Jumat, 19 Desember 2025

Dunia Multipolar: Ketika Liberal Barat Tak Lagi Satu-Satunya Paket All You Can Eat

Di panggung geopolitik global, dunia kini mirip food court internasional. Dulu, hanya ada satu stan besar bertuliskan “Universalisme Liberal Barat”—menu paket lengkap: demokrasi liberal, pasar bebas, HAM, dan bonus ceramah moral. Sekarang? Muncul stan baru dengan lampion merah dan tulisan “Chinese Governance: Rekomendasi Chef”. Dan rupanya, antreannya panjang.

Melalui cuitan (yang panjangnya singkat tapi maknanya berat) Gita Wirjawan, kita diajak mengintip buku Party Life karya Eric Li. Bukan sekadar resensi buku, ini lebih mirip ajakan merenung sambil menyeruput teh geopolitik: “Apa iya, hanya ada satu cara menjadi negara modern?”

Menurut Eric Li—dan ditangkap dengan cukup elegan oleh Gita—Barat tampaknya masih yakin bahwa liberalisme adalah Windows bawaan dunia, sementara China membuktikan bahwa Linux juga bisa jalan, bahkan stabil, walau tampilannya beda dan dokumentasinya dalam bahasa Mandarin.

Buktinya? China yang dulu nyaris nihil soal HKI, kini rajin mengajukan paten seperti mahasiswa dikejar deadline. Lulusan STEM-nya jutaan per tahun, R&D-nya konsisten di atas 2,5% PDB, dan inovasinya tak lagi sekadar “Made in China”, tapi “Designed, Patented, and Mass-Produced in China”. Memang, masih ada debat soal kualitas vs kuantitas—tapi bagaimanapun, angka sebesar itu sulit diabaikan, kecuali Anda sedang pura-pura sibuk scroll timeline.

Yang menarik, kesuksesan ini tidak diklaim sebagai kebetulan kosmis atau feng shui geopolitik, melainkan hasil tata kelola PKC yang digambarkan adaptif. Partai ini, kata Li, bukan patung Mao yang kaku, tapi lebih seperti manajer proyek raksasa: konsolidasi pasca-revolusi, reformasi lewat kampanye anti-korupsi, hijau-hijauan, dan sedikit sentuhan pengurangan ketimpangan—semuanya demi satu tujuan luhur: stabilitas dulu, demokrasi nanti (atau mungkin nanti sekali).

Dalam logika ini, stabilitas adalah fondasi utama untuk menyediakan “barang publik”, baik di dalam negeri maupun global. Globalisasi pun ditawarkan versi baru: tanpa paksaan nilai universal, tanpa harus ikut paket ideologi Barat ukuran L. Anda boleh maju, asal jangan dipaksa ganti baju budaya.

Di sinilah Gita menekankan tawaran filosofisnya: masa depan globalisasi seharusnya menghormati kedaulatan dan prioritas budaya masing-masing negara. Dunia multipolar, katanya, bukan arena adu moral, melainkan ruang saling mengakui. Dengan cara ini, kita bisa menghindari Jebakan Thucydides—skenario di mana AS dan China saling menatap tajam seperti dua jagoan di film laga, padahal sebenarnya sama-sama capek.

Solusinya? Saling mengakui kontribusi. Barat menerima kebangkitan China sebagai keniscayaan sejarah, dan China mengakui bahwa sebagian kesuksesannya tumbuh di ladang sistem internasional yang dulu dirancang Barat. Semacam “ya, kita berbeda, tapi sama-sama pernah nyontek buku yang sama.”

Tentu saja, narasi ini tak luput dari kritik. Banyak yang mencurigai aroma soft propaganda—versi halus dari pembelaan sistem otoriter dengan bumbu statistik. Kritik HAM dan kebebasan politik sering dianggap “catatan kaki” yang terlalu kecil, sementara klaim pluralisme dikhawatirkan hanya etalase cantik untuk hegemoni model baru. Belum lagi tuduhan soal pencurian HKI dan ketergantungan awal pada transfer teknologi—isu yang muncul cepat di kolom balasan Twitter, lebih cepat dari klarifikasi resmi.

Namun bagi Indonesia dan negara-negara Dunia Ketiga, wacana ini terasa menggoda. Ia memberi harapan bahwa menjadi modern tidak harus berarti menjadi fotokopi Barat dengan watermark budaya sendiri. Model China, setidaknya dalam narasi ini, menunjukkan bahwa sebuah peradaban bisa melesat secara teknologi sambil tetap bersikeras, “Ini jalan kami, jangan disuruh ganti jalur.”

Pada akhirnya, tweet Gita Wirjawan tentang Party Life bukan sekadar promosi bacaan sebelum tidur. Ia adalah provokasi intelektual ringan tapi menggelitik, yang memaksa kita bertanya: apakah dunia memang harus seragam agar adil? Atau justru keadilan lahir dari pengakuan bahwa jalan menuju kemajuan itu banyak, berliku, dan tidak selalu lewat Washington?

Dunia multipolar mungkin bukan surga tanpa konflik. Tapi jika dikelola dengan dialog kritis—tanpa romantisme berlebihan dan tanpa klaim moral tunggal—ia bisa menjadi ruang di mana perbedaan tidak otomatis berarti permusuhan. Tentu, dengan satu catatan penting: pluralitas jalan menuju kemajuan tetap harus berjalan beriringan dengan prinsip kemanusiaan universal, yang tak boleh dikorbankan hanya demi stabilitas, statistik, atau grafik pertumbuhan yang tampak cantik di slide presentasi.

abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.