NU, Gus Yahya, dan Generasi yang Sudah Tidak Bisa Disuruh “Percaya Saja”

Ada masa ketika seorang anak muda bertanya kepada orang tua:

“Kenapa saya harus menghormati beliau?”

Jawabannya sederhana:

“Karena beliau kiai.”

Selesai.

Tidak perlu presentasi PowerPoint. Tidak perlu fact-checking. Tidak perlu mencari rekam jejak di Google. Apalagi membuka kolom komentar.

Dulu, kewibawaan datang bersama sorban, pesantren, nasab, usia, dan suara yang terdengar berat ketika membaca doa.

Sekarang?

Anak muda melihat kiai di layar ponsel, lalu di sebelahnya muncul video seorang doktor, ustaz TikTok, filsuf YouTube, aktivis lingkungan, podcaster, ekonom, dan entah siapa lagi yang sedang menjelaskan kehidupan sambil duduk di depan rak buku palsu.

Akibatnya sederhana tetapi agak menyakitkan:

otoritas sekarang harus antre.

Dan kadang-kadang yang punya mikrofon paling bagus justru mendapat antrean paling depan.

Dulu Sanad, Sekarang Sinyal Wi-Fi

Salah satu persoalan besar yang muncul dalam refleksi Az Muhaemin tentang kepemimpinan Gus Yahya adalah perubahan cara generasi muda memandang otoritas.

Dulu, sanad adalah sesuatu yang sangat penting.

Sekarang, selain sanad, anak muda juga memeriksa screen shot.

Dulu orang bertanya:

“Beliau belajar kepada siapa?”

Sekarang pertanyaannya:

“Beliau ngomong apa?”

Lalu dilanjutkan:

“Buktinya?”

Kemudian:

“Kenapa berbeda dengan ustaz yang saya follow?”

Dan akhirnya:

“Ini sumbernya dari mana?”

Bagi generasi lama, pertanyaan semacam itu mungkin terdengar kurang ajar.

Bagi generasi baru, itu namanya literasi informasi.

Maka persoalan NU hari ini bukan sekadar bagaimana mempertahankan tradisi, tetapi bagaimana membuat tradisi tetap mampu berbicara kepada manusia yang otaknya setiap pagi disiram oleh 147 notifikasi.

Anak muda bukan tidak mau menghormati.

Mereka hanya sudah tidak mudah percaya.

Dan ini dua hal yang berbeda.

Mereka bisa tetap mencium tangan kiai, tetapi setelah itu mungkin pulang sambil membuka ponsel untuk mencari:

“Benarkah yang tadi dikatakan?”

Inilah zaman ketika takzim dan verifikasi hidup berdampingan dalam satu tubuh.

Kiai Tidak Lagi Bertanding dengan Kiai

Masalahnya menjadi lebih rumit karena seorang kiai hari ini tidak hanya berhadapan dengan kiai lain.

Ia berhadapan dengan algoritma.

Algoritma tidak punya nasab.

Tidak punya sanad.

Tidak punya gelar.

Tidak pernah ikut Bahtsul Masail.

Tetapi algoritma bisa membuat sebuah video ditonton lima juta orang sebelum seorang pengurus organisasi sempat menyelesaikan rapat.

Seorang kiai berbicara selama dua jam tentang fikih.

Algoritma kemudian menyodorkan video:

Tiga tanda pasanganmu tidak jodoh menurut numerologi.

Dan anehnya, video kedua ditonton lebih banyak.

Inilah tragedi zaman digital:

ilmu harus bersaing dengan konten 30 detik.

Bahkan kebijaksanaan harus bersaing dengan video orang memasak mi sambil berjoget.

Karena itu, ketika Gus Yahya membawa gagasan seperti Fikih Peradaban, Humanitarian Islam, internasionalisasi NU, Road Map NU 2050, dan berbagai gagasan besar lainnya, ada sesuatu yang memang patut dihargai.

Setidaknya NU tidak hanya sibuk bertanya:

“Siapa yang menjadi ketua?”

Tetapi juga:

“NU mau menjadi apa pada masa depan?”

Pertanyaan kedua jauh lebih merepotkan.

Sebab kalau membahas ketua, kita cukup menghitung suara.

Kalau membahas masa depan, kita harus berpikir.

Dan berpikir adalah pekerjaan yang kadang membuat kepala panas tanpa menghasilkan konsumsi.

Gagasan Besar dan Realitas yang Kadang Kecil

Gus Yahya dikenal dengan produktivitas gagasan.

Ada Fikih Peradaban.

Ada Humanitarian Islam.

Ada internasionalisasi.

Ada visi jangka panjang.

Ada berbagai istilah yang membuat seminar menjadi terlihat sangat serius.

Tetapi ada satu pertanyaan sederhana:

Setelah seminar selesai, apa yang berubah di warung kopi?

Sebab begitulah dunia bekerja.

Di tingkat pusat, orang berbicara tentang geopolitik, kecerdasan buatan, krisis iklim, tata dunia, dan masa depan peradaban.

Di tingkat bawah, seseorang mungkin masih bingung:

“Besok pengajian jadi atau tidak?”

Keduanya sama-sama penting.

Satu membahas masa depan umat manusia.

Yang lain membahas konsumsi kopi dan pengeras suara.

Masalah organisasi memang sering berada di sini: gagasan yang sangat tinggi belum tentu turun dengan selamat sampai lantai dasar.

Kadang gagasan berangkat dari Jakarta sebagai roket.

Sampai di ranting, tinggal menjadi selebaran.

Karena itu produktivitas gagasan memang penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.

Organisasi bukan perpustakaan.

Kalau hanya menghasilkan gagasan tetapi tidak mengubah perilaku, lama-lama ia menjadi tempat penyimpanan PDF.

Generasi Muda Tidak Menuntut Pemimpin yang Sempurna

Ada hal yang menarik dari generasi muda.

Mereka sebenarnya tidak menuntut pemimpin sempurna.

Mereka hanya ingin melihat sedikit hubungan antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan.

Tidak perlu maksum.

Cukup konsisten.

Kalau berbicara tentang kesederhanaan, jangan sampai kesederhanaannya hanya muncul di poster.

Kalau berbicara tentang persaudaraan, jangan sampai persaudaraan berhenti ketika pembagian jabatan dimulai.

Kalau berbicara tentang moralitas, jangan sampai moralitas menjadi sangat kuat ketika digunakan untuk menilai lawan dan mendadak masuk mode hemat energi ketika menilai kawan.

Generasi muda sangat peka terhadap kontradiksi semacam ini.

Mereka hidup di zaman screen recording.

Apa yang dikatakan hari ini bisa diputar kembali tiga tahun kemudian.

Maka jangan heran kalau anak muda berkata:

“Bukankah dulu beliau bilang begitu?”

Dan orang tua menjawab:

“Itu konteksnya berbeda.”

Anak muda:

“Bedanya apa?”

Orang tua:

“Panjang ceritanya.”

Anak muda:

“Boleh saya lihat videonya?”

Di sinilah kewibawaan mengalami ujian yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya.

Kata-kata sekarang mempunyai arsip.

Konflik Elite: Cara Tercepat Membuat Anak Muda Bingung

Tidak ada yang lebih efektif untuk merusak citra sebuah organisasi daripada melihat para tokohnya bertengkar sambil membawa nama besar organisasi.

Sebab generasi muda kemudian bingung.

“Bukankah semuanya mengajarkan ukhuwah?”

“Iya.”

“Lalu kenapa bertengkar?”

“Ini demi organisasi.”

“Oh.”

“Lalu kenapa organisasi menjadi korban?”

“Ini rumit.”

Generasi muda kemudian mengangguk.

Lalu membuka TikTok.

Inilah yang disebut migrasi perhatian.

Orang tidak selalu meninggalkan organisasi dengan membuat pengumuman.

Kadang mereka pergi diam-diam.

Tidak lagi datang.

Tidak lagi membaca.

Tidak lagi peduli.

Tidak lagi merasa bahwa masa depannya ada di sana.

Dan justru inilah ancaman yang paling serius.

Bukan demonstrasi.

Bukan pemberontakan.

Bukan deklarasi keluar.

Melainkan:

diam.

Organisasi masih memiliki gedung.

Masih memiliki struktur.

Masih memiliki kantor.

Masih memiliki spanduk.

Masih memiliki rapat.

Tetapi generasi mudanya sudah tidak merasa perlu datang.

Secara administratif organisasi masih hidup.

Secara demografis, ia mulai kehilangan masa depan.

Tradisi Jangan Sampai Menjadi Museum

Tradisi adalah kekuatan besar NU.

Tetapi tradisi memiliki satu risiko:

kalau tidak terus dihidupkan, ia bisa berubah menjadi museum.

Museum itu bagus.

Rapi.

Berharga.

Dijaga.

Tetapi orang datang untuk melihat masa lalu, bukan untuk tinggal di sana.

Karena itu, mempertahankan tradisi tidak berarti membuat semua hal berhenti seperti dahulu.

Sanad harus dipertahankan, tetapi nalar jangan dimatikan.

Adab harus dijaga, tetapi pertanyaan jangan dianggap dosa.

Kiai harus dihormati, tetapi penghormatan tidak boleh berarti kekebalan dari kritik.

Dan generasi muda harus diarahkan, tetapi jangan sampai setiap pertanyaan mereka dianggap sebagai tanda bahwa mereka kurang ngaji.

Sebab kadang-kadang anak muda bertanya bukan karena tidak punya iman.

Mereka bertanya karena ingin memahami.

Dan organisasi yang sehat seharusnya tidak takut kepada pertanyaan.

Ia justru takut ketika tidak ada lagi yang bertanya.

Gus Yahya dan Pekerjaan yang Tidak Selesai

Dalam konteks inilah kepemimpinan Gus Yahya dapat dibaca secara lebih luas.

Yang menarik bukan sekadar apakah semua gagasan telah berhasil diwujudkan.

Tentu saja tidak.

Tidak ada kepemimpinan yang bisa menyelesaikan semua persoalan.

Bahkan mengurus grup WhatsApp keluarga saja kadang sudah merupakan ujian kepemimpinan yang luar biasa.

Yang lebih penting adalah apakah sebuah kepemimpinan berhasil membuat organisasi berani bertanya tentang masa depannya sendiri.

NU tidak boleh hanya bertanya:

“Bagaimana mempertahankan yang sudah ada?”

Ia juga harus bertanya:

“Apakah yang sudah ada masih relevan?”

Pertanyaan kedua memang agak berbahaya.

Sebab ketika kita bertanya apakah sesuatu masih relevan, kita juga membuka kemungkinan bahwa sebagian kebiasaan kita sudah tidak relevan.

Dan manusia biasanya sangat mencintai kebiasaan yang sudah lama ia lakukan.

Bahkan ketika kebiasaan itu sudah tidak berguna, ia akan berkata:

“Dari dulu juga begini.”

Kalimat tersebut adalah salah satu kalimat paling kuat dalam sejarah umat manusia.

Banyak hal buruk bertahan hanya karena ada seseorang yang mengatakan:

“Dari dulu juga begini.”

Legacy Bukan Hanya Gedung dan Dokumen

Pada akhirnya, warisan seorang pemimpin bukan hanya program yang tertulis dalam dokumen.

Bukan pula hanya jumlah seminar.

Bukan jumlah kunjungan luar negeri.

Bukan banyaknya istilah baru yang berhasil masuk ke spanduk.

Warisan terbesar adalah:

apakah generasi setelahnya masih merasa memiliki rumah yang sama.

Kalau anak muda datang ke NU dan merasa:

“Ini rumah saya.”

Maka tradisi hidup.

Tetapi kalau mereka datang dan merasa:

“Ini rumah orang-orang tua, saya cuma numpang lewat.”

Maka masalahnya bukan lagi pergantian pengurus.

Masalahnya adalah regenerasi peradaban.

Karena itu, gagasan sebesar Road Map NU 2050 pada akhirnya akan diuji bukan oleh tepuk tangan hari ini.

Ia akan diuji oleh anak muda yang pada 2050 nanti mungkin sudah menjadi pengurus, dosen, pengusaha, ilmuwan, aktivis, atau bahkan orang yang sama sekali tidak peduli dengan organisasi.

Pertanyaannya sederhana:

Apakah mereka masih membutuhkan NU?

Dan lebih penting lagi:

Apakah NU masih mampu membuat mereka merasa dibutuhkan?

Penutup: Jangan Sampai NU Menjadi “Seen”

Mungkin inilah kecemasan terbesar yang tersembunyi di balik pembicaraan tentang generasi.

Sebuah organisasi tidak selalu mati ketika musuhnya menang.

Kadang organisasi mati karena anak-anaknya berhenti merasa bahwa organisasi itu penting.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada sirene.

Tidak ada berita utama.

Hanya semakin sedikit orang datang.

Semakin sedikit yang bertanya.

Semakin sedikit yang peduli.

Sampai suatu hari organisasi masih berdiri kokoh, tetapi generasi mudanya hanya berkata:

“Oh, itu organisasi zaman orang tua saya.”

Karena itu NU membutuhkan lebih dari sekadar legitimasi struktural.

Ia membutuhkan legitimasi moral.

Bukan sekadar:

“Percayalah karena kami sudah lama.”

Tetapi:

“Percayalah karena kami masih layak dipercaya.”

Bukan:

“Hormatilah kami karena posisi kami.”

Tetapi:

“Lihatlah bagaimana kami hidup, lalu tentukan sendiri apakah kami pantas dihormati.”

Dan mungkin inilah tantangan terbesar Gus Yahya maupun siapa pun yang memimpin NU setelahnya.

Bukan sekadar memenangkan rapat.

Bukan sekadar memenangkan muktamar.

Bukan sekadar membuat program.

Tetapi memenangkan sesuatu yang jauh lebih sulit:

kepercayaan generasi yang sejak lahir sudah diajari oleh internet untuk bertanya, membandingkan, memverifikasi, dan—kalau kecewa—tinggal scroll.

Di zaman dahulu, anak muda meninggalkan organisasi dengan pamit.

Di zaman sekarang?

Kadang cukup dengan tidak membuka grup WhatsApp.

Dan itulah mungkin bentuk revolusi paling sunyi dalam sejarah organisasi:

bukan memberontak, melainkan tidak lagi merasa perlu hadir.

Maka tugas terbesar NU bukan hanya memastikan generasi muda menghormati masa lalu.

Tugasnya adalah membuat mereka yakin bahwa masa depan juga layak dibangun bersama NU.

Sebab tradisi yang hebat bukan tradisi yang berhasil membuat anak cucu terus-menerus mengenang kita.

Tradisi yang hebat adalah tradisi yang membuat anak cucu berkata:

“Saya masih ingin melanjutkannya.”

abah-arul.blogspot.com., September 2026

NU, Gus Yahya, dan Generasi yang Sudah Tidak Bisa Disuruh “Percaya Saja” NU, Gus Yahya, dan Generasi yang Sudah Tidak Bisa Disuruh “Percaya Saja” Reviewed by banyu bening Ajibarang on 9/03/2026 02:24:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list