Tahun 2025 bagi Nahdlatul Ulama (NU) ibarat naik bus antarkota: ada yang duduk manis, ada yang berdiri sambil pegangan, ada pula yang sempat adu dengkul sebelum akhirnya sama-sama turun di terminal persatuan. Riuh, panas, penuh cerita—tapi tetap sampai tujuan. Itulah ketangguhan jam’iyyah yang sudah lebih dari seabad terbiasa menghadapi jalan berlubang tanpa harus ganti sopir setiap kali bannya goyang.
Awal tahun dibuka dengan Harlah ke-102 NU. Angkanya sudah
tiga digit, tapi semangatnya masih seperti santri baru pulang dari bahtsul
masail: segar, penuh dalil, dan sedikit percaya diri. PBNU meluncurkan Gerakan
Keluarga Maslahat NU (GKMNU), yang secara sederhana bisa dibaca sebagai pesan
klasik NU: kalau keluarga beres, negara ikut waras.
Tak mau kalah dengan zaman, lahirlah Koin NU Digital. Infak
sekarang tak lagi harus bunyi “kletak” di kaleng, cukup bunyi “ting” di ponsel.
Sebagian warga NU sempat bertanya, “Kalau HP-nya mati, pahalanya ikut lowbat
tidak?” Tapi NU menjawab dengan tenang: teknologi hanyalah alat, niat tetap di
hati—bukan di charger.
Lembaga Falakiyah tetap setia menghitung hilal, memastikan
umat tidak puasa kepagian atau lebaran sendirian. Muslimat NU sibuk urusan
lingkungan hidup, sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) memastikan
santri tidak hanya kenyang ilmu, tapi juga kuat angkat kitab. NU, seperti
biasa, bekerja sambil lalu—tidak banyak teriak, tapi dapurnya ngebul.
Namun, seperti sinetron panjang yang rating-nya justru naik
saat konflik muncul, paruh akhir 2025 menghadirkan drama internal. Ketegangan
antara Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU mencuat. Publik mulai sibuk menganalisis:
ada yang pakai kacamata politik, ada yang pakai tafsir fiqih, ada juga yang
cukup menyeduh kopi dan bilang, “Tenang, NU ini sudah kenyang konflik.”
Puncaknya terjadi di Musyawarah Kubro di Lirboyo. Dua opsi
mengemuka: islah atau Muktamar Luar Biasa. Suasananya serius, tapi tidak
tegang—lebih mirip keluarga besar yang sedang rapat menentukan siapa yang cuci
piring setelah kenduri. Empat hari kemudian, keputusan pun lahir: islah. Tidak
pakai lembar pernyataan panjang, tidak ada meja dibanting. Cukup duduk bersama,
saling mendengar, lalu sepakat bahwa NU lebih besar dari ego siapa pun.
Pertemuan lanjutan di Surabaya menutup tahun dengan suasana
adem. Tahun 2025 pun resmi tercatat sebagai tahun di mana NU kembali
membuktikan keahliannya: ribut tanpa pecah, beda tanpa bubar, dan selesai tanpa
harus viral berlebihan. Resilience ala NU bukan teori manajemen, melainkan
kebiasaan turun-temurun.
Memasuki 2026, NU melangkah dengan harapan baru. Muktamar
Ke-35 di depan mata, membawa harapan persatuan yang lebih solid. Program tetap
jalan, khidmah terus berlanjut, dan kontribusi kebangsaan diharapkan makin
terasa. NU ingin tetap relevan tanpa kehilangan jati diri—modern tanpa minder,
tradisional tanpa kolot.
Pelajaran 2025 sederhana tapi mahal: besar itu bukan soal
bebas konflik, melainkan mampu menyelesaikannya tanpa kehilangan adab. NU,
seperti biasa, tidak sempurna—tapi selalu belajar. Dan barangkali, di situlah
rahasianya bisa bertahan lebih dari satu abad: kalau jatuh, bangun; kalau
panas, ngopi; kalau beda, musyawarah.
Wallāhul muwaffiq ilā aqwamit ṭarīq.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.