Ketika Dunia Tidak Mau Menurut, Minimal Jangan Ikut Panik
Ada sebuah nasihat yang kelihatannya sederhana, tetapi kalau direnungkan cukup bikin kita malu kepada diri sendiri:
“Ketika Anda tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi, kendalikan cara Anda bereaksi terhadap apa yang terjadi. Di situlah terletak kekuatan Anda.”
Kalimat ini beredar di media sosial dan diatribusikan kepada Lao Tseu atau Laozi. Seperti biasa, di internet sebuah kalimat bisa menjadi lebih terkenal daripada sumber aslinya. Kadang-kadang kita bahkan lebih rajin membagikan kutipan daripada memeriksa siapa yang sebenarnya mengucapkannya.
Tetapi soal atribusi kita simpan sebentar. Yang menarik justru pesannya.
Sebab hidup memang sering seperti itu: kita sudah membuat rencana dengan rapi, tetapi dunia ternyata tidak membaca kalender kita.
Lalu tiba-tiba kehidupan berkata:
“Maaf, ada sedikit perubahan.”
Dan “sedikit perubahan” itu kadang berupa kehilangan pekerjaan, kenaikan harga, orang yang berubah sikap, kendaraan mogok, rencana gagal, atau seseorang yang membaca pesan WhatsApp kita tetapi tidak membalas.
Yang terakhir ini, bagi sebagian orang, bisa menjadi tragedi nasional.
Kita Sering Ingin Mengendalikan Dunia
Masalah manusia sebenarnya bukan hanya karena banyak hal berada di luar kendali.
Masalahnya adalah kita sering mengira semuanya harus berada di bawah kendali kita.
Kita ingin orang lain memahami kita.
Kita ingin anak-anak mengikuti nasihat kita.
Kita ingin pasangan selalu mengerti.
Kita ingin atasan menghargai.
Kita ingin tetangga tidak berisik.
Kita ingin pemerintah sesuai harapan.
Kita ingin cuaca bagus ketika bepergian.
Dan yang paling sulit: kita ingin internet stabil ketika sedang mengirim sesuatu yang penting.
Padahal dunia tidak pernah menandatangani kontrak bahwa ia harus mengikuti keinginan kita.
Orang lain memiliki kehendaknya sendiri. Cuaca mempunyai kehendaknya sendiri. Ekonomi mempunyai logikanya sendiri. Bahkan tubuh kita kadang mempunyai agenda yang tidak kita ketahui.
Maka, ketika sesuatu berjalan tidak sesuai keinginan, kita sering mengeluarkan energi untuk bertanya:
“Mengapa ini terjadi kepada saya?”
Pertanyaan itu manusiawi.
Tetapi kalau terlalu lama dipelihara, pertanyaan tersebut bisa berubah menjadi kursi malas. Kita duduk di atasnya, mengeluh, lalu merasa sudah melakukan sesuatu.
Padahal belum.
Pertanyaan yang lebih produktif adalah:
“Sekarang saya bisa melakukan apa?”
Nah, ini pertanyaan yang agak merepotkan.
Karena setelah bertanya begitu, kita tidak bisa lagi menyalahkan keadaan sepanjang hari.
Tidak Bisa Mengendalikan Badai, Tetapi Bisa Mengendalikan Kemudi
Bayangkan sebuah kapal berada di tengah badai.
Kita tidak bisa memerintah laut:
“Gelombangnya tolong dikecilkan sedikit. Saya sedang ada urusan.”
Laut tidak akan menjawab.
Kita juga tidak bisa bernegosiasi dengan angin:
“Anginnya jangan dari sebelah sana, dong. Dari sini saja.”
Angin juga tidak peduli.
Tetapi nahkoda masih bisa mengendalikan kemudi, mengatur layar, menjaga kapal tetap seimbang, dan memilih arah yang paling aman.
Begitulah kehidupan.
Kita tidak selalu bisa memilih badai. Tetapi kita masih mempunyai ruang untuk memilih bagaimana menghadapi badai.
Inilah yang membuat pesan tersebut menarik. Ia tidak mengatakan bahwa manusia harus menyerah kepada keadaan.
Justru sebaliknya.
Kita diminta berhenti membuang tenaga untuk mengendalikan sesuatu yang memang bukan wilayah kita, lalu menggunakan tenaga itu untuk mengurus wilayah yang masih bisa kita pengaruhi.
Kalau orang lain marah kepada kita, kita tidak bisa mengendalikan emosinya.
Tetapi kita bisa memilih apakah akan membalas dengan kemarahan yang lebih besar.
Kalau seseorang menghina kita, kita tidak bisa menghapus kalimatnya dari udara.
Tetapi kita bisa memilih apakah penghinaan itu akan kita simpan di kepala selama tujuh tahun.
Kalau keadaan ekonomi sulit, kita mungkin tidak bisa memperbaiki ekonomi nasional sore ini.
Tetapi kita masih bisa belajar mengatur pengeluaran, mencari peluang, meningkatkan keterampilan, atau sekadar berhenti membeli barang yang sebenarnya tidak kita perlukan.
Ini bukan pasrah.
Ini namanya menghemat tenaga untuk sesuatu yang memang bisa dikerjakan.
Laozi, Air, dan Manusia yang Terlalu Suka Menabrak Tembok
Gagasan tersebut sering dikaitkan dengan semangat Taoisme Laozi, terutama gagasan wu wei.
Wu wei sering diterjemahkan secara sederhana sebagai “tidak bertindak”, tetapi sebenarnya gagasannya jauh lebih halus: bertindak tanpa memaksakan kehendak secara berlebihan, bergerak selaras dengan keadaan, dan tidak melawan sesuatu dengan cara yang sia-sia.
Air adalah contoh klasik.
Air tidak berdebat dengan batu.
Ia tidak berkata:
“Batu, saya tidak suka bentukmu.”
Air juga tidak mengadakan rapat untuk menentukan strategi menghadapi batu.
Ia hanya mencari jalan.
Kalau ada celah, ia masuk.
Kalau ada penghalang, ia mengalir mengitarinya.
Kalau jatuh, ia tetap turun.
Dan kalau dikumpulkan terus-menerus, air bahkan bisa mempunyai tenaga yang luar biasa.
Manusia kadang justru kebalikannya.
Ada tembok di depan, kita tabrak.
Tembok tetap berdiri.
Kita marah.
Kita tabrak lagi.
Tembok tetap berdiri.
Lalu kita menulis status:
“Kadang dunia memang tidak memahami perjuangan kita.”
Padahal mungkin dunia memahami. Yang tidak memahami adalah kita bahwa tembok memang bukan pintu.
Orang Stoik Mungkin Akan Mengangguk
Menariknya, gagasan ini juga mempunyai kemiripan dengan filsafat Stoikisme.
Epictetus, misalnya, menekankan perbedaan antara hal-hal yang berada dalam kendali kita dan hal-hal yang tidak.
Kita tidak selalu mengendalikan apa yang terjadi.
Tetapi kita mempunyai ruang untuk mengendalikan penilaian, sikap, dan tindakan kita terhadap apa yang terjadi.
Misalnya seseorang mengatakan sesuatu yang menyakitkan.
Kalimat itu sudah keluar.
Kita tidak mempunyai mesin waktu untuk memasukkan kembali kata-kata tersebut ke mulutnya.
Tetapi kita masih mempunyai pilihan:
Apakah kita akan marah selama tiga hari?
Apakah kita akan membalas?
Apakah kita akan menjelaskan?
Apakah kita akan diam?
Atau apakah kita akan berkata dalam hati:
“Baiklah. Informasi sudah diterima. Tidak perlu dijadikan penghuni tetap di kepala.”
Ini bukan berarti semua hinaan harus ditoleransi.
Kalau seseorang merugikan kita, tentu kita boleh mengambil tindakan.
Penguasaan diri bukan berarti menjadi keset yang filosofis.
Kita boleh tegas.
Kita boleh mengatakan tidak.
Kita boleh menjauh.
Kita boleh melawan ketidakadilan.
Tetapi semua itu bisa dilakukan tanpa kehilangan kendali atas diri sendiri.
Sebab ada perbedaan besar antara bertindak dan bereaksi secara impulsif.
Media Sosial dan Ujian Penguasaan Diri
Di zaman media sosial, kemampuan mengendalikan reaksi menjadi semakin mahal.
Dulu orang harus menunggu koran terbit untuk marah.
Sekarang cukup membuka ponsel.
Lima detik kemudian kita sudah menemukan sesuatu yang membuat tekanan darah naik.
Seseorang menulis pendapat.
Kita tersinggung.
Seseorang mengunggah foto.
Kita iri.
Seseorang berhasil.
Kita merasa tertinggal.
Seseorang salah.
Kita merasa mendapat pekerjaan baru sebagai hakim agung kolom komentar.
Yang lebih lucu, kadang kita marah kepada orang yang sebenarnya tidak tahu bahwa kita ada.
Ia tidur nyenyak.
Kita yang sibuk menyusun argumentasi di kepala.
Ia sudah lupa.
Kita masih membuat tiga versi balasan.
Inilah salah satu jebakan kehidupan digital: kita merasa harus bereaksi terhadap segala sesuatu.
Padahal tidak semua hal membutuhkan reaksi.
Ada berita yang cukup dibaca.
Ada komentar yang cukup dilewati.
Ada provokasi yang tidak perlu dijawab.
Ada perdebatan yang tidak perlu dimenangkan.
Dan ada beberapa orang yang paling bijaksana untuk kita hadapi dengan cara paling sederhana:
mute.
Kadang-kadang tombol mute lebih dekat kepada kebijaksanaan Tao daripada seribu kata motivasi.
Penguasaan Diri Bukan Berarti Tidak Punya Perasaan
Ada satu kesalahpahaman yang perlu dihindari.
Mengendalikan reaksi bukan berarti kita harus selalu tenang seperti patung.
Kita boleh sedih.
Kita boleh marah.
Kita boleh kecewa.
Kita boleh menangis.
Kita bahkan boleh berkata, “Saya sedang tidak baik-baik saja.”
Penguasaan diri bukan menghilangkan emosi.
Penguasaan diri adalah tidak menyerahkan setir kendaraan kepada emosi.
Marah boleh.
Tetapi jangan biarkan kemarahan mengetik pesan.
Sedih boleh.
Tetapi jangan membuat keputusan besar ketika hati sedang hancur.
Kecewa boleh.
Tetapi jangan langsung menyimpulkan bahwa seluruh hidup kita gagal.
Emosi boleh menjadi penumpang.
Yang jangan diberi kursi pengemudi.
Dalam Psikologi, Kita Juga Mengenal Gagasan Serupa
Gagasan tentang fokus pada respons bukan hanya milik filsafat kuno.
Psikologi modern juga mengenal konsep locus of control, yang antara lain membedakan kecenderungan seseorang melihat pengaruh dirinya sendiri dibandingkan faktor eksternal dalam kehidupan.
Ada pula pendekatan seperti Cognitive Behavioral Therapy yang memperhatikan hubungan antara peristiwa, pikiran, emosi, dan perilaku.
Artinya, cara kita menafsirkan sebuah kejadian dapat memengaruhi bagaimana kita merasakan dan bertindak.
Misalnya:
“Dia tidak membalas pesan saya.”
Fakta: pesan belum dibalas.
Interpretasi pertama:
“Dia sedang sibuk.”
Interpretasi kedua:
“Dia membenci saya.”
Interpretasi ketiga:
“Ini pasti konspirasi internasional.”
Faktanya sama.
Cerita di kepala berbeda.
Karena itu, kadang yang membuat kita kelelahan bukan hanya peristiwa yang terjadi, tetapi film panjang yang kita produksi sendiri di dalam kepala.
Ironisnya, film itu tidak pernah tayang di bioskop.
Tetapi kita sendiri yang membeli tiket, menjadi penonton, sekaligus produsernya.
Kekuatan Kadang Berbentuk Sangat Sederhana
Kita sering membayangkan kekuatan sebagai kemampuan mengubah keadaan.
Padahal ada jenis kekuatan yang lebih sunyi.
Kekuatan untuk tidak membalas ketika membalas hanya memperpanjang masalah.
Kekuatan untuk tetap bekerja ketika keadaan belum sesuai harapan.
Kekuatan untuk menerima bahwa sesuatu telah berakhir.
Kekuatan untuk mengakui kesalahan.
Kekuatan untuk berkata, “Saya tidak tahu.”
Kekuatan untuk meninggalkan sesuatu yang memang tidak bisa dipertahankan.
Dan kadang-kadang kekuatan terbesar adalah kemampuan mengatakan:
“Saya tidak bisa mengubah ini, tetapi saya masih bisa memilih apa yang akan saya lakukan setelah ini.”
Kalimat tersebut sederhana.
Tetapi kalau benar-benar dijalankan, tidak sederhana sama sekali.
Jangan Salah Paham: Menerima Bukan Berarti Menyerah
Menerima kenyataan sering dianggap sebagai tanda kelemahan.
Padahal menerima adalah langkah pertama untuk melihat kenyataan tanpa kosmetik.
Orang yang menyangkal badai akan sibuk mengatakan:
“Seharusnya tidak hujan.”
Orang yang menerima badai akan berkata:
“Baik. Sekarang bagaimana supaya atap rumah tidak bocor?”
Yang pertama sibuk berdebat dengan cuaca.
Yang kedua mencari ember.
Dalam kehidupan, kita sering membutuhkan lebih banyak orang yang mencari ember.
Bukan karena kita tidak boleh mengeluh.
Tetapi karena setelah mengeluh, atap tetap bocor.
Kekuatan yang Sebenarnya Ada di Tangan Kita
Pada akhirnya, inti pesan kutipan tersebut bukanlah bahwa manusia harus menjadi penguasa keadaan.
Justru sebaliknya.
Kita perlu cukup rendah hati untuk mengakui bahwa tidak semua hal bisa kita atur.
Kita tidak bisa mengendalikan pendapat orang lain.
Tidak bisa mengatur masa lalu.
Tidak bisa memaksa semua rencana berhasil.
Tidak bisa memastikan hidup selalu adil.
Tidak bisa meminta dunia berhenti memberikan kejutan.
Tetapi kita masih memiliki wilayah kecil yang sangat penting:
pikiran kita, sikap kita, dan tindakan kita.
Wilayah itu mungkin kecil dibandingkan luasnya dunia.
Tetapi justru dari wilayah kecil itulah kehidupan kita dijalani.
Kita mungkin tidak bisa mengubah badai.
Tetapi kita bisa memegang kemudi.
Kita mungkin tidak bisa mengubah batu.
Tetapi kita bisa mencari jalan di sekelilingnya.
Kita mungkin tidak bisa mengatur dunia.
Tetapi setidaknya kita bisa mengatur satu orang yang paling sering membuat masalah dalam hidup kita:
diri sendiri.
Dan kalau itu sudah berhasil, sebenarnya kita sudah mempunyai pekerjaan yang cukup berat.
Sebab mengendalikan dunia mungkin mustahil.
Mengendalikan diri sendiri saja kadang baru berhasil setelah melihat pesan WhatsApp tiga kali, menarik napas panjang, berjalan keliling rumah, minum kopi, lalu akhirnya memutuskan:
“Sudahlah. Tidak usah dibalas.”
Barangkali di situlah salah satu bentuk kekuatan yang paling sederhana—dan paling mahal—dalam kehidupan: bukan membuat dunia selalu berjalan sesuai keinginan kita, melainkan tetap mampu memilih sikap ketika dunia berjalan sebaliknya.
abah-arul.blogspot.com.,September 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
9/21/2026 04:41:00 AM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.