Jangan Sibuk Mencari Isyarat, Shalat Saja Dulu

Ada orang yang kalau ingin mengetahui apakah dirinya sudah dekat dengan Allah, tidak langsung memeriksa shalatnya.

Ia malah memeriksa mimpi.

“Semalam saya bermimpi melihat cahaya.”

Wah, bagus.

“Tadi pagi hati saya bergetar ketika mendengar adzan.”

Wah, lebih bagus.

“Kemarin saya merasa seperti mendapat bisikan.”

Nah, ini mulai perlu rem tangan.

Sebab dalam perjalanan spiritual, manusia kadang punya kebiasaan yang agak lucu: perintah yang sudah jelas justru diletakkan di belakang, sementara isyarat yang belum tentu jelas diletakkan di depan.

Allah sudah memerintahkan shalat.

Kita malah sibuk bertanya, “Apakah ini tanda saya sudah menjadi orang dekat?”

Padahal boleh jadi tanda paling jelas bahwa Allah menghendaki kita dekat adalah… kita mau mengerjakan apa yang memang diperintahkan-Nya.

Tidak perlu menunggu kupu-kupu masuk kamar, melihat cahaya berwarna biru, atau mendengar suara dari arah genteng.

Shalat saja dulu.

Kita Sering Ingin Rasa, Tetapi Lupa Tugas

Dalam tasawuf, kita sering mendengar istilah rasa, dzauq, musyahadah, fana, ma‘rifah, dan berbagai istilah yang kalau dibicarakan dengan wajah serius bisa membuat orang di sebelah kita ikut diam, walaupun sebenarnya tidak mengerti apa-apa.

Masalahnya bukan pada istilah-istilah itu.

Masalahnya adalah kita kadang ingin mendapatkan “pengalaman spiritual” sebelum menunaikan “kewajiban spiritual”.

Kita ingin merasakan dekat kepada Allah, tetapi shalat masih seperti mengisi presensi.

Takbir.

Baca.

Rukuk.

Sujud.

Salam.

Selesai.

Mirip pegawai yang masuk kantor hanya untuk menekan tombol fingerprint, lalu lima menit kemudian semangatnya sudah pulang lebih dulu.

Padahal shalat bukan sekadar absensi.

Ia bukan tanda tangan digital di hadapan Tuhan.

Shalat adalah ruang perjumpaan, dzikir yang sangat agung, tempat seorang hamba belajar kembali siapa dirinya dan kepada siapa ia menghadap.

Karena itu, persoalannya bukan hanya apakah badan sudah berdiri menghadap kiblat, tetapi apakah hati ikut hadir.

Bukan hanya lidah membaca Bismillah dan Al-Fatihah, tetapi batin juga belajar memahami bahwa seluruh perjalanan itu sesungguhnya bergerak: dari Allah, menuju Allah, bersama Allah, dan untuk Allah.

Kalau sudah begini, shalat tidak lagi terasa seperti kewajiban yang harus segera diselesaikan.

Ia menjadi kebutuhan.

Dan ini persoalan besar.

Sebab kebanyakan kita baru merasa shalat itu kebutuhan ketika hidup sedang kacau. Saat dompet menipis, hubungan berantakan, usaha macet, baru tangan rajin menengadah.

“Ya Allah, tolong…”

Begitu keadaan membaik, hubungan dengan sajadah juga kembali renggang.

Ternyata kita bukan sedang menjadikan Allah tujuan.

Kita sedang menjadikan Allah layanan pelanggan 24 jam.

Sedih Itu Belum Tentu Taubat

Ada satu perkara yang lebih halus lagi: ightirar, tertipu oleh keadaan diri sendiri.

Contohnya sederhana.

“Saya menyesal karena dulu sering meninggalkan shalat.”

Baik.

“Tapi saya masih merasa bersalah sampai sekarang.”

Baik juga.

“Tiap malam saya menangis mengingat dosa-dosa saya.”

Masih baik.

“Tetapi shalat saya tetap bolong.”

Nah.

Di sinilah masalahnya.

Kesedihan yang tidak melahirkan perbaikan kadang hanya menjadi versi spiritual dari overthinking.

Kita menangis karena masa lalu, tetapi tidak bergerak memperbaiki masa depan.

Kita sibuk menghitung dosa kemarin, tetapi lupa mengerjakan ketaatan hari ini.

Dalam pandangan tasawuf, kesedihan yang benar seharusnya menjadi kendaraan menuju Allah, bukan tempat tinggal permanen.

Sedih itu boleh.

Menyesal itu baik.

Tetapi jangan sampai penyesalan berubah menjadi hobi.

Ada orang yang bertahun-tahun berkata, “Saya orang berdosa.”

Kalimat itu diucapkan dengan sangat khusyuk.

Padahal yang diperlukan bukan terus-menerus mengumumkan bahwa dirinya berdosa.

Yang diperlukan adalah bangkit.

Ambil wudhu.

Dirikan shalat.

Perbaiki diri.

Taubat bukan lomba siapa paling dramatis dalam menangis. Taubat adalah siapa yang benar-benar berjalan kembali.

Para Wali Tidak Sibuk Mengoleksi Kecemasan

Al-Qur'an menggambarkan para wali Allah dengan kalimat yang sangat indah: mereka tidak diliputi ketakutan dan kesedihan.

Ini bukan berarti mereka manusia yang tidak pernah mengalami masalah.

Mereka bukan robot yang baterainya selalu 100 persen.

Mereka tetap hidup di dunia.

Tetap melihat kematian.

Tetap kehilangan sesuatu.

Tetap menghadapi ujian.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda dalam cara hati mereka memandang semua itu.

Ketakutan berkaitan dengan masa depan.

Kesedihan berkaitan dengan masa lalu.

Sementara hati yang benar-benar bersandar kepada Allah tidak terjebak terlalu lama di keduanya.

Yang ada adalah kehadiran.

Hari ini dijalani hari ini.

Perintah Allah ditunaikan hari ini.

Besok belum datang.

Kemarin sudah berlalu.

Kadang kita justru sebaliknya.

Tubuh berada di ruang tamu, pikiran masih tinggal di tahun 2018, sementara hati sudah panik memikirkan 2035.

Akhirnya satu-satunya yang benar-benar tidak kita jalani adalah hari ini.

Tasawuf mengajarkan agar hati kembali hadir.

Bukan sibuk mengejar masa lalu, bukan pula terlalu takut kepada masa depan.

Tetapi melihat Allah dalam setiap keadaan.

Jangan Terlalu Cepat Mengaku ‘Arif

Ini bagian yang paling menarik sekaligus paling bisa membuat ego kita tersandung.

Dalam pembahasan Al-Hikam, orang ‘arif bukanlah orang yang sibuk memamerkan bahwa ia mendapat banyak isyarat.

Justru semakin dalam ma‘rifah seseorang, semakin kecil kebutuhan dirinya untuk menunjukkan dirinya “sudah sampai”.

Ini agak bertolak belakang dengan budaya media sosial.

Hari ini baru merasakan sedikit ketenangan setelah dzikir, besok sudah ingin membuat status:

“Alhamdulillah, malam ini Allah membuka hijab.”

Lalu ditunggu komentarnya.

“Masya Allah…”

“Barakallah…”

“Tabarakallah…”

Akhirnya hijab belum tentu terbuka, tetapi kolom komentar sudah penuh.

Di sinilah pentingnya kewaspadaan terhadap ego spiritual.

Sebab ego duniawi mudah dikenali.

Orang pamer mobil, kita tahu.

Orang pamer rumah, kita tahu.

Orang pamer saldo, kita tahu.

Tetapi ego spiritual jauh lebih licin.

Ia bisa memakai bahasa tawaduk untuk diam-diam mengatakan, “Saya lebih dekat kepada Allah daripada kalian.”

Karena itu, para sufi justru sangat hati-hati berbicara tentang maqam.

Semakin dalam laut, semakin sedikit suara di permukaannya.

Laut tidak perlu memasang papan pengumuman:

“Perhatian! Saya sangat dalam.”

Ia hanya dalam.

Begitu pula orang yang sungguh-sungguh dekat kepada Allah.

Tidak perlu sibuk memberi sertifikat kepada dirinya sendiri.

Imam Junaid dan Seni Menghilangkan Diri

Gambaran tentang seorang ‘arif yang dinisbatkan kepada ajaran Imam Junaid al-Baghdadi sangat indah.

Ia pergi dari dirinya sendiri.

Ia terus mengingat Allah sampai dirinya tidak menjadi pusat perhatian hatinya.

Ia memenuhi hak-hak Allah.

Hatinya memandang Allah meskipun matanya melihat dunia.

Ia hidup dalam cahaya hidayah dan cinta.

Ia berbicara karena Allah, diam karena Allah, bergerak karena Allah.

Dan yang sangat menarik: pujian maupun celaan tidak lagi menjadi makanan utama jiwanya.

Ini sulit.

Karena kita hidup dengan dua meteran yang sangat sensitif:

meteran pujian dan meteran cacian.

Dipujilah sedikit, hati mengembang.

Dikritik sedikit, semangat menjadi mie instan: langsung lembek.

Satu komentar positif bisa membuat kita merasa sangat saleh.

Satu komentar negatif bisa membuat kita ingin menulis sepuluh paragraf klarifikasi.

Padahal seorang yang benar-benar menempatkan Allah sebagai tujuan tidak terlalu sibuk bertanya:

“Orang menganggap saya apa?”

Pertanyaannya berubah menjadi:

“Allah menghendaki saya menjadi apa?”

Nah, ini titik pentingnya.

Dari “Apa yang Saya Dapat?” Menjadi “Apa yang Harus Saya Lakukan?”

Mungkin di sinilah inti perjalanan spiritual itu.

Kita sering mendekati agama dengan pertanyaan:

“Apa yang saya dapat?”

Dapat ketenangan?

Dapat rezeki?

Dapat karamah?

Dapat isyarat?

Dapat rasa manis dalam dzikir?

Dapat mimpi yang indah?

Dapat pengalaman batin?

Semua itu mungkin memiliki tempatnya masing-masing.

Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar:

“Apa yang Allah tuntut dari saya?”

Mungkin jawabannya justru sangat sederhana.

Shalat.

Dzikir.

Taubat.

Menjaga hati.

Menunaikan hak orang lain.

Jujur.

Sabar.

Ikhlas.

Istiqamah.

Aneh memang.

Kita sering mencari pengalaman spiritual yang luar biasa, padahal pintu menuju kedalaman justru berada dalam amal-amal yang kelihatannya biasa.

Kita ingin terbang ke langit ma‘rifah, sementara sandal kita belum tentu rapi ketika masuk masjid.

Kita ingin memahami rahasia fana, tetapi masih sibuk mempertahankan gengsi.

Kita ingin menyaksikan Allah, tetapi masih terlalu rajin memastikan semua orang menyaksikan kita.

Mungkin di situlah pekerjaan besar tasawuf sebenarnya dimulai:

mengurangi “aku”.

Fana Bukan Berarti Menjadi Hantu

Istilah fana kadang terdengar menyeramkan.

Seolah-olah orang yang fana harus menjadi seperti kabut, hilang dari dunia, lalu tidak perlu bekerja, tidak perlu makan, dan kalau ditanya tetangga jawabannya, “Saya sudah fana.”

Bukan begitu.

Fana dalam penghayatan tasawuf berkaitan dengan lenyapnya dominasi ego dan keakuan di hadapan Allah.

Tubuh tetap hidup.

Dunia tetap dilihat.

Pekerjaan tetap dilakukan.

Keluarga tetap diurus.

Tetapi pusat kehidupan bukan lagi “aku”.

Yang menjadi pusat adalah Allah.

Karena itu, ma‘rifah sejati justru tidak membuat seseorang semakin merasa besar.

Semakin mengenal Allah, semakin sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa.

Semakin dekat, semakin rendah hati.

Semakin banyak cahaya, semakin ia sadar betapa banyak bagian dalam dirinya yang masih gelap.

Maka orang yang benar-benar arif tidak perlu terburu-buru mengatakan:

“Saya sudah sampai.”

Sebab orang yang sibuk mengatakan sudah sampai biasanya masih rajin memeriksa apakah orang lain melihat tanda-tanda keberhasilannya.

Sedangkan orang yang sungguh-sungguh berjalan kepada Allah biasanya sibuk dengan satu perkara:

terus berjalan.

Penutup: Jangan Menunggu Isyarat untuk Taat

Barangkali kita tidak perlu terlalu sibuk mencari isyarat.

Jangan menunggu mimpi untuk mulai berubah.

Jangan menunggu hati bergetar untuk mulai shalat khusyuk.

Jangan menunggu merasa dekat untuk mulai berdzikir.

Jangan menunggu mengalami sesuatu yang ajaib untuk menjadi taat.

Sebab jalan menuju Allah tidak selalu dihiasi kejadian spektakuler.

Kadang jalannya sangat sederhana.

Adzan terdengar.

Kita berdiri.

Wudhu.

Sajadah.

Takbir.

Al-Fatihah.

Rukuk.

Sujud.

Dan entah berapa kali sebenarnya, di dalam gerakan yang sederhana itu, Allah sedang mengajarkan kita satu pelajaran besar:

bukan tentang bagaimana membuat diri kita menjadi luar biasa, tetapi bagaimana berhenti menjadikan diri sendiri sebagai pusat segala-galanya.

Pada akhirnya, ma‘rifah bukan soal seberapa banyak isyarat yang kita kumpulkan.

Bukan pula seberapa sering kita merasa telah “mengalami sesuatu”.

Mungkin ma‘rifah justru dimulai ketika kita berhenti sibuk mencari tanda tentang diri kita sendiri, lalu sungguh-sungguh memenuhi apa yang Allah tuntut.

Dan kalau suatu hari kita benar-benar sampai pada maqam itu, barangkali kita tidak akan sempat mengumumkannya.

Sebab orang yang sibuk bersama Allah biasanya sudah tidak terlalu sibuk mengabarkan bahwa ia sedang bersama Allah.

Maka jangan tunggu isyarat.

Shalat saja dulu.

Barangkali dari sana perjalanan justru dimulai.

abah-arul.blogspot.com., September 2026

Jangan Sibuk Mencari Isyarat, Shalat Saja Dulu Jangan Sibuk Mencari Isyarat, Shalat Saja Dulu Reviewed by banyu bening Ajibarang on 9/30/2026 03:22:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list