Konon, di sebuah ruangan tertutup di Beijing, tiga lelaki paling ditakuti di dunia sedang berkumpul. Bukan untuk merencanakan perang, bukan untuk membagi peta dunia, apalagi membahas harga cabai. Topik mereka jauh lebih serius dan sangat manusiawi: “Kalau bisa hidup sampai 150 tahun, enaknya pakai organ siapa ya?”
Entah benar entah hanya bumbu sastra, kisah ini langsung menyadarkan kita pada satu fakta penting: senjata nuklir boleh banyak, kekuasaan boleh absolut, tapi tak satu pun bisa dipakai untuk menampar malaikat maut. Kematian, rupanya, adalah musuh yang tidak bisa dijatuhi sanksi ekonomi.
Dari istana kekuasaan, cerita lalu meloncat ke habitat lain yang sama mewahnya: Silicon Valley. Di sini, kematian tidak ditangisi, tapi dikerjai. Jika dulu manusia berdoa agar panjang umur, kini para miliarder memilih cara yang lebih modern: debugging. Mati dianggap bukan takdir, melainkan bug bawaan pabrik.
Masuklah seorang tokoh dengan aura ilmuwan sekaligus startup founder: Deepinder Goyal. Ia datang membawa teori yang terdengar seperti judul sinetron sains, Gravity Aging Hypothesis. Intinya sederhana dan sangat sopan pada hukum Newton: kita menua karena terlalu lama berdiri melawan gravitasi. Darah ke otak jadi malas naik, lalu otak pun ikut capek. Solusinya? Pasang alat seukuran kacang jelly di pelipis, pantau aliran darah setahun penuh, dan berharap alam semesta setuju dengan hipotesis kita.
Bagi sebagian ilmuwan, ini terdengar seperti eksperimen serius. Bagi yang lain, ini terdengar seperti upaya menyalahkan gravitasi atas segala dosa hidup—dari uban, lupa password, sampai sakit pinggang. Tapi jangan salah, eksperimen ini disokong dana pribadi 25 juta dolar. Dengan uang sebanyak itu, bahkan ide paling nyeleneh pun terdengar cukup masuk akal.
Goyal tentu tidak sendirian. Di Silicon Valley, ada klub eksklusif bernama “Kami Tak Mau Mati Dulu”. Anggotanya antara lain Sam Altman, Peter Thiel, Larry Ellison, Larry Page, dan Jeff Bezos. Mereka tidak sekadar minum suplemen atau jogging pagi, tapi menggelontorkan miliaran dolar untuk memprogram ulang sel manusia. Targetnya jelas: bukan hidup abadi—itu terlalu religius—melainkan amortality, istilah elegan untuk “menua sih, tapi santai”.
Dalam pandangan mereka, kematian bukan akhir cerita, hanya masalah teknis yang belum dapat patch update. Jika aplikasi bisa diperbarui, mengapa sel manusia tidak? Bedanya, kalau aplikasi crash, tinggal restart. Kalau manusia crash, belum tentu.
Di sinilah ironi besar muncul. Orang-orang yang bisa membeli hampir segalanya justru paling gelisah menghadapi satu hal yang gratis untuk semua orang: kematian. Ketakutan ini sangat demokratis. Ia tidak peduli jabatan, rekening, atau jumlah satelit pribadi. Semua orang akan mengalaminya—meski sebagian berusaha menundanya dengan laboratorium dan grafik aliran darah otak.
Tulisan ini memang menghibur, provokatif, sekaligus sedikit menyindir. Di satu sisi, eksperimen-eksperimen “agak gila” ini mungkin melahirkan terobosan medis yang kelak menyelamatkan banyak nyawa. Di sisi lain, kita juga tak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa umur panjang akan menjadi fasilitas premium, seperti kursi bisnis di pesawat kehidupan.
Pada akhirnya, esai ini mengingatkan kita dengan cara yang ringan tapi menusuk: semakin tinggi seseorang berdiri di puncak dunia, semakin ia sadar bahwa semua puncak punya batas waktu. Kematian tetap menjadi musuh terakhir—tak bisa dibeli, tak bisa diancam, dan sejauh ini, belum bisa dibantah.
Dan mungkin, justru di situlah keadilannya. Karena di
hadapan maut, baik diktator nuklir maupun miliarder teknologi akhirnya
sama-sama manusia biasa—tanpa alat di pelipis, tanpa dana riset, dan tanpa
tombol undo.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.