Kamis, 25 Desember 2025

Muktamar: Ketika Konflik NU Diselesaikan dengan Cium Tangan dan Musyawarah

Jika organisasi modern menyelesaikan konflik dengan konferensi pers, pengacara, dan utas panjang di media sosial, Nahdlatul Ulama punya cara sendiri: sowan ke pesantren, duduk lesehan, lalu diakhiri dengan cium tangan kiai sepuh. Inilah mengapa konflik internal NU sering terasa lebih mirip drama keluarga besar daripada perang korporasi—ramai, emosional, tapi ujung-ujungnya makan bareng.

Berita tentang kesepakatan menggelar Muktamar ke-35 pasca pertemuan di Pesantren Lirboyo bukanlah sekadar kabar administratif. Ini bukan cerita tentang jadwal dan panitia, melainkan kisah bagaimana NU mengaktifkan mode tradisionalnya: ketika struktur panas, kultur menenangkan; ketika surat keputusan membuat dahi berkerut, kiai sepuh membuat hati luluh.

Konflik yang sempat memanas akibat pemberhentian Ketua Umum PBNU Gus Yahya oleh Rais Aam KH Miftachul Akhyar sejatinya membuka satu kenyataan lama: NU bukan organisasi yang bisa diselesaikan hanya dengan pasal dan kop surat. Begitu tensi naik, sistem keamanan otomatis NU langsung bekerja—namanya musyawarah plus barokah. Dari Ploso, Tebuireng, hingga Musyawarah Kubro di Lirboyo, tampak jelas bahwa dalam NU ada “jalur alternatif” yang tidak tercantum di AD/ART, tetapi dihafal di luar kepala: jalur kiai.

Keputusan mempercepat Muktamar adalah bukti bahwa NU tahu kapan harus berhenti berdebat dan mulai berkumpul. Muktamar, dalam konteks ini, bukan sekadar forum tertinggi, tetapi semacam “ruang pendingin nasional” ala NU—tempat semua suara dilebur, ego diturunkan, dan keputusan dikembalikan ke jamaah. Kalau NU punya tombol reset, namanya memang Muktamar.

Pertemuan di Lirboyo sendiri penuh simbol yang bahkan lebih kuat daripada rilis resmi. Kehadiran Gus Yahya bukan karena undangan formal, melainkan karena panggilan pesantren—dan dalam kultur NU, panggilan pesantren itu levelnya di atas notulen. Adegan Gus Yahya mencium tangan para kiai sepuh seperti KH Ma’ruf Amin dan KH Anwar Manshur adalah komunikasi politik paling efektif di NU: tanpa mikrofon, tanpa moderator, tapi pesannya sampai ke seluruh ranting. Di NU, satu cium tangan bisa mengalahkan sepuluh klarifikasi.

Pesantren Lirboyo tampil sebagai mediator kelas berat—netral, berwibawa, dan tidak perlu menjelaskan CV-nya. Ia mengingatkan semua pihak bahwa di atas struktur organisasi ada sesuatu yang lebih tinggi: ilmu, akhlak, dan kemaslahatan umat. Dan pesan ini disampaikan bukan lewat pidato panjang, melainkan lewat suasana, adab, dan secangkir teh hangat.

Dari sisi politik kebangsaan, langkah NU ini patut dicatat. Di tengah Indonesia yang gampang panas oleh perbedaan, NU justru memamerkan cara menyelesaikan konflik tanpa membakar jembatan. Tidak ada yang dikorbankan di alun-alun, tidak ada yang diblokir dari grup WhatsApp—yang ada justru dialog, sowan, dan kesediaan untuk kembali ke forum bersama. Sebuah soft power yang jarang diajarkan di sekolah politik.

Tentu saja tantangan belum selesai. Kesepakatan elite harus turun ke cabang dan ranting, dan Muktamar yang dipercepat menuntut kerja ekstra—baik logistik maupun batin. Tapi NU sudah terbiasa bekerja dengan dua sumber energi: kopi dan niat baik. Selama keduanya tersedia, proses biasanya berjalan.

Pada akhirnya, kisah ini menegaskan satu hal penting: tradisi musyawarah Ahlussunnah wal Jamaah di NU bukan romantisme masa lalu, melainkan teknologi sosial yang masih sangat relevan. Dengan kembali ke pesantren, menghormati kiai, dan menyerahkan keputusan ke Muktamar, NU menunjukkan bahwa ia tidak panik menghadapi konflik—karena ia tahu jalannya pulang.

Muktamar ke-35 nanti bukan hanya soal siapa memimpin, tetapi tentang bagaimana NU kembali mengingat dirinya sendiri. Dan jika ada pelajaran jenaka tapi serius dari peristiwa ini, mungkin begini: di NU, konflik boleh keras, tapi adab tetap nomor satu—karena tanpa adab, musyawarah hanya jadi rapat panjang tanpa berkah. 😄

abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.