Konon, sekolah adalah taman ilmu dan guru adalah tukang kebunnya. Tapi di penghujung 2025, sebuah video viral justru memperlihatkan ada tukang kebun yang sibuk melempari bunga dengan kata-kata kasar. Seorang guru, lengkap dengan atribut kewibawaan, terlihat menghina murid tuna wicara—bukan dengan kapur tulis, melainkan dengan mimik dan gestur yang, kalau diuji di kelas akhlak, jelas tidak lulus remedial.
Video ini pun viral. Netizen marah. Warganet berdoa. Grup WhatsApp guru-guru mendadak sunyi. Dan NU Online, lewat tulisan Sunnatullah, datang membawa kaca pembesar teologis: mari kita lihat peristiwa ini bukan sekadar dengan emosi, tapi dengan iman.
Islam, kata artikel itu, sudah sejak awal mendeklarasikan bahwa manusia diciptakan fi ahsani taqwim—dalam bentuk sebaik-baiknya. Artinya, kalau ada manusia yang dianggap “kurang sempurna”, besar kemungkinan yang kurang itu bukan ciptaannya, tapi cara pandang kita. QS. At-Tin, QS. Al-Mu’minun, hingga QS. Al-Infithar dipanggil semua, seperti saksi ahli di pengadilan nurani, untuk menegaskan: mengejek manusia berarti sedang protes kepada Sang Pencipta. Sebuah aksi yang, kalau boleh jujur, cukup berani dan agak nekat.
Rasulullah SAW pun sudah lama mengingatkan bahwa kemuliaan tidak diukur dari fisik, suara, atau kemampuan berbicara, melainkan dari takwa. Jadi kalau ada guru merasa lebih mulia karena bisa berbicara lancar sementara muridnya tidak, itu bukan kelebihan—itu salah alamat kepercayaan diri.
Di sinilah profesi guru naik kelas dari sekadar “pengajar” menjadi murabbi. Guru bukan hanya penyampai materi, tapi cermin akhlak. Masalahnya, ketika cermin retak, yang terlihat bukan wajah murid, melainkan cacat moral si pendidik. Menghina murid disabilitas bukan hanya menyakiti satu anak, tapi juga merusak papan nama besar bernama “pendidikan inklusif” yang selama ini dipajang manis di dinding sekolah.
Artikel Sunnatullah ini patut diacungi jempol karena rapi: mulai dari kasus viral, naik ke dalil, turun ke etika, lalu ditutup dengan nasihat. Lengkap. Bahkan Faidhul Qadir ikut hadir, seolah ingin berkata, “Ini bukan wacana baru, Nak. Ulama dulu sudah mengingatkan, cuma mungkin belum ada kamera HP.”
Namun, seperti semua ceramah yang terlalu ideal, artikel ini sedikit berisiko terdengar seperti khutbah Jumat yang lupa menyebut AC masjid sedang rusak. Tekanan kerja guru, minimnya pelatihan pendidikan inklusif, dan sistem yang sering lebih peduli laporan administrasi daripada kesehatan mental pendidik, hanya disentuh sekilas. Guru memang salah, tapi guru juga manusia—dan manusia kadang lelah, meski tentu saja lelah bukan alasan untuk menjadi kejam.
Meski begitu, kekuatan utama artikel ini justru pada keberaniannya memanfaatkan momen viral sebagai ladang dakwah. Di saat video aib menyebar lebih cepat daripada klarifikasi, tulisan ini mengajak pembaca berhenti sejenak: jangan cuma marah, tapi merenung. Jangan cuma menghujat, tapi bertanya: sudahkah kita memanusiakan manusia, terutama yang paling rentan?
Akhirnya, kasus ini menjadi cermin—bukan hanya bagi guru yang viral, tapi bagi dunia pendidikan kita. Cermin itu memang retak, tapi masih bisa dipakai untuk bercermin. Pesannya sederhana tapi berat: ruang kelas seharusnya menjadi tempat aman bagi semua anak, termasuk yang tak bisa bersuara. Dan guru, sebelum mengajar huruf dan angka, barangkali perlu memastikan satu pelajaran ini sudah lulus: akhlak tidak boleh cuti, bahkan ketika kamera sedang merekam.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.