Jika Gaji Hanya Cukup untuk Makan dan Tidur

Tentang Perbudakan Upah, Cicilan, dan Seni Bertahan Hidup

Ada sebuah kutipan yang beredar di media sosial: “Jika gaji Anda hanya cukup untuk makan dan tidur, itu bukan pekerjaan; dulu, hal itu disebut perbudakan.” Kutipan ini sering dikaitkan dengan George Orwell, meskipun bukan kata-kata persisnya.

Namun, seperti biasa, internet punya cara sendiri dalam mengurus warisan intelektual. Kalau seseorang pernah menulis tentang kemiskinan, lalu ada orang lain membuat kalimat yang lebih pendek, lebih tajam, dan lebih cocok untuk status WhatsApp, maka nama sang penulis pun segera dipanggil. Orwell mungkin sedang duduk di perpustakaan, tiba-tiba namanya muncul di bawah kutipan yang belum pernah ia kenal.

Tetapi, terlepas dari siapa yang mengucapkannya, pertanyaan yang diajukan kutipan itu cukup mengganggu:

Apakah kita bekerja untuk hidup, atau hidup supaya bisa terus bekerja?

Pertanyaan ini terdengar filosofis. Namun, bagi sebagian pekerja, jawabannya bisa ditemukan dengan mudah pada tanggal 25 setiap bulan.

“Untuk apa saya bekerja?”

“Untuk membayar kontrakan.”

“Kontrakan untuk apa?”

“Supaya bisa tidur.”

“Tidur untuk apa?”

“Supaya besok bisa bekerja.”

Di titik itu, lingkaran kehidupan telah berubah menjadi diagram alur perusahaan.

1. Ketika Manusia Menjadi Makhluk yang Harus Diisi Ulang

Orwell, dalam Down and Out in Paris and London, menggambarkan pengalaman hidupnya di tengah kemiskinan dan pekerjaan kasar. Ia menulis tentang pekerja dapur hotel yang dibayar sekadar cukup untuk tetap hidup, dengan waktu istirahat yang nyaris tidak memberi ruang bagi kehidupan di luar pekerjaan.

Gambaran itu terasa dekat dengan kehidupan modern.

Pekerja berangkat pagi, pulang malam, makan, mandi, tidur, lalu mengulangi semuanya. Pada hari Minggu, ia mencoba mengingat apakah pernah memiliki hobi. Setelah berpikir cukup lama, ia menyadari bahwa hobinya adalah menunggu hari gajian.

Dulu, manusia dianggap memiliki jiwa, pikiran, dan kehendak bebas.

Sekarang, dalam sebagian sistem kerja, manusia cukup memiliki:

  • Nomor rekening.

  • Nomor induk karyawan.

  • Nomor telepon yang bisa dihubungi atasan.

  • Dan daya tahan baterai yang cukup untuk membuka aplikasi absensi.

Kalau baterai habis, produktivitas menurun. Kalau manusia habis, perusahaan biasanya mengadakan recruitment.

Inilah salah satu ironi dunia kerja modern: mesin yang rusak diperbaiki, sedangkan manusia yang kelelahan disuruh belajar mengelola stres.

2. Budak Modern Tidak Selalu Memakai Rantai

Konsep wage slavery atau “perbudakan upah” bukanlah gagasan yang muncul begitu saja dari media sosial. Para pemikir kritis telah lama membahas bagaimana ketergantungan ekonomi dapat membatasi kebebasan manusia.

Tetapi, tentu saja, pekerja modern memiliki kebebasan.

Ia bebas memilih:

  1. Tetap bekerja dengan gaji yang pas-pasan.

  2. Mencari pekerjaan lain yang gajinya pas-pasan.

  3. Mengambil pekerjaan tambahan.

  4. Atau mengundurkan diri, lalu menikmati kebebasan sambil memikirkan tagihan.

Secara hukum, ia bukan budak.

Secara ekonomi, ia mungkin merasa seperti orang yang sedang mengikuti lomba lari, tetapi garis finisnya terus dipindahkan oleh harga sewa, biaya sekolah, listrik, dan kebutuhan rumah tangga.

Rantainya bukan besi.

Rantainya adalah:

Cicilan + kontrakan + tagihan + kebutuhan keluarga = “Besok masuk, ya.”

Dan kalau ada yang bertanya, “Mengapa tidak mencari pekerjaan yang lebih baik?”

Jawabannya sering kali sederhana:

“Boleh. Tetapi selama proses mencari, siapa yang membayar makan?”

Di sinilah persoalan menjadi lebih rumit. Kebebasan untuk meninggalkan pekerjaan memang ada, tetapi kebebasan itu tidak selalu berarti kemampuan nyata untuk bertahan setelah meninggalkannya.

3. Gaji yang Cukup untuk Makan, tetapi Tidak Cukup untuk Menjadi Manusia

Kritik paling kuat dari gagasan ini bukanlah bahwa semua pekerjaan bergaji rendah sama dengan perbudakan. Itu terlalu sederhana.

Masalahnya adalah ketika seseorang bekerja keras, tetapi hasil kerjanya hanya memungkinkan ia mempertahankan tubuh agar dapat bekerja lagi.

Ia makan supaya kuat.

Ia tidur supaya pulih.

Ia pulih supaya bekerja.

Ia bekerja supaya mendapat uang.

Ia mendapat uang supaya makan.

Selamat datang di ekonomi sirkular, versi manusia.

Dalam keadaan seperti itu, hal-hal yang membuat hidup terasa sebagai kehidupan—membaca buku, bercengkerama dengan keluarga, belajar sesuatu yang baru, berolahraga, menikmati seni, atau sekadar duduk tanpa merasa bersalah—menjadi kemewahan.

Bukan karena orang tersebut tidak ingin hidup dengan baik, melainkan karena seluruh energinya sudah habis untuk mempertahankan kehidupan dasar.

Padahal, manusia bukan hanya perut yang membutuhkan makanan.

Manusia juga membutuhkan:

  • Waktu.

  • Martabat.

  • Hubungan sosial.

  • Kesempatan berkembang.

  • Dan sesekali, kesempatan untuk tidak melakukan apa-apa tanpa merasa sedang melakukan kesalahan besar terhadap produktivitas nasional.

4. Burnout: Ketika Tubuh Mengajukan Surat Pengunduran Diri

Dunia kerja modern mengenal istilah burnout.

Secara sederhana, ini adalah keadaan kelelahan fisik dan mental akibat tekanan kerja yang berkepanjangan. Dalam bahasa sehari-hari, burnout sering terasa seperti:

“Baru hari Selasa, tetapi rasanya sudah ingin pensiun.”

Atau:

“Tubuh saya masih di kantor, tetapi jiwa saya sudah mengajukan cuti.”

Masalahnya, dalam banyak pekerjaan, kelelahan justru dianggap sebagai bukti kesungguhan.

Orang yang pulang tepat waktu dicurigai kurang berdedikasi.

Orang yang membalas pesan atasan pukul sebelas malam dianggap memiliki work ethic.

Orang yang berkata, “Saya butuh istirahat,” kadang diberi nasihat:

“Jangan terlalu banyak mengeluh. Dulu orang tua kita bekerja lebih keras.”

Benar. Tetapi orang tua kita juga belum tentu memiliki grup WhatsApp kantor yang aktif pada hari libur.

Teknologi seharusnya membantu manusia bekerja lebih efisien. Namun, dalam praktiknya, teknologi kadang hanya membuat manusia lebih mudah ditemukan ketika sedang tidak bekerja.

Dulu, setelah pulang kantor, orang bisa benar-benar pulang.

Sekarang, kantor bisa ikut pulang melalui notifikasi.

Kita tidak lagi membawa pekerjaan ke rumah. Kita membawa rumah ke dalam pekerjaan.

5. Bullshit Jobs: Pekerjaan yang Membuat Kita Bertanya, “Ini Sebenarnya Untuk Apa?”

David Graeber memperkenalkan istilah bullshit jobs untuk menggambarkan pekerjaan yang oleh pekerjanya sendiri dianggap tidak bermakna, meskipun tetap menyita waktu dan tenaga.

Tentu, tidak semua pekerjaan kantor adalah pekerjaan sia-sia. Banyak pekerjaan yang sangat penting, meskipun dari luar tampak membosankan.

Namun, ada pula situasi ketika seseorang menghabiskan delapan jam sehari untuk membuat laporan tentang laporan, menghadiri rapat persiapan rapat, lalu menyusun notulen rapat yang membahas mengapa rapat sebelumnya belum menghasilkan keputusan.

Pada akhir bulan, ia menerima gaji.

Atasannya berkata:

“Terima kasih atas kontribusinya.”

Ia tersenyum.

Dalam hati ia bertanya:

“Kontribusi terhadap apa?”

Mungkin terhadap keberlangsungan rapat.

Mungkin terhadap pertumbuhan industri notulen.

Atau mungkin terhadap penciptaan lapangan kerja bagi orang yang kelak akan membuat laporan tentang pekerjaan ini.

Tetapi kritik Graeber bukan sekadar soal pekerjaan yang membosankan. Ia menyentuh pertanyaan yang lebih dalam: mengapa begitu banyak manusia menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk aktivitas yang tidak mereka anggap bermakna?

Dan mengapa, ketika seseorang ingin melakukan sesuatu yang benar-benar ia cintai, masyarakat sering bertanya:

“Bisa menghasilkan uang berapa?”

6. Ketika Hobi Harus Membuat Proposal Bisnis

Dulu, orang bisa memiliki hobi karena menyukainya.

Sekarang, sebelum mulai hobi, kita sering bertanya:

“Apakah ini bisa dimonetisasi?”

Membaca buku? Bisa jadi konten.

Memasak? Bisa jadi usaha katering.

Menulis? Bisa jadi personal branding.

Memelihara tanaman? Bisa jadi bisnis hidroponik.

Duduk menikmati sore? Bisa jadi peluang membuat kanal YouTube tentang slow living.

Bahkan istirahat pun kadang harus memiliki tujuan.

“Besok saya mau istirahat.”

“Untuk apa?”

“Supaya lebih produktif.”

Seolah-olah istirahat tidak boleh sekadar menyenangkan. Ia harus memiliki manfaat ekonomi.

Padahal, ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam melakukan kegiatan yang tidak menghasilkan uang.

Membaca novel tidak selalu harus membuat kita menjadi penulis.

Berjalan-jalan tidak selalu harus menghasilkan foto promosi.

Bercanda dengan teman tidak selalu harus meningkatkan jaringan profesional.

Dan tidur tidak harus dianggap sebagai investasi agar kita bisa kembali bekerja dengan lebih optimal.

Kadang-kadang, tidur hanyalah tidur. Bukan strategi pemulihan sumber daya manusia.

7. Kritik yang Perlu Tetap Waras

Meskipun kritik terhadap perbudakan upah memiliki kekuatan moral, kita juga perlu berhati-hati agar tidak menyederhanakan persoalan.

Tidak semua pekerjaan bergaji rendah otomatis tidak bermartabat.

Tidak semua pekerjaan bergaji tinggi otomatis membebaskan.

Ada orang yang memilih pekerjaan sederhana karena menyukai ritmenya. Ada pula orang yang memiliki gaji besar tetapi hidupnya penuh tekanan.

Masalahnya bukan semata-mata jumlah uang.

Masalahnya adalah apakah seseorang memiliki ruang untuk menjalani kehidupan yang bermakna setelah memenuhi kebutuhan dasarnya.

Sebab, gaji yang besar pun bisa terasa seperti gaji kecil jika seluruh hidup dihabiskan untuk mempertahankan pekerjaan.

Dan gaji yang sederhana pun bisa terasa cukup jika kebutuhan dasar terpenuhi, waktu tersedia, dan pekerjaan tidak menghabiskan seluruh jiwa.

Namun, tentu saja, kita tidak boleh menggunakan kalimat “yang penting bersyukur” untuk menutupi persoalan upah yang tidak layak.

Syukur adalah sikap batin.

Upah layak adalah persoalan ekonomi.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Orang bisa bersyukur atas pekerjaannya sambil tetap berharap agar gajinya cukup untuk membeli kebutuhan rumah tangga tanpa harus menghitung berapa kali ia boleh menghela napas.

8. Pertanyaan yang Lebih Penting daripada “Berapa Gajimu?”

Dalam masyarakat modern, pekerjaan sering menjadi ukuran utama keberhasilan.

“Kerja di mana?”

“Jabatannya apa?”

“Gajinya berapa?”

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar. Tetapi ada pertanyaan lain yang jarang diajukan:

“Apakah kamu masih punya waktu untuk hidup?”

“Apakah kamu masih bisa menikmati keluargamu?”

“Apakah kamu masih memiliki tenaga untuk belajar sesuatu yang baru?”

“Apakah kamu masih bisa tertawa tanpa merasa sedang membuang waktu?”

Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena manusia tidak hanya membutuhkan pekerjaan.

Manusia membutuhkan kehidupan di luar pekerjaan.

Dan jika seluruh hidup hanya dipakai untuk bekerja, maka kita perlu bertanya:

Apakah kita sedang membangun kehidupan, atau sekadar memperpanjang masa kerja?

Penutup: Jangan Sampai Hidup Hanya Menjadi Persiapan untuk Besok

Kutipan yang dikaitkan dengan Orwell itu mungkin bukan kutipan persisnya. Tetapi gagasan yang dikandungnya tetap layak direnungkan.

Pekerjaan seharusnya menjadi sarana untuk hidup, bukan sekadar alat untuk mempertahankan tubuh agar terus bekerja.

Manusia bukan mesin produksi.

Manusia bukan sekadar perut dengan beberapa organ tambahan.

Manusia adalah makhluk yang membutuhkan makna, kebebasan, hubungan, kreativitas, dan waktu untuk menikmati keberadaannya.

Tentu, kita semua harus bekerja.

Tetapi jangan sampai pekerjaan membuat kita lupa bahwa hidup bukan hanya tentang membayar tagihan agar bisa terus membayar tagihan berikutnya.

Sebab, pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukanlah:

“Berapa lama lagi saya harus bekerja?”

Melainkan:

“Apakah saya masih sempat hidup?”

Dan kalau jawabannya hanya:

“Semoga setelah gajian.”

Mungkin sudah waktunya kita memikirkan kembali apa yang sebenarnya disebut pekerjaan yang layak.

Bukan pekerjaan yang membuat kita sekadar mampu makan dan tidur.

Tetapi pekerjaan yang memungkinkan kita makan, tidur, mencintai, belajar, tertawa, dan sesekali tidak merasa bersalah karena menjadi manusia.

abah-arul.blogspot.com., September 2026

Jika Gaji Hanya Cukup untuk Makan dan Tidur Jika Gaji Hanya Cukup untuk Makan dan Tidur Reviewed by banyu bening Ajibarang on 9/08/2026 04:53:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list