Selasa, 02 Januari 2018
Selasa, 26 Desember 2017
Duniamu seluas kotak tv
Duniamu seluas kotak tv
:manarul anakku
oeh : Imam Burhanuddin
:manarul anakku
oeh : Imam Burhanuddin
Ketika teman sebayamu
Dengan riangnya mencoratcoret
Langitlangit kelas
Menebar tawa menarinari
Di halaman sekolah
Kau menangisi lara
Dalam rumah dengan pintupintu
Merangkeng jiwa
Sendiri berteman televisi
Sembari menguburi mimpimimpi
Tak ada yang peduli
Atau mereka tak tahu
Kamu juga punya mimpi
Mereka cuma tahu
Duniamu seluas kotak tv
(04/02/12)
Maafkan aku anakku
Inginku menggelar siang
Dihari depanmu
Tapi sampai kini
Basa malammu belum bisa kuterjemahkan
Senampan andai yang selalu kusuguhkan
Belum genapkan angan di hatimu
Mengapa kata harus menjadi duta hasrat
Tidak bahasa jiwa saja
Setidaknya tukku dan kau anakku
Sehingga ku tahu apa yang kau mau
(04/02/12)
Dengan riangnya mencoratcoret
Langitlangit kelas
Menebar tawa menarinari
Di halaman sekolah
Kau menangisi lara
Dalam rumah dengan pintupintu
Merangkeng jiwa
Sendiri berteman televisi
Sembari menguburi mimpimimpi
Tak ada yang peduli
Atau mereka tak tahu
Kamu juga punya mimpi
Mereka cuma tahu
Duniamu seluas kotak tv
(04/02/12)
Maafkan aku anakku
Inginku menggelar siang
Dihari depanmu
Tapi sampai kini
Basa malammu belum bisa kuterjemahkan
Senampan andai yang selalu kusuguhkan
Belum genapkan angan di hatimu
Mengapa kata harus menjadi duta hasrat
Tidak bahasa jiwa saja
Setidaknya tukku dan kau anakku
Sehingga ku tahu apa yang kau mau
(04/02/12)
Kamis, 21 Desember 2017
Puisi Nggo Biyung Inyong
Ibu
Awan putih di kepala
menambah terang keriput kening
beban sujudmu yang panjang
pada kehidupan
nasehat nasehat semanis senyum
di kulum
seringkali diabaikan
walau getir pahit kehidupan
tak jarang menghadang kenyataan
ibu
sujudku hanya untuk tuhan
tapi kerapkali nakal
dalam sujudku
tampak telapak kakimu yang sorga
Tutong, Brunei November 1997
Selasa, 05 Desember 2017
Renungan
Ngarai Di Balik Bukit
1
Oleh : Imam
Burhanuddin
Bukit nan hijau di ketinggian 1926 meter
Di atas permukaan air laut itu tak begitu sulit didaki
Tak terjal
Bahkan tak seterjal eskalator sebuah mall
Tak kalah hijau dan indahnya
Ngarai di balik bukit
Hamparan padang rumput luas menghijau
Sungai mengalir jernih
Tak hanya menarik wisatawan
Tapi juga para penggembala
Itu dua dekade lalu
Kini padang rumput nan hijau
Dan sungai mengalir jernih
Tak lagi
Kambing dan sapi penggembala
Merubah habitat aslinya
Ngarai dibalik bukit nan hijau
Di ketinggian 1926 meter di atas permukaan air laut
Yang tak begitu terjal
Bahkan tak seterjal eskalator
Sebuah mall itu
Tinggal cerita
Entah sampai kapan habitat asli kembali
Semula
Ajibarang, 14 Maret
2017
Ngarai Di Balik Bukit
2
Oleh : Imam
Burhanuddin
Dua dekade sebelumnya
Ngarai di balik bukit
Terkenal wingit
dan sepi
Para kyai dan santri dijadikan pasukan
Pembuka jalan
Akses menuju ngarai di balik bukit
Di ketinggian 1926 meter di atas permukaan air laut
Yang tak begitu terjal
Bahkan tak seterjal eskalator
Sebuah mall itu
Sehingga semua mudah
mengaksesnya
Tak terkecuali penggembala sapi dan kambing
Ajibarang, 16 Maret
2017
Ngarai Di Balik Bukit
3
Oleh : Imam Burhanuddin
Dua dekade sesudahnya
Para kyai dan santri kadang masih dimintai petuah
Dan doanya
Dengan syarat tidak mendekat
Ngarai di balik bukit
Di ketinggian 1926 meter di atas permukaan air laut
Yang tak begitu
terjal
Bahkan tak seterjal eskalator
Sebuah mall itu
Tak lagi wingit
dan sepi
Petuah dan doa hanya diperlukan
Saat para penggembala susah mengaksesnya
Tidak di saat melimpahnya berkat dan nikmat
Terhampar di tengah penggembala
Ajibarang, 16 Maret 2017
Rabu, 16 Agustus 2017
Dakwah Kebangsaan Gus Titut
Kyai yang jadi seniman biasa, tapi seniman ketika jadi kyai luar biasa.
Bagaimana ia mengajarkan beragama dengan arif, bagaimana mengajarkan agama yang baik, yang santun sehingga Islam benar benar sebagai agama yang rahmatal lil'alamin.
Hebatanya seniman "edan" ini dengan ketotalitasnya sebagai aktor, penyair ia berdakwah lebih dari dua jam tanpa jeda, mengalir, runtut, menghibur dan semua undangan syukuran hari kemerdekaan ke 72 di desa Pancasan (16/8) tersihir sehingga ahir ceramah undangan merasa sangat enjoi sehingga tak beranjak dari kursinya .
Gus Titut luar biasa. Matur NU wun Gus Titut atas pencerahannya.
Minggu, 04 Juni 2017
WISUDA KE V SMK MANUDA
Banyu bening Ajibarang (2/5) : Disaksikan oleh Pengurus, Tokoh Masyarakat, Perwakilan dari
Dunia Usaha / Dunia Industri (DU/DI), Orang Tua siswa kelas XII dan para tamu
undangan Wisuda ke V berjalan dengan hikmat dan lancar. Pelaksanaan wisuda
yang bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Selasa,
02 Mei 2017 juga seperti pada tahun sebelumnya dilakukan penandatanganan
kontrak kerja para siswa yang terjaring di dunia usaha seperti Pelita Kasih
Utama Jakarta yang telah memilih 39 siswa terseleksi untuk bekerja sambil
kuliah.
Labels:
warta
Jumat, 05 Mei 2017
Ngarai Di Balik Bukit
1
Oleh : Imam
Burhanuddin
Bukit nan hijau di ketinggian 1926 meter
Di atas permukaan air laut itu tak begitu sulit didaki
Tak terjal
Bahkan tak seterjal eskalator sebuah mall
Tak kalah hijau dan indahnya
Ngarai di balik bukit
Hamparan padang rumput luas menghijau
Sungai mengalir jernih
Tak hanya menarik wisatawan
Tapi juga para penggembala
Itu dua dekade lalu
Kini padang rumput nan hijau
Dan sungai mengalir jernih
Tak lagi
Kambing dan sapi penggembala
Merubah habitat aslinya
Ngarai dibalik bukit nan hijau
Di ketinggian 1926 meter di atas permukaan air laut
Yang tak begitu terjal
Bahkan tak seterjal eskalator
Sebuah mall itu
Tinggal cerita
Entah sampai kapan habitat aslinya kembali
Semula
Ajibarang, 14 Maret
2017
Ngarai Di Balik Bukit
2
Oleh : Imam
Burhanuddin
Dua dekade sebelumnya
Ngarai di balik bukit
Terkenal wingit
dan sepi
Para kyai dan santri dijadikan pasukan
Pembuka jalan
Akses menuju ngarai di balik bukit
Di ketinggian 1926 meter di atas permukaan air laut
Yang tak begitu terjal
Bahkan tak seterjal eskalator
Sebuah mall itu
Sehingga semua mudah
mengaksesnya
Tak terkecuali penggembala sapi dan kambing
Ajibarang, 16 Maret
2017
Ngarai Di Balik Bukit
3
Oleh : Imam Burhanuddin
Dua dekade sesudahnya
Para kyai dan santri kadang masih dimintai petuah
Dan doanya
Dengan syarat tidak mendekat
Ngarai di balik bukit
Di ketinggian 1926 meter di atas permukaan air laut
Yang tak begitu
terjal
Bahkan tak seterjal eskalator
Sebuah mall itu
Tak lagi wingit
dan sepi
Petuah dan doa hanya diperlukan
Saat para penggembala susah mengaksesnya
Tidak di saat melimpahnya berkat dan nikmat
Terhampar di tengah penggembala
Ajibarang, 16 Maret 2017
Langganan:
Postingan (Atom)

