Di zaman sekarang, merasa pintar itu mudah. Tinggal buka gawai, baca dua thread, tonton satu podcast, lalu—bam!—kita siap mengoreksi dunia. Grup WhatsApp keluarga, kolom komentar, sampai mimbar digital media sosial, semuanya mendadak jadi ruang kuliah umum dengan dosen tunggal: diri kita sendiri. Di tengah keriuhan itulah, suara dari tahun 1959 tiba-tiba terasa seperti alarm subuh yang nyaring: “Jangan merasa pintar sendiri.”
Kalimat sederhana itu datang dari KHR Asnawi Kudus, ulama sepuh, pendiri NU, yang umurnya sudah mendekati satu abad saat menyampaikannya. Ironis memang: yang sudah melewati zaman kolonial, revolusi, dan puluhan muktamar justru memilih kalimat paling singkat, bukan pidato berlembar-lembar. Seolah beliau paham, manusia paling susah dinasihati kalau nasihatnya kepanjangan.
KHR Asnawi bukan sembarang penutur. Ia wafat dengan cara yang, kalau boleh jujur, bikin iri para ahli husnul khatimah: dalam posisi ruku’ atau sujud, menghadap kiblat, setelah perjalanan dakwah melelahkan. Sementara kita? Baru naik tangga dua lantai saja sudah butuh duduk dan bilang, “Usia nggak bisa bohong.” Maka ketika orang seperti beliau berkata jangan merasa pintar sendiri, itu bukan basa-basi—itu kesimpulan hidup.
Pesan ini sejatinya berangkat dari satu kesadaran klasik yang sering kita hafal tapi jarang kita praktikkan: manusia itu tempat salah dan lupa. Dalam istilah pesantren, al-insān maḥallul khaṭa’ wan nis’yān. Tapi di media sosial, manusia sering berubah jadi al-insān maḥallul komentar dan klarifikasi. Salah dikit, klarifikasi. Beda pendapat, langsung vonis. Seakan-akan kepintaran adalah properti pribadi, bukan amanah yang bisa dicabut sewaktu-waktu.
KHR Asnawi menyampaikan pesannya dengan logika yang sangat membumi. Ia bicara tentang rambut yang memutih dan pipi yang keriput. Bukan untuk meratapi usia, tapi untuk mengajarkan satu hal penting: perubahan itu pasti. Rambut tidak pernah minta izin sebelum berubah warna, dan zaman juga tidak pernah mengirim surat edaran sebelum berganti wajah. Maka sikap paling bijak bukan menolak perubahan, melainkan menyesuaikan diri tanpa kehilangan akal sehat dan adab.
Dalam konteks NU, pesan ini terdengar seperti peringatan internal yang halus tapi menohok. Organisasi besar rawan merasa paling benar, paling berhak, paling tahu arah sejarah. Padahal, semakin besar kapal, semakin perlu banyak mata dan telinga. Merasa pintar sendiri di organisasi sebesar NU itu ibarat sopir bus pariwisata yang menutup mata penumpangnya sambil berkata, “Tenang, saya hafal jalan.” Padahal jalan terus bercabang.
Di zaman kini, wasiat KHR Asnawi terasa makin relevan. Media sosial adalah pabrik kepintaran instan. Semua orang bisa jadi ahli, asal berani. Tak perlu riset panjang, cukup yakin. Tak perlu mendengar, cukup bicara. Dalam situasi seperti ini, pesan jangan merasa pintar sendiri terdengar bukan hanya bijak, tapi juga revolusioner.
Menariknya, NU merawat pesan ini dengan cara yang khas: lewat kliping koran lama, buku kenangan muktamar, dan cerita keluarga. Ini bukan nostalgia kosong, tapi pengingat bahwa organisasi besar tidak dibangun dari teriakan, melainkan dari kerendahan hati. Sejarah NU bukan sekadar daftar muktamar, tapi kumpulan nasihat yang masih relevan untuk menghadapi zaman yang terlalu percaya diri.
Akhirnya, pesan KHR Asnawi Kudus bukan ajakan untuk berhenti berpikir atau takut berpendapat. Justru sebaliknya: berpikirlah, tapi sadar bahwa pikiranmu bukan pusat semesta. Berpendapatlah, tapi sisakan ruang untuk keliru. Dalam dunia yang ramai oleh orang-orang pintar versi sendiri, mungkin kebijaksanaan paling langka adalah keberanian untuk berkata: “Mungkin saya belum sepenuhnya benar.”
Dan barangkali, di situlah letak kepintaran yang sesungguhnya.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.