Ketika Jiwa Minta Mode Pesawat

Isolasi bagi Orang yang Kelelahan

Ada masa dalam hidup ketika kita tidak sedang membenci siapa-siapa.

Kita hanya sedang lelah bertemu manusia.

Bukan karena manusia itu jahat. Bukan pula karena kita tiba-tiba berubah menjadi pertapa yang hendak tinggal di gua sambil membawa tiga kitab dan sebungkus kerupuk. Kadang kita cuma ingin duduk sendirian, mematikan notifikasi, menaruh ponsel terbalik, lalu menikmati keheningan yang selama ini kalah berisik dari grup WhatsApp.

Sebuah kutipan berbahasa Spanyol yang beredar di media sosial mengatakan:

“Nuestro distanciamiento de la gente no significa odio ni cambio. El aislamiento es la patria de las almas cansadas.”

Kurang lebih: menjauh dari orang lain tidak berarti membenci atau berubah. Isolasi adalah tanah air bagi jiwa-jiwa yang lelah.

Kalimat terakhir itu menarik.

“Tanah air bagi jiwa yang lelah.”

Indah sekali. Biasanya kalau orang menjauh, kita buru-buru membuat kesimpulan.

“Dia berubah.”

“Dia sombong.”

“Dia sekarang merasa paling benar.”

“Jangan-jangan dia marah.”

Padahal bisa saja jawabannya jauh lebih sederhana:

Dia capek.

Sesederhana itu.

Tidak Semua Orang yang Diam Sedang Marah

Kita hidup pada zaman ketika manusia dituntut selalu hadir.

Online harus aktif.
Pesan harus dibalas.
Status harus dilihat.
Undangan harus dihadiri.
Grup harus dibaca.
Kalau tidak ikut kumpul, ditanya kenapa.

Bahkan ketika sedang makan pun, kadang kita masih harus membuktikan kepada dunia bahwa kita sedang makan.

Foto makanan.

Foto kopi.

Foto perjalanan.

Foto kaki.

Foto langit.

Kalau bisa, foto saat sedang tidak melakukan apa-apa pun tetap diunggah dengan caption: “Learning to enjoy the little things.”

Akhirnya manusia bukan hanya hidup.

Manusia juga harus melaporkan kehidupannya.

Maka jangan heran kalau suatu hari seseorang berkata:

“Maaf, saya ingin sendiri dulu.”

Kalimat itu tidak selalu berarti:

“Pergilah dan jangan pernah kembali.”

Bisa jadi artinya:

“Baterai jiwa saya tinggal 3 persen.”

Dan kalau dipaksa bersosialisasi terus, mungkin bukan hanya baterainya yang habis. Kesabarannya ikut masuk mode hemat daya.

Kesendirian Tidak Sama dengan Kesepian

Di sinilah kita perlu membedakan dua hal yang sering dianggap sama: solitude dan loneliness.

Kesendirian yang dipilih bisa menjadi ruang untuk memulihkan diri.

Kesepian adalah ketika seseorang merasa terputus dan tidak memiliki tempat untuk pulang.

Orang yang memilih menyendiri belum tentu kesepian.

Ada orang yang sendirian tetapi damai.

Ada pula orang yang berada di tengah keramaian tetapi merasa seperti orang asing.

Kadang sebuah meja makan yang penuh manusia justru lebih sepi daripada kamar kecil yang hanya ditemani secangkir kopi.

Karena yang membuat manusia lelah bukan semata-mata jumlah orang.

Yang melelahkan adalah keharusan untuk terus menjadi sesuatu di hadapan orang lain.

Harus ramah.

Harus tertawa.

Harus menjawab.

Harus menjelaskan.

Harus terlihat baik-baik saja.

Padahal di dalam hati mungkin sedang terjadi rapat darurat yang tidak menghasilkan keputusan apa pun.

Isolasi sebagai “Tanah Air”

Ungkapan “isolasi adalah tanah air bagi jiwa yang lelah” terasa kuat justru karena ia membalik cara kita memandang kesendirian.

Biasanya isolasi dianggap seperti hukuman.

Seolah-olah orang yang menjauh sedang mengalami masalah.

Padahal ada kalanya menjauh justru merupakan cara seseorang menyelamatkan dirinya sendiri.

Seperti rumah.

Ketika dunia terlalu bising, manusia membutuhkan tempat untuk pulang.

Dan tempat itu tidak selalu berupa rumah secara fisik.

Kadang berupa kamar.

Kadang berupa halaman.

Kadang berupa perjalanan sendirian.

Kadang berupa secangkir kopi.

Kadang berupa duduk diam selama setengah jam tanpa ada seorang pun bertanya:

“Kenapa?”

Pertanyaan “kenapa?” sebenarnya baik.

Tetapi kalau datang setiap lima menit, ia bisa berubah menjadi pemeriksaan kepolisian.

Kita Sering Terlalu Cepat Menafsirkan Orang

Salah satu masalah manusia adalah kegemarannya membaca pikiran orang lain tanpa izin.

Orang tidak membalas pesan:

“Wah, dia berubah.”

Orang tidak datang ke acara:

“Dia sudah tidak mau bergaul.”

Orang tidak menyapa:

“Pasti ada masalah dengan kita.”

Orang keluar dari grup:

“Wah, ini pasti ada sesuatu.”

Padahal mungkin orang tersebut hanya sedang tidur.

Tetapi manusia modern rupanya lebih suka membuat teori daripada menerima kemungkinan sederhana.

Kalau seorang teman menjauh, kita merasa perlu mencari penyebab.

Kadang memang ada masalah.

Tetapi kadang tidak ada masalah apa-apa.

Dia cuma sedang membutuhkan jarak.

Dan jarak bukan selalu penolakan.

Jarak kadang adalah cara agar hubungan tidak rusak.

Sebab kalau orang yang sudah sangat lelah terus dipaksa hadir, ia bisa datang secara fisik tetapi sudah tidak hadir secara batin.

Lebih baik sesekali berjalan sendiri daripada terus berjalan bersama sambil diam-diam ingin melarikan diri.

Tetapi Jangan Sampai Rumahnya Berubah Menjadi Penjara

Namun, ada satu catatan penting.

Jangan pula kita terlalu romantis terhadap isolasi.

Kesendirian memang bisa menyembuhkan, tetapi isolasi yang terlalu panjang bisa berubah menjadi penjara.

Awalnya:

“Saya ingin sendiri sebentar.”

Lalu:

“Saya ingin sendiri seminggu.”

Kemudian:

“Tidak perlu bertemu siapa-siapa.”

Lalu akhirnya:

“Manusia memang menyebalkan semuanya.”

Nah, pada titik terakhir ini kita perlu berhenti sejenak.

Jangan-jangan yang awalnya self-care sudah berubah menjadi self-isolation.

Kesendirian yang sehat memberi ruang untuk kembali kepada kehidupan.

Kesendirian yang tidak sehat justru membuat kita semakin jauh dari kehidupan.

Karena itu, berjalan sendiri bukan berarti harus membakar semua jembatan.

Kadang kita hanya perlu berhenti di pinggir jalan, minum air, mengatur napas, kemudian melanjutkan perjalanan.

Jembatan tetap dibiarkan berdiri.

Siapa tahu nanti kita ingin kembali menyeberang.

Bahkan Hemingway Pun Belum Tentu Berkata Begitu

Ada hal menarik lain dari kutipan tersebut.

Kalimat ini sering dikaitkan dengan Ernest Hemingway. Masalahnya, atribusi semacam itu perlu dicurigai dengan santai.

Media sosial mempunyai kebiasaan ajaib: kalau sebuah kalimat terdengar dalam, maka nama tokoh terkenal tinggal ditempel di bawahnya.

Kalimat tentang keberanian?

Churchill.

Tentang cinta?

Kadang Einstein.

Tentang kesepian?

Hemingway.

Tentang kebahagiaan?

Picasso.

Tentang hidup?

Mark Twain juga sering kebagian.

Seolah-olah para tokoh besar sepanjang hidup mereka duduk bersama, menulis kutipan untuk persediaan media sosial abad ke-21.

Padahal belum tentu.

Kutipan ini memang sejalan dengan tema kesepian dan keterasingan yang sering muncul dalam karya Hemingway, tetapi itu tidak otomatis membuktikan bahwa kalimat tersebut berasal darinya.

Jadi, kita boleh mengambil hikmahnya tanpa harus memaksa Hemingway menjadi terdakwa pemilik kalimat.

Pesannya bisa benar, meskipun tanda tangannya belum tentu benar.

Itu justru pelajaran penting di zaman internet.

Kadang Jiwa Memang Perlu “Mode Pesawat”

Ada saatnya manusia harus berani mengatakan:

“Saya ingin sendiri.”

Bukan karena membenci dunia.

Bukan karena merasa lebih suci.

Bukan karena semua orang tiba-tiba menjadi toxic.

Tetapi karena jiwa juga mempunyai kapasitas.

Sebagaimana ponsel, manusia mempunyai batas daya.

Kalau baterai sudah merah, jangan dipaksa membuka dua puluh aplikasi sekaligus.

Begitu pula jiwa.

Kalau sudah lelah, tidak semua undangan harus diterima.

Tidak semua percakapan harus diikuti.

Tidak semua komentar harus dijawab.

Tidak semua orang harus diberi penjelasan.

Kadang bentuk kedewasaan bukan kemampuan untuk selalu hadir.

Kadang kedewasaan justru kemampuan untuk berkata:

“Hari ini saya ingin pulang kepada diri saya sendiri.”

Maka, jika suatu hari seseorang menjauh dari kita, jangan langsung menuduhnya berubah.

Berikan sedikit ruang.

Mungkin ia sedang menyusun kembali dirinya yang berantakan.

Dan jika suatu hari kita sendiri merasa ingin menyendiri, jangan buru-buru merasa bersalah.

Pergilah sebentar.

Matikan notifikasi.

Jauhkan diri dari keramaian.

Duduklah dalam diam.

Biarkan pikiran yang kusut perlahan mengurai simpulnya.

Sebab mungkin benar, seperti pesan indah dalam kutipan itu:

Ada kalanya isolasi bukan tempat pelarian, melainkan tanah air sementara bagi jiwa yang kelelahan.

Dan setelah cukup istirahat, kita bisa kembali.

Bukan sebagai manusia yang sama persis seperti sebelumnya, tetapi sebagai manusia yang sedikit lebih utuh.

Sebab tujuan menyendiri bukan untuk membenci dunia.

Tujuannya adalah agar ketika kembali kepada dunia, kita tidak lagi membenci diri sendiri.

abah-arul.blogspot.com., September 2026

Ketika Jiwa Minta Mode Pesawat Ketika Jiwa Minta Mode Pesawat Reviewed by banyu bening Ajibarang on 9/12/2026 03:43:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list