Dua Ayam Jantan, Satu Politisi, dan Kita yang Sibuk Berantem
Ada banyak cara untuk menjelaskan politik.
Bisa dengan teori kekuasaan. Bisa dengan buku tebal karya para ilmuwan politik yang membuat kita mengantuk sebelum sampai halaman kedua. Bisa juga dengan diagram yang penuh anak panah, kotak, dan istilah asing yang membuat politik tampak seperti rangkaian kabel di belakang televisi.
Tetapi rupanya ada cara yang jauh lebih sederhana.
Gunakan dua ekor ayam jantan.
Setidaknya begitulah kisah yang beredar di internet tentang Winston Churchill. Konon, suatu hari sang perdana menteri Inggris mengumpulkan para menteri dan tamunya di sebuah tempat. Setelah minum teh dan mungkin membicarakan hal-hal yang hanya dipahami oleh orang yang sudah minum teh terlalu banyak, Churchill meminta seekor ayam jantan dilepaskan.
Para tamu diminta menangkapnya.
Mereka mengejar.
Ayam berlari.
Manusia berlari.
Ayam berbelok.
Manusia hampir jatuh.
Ayam mungkin dalam hati berkata, “Ini manusia kenapa?”
Akhirnya ayam tidak tertangkap.
Kemudian Churchill meminta ayam jantan kedua dilepaskan.
Dan di sinilah pertunjukan politik dimulai.
Kedua ayam jantan bertemu.
Bukannya berkenalan, saling bertanya asal-usul, atau membuat grup WhatsApp untuk membicarakan masa depan bersama, mereka justru berkelahi.
Cakar bertemu cakar.
Paruh bertemu kepala.
Bulu beterbangan.
Sementara semua orang sibuk menonton pertarungan itu, Churchill berjalan santai mendekati salah satu ayam.
Tangkap.
Selesai.
Lalu keluar kalimat pamungkas:
“Ini namanya politik.”
Kalimat yang sangat sederhana.
Dan, seperti kebanyakan kalimat sederhana yang viral di internet, semakin kita pikirkan, semakin kita curiga.
Masalahnya: Churchill Benarkah Mengatakannya?
Di sinilah kita perlu berhenti sebentar.
Sebab cerita yang bagus belum tentu cerita yang benar.
Kisah dua ayam jantan ini tidak memiliki dasar historis yang kuat. Tidak ada bukti terpercaya bahwa Churchill benar-benar mengumpulkan para menteri, melepas dua ayam, lalu memberikan kuliah politik sambil menangkap ayam seperti seorang profesor ilmu kekuasaan di fakultas peternakan.
Jadi, besar kemungkinan cerita tersebut adalah legenda modern.
Tetapi internet memang mempunyai kebiasaan yang agak lucu.
Kalau sebuah nasihat terdengar terlalu pintar untuk diketahui siapa yang mengucapkannya, tinggal tempelkan nama tokoh terkenal.
Kalau nasihatnya tentang perang, kasih nama Churchill.
Kalau tentang kesabaran, kasih nama Gandhi.
Kalau tentang relativitas, kasih nama Einstein.
Kalau tentang kehidupan yang menyedihkan, kasih nama Dostoevsky.
Kalau tentang kebijaksanaan yang agak nyeleneh, kita tinggal mencari foto seorang filsuf yang berjenggot.
Selesai.
Kalimat pun mendadak memperoleh gelar akademik.
Mungkin suatu hari akan muncul kutipan:
“Jangan pernah membeli gorengan ketika sedang lapar.”
— Socrates.
Dan akan ada orang yang membagikannya dengan serius.
Tetapi Ayamnya Tetap Mengajarkan Sesuatu
Walaupun cerita tersebut kemungkinan bukan pengalaman Churchill, metaforanya memang cukup cerdas.
Sebab ada satu hal yang sering dilakukan manusia:
kita sangat mudah dibuat sibuk oleh pertengkaran.
Begitu ada dua pihak bertengkar, perhatian kita langsung berpindah kepada pertengkaran tersebut.
Kita memilih kubu.
Kita memasang status.
Kita membuat komentar.
Kita mencari kesalahan pihak sebelah.
Lalu kita berdebat sampai lupa pertanyaan awalnya.
Yang lebih mengerikan, kadang-kadang kita sudah lupa mengapa kita marah, tetapi tetap marah karena merasa sudah terlanjur.
Inilah keajaiban konflik.
Konflik mempunyai kemampuan luar biasa untuk membuat manusia kehilangan ingatan.
Hari Senin kita marah karena persoalan A.
Hari Selasa muncul persoalan B.
Hari Rabu kita masih bertengkar soal A.
Hari Kamis sudah lupa A dan bertengkar soal C.
Hari Jumat seseorang bertanya:
“Jadi sebenarnya masalahnya apa?”
Kita menjawab:
“Pokoknya dia salah.”
Itulah saat kita tahu bahwa ayam sudah naik kelas menjadi manusia.
Divide et Impera: Seni Membuat Orang Lain Sibuk
Dalam sejarah politik, ada istilah terkenal:
divide et impera.
Pecah belah dan kuasai.
Tidak perlu selalu mengalahkan semua orang secara langsung. Kadang cukup membuat mereka saling berhadapan.
Dua orang yang tadinya sama-sama melihat ke depan tiba-tiba dibuat saling melihat ke samping.
Lalu mereka bertengkar.
Sementara itu, pihak ketiga berjalan santai.
Ini strategi yang sangat efisien.
Tidak perlu banyak tenaga.
Tidak perlu banyak argumentasi.
Tidak perlu ikut berkelahi.
Cukup pastikan orang lain sibuk berkelahi.
Mereka yang sedang bertengkar biasanya tidak sempat bertanya:
“Sebentar, sebenarnya siapa yang sedang menikmati keuntungan dari pertengkaran ini?”
Pertanyaan sederhana.
Tetapi sering datang terlambat.
Seperti orang yang baru sadar dompetnya hilang setelah sampai rumah.
Politik dan Tontonan
Masalahnya menjadi lebih menarik di zaman media sosial.
Dahulu, pengalihan perhatian membutuhkan koran, radio, televisi, atau pidato panjang.
Sekarang?
Cukup satu unggahan.
Satu video.
Satu potongan pernyataan.
Satu judul provokatif.
Lalu masyarakat bekerja sendiri.
Inilah efisiensi modern.
Penguasa tidak perlu selalu mengalihkan perhatian masyarakat.
Kadang masyarakat sudah bersedia mengalihkan perhatian dirinya sendiri.
Kita tinggal melihat kolom komentar.
Satu orang menulis:
“Ini jelas salah.”
Orang kedua menjawab:
“Yang salah justru kamu.”
Orang ketiga masuk:
“Kalian semua bodoh.”
Orang keempat membawa sejarah 40 tahun lalu.
Orang kelima membawa persoalan yang sama sekali tidak berhubungan.
Dalam waktu dua jam, persoalan awal sudah lenyap.
Yang tersisa hanyalah perang saudara di kolom komentar.
Dan entah di mana, ada seseorang yang sedang menikmati kopi sambil berkata:
“Lanjutkan.”
Kita Sering Menjadi Ayam Tanpa Sadar
Bagian paling lucu dari cerita ini justru bukan Churchill.
Bukan pula ayamnya.
Melainkan kita.
Sebab kita senang sekali merasa menjadi penonton yang cerdas.
Kita membaca sebuah berita.
Kita melihat dua tokoh bertengkar.
Kita menyimpulkan:
“Ah, saya tahu siapa yang jahat.”
Padahal mungkin kita hanya melihat panggung.
Kita melihat dua ayam berkelahi lalu merasa sudah memahami peternakan.
Padahal belum tentu.
Bisa saja ada ayam ketiga yang sedang makan jagung di belakang kandang.
Dan justru ayam ketiga itulah yang paling kenyang.
Dalam kehidupan politik, orang yang paling berisik belum tentu paling berkuasa.
Orang yang paling sering muncul di layar belum tentu paling menentukan.
Dan orang yang paling sibuk berdebat belum tentu orang yang paling memahami permainan.
Kadang-kadang orang yang paling berpengaruh justru tidak terlihat.
Ia tidak ikut berteriak.
Tidak ikut memaki.
Tidak perlu tampil setiap lima menit.
Ia hanya menunggu.
Karena ia tahu satu hal:
orang yang sedang sibuk berkelahi biasanya tidak punya waktu untuk memperhatikan siapa yang sedang mengambil sesuatu di belakang mereka.
Tetapi Jangan Mengira Semua Politik adalah Tipu Daya
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Kalau kita terlalu menikmati cerita dua ayam ini, kita bisa terjebak dalam kesimpulan malas:
politik = tipu daya.
Padahal politik jauh lebih rumit.
Politik adalah bagaimana anggaran negara dibelanjakan.
Bagaimana pendidikan disusun.
Bagaimana rumah sakit bekerja.
Bagaimana hukum ditegakkan.
Bagaimana jalan dibangun.
Bagaimana konflik diselesaikan.
Bagaimana kepentingan yang berbeda dinegosiasikan.
Dengan kata lain, politik bukan hanya soal siapa yang berhasil menangkap ayam.
Politik juga soal:
siapa yang memberi makan ayam.
Dan, lebih penting lagi:
siapa yang membayar makanannya.
Di situlah metafora ayam mulai menjadi serius.
Sebab masyarakat bukan ayam yang bisa terus-menerus dibuat sibuk berkelahi.
Masyarakat memiliki hak untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh orang-orang yang memegang kekuasaan.
Kita Harus Belajar Menonton dengan Mata Terbuka
Mungkin pelajaran terbesar dari kisah ini bukan:
“Jangan sampai orang lain memecah belah kita.”
Itu terlalu sederhana.
Pelajaran yang lebih penting adalah:
jangan terlalu cepat percaya pada pertunjukan.
Kalau tiba-tiba semua orang membicarakan pertengkaran yang sama, kita boleh bertanya:
“Kenapa saya diminta melihat ke sini?”
Kalau tiba-tiba masyarakat sibuk memperdebatkan dua kelompok, kita boleh bertanya:
“Siapa yang sedang tidak diperhatikan?”
Kalau dua orang terus-menerus bertengkar di depan kamera, kita boleh bertanya:
“Apakah pertengkaran ini benar-benar persoalan utama?”
Dan kalau seseorang berkata:
“Lihat! Mereka sedang berkelahi!”
Kita sebaiknya tidak langsung ikut berteriak.
Sesekali tengoklah ke belakang.
Barangkali ada orang yang sedang membawa kandang.
Ayam Jantan dan Kebijaksanaan yang Sedikit Memalukan
Ada ironi besar dalam kisah ini.
Manusia merasa dirinya makhluk rasional.
Kita memiliki universitas.
Kita memiliki parlemen.
Kita memiliki lembaga penelitian.
Kita memiliki filsafat.
Kita bahkan memiliki konferensi internasional dengan nama yang panjang sekali.
Tetapi ternyata kita tetap mudah dibuat seperti dua ayam jantan:
dipancing sedikit,
tersinggung sedikit,
lalu:
“Ayo berkelahi!”
Bedanya, ayam hanya menggunakan paruh.
Manusia menggunakan unggahan media sosial.
Ayam mencabut bulu.
Manusia mencabut pertemanan.
Ayam selesai berkelahi lalu mungkin makan bersama.
Manusia selesai berdebat masih membawa dendam sampai Lebaran berikutnya.
Maka mungkin kita perlu belajar sesuatu dari ayam.
Bukan cara berkelahi.
Tetapi cara berhenti.
Siapa yang Sebenarnya Menang?
Pertanyaan paling menarik dari cerita ini bukan:
“Siapa ayam yang menang?”
Melainkan:
“Siapa yang mendapatkan keuntungan ketika dua ayam sibuk berkelahi?”
Pertanyaan ini dapat diterapkan di mana saja.
Dalam politik.
Dalam bisnis.
Dalam organisasi.
Dalam keluarga.
Bahkan dalam grup WhatsApp.
Sebab konflik sering membuat kita lupa tujuan awal.
Kita ingin memperjuangkan keadilan, tetapi akhirnya sibuk membenci orang.
Kita ingin mencari kebenaran, tetapi akhirnya sibuk memenangkan debat.
Kita ingin memperbaiki keadaan, tetapi akhirnya lebih menikmati melihat pihak lain kalah.
Pada titik tertentu, kita tidak lagi sedang mencari kebenaran.
Kita hanya ingin menang.
Dan ketika itu terjadi, mungkin kita sudah menjadi ayam jantan.
Hanya saja ayam jantan versi manusia memiliki akses internet.
Penutup: Jangan Sampai Menjadi Ayam yang Terlalu Rajin Berkelahi
Kisah Churchill dan dua ayam jantan mungkin tidak pernah terjadi.
Mungkin Churchill tidak pernah menangkap ayam sambil memberikan kuliah politik.
Mungkin cerita itu lahir jauh setelah Churchill wafat.
Mungkin juga Churchill akan tertawa jika mendengar kisah tersebut.
Tetapi legenda tidak selalu harus benar secara sejarah untuk menjadi berguna sebagai cermin.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa konflik dapat menjadi alat pengalih perhatian.
Bahwa manusia mudah diarahkan untuk saling bertentangan.
Bahwa politik memang mengenal strategi, tetapi politik tidak boleh direduksi menjadi tipu daya.
Dan yang paling penting:
jangan terlalu cepat memilih ayam untuk dibela.
Sebelum ikut berteriak, lihat dulu siapa yang menyebarkan jagung.
Sebelum ikut berkelahi, lihat siapa yang membuka kandang.
Sebelum sibuk mencari siapa yang salah, tanyakan siapa yang sedang menikmati kekacauan.
Dan sebelum menekan tombol share, mungkin ada baiknya bertanya:
“Ini benar-benar Churchill, atau Churchill hanya sedang dijadikan kambing hitam... eh, ayam hitam?”
Sebab dalam politik, kita tidak selalu kalah karena lawan kita lebih kuat.
Kadang kita kalah karena kita terlalu sibuk mematuk tetangga.
Sementara seseorang di belakang kandang sudah tersenyum, mengambil ayam yang kita tinggalkan, lalu berjalan pergi.
Kalau akhirnya kita bertanya,
“Lho, kok ayamnya hilang?”
Mungkin jawabannya sederhana:
Karena sejak tadi kita sibuk berkelahi.
Dan kalau itu benar-benar terjadi, jangan salahkan ayam.
Ayam hanya menjalankan nalurinya.
Manusialah yang seharusnya menggunakan akalnya.
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
9/01/2026 03:58:00 PM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.