Kalau Tak Bisa Membantah Argumennya, Serang Saja Orangnya
Seni Berdebat dengan Cara yang Hemat Otak
Paul Valéry pernah menulis kalimat yang pendek tetapi bisa membuat banyak orang di media sosial merasa sedang ditelanjangi secara intelektual:
« Qui ne peut attaquer le raisonnement, attaque le raisonneur. »
Kurang lebih: orang yang tidak mampu menyerang penalarannya, akan menyerang orang yang bernalar.
Kalimat ini sebenarnya sederhana. Tetapi kalau diterapkan di media sosial, ia bisa berubah menjadi semacam kamera CCTV yang merekam perilaku kita ketika sedang kalah debat.
Sebab dalam perdebatan, ada dua kemungkinan.
Pertama, kita membantah argumennya.
Kedua, kita membantah orangnya.
Yang pertama membutuhkan pikiran.
Yang kedua cukup membutuhkan jempol.
Dan jempol, sebagaimana kita ketahui, sering kali bekerja jauh lebih cepat daripada otak.
Debat: Dari “Apa Argumennya?” Menjadi “Kamu Siapa?”
Bayangkan seseorang mengatakan:
“Argumenmu tidak kuat karena data yang kamu gunakan berasal dari penelitian dengan sampel yang terlalu kecil.”
Ini masih debat.
Kita bisa menjawab:
“Tidak, sampelnya memang kecil, tetapi metodologinya memungkinkan generalisasi tertentu.”
Nah, ini juga debat.
Kemudian datanglah seorang peserta ketiga:
“Kamu sendiri siapa? Memangnya kamu profesor?”
Nah.
Di sinilah diskusi mulai memasuki wilayah yang agak aneh.
Pertanyaan tentang metodologi penelitian tiba-tiba berubah menjadi pemeriksaan kartu identitas.
Dari “apakah argumennya benar?” bergeser menjadi “apakah orang ini cukup layak untuk mempunyai pendapat?”
Kalau diteruskan, mungkin lima menit kemudian debat sudah berubah menjadi:
“Rumahmu di mana?”
“Kerja apa?”
“Sekolah di mana?”
“Followers berapa?”
“Pernah naik pesawat belum?”
Padahal yang sedang diperdebatkan adalah teori ekonomi.
Akhirnya, teori ekonomi tidak pernah dibahas.
Yang menang justru orang yang paling banyak mengetahui riwayat hidup lawannya.
Mengapa Menyerang Orang Lebih Mudah?
Karena membantah argumen itu melelahkan.
Kita harus membaca.
Harus memahami.
Harus memeriksa fakta.
Harus menyusun alasan.
Dan yang paling menyebalkan: kita mungkin menemukan bahwa lawan debat ternyata benar.
Ini adalah pengalaman yang tidak menyenangkan bagi ego.
Jauh lebih mudah mengatakan:
“Ah, dia memang begitu orangnya.”
Selesai.
Tidak perlu membaca bukunya.
Tidak perlu memeriksa datanya.
Tidak perlu memahami logikanya.
Cukup mengetahui bahwa dia pernah melakukan sesuatu yang tidak kita sukai, lalu seluruh argumennya dinyatakan gugur.
Ini adalah metode debat yang sangat efisien.
Efisien dalam menghindari berpikir.
Kalau ilmu pengetahuan menggunakan metode ini, mungkin Einstein akan dibantah dengan:
“Jangan dengarkan Einstein. Rambutnya saja berantakan.”
Newton pun mungkin kalah karena:
“Orang yang sibuk mengamati apel jatuh tidak usah bicara soal gravitasi.”
Dan Aristoteles mungkin dibatalkan pendapatnya karena:
“Orang zaman dulu. Belum punya Wi-Fi.”
Selamat Datang di Dunia Ad Hominem
Dalam logika, menyerang pribadi seseorang alih-alih membahas argumennya dikenal sebagai argumentum ad hominem.
Misalnya:
“Pendapatnya tentang pendidikan tidak perlu didengar karena dia orang bodoh.”
Itu bukan bantahan terhadap pendapat.
Itu hanya penilaian terhadap orangnya.
Kalau ingin membantah, kita harus mengatakan:
“Pendapatnya tentang pendidikan keliru karena data yang digunakannya tidak mendukung kesimpulan tersebut.”
Nah, itu baru argumen.
Perbedaannya tampak sederhana.
Tetapi dalam praktiknya, perbedaannya bisa sangat sulit dilakukan ketika ego sudah ikut masuk ke ruang debat sambil membawa koper.
Sebab ketika kita merasa harga diri kita sedang diserang, kita sering tidak lagi ingin mencari kebenaran.
Kita ingin menang.
Dan kalau tidak bisa menang dengan argumen, minimal lawan harus terlihat jelek.
Inilah tahap ketika diskusi berubah menjadi pertandingan:
“Siapa yang lebih dulu membuat lawannya terlihat bodoh?”
Tetapi Jangan Juga Terlalu Cepat Mengatakan “Ad Hominem!”
Ada persoalan yang lebih halus.
Tidak setiap kritik terhadap seseorang merupakan ad hominem.
Kalau seseorang menawarkan investasi lalu kita mengetahui bahwa dia pernah terlibat dalam penipuan investasi, informasi itu tentu relevan.
Kalau seorang dokter berbicara tentang bidang keahliannya, latar belakang profesionalnya juga bisa relevan.
Kalau seorang pejabat membuat pernyataan tentang kebijakan publik, rekam jejaknya dapat menjadi informasi yang berguna untuk memahami konteks.
Jadi masalahnya bukan:
“Jangan pernah membicarakan orang.”
Masalahnya adalah:
“Jangan gunakan pembicaraan tentang orang sebagai pengganti pembahasan terhadap argumennya.”
Ini perbedaan yang penting.
Kalau seseorang berkata:
“Pendapatmu salah karena kamu orang jahat,”
itu bukan argumen.
Tetapi kalau seseorang berkata:
“Dalam kasus ini, konflik kepentingan yang kamu miliki relevan karena kamu sedang meminta kami mempercayai klaim yang secara langsung menguntungkanmu,”
itu persoalan lain.
Jadi kita perlu membedakan antara menyerang pribadi dan menilai informasi tentang pribadi yang memang relevan terhadap persoalan.
Kalau tidak, kita bisa menjadi begitu anti-ad hominem sampai-sampai orang yang menawarkan obat palsu pun kita dengarkan dengan khusyuk karena takut menyinggung pribadinya.
Media Sosial: Negeri Para Ahli Membaca Niat Orang
Masalahnya menjadi semakin rumit di media sosial.
Di sana, manusia mempunyai kemampuan luar biasa.
Kita bisa mengetahui niat seseorang hanya dari satu kalimat.
Satu kalimat!
Orang menulis:
“Saya tidak setuju dengan kebijakan itu.”
Lalu seseorang menjawab:
“Kamu memang membenci rakyat.”
Padahal dia hanya mengatakan tidak setuju.
Kemudian muncul orang kedua:
“Kamu pasti dibayar.”
Orang ketiga:
“Kamu buzzer.”
Orang keempat:
“Kamu fasis.”
Orang kelima:
“Kamu komunis.”
Orang keenam:
“Kamu woke.”
Akhirnya tidak ada seorang pun yang membahas kebijakannya.
Yang dibahas adalah identitas.
Seolah-olah sebuah gagasan dapat dibuktikan benar atau salah berdasarkan jenis manusia yang mengucapkannya.
Kalau begini caranya, kita tidak lagi membutuhkan perpustakaan.
Cukup buat daftar:
“Orang yang boleh benar.”
Lalu setiap kali seseorang berbicara, kita tinggal memeriksa namanya.
Kalau namanya ada dalam daftar kita, pendapatnya benar.
Kalau tidak ada, salah.
Sangat praktis.
Dan sangat menghemat waktu berpikir.
Algoritma Senang Melihat Kita Marah
Ada satu masalah tambahan: media sosial sangat cocok dengan kebiasaan semacam ini.
Argumen yang tenang biasanya tidak terlalu menarik.
“Berdasarkan data A, B, dan C, terdapat kemungkinan bahwa kesimpulan tersebut perlu ditinjau kembali.”
Sepuluh orang membaca.
Sementara:
“DASAR BODOH!”
mungkin memperoleh lebih banyak perhatian.
Mengapa?
Karena manusia mempunyai kecenderungan untuk lebih cepat bereaksi terhadap konflik.
Akhirnya ruang publik berubah menjadi semacam pasar malam emosional.
Yang paling keras bukan selalu yang paling benar.
Yang paling cepat membalas bukan selalu yang paling paham.
Yang paling banyak mendapatkan like juga belum tentu yang paling bagus argumennya.
Kadang-kadang ia hanya orang yang berhasil menemukan kombinasi kata yang paling efektif membuat orang lain marah.
Dengan kata lain:
algoritma tidak selalu bertanya, “Siapa yang paling benar?”
Sering kali yang lebih penting adalah:
“Siapa yang paling berhasil membuat orang lain berhenti scroll?”
Ada Kesalahan yang Lebih Lucu Lagi
Menariknya, orang yang mengkritik ad hominem juga bisa terjebak dalam ad hominem.
Misalnya seseorang berkata:
“Jangan menyerang orangnya. Serang argumennya.”
Lalu lima detik kemudian:
“Lagipula dia memang orang yang tidak pernah bisa berpikir.”
Nah.
Selamat.
Anda baru saja mengkritik ad hominem dengan melakukan ad hominem.
Ini seperti mempromosikan vegetarianisme sambil menggigit sate.
Atau mengajarkan pentingnya kesabaran sambil membanting meja karena murid tidak segera paham.
Manusia memang makhluk yang menarik.
Kita sering mengetahui kesalahan berpikir orang lain dengan sangat jelas, tetapi mengalami kesulitan luar biasa ketika kesalahan itu sedang kita lakukan sendiri.
Mungkin Kita Tidak Perlu Selalu Menang
Ada satu hal yang sering hilang dalam budaya debat: kemampuan mengatakan,
“Saya belum tahu.”
Padahal kalimat itu sangat sehat.
“Saya perlu memeriksa datanya.”
“Saya belum memahami argumenmu.”
“Bagian itu mungkin benar.”
“Saya keliru dalam hal ini.”
Kalimat-kalimat seperti itu terdengar sederhana.
Tetapi bagi ego, kadang-kadang rasanya seperti membayar pajak.
Kita merasa kehilangan sesuatu ketika mengakui kesalahan.
Padahal sebenarnya kita sedang mendapatkan sesuatu: kesempatan untuk berpikir lebih baik.
Debat yang sehat bukanlah pertandingan untuk menentukan siapa yang paling hebat.
Ia adalah cara untuk menguji apakah gagasan kita mampu bertahan ketika berhadapan dengan pertanyaan.
Kalau sebuah argumen memang kuat, ia tidak perlu dilindungi dengan penghinaan.
Kalau argumen itu lemah, penghinaan juga tidak akan membuatnya menjadi kuat.
Menyebut lawan “bodoh” tidak otomatis membuat kita pintar.
Sama seperti menyebut lawan “gila” tidak otomatis membuat argumen kita waras.
Argumen Tidak Punya KTP
Mungkin inilah inti paling sederhana dari pesan Valéry:
Sebuah gagasan tidak memiliki KTP.
Ia tidak menjadi benar karena datang dari orang yang kita sukai.
Dan ia tidak menjadi salah karena datang dari orang yang kita benci.
Orang yang kita kagumi bisa keliru.
Orang yang kita tidak sukai bisa mengatakan sesuatu yang benar.
Ini kabar buruk bagi fanatisme.
Tetapi kabar baik bagi pikiran.
Sebab kalau kita benar-benar ingin mencari kebenaran, kita harus sanggup menerima kemungkinan yang agak menyakitkan:
orang yang kita anggap menyebalkan mungkin sesekali benar.
Dan lebih menyakitkan lagi:
kita sendiri mungkin sesekali salah.
Sesekali?
Baiklah.
Mungkin agak sering.
Penutup: Jangan Bawa Pisau ke Pertandingan Catur
Debat intelektual seharusnya seperti permainan catur.
Yang bergerak adalah gagasan.
Yang diuji adalah langkah.
Yang diperiksa adalah strategi.
Bukan rambut lawan.
Bukan pekerjaannya.
Bukan keluarganya.
Bukan jumlah pengikutnya.
Dan bukan pula foto profilnya yang kebetulan terlihat menyebalkan.
Kalau kita tidak mampu menjawab argumen, kita punya pilihan yang sangat manusiawi:
diam, membaca, berpikir, lalu kembali dengan jawaban yang lebih baik.
Atau kita bisa melakukan pilihan yang jauh lebih populer:
membuka kolom komentar dan menulis, “Lu siapa?”
Valéry mengingatkan kita bahwa pilihan kedua memang lebih mudah.
Tetapi mudah tidak selalu berarti benar.
Dalam ruang publik yang penuh suara, mungkin kedewasaan intelektual bukan kemampuan untuk selalu mempunyai jawaban.
Kadang-kadang ia justru kemampuan untuk mengatakan:
“Saya tidak suka orangnya. Tetapi mari kita periksa dulu apakah argumennya benar.”
Sebab pada akhirnya, kebenaran tidak punya kewajiban untuk datang dari orang yang kita sukai.
Dan kalau sebuah argumen ternyata benar, menghina pembawanya tidak akan membuat argumen itu salah.
Paling-paling kita hanya berhasil melakukan satu hal:
menambah kebisingan sambil merasa telah memenangkan perdebatan.
abah-arul.blogspot.com., September 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
9/22/2026 03:13:00 PM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.