Pendahuluan: Tiongkok dan Tuduhan Sebagai Produk Rekayasa
Di jagat Twitter—tempat 280 karakter kerap merasa cukup
untuk menjelaskan 2.000 tahun sejarah—Daniel Foubert mengajukan tesis yang
terdengar seperti iklan jasa IT peradaban: Tiongkok bukan bangsa alami,
melainkan hasil rekayasa negara paling ambisius sepanjang sejarah. Sebuah
proyek top-down selama dua milenium, lengkap dengan standarisasi aksara,
ujian negara, “spons etnis Han”, hingga Partai Komunis sebagai update
terakhir sistem operasi.
Narasi ini memikat. Rapi. Dan—seperti presentasi PowerPoint
yang terlalu mulus—mencurigakan. Sebab jika benar Tiongkok adalah hasil
“instalasi perangkat lunak” identitas nasional, maka ia adalah satu-satunya
komputer di dunia yang tidak pernah crash selama 2.000 tahun. Sebuah
klaim yang bahkan Apple pun tak berani buat.
Tiongkok Versi Foubert: Negara Sebagai Programmer Agung
Dalam versi Foubert, sejarah Tiongkok tampak seperti proyek nation-building
yang dikerjakan oleh satu tim developer lintas dinasti.
Dinasti Qin berperan sebagai teknisi awal: menyatukan
aksara, menstandardisasi ukuran, dan mungkin—jika ada—menghapus bug
regional. Sistem Ujian Imperial lalu hadir sebagai training program
nasional: seluruh elite diwajibkan menghafal Konfusius, seolah moralitas bisa
diseragamkan lewat multiple choice test.
Konsep etnis Han digambarkan sebagai spons budaya:
apa pun yang ditaklukkan, disentuh, atau kebetulan lewat—langsung diserap,
diberi label, dan disebut “Han sejak dulu”. Puncaknya, Partai Komunis Tiongkok
muncul sebagai accelerator mode: satu bahasa nasional, satu zona waktu
(meski matahari di Xinjiang tampak bingung), dan infrastruktur yang
menghubungkan segalanya.
Dalam versi ini, Tiongkok bukan bangsa, melainkan proyek
manajemen identitas paling sukses di dunia—sementara Barat sibuk ekspansi,
Tiongkok cukup duduk manis, menerima upeti, dan sesekali mengirim Zheng He
sebagai roadshow diplomatik.
Masalah Pertama: Rakyat Tiongkok Bukan Flashdisk Kosong
Masalah kecil dari narasi ini adalah asumsi bahwa masyarakat
Tiongkok selama ribuan tahun bersikap seperti hard disk baru: menunggu sistem
apa pun yang ingin diinstal negara.
Padahal, aksara Han bertahan bukan hanya karena dipaksa,
tapi karena berguna. Ia memudahkan administrasi, perdagangan, dan
komunikasi lintas dialek—sesuatu yang bahkan pedagang lebih patuhi daripada
tentara. Konfusianisme juga tidak turun dari langit sebagai paket ideologi siap
pakai; ia ditafsir ulang, dipelintir, dan disesuaikan oleh para shidafu
lokal, lengkap dengan logat daerah dan kepentingan keluarga.
Identitas Han sendiri lahir dari proses yang jauh dari
steril: perkawinan silang, kompromi ekonomi, ritual lokal, dan negosiasi
sehari-hari. Jika ini disebut “rekayasa”, maka itu rekayasa yang terlalu
bergantung pada improvisasi warga desa.
Masalah Kedua: Sejarah Tiongkok Terlalu Sering “Restart”
Narasi Foubert juga menyiratkan kesinambungan nyaris tanpa
putus—seolah Tiongkok berjalan di mode autopilot selama 2.000 tahun.
Padahal, sejarahnya penuh episode system failure.
Empat abad perpecahan pasca-Dinasti Han, era Tiga Negara
yang lebih mirip serial politik daripada proyek kesatuan, hingga pemerintahan
Mongol dan Manchu—semua menunjukkan bahwa “spons Han” tidak selalu bekerja
instan. Para penakluk justru sering memaksa kompromi struktural, bukan sekadar
larut dalam budaya lokal.
Kesatuan Tiongkok bukan garis lurus, melainkan ritme
tarik-ulur: integrasi, disintegrasi, lalu integrasi lagi. Sebuah proses
yang lebih menyerupai napas panjang peradaban daripada skrip algoritmik.
Masalah Ketiga: Identitas Bukan Aplikasi Siap Pasang
Analogi favorit Foubert—software identitas yang
diinstal pada hardware keberagaman—terdengar canggih, tapi terlalu
mekanistik. Bahasa, budaya, dan institusi tidak bekerja seperti aplikasi
ponsel.
Standarisasi Qin berhasil karena ada fondasi budaya
bersama sebelumnya. Sistem ujian bertahan karena cocok dengan struktur
sosial agraris yang menghargai mobilitas merit. Ketika rekayasa negara tidak
selaras dengan realitas sosial, sejarah menunjukkan hasilnya bukan
kesatuan—melainkan pemberontakan.
Jika identitas bisa dipasang sepenuhnya dari atas, dunia ini
pasti dipenuhi negara harmonis. Kenyataannya, banyak negara mencoba—dan gagal
spektakuler.
Masalah Keempat: Keberagaman yang Katanya “Dihapus”, Tapi
Masih Ribut
Foubert juga memberi kesan bahwa Tiongkok modern berhasil
“menghapus” keberagaman. Anehnya, keberagaman itu tampak keras kepala: dialek
Kantonis masih hidup, budaya regional masih kuat, dan identitas etnis minoritas
tetap dinegosiasikan—kadang tegang, kadang adaptif.
Putonghua berfungsi sebagai bahasa kerja nasional,
bukan penghapus identitas lokal total. Ini lebih mirip lingua franca
pragmatis daripada penghapus budaya. Ketegangan antara pusat dan daerah
justru menunjukkan bahwa proyek kesatuan belum—dan mungkin tak pernah—final.
Eropa vs Tiongkok: Dikotomi yang Terlalu Rapi
Kontras Foubert antara Eropa yang “alami” dan Tiongkok yang
“direkayasa” juga agak romantis. Negara-bangsa Eropa dibangun dengan cara yang
tak kalah keras: bahasa nasional dipaksakan, dialek ditekan, dan identitas lama
dikemas ulang sebagai folklore.
Bedanya bukan soal rekayasa versus alamiah, melainkan durasi,
kontinuitas, dan keberhasilan relatif. Semua bangsa direkayasa—hanya saja
ada yang punya waktu 2.000 tahun, ada yang dikejar target ujian nasional abad
ke-19.
Kesimpulan: Tiongkok Bukan Mesin, Tapi Organisme Bandel
Narasi Foubert berguna sebagai pengingat bahwa negara memang
aktif membentuk identitas. Namun ketika ia diperlakukan sebagai grand
algorithm yang berjalan mulus selama dua milenium, kita kehilangan satu hal
penting: manusia dan kekacauannya.
Tiongkok bukan mesin rekayasa sempurna, melainkan organisme
peradaban yang keras kepala—terus menjadi, terus menegosiasikan dirinya
sendiri. Kesatuannya bukan hasil instalasi tunggal, melainkan rajutan ulang
yang tak pernah selesai.
Jika ada “keajaiban” dalam sejarah Tiongkok, itu bukan
karena rekayasa tanpa cela, melainkan karena kemampuan bertahan dalam
kontradiksi: menyatu tanpa sepenuhnya seragam, berubah tanpa kehilangan
benang merah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.