Kamis, 18 Desember 2025

Dari Imperium ke Negara-Bangsa: Ketika Identitas Tiongkok Dituduh Hasil “Instal Ulang Sistem”

Pendahuluan: Tiongkok dan Tuduhan Sebagai Produk Rekayasa

Di jagat Twitter—tempat 280 karakter kerap merasa cukup untuk menjelaskan 2.000 tahun sejarah—Daniel Foubert mengajukan tesis yang terdengar seperti iklan jasa IT peradaban: Tiongkok bukan bangsa alami, melainkan hasil rekayasa negara paling ambisius sepanjang sejarah. Sebuah proyek top-down selama dua milenium, lengkap dengan standarisasi aksara, ujian negara, “spons etnis Han”, hingga Partai Komunis sebagai update terakhir sistem operasi.

Narasi ini memikat. Rapi. Dan—seperti presentasi PowerPoint yang terlalu mulus—mencurigakan. Sebab jika benar Tiongkok adalah hasil “instalasi perangkat lunak” identitas nasional, maka ia adalah satu-satunya komputer di dunia yang tidak pernah crash selama 2.000 tahun. Sebuah klaim yang bahkan Apple pun tak berani buat.

Tiongkok Versi Foubert: Negara Sebagai Programmer Agung

Dalam versi Foubert, sejarah Tiongkok tampak seperti proyek nation-building yang dikerjakan oleh satu tim developer lintas dinasti.

Dinasti Qin berperan sebagai teknisi awal: menyatukan aksara, menstandardisasi ukuran, dan mungkin—jika ada—menghapus bug regional. Sistem Ujian Imperial lalu hadir sebagai training program nasional: seluruh elite diwajibkan menghafal Konfusius, seolah moralitas bisa diseragamkan lewat multiple choice test.

Konsep etnis Han digambarkan sebagai spons budaya: apa pun yang ditaklukkan, disentuh, atau kebetulan lewat—langsung diserap, diberi label, dan disebut “Han sejak dulu”. Puncaknya, Partai Komunis Tiongkok muncul sebagai accelerator mode: satu bahasa nasional, satu zona waktu (meski matahari di Xinjiang tampak bingung), dan infrastruktur yang menghubungkan segalanya.

Dalam versi ini, Tiongkok bukan bangsa, melainkan proyek manajemen identitas paling sukses di dunia—sementara Barat sibuk ekspansi, Tiongkok cukup duduk manis, menerima upeti, dan sesekali mengirim Zheng He sebagai roadshow diplomatik.

Masalah Pertama: Rakyat Tiongkok Bukan Flashdisk Kosong

Masalah kecil dari narasi ini adalah asumsi bahwa masyarakat Tiongkok selama ribuan tahun bersikap seperti hard disk baru: menunggu sistem apa pun yang ingin diinstal negara.

Padahal, aksara Han bertahan bukan hanya karena dipaksa, tapi karena berguna. Ia memudahkan administrasi, perdagangan, dan komunikasi lintas dialek—sesuatu yang bahkan pedagang lebih patuhi daripada tentara. Konfusianisme juga tidak turun dari langit sebagai paket ideologi siap pakai; ia ditafsir ulang, dipelintir, dan disesuaikan oleh para shidafu lokal, lengkap dengan logat daerah dan kepentingan keluarga.

Identitas Han sendiri lahir dari proses yang jauh dari steril: perkawinan silang, kompromi ekonomi, ritual lokal, dan negosiasi sehari-hari. Jika ini disebut “rekayasa”, maka itu rekayasa yang terlalu bergantung pada improvisasi warga desa.

Masalah Kedua: Sejarah Tiongkok Terlalu Sering “Restart”

Narasi Foubert juga menyiratkan kesinambungan nyaris tanpa putus—seolah Tiongkok berjalan di mode autopilot selama 2.000 tahun. Padahal, sejarahnya penuh episode system failure.

Empat abad perpecahan pasca-Dinasti Han, era Tiga Negara yang lebih mirip serial politik daripada proyek kesatuan, hingga pemerintahan Mongol dan Manchu—semua menunjukkan bahwa “spons Han” tidak selalu bekerja instan. Para penakluk justru sering memaksa kompromi struktural, bukan sekadar larut dalam budaya lokal.

Kesatuan Tiongkok bukan garis lurus, melainkan ritme tarik-ulur: integrasi, disintegrasi, lalu integrasi lagi. Sebuah proses yang lebih menyerupai napas panjang peradaban daripada skrip algoritmik.

Masalah Ketiga: Identitas Bukan Aplikasi Siap Pasang

Analogi favorit Foubert—software identitas yang diinstal pada hardware keberagaman—terdengar canggih, tapi terlalu mekanistik. Bahasa, budaya, dan institusi tidak bekerja seperti aplikasi ponsel.

Standarisasi Qin berhasil karena ada fondasi budaya bersama sebelumnya. Sistem ujian bertahan karena cocok dengan struktur sosial agraris yang menghargai mobilitas merit. Ketika rekayasa negara tidak selaras dengan realitas sosial, sejarah menunjukkan hasilnya bukan kesatuan—melainkan pemberontakan.

Jika identitas bisa dipasang sepenuhnya dari atas, dunia ini pasti dipenuhi negara harmonis. Kenyataannya, banyak negara mencoba—dan gagal spektakuler.

Masalah Keempat: Keberagaman yang Katanya “Dihapus”, Tapi Masih Ribut

Foubert juga memberi kesan bahwa Tiongkok modern berhasil “menghapus” keberagaman. Anehnya, keberagaman itu tampak keras kepala: dialek Kantonis masih hidup, budaya regional masih kuat, dan identitas etnis minoritas tetap dinegosiasikan—kadang tegang, kadang adaptif.

Putonghua berfungsi sebagai bahasa kerja nasional, bukan penghapus identitas lokal total. Ini lebih mirip lingua franca pragmatis daripada penghapus budaya. Ketegangan antara pusat dan daerah justru menunjukkan bahwa proyek kesatuan belum—dan mungkin tak pernah—final.

Eropa vs Tiongkok: Dikotomi yang Terlalu Rapi

Kontras Foubert antara Eropa yang “alami” dan Tiongkok yang “direkayasa” juga agak romantis. Negara-bangsa Eropa dibangun dengan cara yang tak kalah keras: bahasa nasional dipaksakan, dialek ditekan, dan identitas lama dikemas ulang sebagai folklore.

Bedanya bukan soal rekayasa versus alamiah, melainkan durasi, kontinuitas, dan keberhasilan relatif. Semua bangsa direkayasa—hanya saja ada yang punya waktu 2.000 tahun, ada yang dikejar target ujian nasional abad ke-19.

Kesimpulan: Tiongkok Bukan Mesin, Tapi Organisme Bandel

Narasi Foubert berguna sebagai pengingat bahwa negara memang aktif membentuk identitas. Namun ketika ia diperlakukan sebagai grand algorithm yang berjalan mulus selama dua milenium, kita kehilangan satu hal penting: manusia dan kekacauannya.

Tiongkok bukan mesin rekayasa sempurna, melainkan organisme peradaban yang keras kepala—terus menjadi, terus menegosiasikan dirinya sendiri. Kesatuannya bukan hasil instalasi tunggal, melainkan rajutan ulang yang tak pernah selesai.

Jika ada “keajaiban” dalam sejarah Tiongkok, itu bukan karena rekayasa tanpa cela, melainkan karena kemampuan bertahan dalam kontradiksi: menyatu tanpa sepenuhnya seragam, berubah tanpa kehilangan benang merah.

Dan mungkin di situlah pelajaran paling universalnya: identitas nasional bukanlah produk jadi, melainkan pekerjaan rumah yang tak pernah benar-benar dikumpulkan.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.