Misteri yang Terlalu Ajaib untuk Orang yang Terlalu Yakin
Ada manusia yang tidak tahan dengan misteri.
Begitu melihat sesuatu yang belum dipahami, ia langsung gelisah. Harus ada penjelasan. Harus ada teori. Harus ada kesimpulan. Kalau bisa, kesimpulannya dibuat dalam bentuk utas 27 cuitan agar seluruh dunia tahu bahwa ia sudah menemukan kebenaran.
Mary Oliver justru mengajak kita melakukan hal sebaliknya.
Dalam puisinya Mysteries, Yes, ia mengajak manusia untuk menyadari bahwa hidup ini penuh dengan misteri yang terlalu ajaib untuk dipahami. Bukan sekadar misteri karena kita belum cukup pintar, tetapi misteri yang memang pantas dibiarkan menjadi misteri.
Ini kabar buruk bagi manusia yang hobi menjawab semua pertanyaan.
Sebab ada kemungkinan bahwa kebijaksanaan bukan selalu terletak pada kemampuan mengatakan, "Saya tahu."
Kadang-kadang kebijaksanaan justru dimulai dari kalimat yang sangat sederhana:
"Wah, saya tidak tahu. Tapi indah sekali."
Rumput, Domba, dan Keajaiban yang Kita Lewati Begitu Saja
Oliver mengajak kita memperhatikan sesuatu yang tampaknya sangat biasa: bagaimana rumput bisa menjadi makanan yang bergizi di mulut anak-anak domba.
Bagi manusia modern, rumput adalah rumput.
Kalau halaman rumah terlalu panjang, kita panggil tukang potong.
Kalau masuk sepatu, kita keluarkan.
Kalau tumbuh di sela-sela paving, kita semprot.
Selesai.
Padahal kalau kita berhenti sebentar dan memikirkannya, rumput itu luar biasa.
Ia mengambil cahaya matahari, air, karbon dioksida, mineral, lalu menghasilkan sesuatu yang kemudian masuk ke tubuh domba dan menjadi tenaga untuk berjalan, berlari, tumbuh, dan mungkin suatu hari mengejar kambing tetangga.
Kita menyebutnya "fotosintesis."
Dengan satu istilah ilmiah, kita merasa misterinya sudah selesai.
Padahal sebenarnya kita baru memberinya nama.
Ini penyakit manusia: setelah memberi nama kepada sesuatu, kita sering merasa sudah memahaminya.
Anak kecil melihat pelangi dan berkata, "Wow!"
Orang dewasa berkata, "Fenomena dispersi cahaya."
Anak kecil tetap kagum.
Orang dewasa merasa sudah selesai.
Padahal pelanginya masih sama-sama indah.
Batu Patuh pada Gravitasi, Manusia Malah Ingin Naik Jabatan
Oliver kemudian berbicara tentang sungai dan batu yang setia kepada gravitasi, sementara manusia bermimpi untuk naik.
Batu sangat konsisten.
Dilempar ke atas, ia turun.
Dijatuhkan dari meja, ia turun.
Tidak pernah ada batu yang berkata:
"Saya merasa sudah waktunya naik level."
Batu tidak membuat seminar motivasi.
Tidak punya visi lima tahun.
Tidak mengikuti pelatihan leadership.
Ia hanya patuh pada gravitasi.
Manusia lain cerita.
Kita selalu ingin naik.
Naik jabatan.
Naik kelas sosial.
Naik penghasilan.
Naik followers.
Naik status.
Bahkan kalau sudah naik, kita masih ingin naik lagi.
Dan kalau akhirnya tidak bisa naik, kita membuat kutipan:
"Jangan takut jatuh, karena setiap jatuh adalah bagian dari proses menuju kesuksesan."
Kemudian kita unggah ke media sosial.
Oliver melihat ironi yang indah di sini. Batu dan sungai menerima tempatnya di alam, sementara manusia selalu ingin melampaui dirinya sendiri.
Keinginan untuk "naik" memang bisa menjadi tanda kerinduan spiritual, ambisi intelektual, atau hasrat manusia untuk menemukan sesuatu yang lebih tinggi.
Tetapi kadang-kadang kita terlalu sibuk ingin naik sehingga lupa melihat apa yang ada di bawah.
Kita mengejar langit sambil menginjak rumput.
Mencari kebahagiaan di masa depan sambil tidak sadar bahwa hari ini sedang lewat.
Dua Tangan Bertemu, Lalu Masalah Dimulai
Misteri berikutnya bahkan lebih aneh: bagaimana dua tangan bisa saling menyentuh dan menghasilkan ikatan yang tidak mudah terputus.
Ini memang misteri.
Secara biologis, kita bisa menjelaskan sentuhan melalui saraf, hormon, otak, neurotransmiter, dan berbagai istilah ilmiah lainnya.
Tetapi ilmu pengetahuan dapat menjelaskan bagaimana tangan menyentuh.
Ia belum tentu dapat menjelaskan mengapa satu sentuhan dari orang tertentu membuat jantung kita berdebar, sementara sentuhan dari petugas loket bank hanya membuat kita mencari nomor antrean.
Ada sentuhan yang biasa.
Ada sentuhan yang membuat kita merasa pulang.
Ada juga sentuhan yang membuat kita sadar:
"Oh, ternyata saya salah orang."
Hubungan manusia memang misterius.
Dua orang bertemu.
Awalnya tidak saling mengenal.
Kemudian berbicara.
Lalu tertawa.
Lalu saling menunggu.
Lalu saling merindukan.
Kemudian menikah.
Lalu lima tahun kemudian bertengkar gara-gara siapa yang lupa membeli galon.
Begitulah misteri cinta bekerja.
Kita bisa membuat teori tentang cinta, menulis buku tentang cinta, membuat podcast tentang cinta, bahkan membuat seminar tentang healing.
Tetapi tetap saja, manusia jatuh cinta tanpa membaca buku petunjuk.
Dan mungkin memang demikian seharusnya.
Puisi: Tempat Orang Luka Duduk Sebentar
Oliver juga menyebut bagaimana manusia datang kepada puisi dari kegembiraan maupun luka, lalu menemukan penghiburan.
Ini menarik.
Sebab puisi tidak memberikan kita solusi praktis.
Kalau kita punya masalah keuangan, puisi tidak membayar cicilan.
Kalau sedang patah hati, puisi tidak membuat mantan mengirim pesan:
"Maaf, ternyata kamu memang jodohku."
Kalau sedang bingung dengan hidup, puisi juga tidak memberikan nomor antrean menuju kebahagiaan.
Tetapi puisi melakukan sesuatu yang lebih halus.
Ia menemani.
Kadang kita tidak membutuhkan orang yang berkata:
"Saya tahu persis bagaimana perasaanmu."
Kita hanya membutuhkan seseorang—atau sesuatu—yang mengatakan:
"Aku tahu rasanya sakit."
Puisi melakukan itu.
Ia tidak selalu menyelesaikan luka.
Ia hanya membuat kita merasa bahwa luka tersebut pernah dialami manusia lain.
Dan kadang-kadang itu sudah cukup untuk membuat kita bertahan satu hari lagi.
Hindari Orang yang Punya Semua Jawaban
Di sinilah Oliver menjadi agak galak.
Ia mengatakan bahwa ia ingin menjaga jarak dari mereka yang merasa memiliki semua jawaban.
Kalimat ini sangat relevan di zaman sekarang.
Dulu orang yang merasa tahu segalanya mungkin hanya bisa berceramah kepada sepuluh orang di warung kopi.
Sekarang ia memiliki media sosial.
Akibatnya jauh lebih berbahaya.
Ia bisa menjelaskan politik, agama, ekonomi, psikologi, kesehatan, sejarah, geopolitik, filsafat, bahkan cara memperbaiki hubungan suami istri—semuanya dalam satu akun.
Biasanya dengan foto profil sedang menatap kamera secara serius.
Masalahnya bukan bahwa orang-orang tersebut tidak boleh memiliki pengetahuan.
Masalahnya adalah ketika pengetahuan berubah menjadi kesombongan.
Sebab semakin kita belajar, semakin kita seharusnya sadar betapa luasnya wilayah yang belum kita ketahui.
Orang yang benar-benar memahami astronomi tahu betapa kecilnya manusia.
Orang yang memahami biologi tahu betapa rumitnya kehidupan.
Orang yang memahami sejarah tahu betapa mudahnya manusia mengulangi kebodohan.
Dan orang yang memahami dirinya sendiri biasanya akan berpikir dua kali sebelum menulis:
"Begini sebenarnya cara hidup yang benar."
Socrates sudah lama mengingatkan bahwa kebijaksanaan berkaitan dengan kesadaran akan ketidaktahuan.
Mary Oliver mengajak kita melangkah lebih jauh.
Jangan hanya mengakui bahwa kita tidak tahu.
Nikmati ketidaktahuan itu.
Sebab ketidaktahuan bukan selalu lubang.
Kadang ia adalah jendela.
"Lihat!"
Di tengah dunia yang sibuk menjelaskan segala sesuatu, Oliver memilih kata yang sangat sederhana:
"Lihat!"
Bukan:
"Analisis!"
Bukan:
"Debat!"
Bukan:
"Fact-check!"
Bukan:
"Buat utas panjang."
Melainkan:
Lihat.
Lihat rumput.
Lihat sungai.
Lihat batu.
Lihat wajah orang yang kita cintai.
Lihat matahari sore.
Lihat seorang anak tertawa.
Lihat hujan.
Lihat hidup.
Masalahnya, kita sekarang terlalu sibuk melihat layar sehingga lupa melihat dunia.
Kita bisa mengetahui bahwa seseorang di belahan dunia lain sedang makan apa, tetapi tidak tahu bahwa pohon di depan rumah sedang berbunga.
Kita tahu siapa yang sedang bertengkar di internet, tetapi tidak tahu kapan terakhir kali kita benar-benar memperhatikan wajah orang tua kita.
Kita tahu tren terbaru.
Tetapi lupa menyadari bahwa waktu kita sendiri sedang habis.
Barangkali itulah maksud terdalam Oliver: perhatian adalah bentuk cinta.
Apa yang kita lihat dengan sungguh-sungguh, itulah yang mulai kita hargai.
Tertawa karena Kagum
Yang menarik, Oliver tidak meminta kita memandang misteri dengan wajah tegang seperti sedang menghadiri rapat direksi alam semesta.
Ia mengajak kita tertawa karena kagum.
Ini penting.
Sebab kekaguman tidak selalu harus serius.
Lihat anak kecil ketika menemukan sesuatu yang menakjubkan. Ia tidak langsung membuat makalah akademik.
Ia berkata:
"Wow!"
Kemudian tertawa.
Mungkin manusia dewasa perlu belajar kembali kemampuan tersebut.
Kita terlalu sering merasa harus memiliki pendapat.
Padahal sesekali kita boleh hanya terpesona.
Melihat langit:
"Wow."
Mendengar musik:
"Wow."
Memegang tangan orang yang kita cintai:
"Wow."
Menyadari bahwa kita masih hidup setelah melewati hari yang berat:
"Wow."
Tidak semua pengalaman harus segera diubah menjadi kesimpulan.
Ada yang cukup dirasakan.
Menundukkan Kepala
Setelah melihat dan tertawa karena kagum, Oliver mengajak kita menundukkan kepala.
Inilah bagian yang paling indah.
Karena kekaguman sejati biasanya menghasilkan kerendahan hati.
Semakin kita menyadari betapa luasnya kehidupan, semakin kecil keinginan untuk menganggap diri sebagai pusat alam semesta.
Kita mulai sadar:
Saya tidak mengendalikan semuanya.
Saya tidak tahu semuanya.
Saya tidak memahami semuanya.
Dan ternyata tidak apa-apa.
Mungkin justru itulah kedewasaan.
Bukan menjadi manusia yang memiliki semua jawaban, melainkan menjadi manusia yang tidak panik ketika menemukan pertanyaan.
Jangan Bunuh Misteri dengan Kesombongan
Kita hidup dalam zaman yang luar biasa.
Kita memiliki teleskop yang dapat melihat galaksi jauh.
Kita dapat membaca buku dari seluruh dunia melalui telepon.
Kita dapat berbicara dengan mesin kecerdasan buatan.
Kita dapat mengirim pesan kepada seseorang di benua lain dalam hitungan detik.
Tetapi semakin besar kemampuan kita menjelaskan dunia, semakin besar pula godaan untuk mengira bahwa kita telah memahami dunia.
Padahal mungkin kita baru belajar membaca satu halaman.
Misteri tetap ada.
Mengapa kita mencintai seseorang?
Mengapa musik tertentu membuat kita menangis?
Mengapa kenangan sederhana dari masa kecil bisa tiba-tiba muncul ketika mencium aroma tertentu?
Mengapa manusia mencari makna?
Mengapa kita takut kehilangan?
Mengapa kita bisa terluka oleh satu kalimat, tetapi disembuhkan oleh satu pelukan?
Mengapa kita tetap berharap meskipun berkali-kali kecewa?
Silakan ilmu pengetahuan menjelaskannya.
Kita membutuhkan ilmu.
Tetapi setelah semua penjelasan selesai, mungkin masih tersisa sesuatu yang membuat kita berkata:
"Ya, tetapi tetap saja... luar biasa."
Dan ruang kecil itulah yang disebut Oliver sebagai misteri.
Penutup: Jadilah Orang yang Masih Bisa Berkata "Wow"
Pada akhirnya, Mysteries, Yes bukan ajakan untuk menjadi bodoh.
Ini bukan kampanye anti-ilmu pengetahuan.
Bukan pula anjuran untuk berhenti berpikir.
Justru sebaliknya.
Berpikirlah.
Belajarlah.
Telitilah.
Pertanyakan.
Tetapi jangan sampai pengetahuan membuat kita kehilangan kemampuan untuk kagum.
Sebab ada orang yang pengetahuannya bertambah, tetapi rasa herannya berkurang.
Ada pula orang yang semakin banyak membaca justru semakin sering berkata:
"Ternyata saya belum tahu apa-apa."
Yang kedua mungkin lebih dekat kepada kebijaksanaan.
Maka, di tengah dunia yang dipenuhi orang yang berlomba menjadi paling benar, mungkin ada baiknya kita mencari teman yang masih bisa menunjuk ke langit dan berkata:
"Lihat!"
Lalu tertawa.
Bukan karena ia tahu apa yang sedang terjadi.
Tetapi justru karena ia tidak tahu—dan tetap merasa hidup ini luar biasa.
Setelah itu, barangkali kita perlu menundukkan kepala.
Melihat rumput.
Mendengar sungai.
Merasakan tangan yang menggenggam tangan kita.
Membaca puisi ketika hati sedang luka.
Dan untuk sekali ini, tidak perlu membuat kesimpulan.
Sebab mungkin misteri terbesar dalam hidup bukanlah bahwa kita tidak memahami semuanya.
Misteri terbesarnya adalah:
kita tidak memahami semuanya, tetapi kita tetap bisa mencintai kehidupan.
Dan itu, barangkali, sudah cukup ajaib.
abah-arul.blogspot.com., September 2026

Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.