Kalau Hidup Tidak Bisa Diajak Negosiasi, Minimal Pilih Sikap
Belajar dari Viktor Frankl, dari Kamp Konsentrasi sampai Grup WhatsApp
Ada manusia yang kalau mendapat masalah langsung bertanya:
"Kenapa saya?"
Ada yang lebih modern:
"Kenapa hidup saya begini? Padahal saya sudah rajin afirmasi?"
Ada pula yang levelnya sudah digital:
"Tolong carikan quotes yang cocok untuk keadaan saya."
Lalu muncul Viktor Frankl dengan pengalaman hidup yang membuat keluhan kita terasa perlu duduk sebentar dan introspeksi.
Frankl pernah berada di kamp konsentrasi Nazi. Namanya dirampas. Kebebasannya dirampas. Keluarganya dirampas. Naskah ilmiahnya dirampas. Bahkan kehidupan sehari-harinya berada di bawah ancaman kematian.
Dan yang lebih mengerikan, ia tidak punya pilihan untuk sekadar berkata:
"Saya resign dari kehidupan ini karena lingkungan kerjanya toxic."
Tidak ada formulir resign.
Tidak ada HRD.
Tidak ada cuti tahunan.
Tidak ada tombol mute.
Namun justru dalam keadaan yang nyaris merampas seluruh pilihan manusia itu, Frankl menemukan sesuatu yang sangat penting: manusia masih mempunyai ruang untuk memilih sikapnya.
Dan gagasan itu kemudian menjadi salah satu inti pemikirannya dalam logoterapi.
Kita Sering Tidak Bisa Mengatur Keadaan
Frankl memahami sesuatu yang sebenarnya sederhana, tetapi sangat sulit dipraktikkan:
Tidak semua hal dalam hidup berada di bawah kendali kita.
Kita tidak bisa memilih lahir dari keluarga mana.
Tidak bisa menentukan siapa yang akan mencintai kita.
Tidak bisa mengatur semua orang agar memahami kita.
Tidak bisa memaksa orang lain menjadi sesuai dengan harapan.
Bahkan cuaca saja kadang tidak mau bekerja sama.
Kita sudah mencuci motor pagi-pagi, matahari bersinar terang. Begitu selesai, awan datang seperti panitia yang merasa belum diundang.
Hujan turun.
Motor kembali kotor.
Kita marah kepada langit.
Langit diam saja.
Mungkin karena langit memang tidak punya WhatsApp.
Frankl mengajak kita melihat persoalan dari sisi lain. Kalau keadaan tidak bisa kita ubah, masih ada satu wilayah yang bisa kita perjuangkan: sikap kita terhadap keadaan itu.
Bukan berarti kita menjadi pasrah tanpa usaha.
Bukan berarti kalau ditipu kita berkata, "Alhamdulillah, ini latihan ikhlas."
Bukan begitu.
Kalau ada yang mencuri sandal kita, mencari sandal tetap diperlukan. Ikhlas boleh, tetapi sandal juga tetap harus dicari.
Makna tidak sama dengan menyerah.
Frankl Tidak Mengajarkan "Positive Thinking" Murahan
Di sinilah pemikiran Frankl sering disalahpahami.
Di media sosial, gagasan tentang ketahanan mental kadang diperas menjadi satu kalimat:
"Berpikirlah positif, maka semua akan baik-baik saja."
Masalahnya, hidup tidak membaca caption Instagram.
Ada orang yang sudah berpikir positif tetapi tetap kehilangan pekerjaan.
Ada yang sudah berdoa tetapi tetap sakit.
Ada yang sudah berusaha tetapi bisnisnya bangkrut.
Ada yang sudah sabar tetapi tetangganya tetap memutar musik keras pukul sebelas malam.
Jadi Frankl bukan sedang menjual resep:
"Penderitaan + pikiran positif = bahagia."
Tidak sesederhana itu.
Ia justru berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dalam: makna.
Ketika manusia menemukan alasan untuk hidup, ia memiliki sesuatu yang membuatnya tetap berdiri meskipun keadaan tidak menyenangkan.
Bukan karena penderitaannya menyenangkan.
Tetapi karena hidupnya masih mempunyai tujuan.
Mempunyai Alasan untuk Bangun
Frankl mengamati bahwa manusia dapat bertahan ketika memiliki sesuatu yang membuat hidupnya berarti.
Bisa berupa seseorang yang dicintai.
Bisa berupa pekerjaan yang ingin diselesaikan.
Bisa berupa tanggung jawab.
Bisa berupa karya.
Bisa berupa keyakinan.
Bisa juga sesederhana:
"Saya harus pulang karena ibu saya menunggu."
Atau:
"Saya belum selesai menulis buku."
Atau dalam versi masyarakat sekarang:
"Saya belum sempat membayar cicilan."
Yang terakhir memang kurang romantis, tetapi sangat efektif sebagai motivasi.
Frankl menyebut manusia mempunyai kehendak akan makna.
Kita bukan sekadar makhluk yang ingin nyaman.
Kita juga ingin merasa bahwa keberadaan kita berarti.
Itulah sebabnya orang bisa rela bekerja keras demi sesuatu yang dicintainya, bahkan ketika pekerjaan itu melelahkan.
Seorang ibu bisa bangun berkali-kali pada malam hari menjaga anak.
Seorang ayah bisa terus bekerja meskipun tubuhnya lelah.
Seorang guru tetap mengajar meskipun muridnya kadang lebih tertarik melihat jam dinding.
Dan seorang penulis tetap menulis meskipun pembacanya baru tiga orang.
Dua di antaranya mungkin keluarganya sendiri.
Tetapi tetap saja, ia menulis.
Sebab makna tidak selalu diukur dari jumlah penonton.
Tiga Jalan Menuju Makna
Menurut Frankl, makna dapat ditemukan melalui beberapa jalan.
Pertama, melalui karya atau tindakan.
Kita melakukan sesuatu yang berguna.
Membangun usaha, mengajar, menulis, merawat keluarga, membantu orang lain, atau sekadar menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
Kedua, melalui pengalaman dan cinta.
Kita menemukan makna ketika mencintai seseorang, menikmati keindahan, mengalami persahabatan, menikmati alam, atau merasakan kedalaman hubungan manusia.
Kadang secangkir kopi bersama orang yang tepat lebih menyembuhkan daripada seminar motivasi tiga jam.
Ketiga, melalui sikap terhadap penderitaan yang tidak dapat dihindari.
Inilah bagian yang paling sulit.
Bukan berarti penderitaan harus dicari.
Kalau bisa dihindari, ya hindari.
Kalau bisa diselesaikan, ya selesaikan.
Kalau bisa berobat, ya berobat.
Kalau bisa keluar dari masalah, ya keluar.
Tetapi ada penderitaan yang memang tidak dapat kita hapus.
Kehilangan orang yang kita cintai, misalnya.
Di situlah pertanyaan berubah.
Bukan lagi:
"Bagaimana saya menghilangkan semua rasa sakit ini?"
Melainkan:
"Setelah semua ini terjadi, manusia seperti apa yang ingin saya pilih untuk menjadi?"
Pertanyaan tersebut jauh lebih berat daripada sekadar:
"Hari ini makan apa?"
Kita Sering Salah Mengira Hidup sebagai Pelayanan Pesanan
Barangkali salah satu penyakit manusia modern adalah merasa bahwa hidup seharusnya memenuhi semua permintaan kita.
Kita membuat daftar:
Saya ingin sehat.
Saya ingin kaya.
Saya ingin dicintai.
Saya ingin pekerjaan bagus.
Saya ingin keluarga harmonis.
Saya ingin rumah nyaman.
Saya ingin tetangga tidak berisik.
Saya ingin jaringan internet stabil.
Lalu ketika salah satu tidak terpenuhi, kita protes:
"Kok hidup tidak sesuai rencana?"
Frankl menawarkan pembalikan pertanyaan yang sangat penting.
Bukan:
"Apa yang saya harapkan dari hidup?"
Tetapi:
"Apa yang hidup harapkan dari saya?"
Ini seperti mengubah posisi wawancara.
Selama ini kita mengira kita adalah pelamar dan kehidupan adalah perusahaan yang harus memberi gaji.
Ternyata bisa jadi kita juga sedang diwawancarai oleh kehidupan.
Pertanyaannya:
"Dalam keadaan seperti ini, apa yang akan kamu lakukan?"
Kita tidak bisa memilih semua soal ujian.
Tetapi kita masih bisa memilih jawaban.
Bahkan Ketika Dunia Mengambil Banyak Hal
Pengalaman Frankl menjadi kuat justru karena ia tidak berbicara dari ruang seminar yang nyaman.
Ia mengalami kehilangan yang luar biasa.
Ia kehilangan orang-orang yang dicintainya.
Ia kehilangan kebebasan.
Ia mengalami kelaparan, penderitaan, penghinaan, dan ancaman kematian.
Karena itu, ketika ia berbicara mengenai makna, perkataannya bukan sekadar teori yang ditulis sambil menikmati kopi sore.
Ia berbicara dari pengalaman ekstrem tentang manusia yang berada di batas kemampuan bertahan.
Tetapi justru karena itulah kita perlu berhati-hati.
Pengalaman Frankl tidak boleh dijadikan alat untuk mengatakan kepada orang yang sedang menderita:
"Kamu kurang positif."
Itu bukan kebijaksanaan.
Itu kadang hanya cara halus untuk membuat orang yang terluka merasa bersalah karena belum bahagia.
Orang yang sedang berduka tidak membutuhkan ceramah:
"Ambil hikmahnya!"
Kadang ia hanya membutuhkan seseorang yang duduk di sebelahnya.
Diam.
Menemani.
Memberikan air.
Tidak semua luka membutuhkan presentasi PowerPoint.
Dari Auschwitz ke Grup WhatsApp
Menariknya, gagasan Frankl tetap relevan meskipun bentuk penderitaan manusia sekarang sudah berubah.
Kita mungkin tidak hidup di kamp konsentrasi.
Tetapi kita mengenal kecemasan, kehilangan pekerjaan, kegagalan usaha, konflik keluarga, kesepian, tekanan sosial, dan ketidakpastian masa depan.
Bahkan ada penderitaan baru yang dulu belum dikenal Frankl:
dibaca tetapi tidak dibalas.
Ini memang bukan tragedi kemanusiaan, tetapi bagi sebagian orang efek psikologisnya cukup dramatis.
Belum lagi melihat teman sukses di media sosial.
Teman beli mobil.
Teman liburan ke luar negeri.
Teman wisuda.
Teman menikah.
Teman buka usaha.
Kita?
Masih mencari password Wi-Fi.
Media sosial membuat kita membandingkan halaman belakang kehidupan kita dengan halaman depan kehidupan orang lain.
Akibatnya kita merasa gagal.
Padahal kita tidak tahu bahwa foto orang yang sedang tersenyum itu mungkin diambil lima detik sebelum ia bertengkar dengan pasangannya.
Kita melihat hasil akhir.
Tidak melihat seluruh proses.
Makna Bukan Jaminan Hidup Mudah
Frankl tidak menjanjikan bahwa menemukan makna akan membuat hidup menjadi mudah.
Tidak.
Makna bukan kartu bebas masalah.
Ia lebih mirip kompas.
Kompas tidak menghilangkan gunung.
Tidak mengeringkan sungai.
Tidak menghapus badai.
Tetapi ia membantu kita tahu ke mana harus berjalan.
Begitu pula tujuan hidup.
Ia tidak selalu menghilangkan rasa sakit.
Tetapi bisa membuat rasa sakit tidak menjadi sia-sia.
Seorang ayah yang bekerja keras demi keluarganya tetap lelah.
Seorang guru yang mendidik tetap menghadapi murid yang sulit.
Seorang penulis tetap menghadapi tulisan yang ditolak.
Seorang manusia yang berusaha menjadi baik tetap akan kecewa.
Tetapi ketika semua itu memiliki makna, seseorang mempunyai alasan untuk terus melangkah.
Jangan Terlalu Cepat Mengubah Penderitaan Menjadi Konten
Ada satu pelajaran tambahan yang mungkin penting untuk zaman kita.
Tidak semua penderitaan harus segera dijadikan konten motivasi.
Kadang seseorang baru kehilangan orang tercinta, lima menit kemudian muncul unggahan:
"Jangan menangis. Semua ada hikmahnya."
Belum selesai berduka, sudah dibuat poster:
"Bangkit! Jadilah versi terbaik dirimu!"
Pelan-pelan.
Manusia bukan aplikasi yang tinggal di-restart.
Ada proses berduka.
Ada marah.
Ada bingung.
Ada diam.
Ada menangis.
Ada hari ketika kita kuat.
Ada hari ketika kita hanya mampu bangun dari tempat tidur.
Semua itu bagian dari manusia.
Frankl tidak mengajarkan kita untuk berpura-pura tidak terluka.
Ia mengajarkan bahwa bahkan di tengah luka, manusia masih dapat mencari makna.
Itu jauh lebih manusiawi.
Pada Akhirnya, Hidup yang Bertanya
Mungkin inilah warisan terbesar Viktor Frankl.
Hidup tidak selalu memberikan apa yang kita minta.
Kadang hidup memberi ujian yang tidak kita pesan.
Kita bahkan tidak pernah mencentang kotak:
"Saya bersedia menerima penderitaan berat."
Tetapi hidup tetap mengirimkannya.
Maka pertanyaannya bukan selalu:
"Mengapa ini terjadi kepada saya?"
Pertanyaan itu manusiawi dan boleh ditanyakan.
Namun setelahnya, mungkin ada pertanyaan lain:
"Sekarang, dengan keadaan seperti ini, apa yang masih bisa saya lakukan?"
Di sanalah ruang kebebasan kita berada.
Mungkin kita tidak bisa mengubah masa lalu.
Tidak bisa mengembalikan orang yang telah pergi.
Tidak bisa menghapus semua kesalahan.
Tidak bisa mengendalikan pendapat orang lain.
Tidak bisa membuat hidup berjalan sesuai jadwal.
Tetapi kita masih bisa memilih apakah akan menjadi pahit atau bijaksana.
Apakah akan menyerah atau perlahan bangkit.
Apakah akan menggunakan luka untuk melukai orang lain, atau menjadikannya alasan untuk lebih memahami penderitaan orang lain.
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah makna hidup yang sebenarnya:
bukan bahwa hidup selalu mudah, tetapi bahwa di tengah ketidakmudahan itu kita masih mempunyai sesuatu yang layak diperjuangkan.
Frankl kehilangan banyak hal.
Namun ia menemukan satu hal yang tidak mudah dirampas:
alasan untuk terus hidup.
Dan kadang-kadang, dalam kehidupan kita yang jauh lebih sederhana, alasan itu tidak perlu terlalu megah.
Cukup keluarga.
Cukup pekerjaan yang belum selesai.
Cukup seseorang yang masih kita sayangi.
Cukup sebuah kebaikan yang belum sempat dilakukan.
Atau mungkin cukup satu kalimat:
"Besok saya masih harus bangun."
Sebab selama masih ada alasan untuk bangun, cerita belum selesai.
Dan selama cerita belum selesai, jangan buru-buru menutup bukunya.
Bisa jadi bab berikutnya justru yang paling menarik.
Hanya saja, jangan lupa:
kalau hidup sedang berat, kita boleh istirahat. Tetapi jangan menyerahkan seluruh kendali cerita kepada keadaan.
Karena mungkin kita tidak bisa memilih halaman yang sedang kita baca.
Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana kita menulis halaman berikutnya.
abah-arul.blogspot.com., September 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
9/14/2026 03:29:00 AM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.