Kultus Ketidaktahuan: Ketika Tidak Tahu Malah Dibanggakan
Ada sebuah penyakit intelektual yang sangat menarik: semakin sedikit seseorang tahu, semakin yakin ia bahwa dirinya benar.
Penyakit ini sebenarnya sudah lama. Isaac Asimov sudah mengingatkannya pada 1980 melalui esainya A Cult of Ignorance. Hampir setengah abad kemudian, penyakit itu tidak hanya belum sembuh, tetapi tampaknya sudah mendapatkan akun media sosial, koneksi Wi-Fi, dan kamera depan.
Kalau dulu orang tidak tahu sesuatu, ia mungkin berkata, “Saya tidak tahu.”
Sekarang?
“Menurut saya, para ilmuwan itu salah.”
Menarik. Dia baru selesai membaca komentar Facebook lima menit lalu.
Demokrasi Bukan Lomba Tebak-Tebakan
Asimov mengkritik gagasan keliru bahwa demokrasi berarti: “Ketidaktahuanku sama berharganya dengan pengetahuanmu.”
Tentu, secara politik setiap warga negara memiliki hak yang sama. Suara profesor dan suara tukang bakso sama-sama masuk kotak suara. Negara demokratis memang tidak boleh mengatakan, “Maaf, Anda hanya lulusan SD, suara Anda kami diskon 50 persen.”
Tetapi masalahnya muncul ketika kesetaraan hak politik dianggap sebagai kesetaraan pengetahuan.
Kalau seseorang tidak pernah belajar astronomi, misalnya, ia tetap berhak berpendapat tentang tata surya.
Tetapi hak berpendapat tidak otomatis membuat pendapatnya berubah menjadi hukum Newton.
Begitu pula kalau seseorang baru membaca satu artikel tentang kedokteran, ia boleh memiliki opini. Tetapi jangan buru-buru membuka klinik.
Demokrasi memberi kita hak untuk berbicara.
Demokrasi tidak memberi kita sertifikat bahwa semua yang kita katakan pasti benar.
Ini perbedaan kecil yang tampaknya sederhana, tetapi entah mengapa sering hilang begitu seseorang membuka kolom komentar.
Dulu Harus Membaca Buku, Sekarang Cukup Membaca Judul
Ada masa ketika manusia ingin mengetahui sesuatu, ia harus bersusah payah.
Mencari buku.
Membaca.
Mencatat.
Berdiskusi.
Mencari sumber lain.
Bertahun-tahun belajar.
Sekarang prosesnya jauh lebih efisien.
Kita cukup melihat sebuah video berdurasi 47 detik.
Setelah itu kita merasa siap mengoreksi profesor.
Teknologi memang berhasil mendemokratisasi informasi. Sayangnya, ia juga berhasil mendemokratisasi kepercayaan diri tanpa kompetensi.
Dulu orang bodoh hanya bisa membingungkan beberapa orang di warung kopi.
Sekarang ia bisa membingungkan 80.000 pengikut sebelum makan siang.
Inilah salah satu paradoks zaman digital: informasi menjadi semakin mudah diperoleh, tetapi kebijaksanaan tidak ikut mendapatkan layanan ekspres.
Kita mempunyai Google, tetapi tidak otomatis mempunyai kemampuan membedakan sumber terpercaya dan tulisan seseorang bernama “Pak Joko Realita Sejati” yang mengaku menemukan rahasia besar dunia setelah membaca tiga utas di X.
Algoritma Tidak Peduli Anda Benar
Media sosial memiliki satu hukum alam baru:
Yang membuat orang berhenti menggulir lebih berharga daripada yang membuat orang berpikir.
Artikel ilmiah berjudul:
“A Meta-Analysis of Long-Term Socioeconomic Consequences...”
kemungkinan besar kalah menarik dibanding:
“GILA! TERNYATA SELAMA INI KITA DIBOHONGI!!!”
Yang pertama membutuhkan konsentrasi.
Yang kedua cukup dibaca sambil makan gorengan.
Akibatnya, fakta yang rumit sering kalah melawan kebohongan yang sederhana.
Ilmu berkata:
“Masalah ini memiliki banyak variabel dan perlu dianalisis berdasarkan bukti.”
Media sosial menjawab:
“JANGAN MAU DIBODOHI ELIT!”
Selesai.
Tidak perlu jurnal.
Tidak perlu data.
Tidak perlu metodologi.
Cukup huruf kapital.
Ahli Mulai Dicurigai
Di sinilah kritik Asimov menjadi sangat relevan.
Ada kecenderungan menarik dalam masyarakat modern: kita mencurigai orang yang benar-benar menguasai suatu bidang.
Dokter dicurigai.
Ilmuwan dicurigai.
Ekonom dicurigai.
Sejarawan dicurigai.
Tetapi seseorang yang memiliki jutaan pengikut dan berkata, “Saya punya firasat,” justru dianggap punya wawasan luar biasa.
Barangkali karena firasat tidak memerlukan catatan kaki.
Seorang ahli berkata:
“Berdasarkan penelitian selama dua puluh tahun...”
Lalu seseorang menjawab:
“Ya, tapi menurut saya...”
Kalimat “menurut saya” ini memang luar biasa.
Ia bisa melompati pendidikan bertahun-tahun, pengalaman profesional, penelitian, data, dan konsensus ilmiah hanya dalam tiga kata.
Menurut saya.
Kalau demikian, mungkin universitas harus mengganti gelar akademik.
S1: Menurut Saya.
S2: Menurut Saya Sekali Lagi.
S3: Menurut Saya, Tapi Lebih Yakin.
Profesor: Menurut Saya dan Banyak Orang Follow Saya.
Tidak Tahu Itu Bukan Dosa
Namun, ada satu hal yang harus dibela dari ketidaktahuan.
Tidak tahu bukanlah dosa.
Tidak ada manusia yang mengetahui semuanya.
Seorang dokter mungkin hebat dalam penyakit jantung tetapi tidak tahu cara memperbaiki mesin cuci.
Seorang fisikawan mungkin memahami relativitas tetapi tetap bingung mengapa istrinya marah.
Seorang profesor filsafat mungkin mampu menjelaskan eksistensialisme selama tiga jam tetapi tetap membutuhkan bantuan anaknya ketika Wi-Fi mati.
Kita semua memiliki wilayah ketidaktahuan.
Masalahnya bukan tidak tahu.
Masalahnya adalah tidak tahu, tidak mau belajar, tetapi sangat marah ketika dikoreksi.
Di situlah ketidaktahuan berubah menjadi kultus.
Orang bukan lagi berkata:
“Saya belum tahu.”
Melainkan:
“Saya tidak tahu, dan saya bangga tidak tahu. Bahkan saya curiga kepada orang yang tahu.”
Ini sudah bukan kerendahan hati.
Ini kesombongan yang memakai pakaian sederhana.
Ahli Bukan Tuhan
Tentu saja, menghargai keahlian tidak berarti kita harus menyembah para ahli.
Ahli bisa salah.
Ilmuwan bisa keliru.
Profesor bisa membuat kesimpulan yang kemudian direvisi.
Institusi bisa gagal.
Justru ilmu pengetahuan sehat karena memiliki mekanisme untuk mengoreksi dirinya sendiri.
Tetapi ada perbedaan besar antara mengatakan:
“Saya ingin memeriksa apakah pendapat ahli ini benar.”
dan:
“Saya tidak percaya ahli karena saya melihat video TikTok.”
Yang pertama adalah skeptisisme.
Yang kedua adalah keberanian tanpa rem.
Kita memang perlu berpikir kritis terhadap para ahli.
Tetapi berpikir kritis bukan berarti otomatis mengambil posisi berlawanan dengan mereka.
Kalau dokter mengatakan kita harus mengurangi gula, lalu kita menjawab, “Saya kritis terhadap kedokteran,” mungkin kita perlu terlebih dahulu kritis terhadap kue lapis di depan kita.
Populisme dan Romantisme terhadap Orang Biasa
Asimov juga menyentuh persoalan yang lebih dalam: romantisme terhadap “orang biasa”.
Memang, orang biasa memiliki pengalaman yang berharga.
Nelayan tahu laut.
Petani tahu tanah.
Pedagang tahu pasar.
Tukang becak tahu jalan tikus.
Dan semua itu penting.
Tetapi pengalaman seseorang dalam satu bidang tidak otomatis menjadikannya ahli dalam semua bidang.
Kalau seorang petani berkata, “Saya tahu kapan hujan turun dari bau tanah,” kita patut mendengarkan.
Tetapi kalau setelah itu ia berkata, “Karena itu saya juga sudah menyelesaikan persoalan fisika kuantum,” kita boleh bertanya:
“Sebentar, Pak. Itu dari mana?”
Demokrasi membutuhkan suara rakyat.
Tetapi demokrasi juga membutuhkan pengetahuan.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan.
Rakyat tidak harus menjadi ilmuwan.
Tetapi rakyat perlu memiliki budaya belajar agar tidak mudah dijadikan korban oleh orang yang menjual kebohongan.
Ketidaktahuan yang Viral
Masalah terbesar zaman kita bukan bahwa manusia tidak memiliki informasi.
Justru sebaliknya.
Informasi terlalu banyak.
Setiap hari kita dibombardir berita, video, opini, meme, komentar, podcast, utas, potongan ceramah, potongan wawancara, dan seorang teman yang “punya sumber dari orang dalam”.
Akhirnya otak manusia seperti pasar malam.
Semua bersuara.
Tidak semuanya benar.
Tetapi semuanya meminta perhatian.
Dalam kondisi seperti ini, kemampuan terpenting bukan sekadar mengetahui banyak hal, melainkan mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
Ini mungkin salah satu bentuk kecerdasan tertinggi.
Orang bijak berkata:
“Saya belum tahu.”
Orang setengah tahu berkata:
“Saya pernah baca.”
Orang yang tidak tahu tetapi sangat percaya diri berkata:
“Saya sudah riset.”
Dan risetnya ternyata dilakukan pukul 02.17 pagi melalui tiga video YouTube dan satu komentar anonim.
Demokrasi Memerlukan Kerendahan Hati
Pada akhirnya, peringatan Asimov bukanlah seruan agar masyarakat menyerahkan seluruh pikirannya kepada kaum intelektual.
Justru sebaliknya.
Ia menginginkan masyarakat yang mau berpikir.
Demokrasi membutuhkan manusia yang berani bertanya, tetapi juga berani menerima jawaban.
Berani meragukan informasi, tetapi juga bersedia mengubah pendapat ketika bukti berubah.
Berani berkata “tidak”, tetapi juga cukup rendah hati untuk berkata “saya salah”.
Karena mungkin inilah penyakit terbesar zaman modern:
kita lebih takut terlihat salah daripada benar-benar salah.
Padahal salah itu manusiawi.
Yang berbahaya adalah ketika kesalahan diberi pengeras suara, akun terverifikasi, jutaan pengikut, dan kemudian dianggap sebagai kebenaran hanya karena terdengar percaya diri.
Penutup: Jangan Bangga Karena Tidak Tahu
Kita tidak perlu malu karena tidak tahu.
Yang perlu kita malu adalah tidak tahu tetapi menolak belajar.
Tidak mengerti bukan masalah.
Menolak memahami adalah masalah.
Bertanya bukan kebodohan.
Tidak mau mendengar jawaban adalah kebodohan.
Dan berbeda pendapat bukan ancaman bagi demokrasi.
Yang menjadi ancaman adalah ketika kita mulai menganggap:
“Pendapat saya harus benar hanya karena itu pendapat saya.”
Mungkin inilah pelajaran paling sederhana dari Asimov:
Demokrasi memberi setiap orang satu suara, bukan satu kebenaran pribadi.
Kita boleh memiliki opini.
Tetapi kenyataan tidak berkewajiban mengikuti opini kita.
Gravitasi tidak peduli siapa yang memilih.
Virus tidak menghitung jumlah pengikut.
Bumi tetap mengelilingi Matahari meskipun sebuah grup WhatsApp keluarga sepakat bahwa sebaliknya.
Dan itulah sebabnya pengetahuan tetap penting.
Sebab di dunia yang semakin penuh suara, kemampuan membedakan suara dari kebenaran menjadi bentuk keberanian baru.
Jadi, marilah kita melawan kultus ketidaktahuan.
Bukan dengan merasa paling pintar.
Melainkan dengan keberanian sederhana untuk mengatakan:
“Saya tidak tahu. Mari kita cari tahu.”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.
Tetapi dibandingkan dengan “Saya sudah riset di kolom komentar”, ia sebenarnya sudah merupakan lompatan besar bagi peradaban.
abah-arul.blogspot.com., September 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
9/07/2026 05:01:00 AM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.