Hari Disabilitas Internasional biasanya identik dengan seminar panjang, foto bareng backdrop besar, dan janji-janji manis yang sering menguap seperti air panas di warung kopi. Tetapi tahun 2025, suasananya agak lain. Di Universitas Indonesia — tempat di mana kecerdasan dan kantin mahal bertemu — hadir seorang tokoh yang membawa misi besar dan jaket baru: Gus Imin.
Konon, jaket itu bukan sembarang jaket. Ia lahir dari
tangan-tangan para pembuatnya di Rumah Inklusif Kebumen. Begitu dipakai Gus
Imin, jaket itu seakan berfungsi sebagai booster politik sekaligus
simbol kesetaraan. Kalau ada yang bertanya apa visi pemerintah soal
disabilitas, cukup jawab: “Lihat jaketnya.” Praktis.
Politik, Data, dan Bahasa Merakyat: Trio Ajaib Panggung
Pidato
Dalam pidatonya, Gus Imin mencanangkan “gerakan pemberdayaan
penyandang disabilitas berbasis kolaborasi.” Kalimat ini terdengar seperti
judul skripsi yang butuh tiga tahun untuk diselesaikan, tapi tenang saja —
maksudnya sederhana: semua harus kerja bareng.
Lalu muncullah angka-angka fantastis: lebih dari 15 juta
penyandang disabilitas di Indonesia, 8,5 juta di antaranya hidup miskin.
Angkanya luwes—kadang versi UU, kadang versi WHO, kadang versi “yang penting
mendesak.” Yang penting semua sepakat bahwa angkanya besar, masalahnya nyata,
dan solusinya jangan cuma dibacakan dalam pidato.
Sebagai bumbu, Gus Imin menambahkan gaya bicara khasnya:
“saudara kita, tetangga kita, karib kita.” Setelah tiga menit mendengarnya,
siapa pun akan merasa jadi kerabat dekat penyandang disabilitas, walau tadi
pagi masih bingung bedanya disabilitas mental dan emosional.
Rumah Inklusif Kebumen: Best Practice yang Mendadak
Terkenal
Dalam setiap perayaan Hari X, selalu ada satu contoh sukses
yang diangkat seperti artis pendatang baru. Tahun ini yang naik panggung adalah
Rumah Inklusif Kebumen, komunitas yang lahir dari pengalaman diskriminasi dan
banting stir menjadi pusat pelatihan, produksi, dan inspirasi.
Mereka tidak minta difoto, tapi tiba-tiba terkenal karena
jaketnya dipakai di panggung nasional. Jika UMKM lain berebut endorse
selebgram, Rumah Inklusif cukup dapat endorse dari Menko — khalayak pasti
percaya produknya bagus.
Gotong Royong: Obat Segala Masalah (Katanya)
Seperti biasa, gotong royong tampil sebagai pahlawan super
dalam setiap solusi. Apapun masalahnya — kemiskinan, disabilitas, jalan bolong,
harga cabai naik — jawabannya: gotong royong.
Walaupun begitu, masyarakat tentu berharap solusi gotong
royong kali ini tidak hanya berupa ajakan membagi poster dan tanda pagar di
media sosial, tapi juga anggaran, regulasi, dan mekanisme yang jelas. Sebab,
harapan tidak bisa dibelanjakan di warung.
Di Balik Layar: Pemerintah Sebenarnya Sudah Turun Tangan…
Dengan Caranya
Di sisi teknis, pemerintah sebenarnya sudah punya banyak
program untuk disabilitas: PKH Disabilitas, BPNT, proses asesmen, hingga
layanan rehabilitasi di panti. Ada juga program keren bernama SIKOMO De Gang
Jiwa — yang terdengar seperti nama grup dangdut, padahal itu koordinasi
kesehatan jiwa di Jawa Tengah.
Tantangannya, seperti biasa, adalah koordinasi. Kadang
keluarga bingung harus ke mana dulu: kelurahan, puskesmas, dinas sosial, atau
“grup WA RT yang isinya cepat tapi jawabannya tidak pasti.”
Dan prosesnya pun tak sederhana. Untuk mendapatkan hak,
seseorang harus:
- mengurus
data terpadu,
- mengurus
surat keterangan disabilitas,
- berkomunikasi
dengan dinas sosial,
- dan
tentu saja—bersabar, sebab yang tidak sabar akan lebih cepat stres
ketimbang mendapat bantuan.
Momentum Serius, Satire Tipis-tipis
Jika gerakan kolaborasi ini benar-benar diwujudkan dengan
anggaran dan regulasi yang kuat, maka Hari Disabilitas Internasional 2025 akan
tercatat sebagai titik balik penting. Namun bila tidak… ya paling-paling kita
akan mengulang lagi tahun depan dengan tema, panggung, dan jaket baru.
Tetapi mari optimis. Kalau sebuah jaket saja bisa menjadi
simbol perubahan, siapa tahu kali ini simbol itu benar-benar akan diterjemahkan
menjadi aksi nyata. Setidaknya, kita berharap gerakan ini tidak berhenti di
panggung—apalagi di lemari.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.