Dalam dunia fotografi abad ke-19—yang kala itu resolusinya masih se-apa adanya dan filter beauty belum ditemukan—Tancrède Dumas tanpa sengaja memotret sesuatu yang luar biasa: dua manusia yang tampak seperti sedang cosplay jadi konsep “simbiosis mutualisme” dalam buku IPA kelas 4. Satu buta, satu tak bisa berjalan; satu jadi mata, satu jadi kaki. Kalau mereka daftar jadi superhero duo, mungkin namanya The Seeing Legs atau The Walking Eyes.
Foto itu memperlihatkan Muhammad menggendong Samir. Atau,
kalau mau lebih dramatis, Samir menunggangi Muhammad dengan elegansi ala
raja-raja Timur Tengah… minus kuda dan plus keakraban yang bikin iri banyak
hubungan manusia modern. Yang satu hakawati, pencerita dongeng—bayangkan
audiobook zaman batu—yang satunya penjual bolbolas, mungkin semacam snack
urban Damaskus yang kalau dijual sekarang pasti dikasih label “organik”,
“gluten-free”, dan “premium”.
Lalu, narasi medsos datang, seperti biasa: penuh detail yang
tidak ada dalam arsip manapun, tapi terdengar sangat meyakinkan karena ditutup
dengan quote bijak. Nama Samir dan Muhammad, profesi, kisah kematian yang super
melodramatis, hingga tangisan tujuh hari—pokoknya paket lengkap untuk
memanaskan hati netizen dan meningkatkan engagement.
Jawaban yang bikin kita yang sering ribut di kolom komentar
merasa seperti baru dilempar sandal oleh hikmah.
Konflik Identitas? Cuma Upgrade Ego Mode
Foto itu dan narasi liarnya mengingatkan kita bahwa kadang
konflik identitas hanyalah DLC yang dipasang manusia setelah dewasa.
Aslinya, manusia lahir dengan firmware standar: ingin disayang, ingin aman,
ingin makan. Tidak ada bayi yang bilang, “Aku tidak mau dipeluk si A karena
beda mazhab.” Itu kemunculan fitur eksklusif setelah kita terpapar ego,
politik identitas, dan kompetisi mencari pembenaran.
Samir dan Muhammad menunjukkan betapa memalukannya kita,
manusia modern, yang punya smartphone canggih tapi sering gagal meng-upgrade compassion.
Mereka tidak butuh seminar toleransi, tidak ikut webinar
lintas iman, dan tidak posting hashtag #Solidaritas. Mereka cuma… hidup
bersama. Saling membutuhkan. Dan itu sudah cukup. Kadang kemanusiaan memang
tidak perlu dramatik—kita saja yang sering kebanyakan teori.
Metafora yang Terlalu Sempurna untuk Dunia yang Terlalu
Kusut
Dalam analisis serius, foto aslinya hanya diberi keterangan
minimal: “seorang pria buta menggendong pria cacat.” Tanpa nama. Tanpa kisah.
Tanpa soundtrack mengharukan. Tapi justru itu membuatnya semakin kuat—seakan
Tuhan sedang berkata:
“Ambillah pesan moral ini. Bebas ongkir. Terserah mau kalian
bumbui atau tidak.”
Ironisnya, ketika kita mengaku sebagai spesies paling
canggih, kita justru paling sering tersandung oleh hal-hal paling sederhana:
ego, prasangka, dan rasa ingin menang debat.
Samir dan Muhammad? Mereka bahkan tidak bisa berjalan atau
melihat sendiri, tapi entah bagaimana mereka menemukan cara jadi manusia
seutuhnya.
Penutup: Ketika Foto Bisu Menertawakan Kita
Pada akhirnya, potret tua nan kusam itu seperti sedang
menyindir zaman kita:
- “Kalian
ribut soal perbedaan? Kami bahkan tidak punya kemampuan fisik lengkap dan
masih bisa hidup damai.”
- “Kalian
bangga dengan teknologi canggih? Kami cuma modal punggung dan cerita.”
Dan sindiran terbaiknya adalah ini:
Persatuan bukanlah tentang menjadi seragam. Persatuan
adalah seni menerima bahwa kita ini bolong-bolong, dan hanya bisa utuh jika
disulam bersama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.