Kalau ada lomba drama organisasi paling rumit tahun 2025, polemik pemakzulan Gus Yahya di tubuh PBNU mungkin sudah naik podium sejak babak penyisihan. Bukan hanya karena konflik ini melibatkan istilah-istilah berat seperti mandataris Muktamar, audit internal, dan konsesi tambang, tetapi juga karena setiap tokoh tampaknya punya versi cerita sendiri—mirip sinetron panjang yang bahkan penulisnya lupa alur aslinya.
Prolog: Ketika NU Mengudara dalam Mode Turbulensi
Akhir November 2025. Di saat sebagian warga NU sedang bingung menentukan menu tahlilan—rawon atau nasi jagung—PBNU justru memilih menu yang jauh lebih ekstrem: pemecatan ketua umum.
Gus Yahya, yang biasanya tenang layaknya kiai pengasuh musala kecil di sore hari, tiba-tiba mendapati dirinya “di-turunkan” dari kursi Ketum. Syuriyah PBNU mengumumkan alasan yang tidak main-main: ada undangan ke narasumber yang berbau Zionis, ada uang Rp100 miliar yang berbau TPPU, dan ada proses audit yang... yah... masih jalan, tapi sudah dipakai buat bikin keputusan.
Dalam dunia akademik, itu setara dengan memutuskan skripsi mahasiswa lulus sebelum baca bab hasil. Luar biasa visioner.
Dua Versi Cerita: Seperti Kitab Kuning dengan Teks Ganda
Di satu sisi, Syuriyah yakin pemecatan ini sah karena ada
pelanggaran serius. Di sisi lain, kubu Gus Yahya dengan halus—tapi
tegas—bilang:
“Maaf, panjenengan tidak punya kewenangan.”
Menurut ART, Ketum hanya bisa diganti lewat Muktamar Luar Biasa, bukan lewat rapat harian yang mungkin bahkan belum sempat dihidangkan teh hangat.
Gus Yahya pun mengirim surat resmi ke Kemenkumham, lengkap
dengan pasal-pasal dan nada diplomatik, tapi sebenarnya kalau diterjemahkan ke
bahasa sehari-hari:
"Yang bener saja."
Audit yang Mendahului Audit
Bagian paling lucu—atau tragis, tergantung kacamata—adalah fakta bahwa audit dipakai sebagai dasar keputusan, padahal auditnya sendiri belum selesai. Auditor internal bahkan ikut geleng-geleng kepala sambil berkata, “Lho, kok sudah disimpulkan duluan?”
Ini seperti memvonis seseorang mencuri dompet, padahal dompetnya sendiri belum ditemukan dan pemiliknya baru sadar: “Oh, saya lupa, dompet saya tadi ketinggalan di lemari es.”
Motif Tambang: Ketika Ormas Keagamaan Dicolek oleh Dunia Minerba
Ada gosip tebal yang tidak ikut masuk risalah resmi: masalah konsesi tambang. Katanya, Gus Yahya menolak tanda tangan, sementara kubu lain mungkin punya imajinasi industri yang berbeda.
Mustasyar PBNU KH Said Aqil pun masuk panggung dengan sikap
bijaknya:
“Sudahlah, serahkan saja konsesi tambang itu ke pemerintah. NU itu besar karena santri dan kitab, bukan karena excavator.”
Kalimat ini langsung jadi hits, terutama di kalangan warga NU yang kalau dengar kata tambang, bayangannya bukan batu bara tapi tambang rapiah waktu kecil.
Akar Rumput: PWNU Siap Bawa Spanduk Islah
Di tengah ribut versi elite, PWNU dari berbagai daerah
kompak bilang:
“Sudahlah, ayo islah, tabayyun, jangan bikin warga bingung. Kita ini NU, bukan liga sepak bola.”
Seruan ini muncul dari kekhawatiran bahwa kalau pimpinan terus berdebat, jamaah bisa kehilangan fokus dan nanti malah salah ambil sandal waktu pulang pengajian.
Babak Baru: Hadirnya PJ yang Seperti Guru Pengganti
Rapat Pleno PBNU lalu menunjuk KH Zulfa Mustofa sebagai Penjabat Ketua Umum. Tugasnya bukan main: memegang kemudi NU hingga Muktamar 2026.
Jadi, NU kini seperti sekolah yang baru saja kehilangan kepala sekolah, dan guru pengganti harus mengatur kelas 45 murid hiperaktif sambil menjaga papan tulis tetap utuh.
Menuju Muktamar 2026: Antara Harapan dan Deg-degan
Gus Yahya menolak dipecat, Kemenkumham diajak ngobrol, PWNU menyeru islah, Syuriyah merasa sudah sah, sementara publik menunggu seperti penonton pertandingan tinju yang bingung siapa yang harus disoraki.
Untungnya, NU sedang dalam proses revisi AD/ART, penguatan tata kelola, dan pembenahan lain—meski prosesnya agak mirip renovasi rumah saat keluarga masih tinggal di dalamnya.
Penutup: NU Diuji, Warga NU Menghela Nafas
Kisruh ini adalah ujian besar: apakah NU dapat menyelesaikan konflik dengan elegan, menggunakan musyawarah dan aturan seperti yang diajarkan para masyayikh, atau justru terperosok ke drama perebutan kursi yang biasa kita lihat di sinetron jam 7 malam?
Semoga Muktamar ke-35 bukan jadi panggung klimaks dari drama panjang ini, tapi justru babak penyembuhan. Karena kalau tidak, sejarah akan mencatat bahwa NU pernah tergelincir bukan karena perbedaan fikih, tetapi karena konsesi tambang, audit lari marathon, dan rapat harian yang terlalu bersemangat.
Nahdliyin kini tinggal menunggu:
Apakah NU akan kembali pulang dengan pakaian rapi, atau
pulang dari pesta sambil berkata, “Aduh, sandal saya kok hilang sebelah lagi
ya?”
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.