahwa Islam bukan lomba kesalehan visual, bukan pula arena adu dalil tanpa akhlak. Ia adalah jalan tengah: akal yang rendah hati, ibadah yang bernyawa, spiritualitas yang membumi, dan keberanian mengkritik diri sendiri.

Di tengah Indonesia yang religius tapi mudah tersulut, rajin ritual tapi rapuh etika, Al-Ghazali hadir sebagai pengingat lembut sekaligus pedas: yang paling berbahaya bukan orang sesat, tapi orang yang merasa sudah sampai.

Dan jangan-jangan, tanpa sadar, kita semua sedang antri masuk kategori al-maghrurin—orang-orang yang tertipu, sambil merasa paling benar.

abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.