Kemuliaan Itu Mahal, Sayangnya Tidak Ada Promo Cashback

Ada satu hukum kehidupan yang sebenarnya sederhana, tetapi sering membuat manusia kecewa: sesuatu yang berharga biasanya mahal.

Rumah bagus mahal. Pendidikan bagus butuh biaya. Bisnis besar butuh modal. Tubuh sehat perlu disiplin. Ilmu pengetahuan perlu belajar. Bahkan untuk menjadi manusia yang sedikit lebih sabar saja kadang membutuhkan latihan bertahun-tahun.

Tetapi manusia modern punya cita-cita yang lebih praktis.

Kita ingin sukses, tetapi kalau bisa tanpa stres.

Ingin kaya, tetapi tidak mau rugi.

Ingin terkenal, tetapi tidak mau dikritik.

Ingin pintar, tetapi membaca buku lima halaman saja sudah merasa seperti sedang menjalani hukuman penjara.

Dalam keadaan seperti inilah muncul sebuah kalimat yang dinisbatkan kepada Alexander Agung:

“Kesulitan dan bahaya adalah harga kemuliaan.”

Kalimat yang sangat indah.

Dan sangat tidak cocok untuk sebagian isi grup WhatsApp.

Sebab kita lebih menyukai kutipan yang berbunyi: “Percayalah pada proses.”

Asalkan prosesnya jangan terlalu lama.

Alexander dan Paket Premium Bernama Kemuliaan

Alexander Agung bukan tipe orang yang membaca kutipan motivasi sebelum tidur lalu besok paginya memutuskan untuk tetap rebahan.

Ia benar-benar menjalani apa yang dikatakannya.

Pasukannya berjalan jauh, bertahun-tahun berperang, terluka, kelelahan, jauh dari kampung halaman. Ketika sampai di India, mereka sudah mulai berpikir bahwa dunia ternyata cukup luas dan mungkin sudah saatnya pulang.

Alexander, tentu saja, mempunyai pendapat berbeda.

Dalam catatan Arrian, ia mengingatkan pasukannya bahwa kesusahan dan bahaya adalah harga kemuliaan.

Kalimat itu terdengar gagah jika dibaca sambil duduk nyaman dengan secangkir kopi.

Tetapi bayangkan mendengarnya setelah bertahun-tahun berjalan kaki, tubuh penuh luka, sandal perang mungkin sudah tidak berbentuk sandal, dan rumah masih ribuan kilometer jauhnya.

Mungkin ada prajurit yang dalam hati berkata:

“Yang mulia, kami sebenarnya tidak keberatan dengan kemuliaan. Tapi apakah kemuliaan itu bisa dikirim lewat ekspedisi saja?”

Masalahnya memang di situ.

Kita sering menginginkan hasil perjuangan tanpa bagian perjuangannya.

Semua Orang Ingin Mahkota, Tidak Semua Mau Memikul Bebannya

Alexander memahami sesuatu yang sangat tua dalam kehidupan manusia: kejayaan tidak datang dari kenyamanan.

Dalam tradisi Yunani terdapat gagasan arete, yaitu keunggulan atau keutamaan, dan ponos, yaitu kerja keras, jerih payah, bahkan penderitaan.

Keduanya seperti dua sisi mata uang.

Masalahnya, manusia modern kadang ingin menukarkan mata uang itu dengan uang digital.

Ingin arete, tetapi tidak mau ponos.

Ingin keunggulan, tetapi tidak mau kerepotan.

Ingin hasil, tetapi tidak mau proses.

Ingin tubuh atlet, tetapi hubungan paling serius dengan olahraga hanya terjadi ketika melihat pertandingan di televisi.

Ingin menjadi penulis terkenal, tetapi baru menulis dua paragraf sudah membuka media sosial untuk “mencari inspirasi”.

Inspirasi akhirnya ditemukan.

Tiga jam kemudian.

Dalam bentuk video kucing.

Al-Mutanabbi Sudah Mengingatkan

Menariknya, gagasan ini bukan monopoli Alexander.

Dalam khazanah Arab-Persia, Al-Mutanabbi juga mempunyai gagasan yang kurang lebih sama: jika tidak ada kesulitan, semua orang akan menjadi pemimpin.

Ini logis.

Kalau menjadi pemimpin cukup dengan memakai peci, jas, atau memasang foto yang bagus, tentu dunia sudah penuh pemimpin.

Kesulitan berfungsi seperti saringan.

Ia memisahkan antara orang yang sungguh-sungguh dengan orang yang hanya bersemangat ketika semuanya berjalan lancar.

Sebab keberanian paling mudah dibuktikan ketika keadaan sedang nyaman.

Semua orang bisa berkata, “Saya siap berjuang.”

Persoalannya muncul ketika perjuangan benar-benar datang.

Ketika uang menipis.

Ketika usaha gagal.

Ketika tulisan ditolak.

Ketika orang lain mencibir.

Ketika rencana berantakan.

Ketika hasil belum kelihatan.

Di situlah slogan motivasi mulai diuji oleh tagihan listrik.

Tetapi Ada Satu Masalah: Jangan Romantisasi Bahaya

Namun, ada bagian penting yang harus kita kritisi.

Kalimat “kesulitan dan bahaya adalah harga kemuliaan” tidak boleh diterjemahkan menjadi:

“Semakin menderita, semakin mulia.”

Tidak sesederhana itu.

Kalau begitu, orang yang lupa membawa payung lalu kehujanan tiga jam harus dianggap lebih mulia daripada ilmuwan yang bekerja nyaman di laboratorium.

Orang yang salah mengelola bisnis sampai bangkrut tidak otomatis lebih hebat daripada orang yang mengelola bisnis secara hati-hati.

Dan orang yang mengambil risiko tanpa perhitungan bukan otomatis pemberani.

Kadang ia hanya lupa membaca petunjuk penggunaan.

Keberanian berbeda dengan kecerobohan.

Pengorbanan berbeda dengan menyiksa diri.

Perjuangan berbeda dengan mencari masalah.

Alexander sendiri memberikan pelajaran yang cukup pahit tentang ambisi. Ia berhasil membangun kerajaan yang luar biasa luas, tetapi meninggal dalam usia sangat muda.

Kemuliaan memang diperolehnya.

Tetapi umur panjang tidak ikut masuk dalam paket.

Dunia Modern: Ingin Naik Gunung, Tapi Mencari Lift

Di zaman sekarang, bentuk perjuangan memang berubah.

Kita tidak perlu menyeberangi sungai sambil membawa pedang.

Tetapi kita mempunyai medan perang lain.

Belajar keterampilan baru.

Membangun usaha.

Menulis buku.

Menyelesaikan pendidikan.

Menjaga keluarga.

Mengendalikan emosi.

Mengakui kesalahan.

Bangkit setelah gagal.

Dan yang paling sulit: mengalahkan diri sendiri.

Yang terakhir ini justru sering menjadi perang terbesar.

Mengalahkan orang lain kadang cukup dengan strategi.

Mengalahkan diri sendiri membutuhkan kejujuran.

Kita harus berhadapan dengan malas, gengsi, takut gagal, iri, nafsu pamer, dan kebiasaan menunda.

Musuh-musuh itu tidak kelihatan.

Tetapi mereka sangat rajin.

Mereka bahkan tidak pernah cuti.

Kemuliaan Tidak Selalu Berarti Terkenal

Di sinilah kita mungkin perlu memperbarui pengertian tentang “kemuliaan”.

Bagi Alexander, kemuliaan sangat berkaitan dengan nama besar dan dikenang setelah mati. Ia hidup dalam tradisi kepahlawanan yang memandang kleos—kemasyhuran—sebagai sesuatu yang sangat tinggi.

Tetapi bagi manusia biasa, kemuliaan mungkin jauh lebih sederhana.

Seorang ayah yang tetap bertanggung jawab meskipun hidupnya berat.

Seorang ibu yang membesarkan anak dengan sabar.

Seorang guru yang tetap mengajar meskipun tidak menjadi terkenal.

Seorang pedagang kecil yang jujur meskipun punya kesempatan untuk menipu.

Seorang anak yang merawat orang tuanya.

Seorang manusia yang mampu meminta maaf ketika sadar telah salah.

Tidak ada patung untuk mereka.

Tidak ada film kolosal.

Tidak ada pasukan yang meneriakkan nama mereka.

Tetapi mungkin justru di situlah bentuk kemuliaan yang paling manusiawi.

Sebab kemuliaan tidak selalu membutuhkan penonton.

Harga Kemuliaan Bukan Selalu Darah

Kita juga tidak harus membayar semua cita-cita dengan penderitaan ekstrem.

Kadang harga sebuah kemajuan hanyalah bangun lebih pagi.

Kadang berupa disiplin.

Kadang berupa kesabaran.

Kadang berupa keberanian mengatakan “tidak”.

Kadang berupa kesediaan belajar kembali dari nol.

Dan kadang harga paling mahal adalah mengakui:

“Ternyata selama ini saya yang salah.”

Kalimat terakhir ini bahkan lebih berat daripada membawa pedang Alexander.

Pedang bisa diangkat dengan tangan.

Ego harus diangkat dari dalam hati.

Jangan Takut Sulit, Tapi Jangan Juga Mencintai Kesulitan

Mungkin inilah cara paling sehat membaca pesan Alexander.

Jangan takut pada kesulitan.

Tetapi jangan pula sengaja mencari kesulitan hanya agar merasa hebat.

Kita tidak perlu menjadi Alexander.

Tidak perlu menaklukkan dunia.

Cukup menaklukkan beberapa hal kecil yang selama ini menguasai diri kita.

Kemalasan.

Kemarahan.

Kesombongan.

Ketakutan.

Kebiasaan menunda.

Dan mungkin satu musuh yang sangat kuat:

keinginan untuk terlihat sukses sebelum benar-benar menjadi orang yang layak disebut berhasil.

Pada akhirnya, kemuliaan memang memiliki harga.

Tetapi kita harus pandai memilih apa yang layak dibayar.

Tidak semua perang harus dimenangkan.

Tidak semua risiko harus diambil.

Tidak semua penderitaan harus dicari.

Dan tidak semua ketenaran pantas dikejar.

Sebab mungkin kemuliaan sejati bukanlah ketika nama kita disebut setelah kita mati.

Bisa jadi kemuliaan adalah ketika selama hidup kita mampu menjadi manusia yang berguna, berani, jujur, dan tidak terlalu merepotkan orang lain.

Itu pun sudah cukup berat.

Dan yang lebih menarik lagi: untuk memperoleh kemuliaan seperti itu, kita tidak perlu menaklukkan India.

Menaklukkan diri sendiri saja sudah bisa membuat jadwal hidup kita berantakan selama bertahun-tahun.

Jadi, kalau suatu hari kita merasa hidup sedang sulit, jangan buru-buru menganggap Tuhan sedang menghukum kita.

Bisa jadi kita memang sedang membayar harga sebuah pertumbuhan.

Tetapi sebelum merasa menjadi Alexander Agung, periksa dulu:

kesulitannya memang bagian dari perjuangan, atau sebenarnya kita hanya salah memilih jalan?

Sebab tidak semua jalan yang penuh duri menuju kemuliaan.

Ada juga jalan penuh duri karena kita salah belok.

Dan dalam kehidupan, kemampuan menemukan jalan pulang kadang jauh lebih mulia daripada sekadar terus berjalan dengan gagah menuju jurang.

abah-arul.blogspot.com., September 2026

Kemuliaan Itu Mahal, Sayangnya Tidak Ada Promo Cashback Kemuliaan Itu Mahal, Sayangnya Tidak Ada Promo Cashback Reviewed by banyu bening Ajibarang on 9/12/2026 02:49:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list