Damai Itu Ketika Like Sudah Tidak Lagi Menjadi Oksigen
Ada sebuah kutipan yang beredar di media sosial:
“Bentuk kedamaian tertinggi adalah tidak memiliki keinginan untuk dilihat, disetujui, atau dipahami oleh siapa pun.”
Kutipan ini diatribusikan kepada Epictetus, filsuf Stoik dari abad pertama. Kalimatnya terdengar begitu tenang, begitu dalam, begitu filosofis. Cocok sekali dijadikan status WhatsApp pada malam Jumat, terutama setelah seseorang membaca pesan tetapi tidak membalas.
Kita lalu merasa tercerahkan.
“Ah, ternyata saya sudah mencapai kedamaian tertinggi.”
Padahal lima menit kemudian kita membuka WhatsApp lagi untuk melihat apakah dia sudah online.
Inilah manusia.
Bisa membahas kebebasan dari pengakuan orang lain sambil diam-diam menghitung siapa saja yang melihat status.
Hidup di Zaman Semua Harus Terlihat
Kita hidup pada zaman yang agak aneh.
Dulu orang melakukan sesuatu karena memang ingin melakukannya. Sekarang kadang-kadang kita melakukan sesuatu sambil memikirkan bagaimana cara memotretnya.
Makan bukan hanya makan.
Makan harus difoto.
Jalan-jalan bukan hanya jalan-jalan.
Harus ada bukti bahwa kita pernah jalan-jalan.
Bahkan sedang sedih pun kadang-kadang perlu dokumentasi.
“Tidak semua kesedihan harus diumumkan.”
Lalu lima menit kemudian:
Story: “Belajar ikhlas itu ternyata tidak mudah.”
Lengkap dengan foto langit mendung.
Langit pun akhirnya ikut ditugaskan menjadi fotografer kehidupan kita.
Media sosial telah membuat “dilihat” menjadi semacam kebutuhan psikologis. Kita merasa keberadaan kita menjadi lebih nyata kalau ada orang lain yang menyaksikannya.
Seratus orang melihat status: senang.
Seribu orang melihat: lebih senang.
Tidak ada yang melihat: mulai curiga.
“Jangan-jangan akun saya bermasalah?”
Padahal mungkin orang lain sedang sibuk dengan hidupnya sendiri.
Pengakuan: Camilan yang Tidak Pernah Mengenyangkan
Masalahnya bukan pada like.
Like itu tidak berdosa.
Komentar juga tidak berdosa.
Yang menjadi masalah adalah ketika harga diri kita mulai bergantung kepada keduanya.
Hari ini mendapat pujian, kita bahagia.
Besok dikritik, kita murung.
Lusa tidak ada yang memperhatikan, kita mulai mempertanyakan eksistensi.
Akhirnya hidup seperti pedagang di pasar yang setiap lima menit menghitung pembeli.
“Laku tidak?”
Padahal yang sedang dijual bukan sayur, melainkan harga diri.
Epictetus mengajarkan sesuatu yang jauh lebih keras daripada sekadar “jangan baper”.
Ia mengajak manusia membedakan antara apa yang berada dalam kendali kita dan apa yang tidak.
Pikiran kita berada dalam wilayah kendali.
Pilihan kita berada dalam wilayah kendali.
Tindakan kita berada dalam wilayah kendali.
Tetapi pendapat orang lain?
Bukan.
Mereka punya kepala sendiri. Sayangnya, kepala itu tidak dilengkapi tombol remote control dari kita.
Kita bisa menjelaskan diri dengan panjang lebar, tetapi orang tetap bisa salah paham.
Kita bisa berbuat baik, tetapi tetap ada yang menganggap kita punya motif lain.
Kita bisa membuat tulisan dengan niat tulus, tetapi seseorang tetap berkata:
“Ini sindiran buat saya, ya?”
Padahal kita bahkan tidak ingat namanya.
Keinginan untuk Dipahami Bisa Menjadi Lelah yang Panjang
Salah satu sumber kelelahan terbesar manusia adalah keinginan untuk selalu dipahami.
Kita ingin orang mengerti maksud kita.
Mengerti perjuangan kita.
Mengerti alasan kita.
Mengerti kenapa kita memilih diam.
Mengerti kenapa kita berubah.
Mengerti kenapa kita tidak datang.
Mengerti kenapa kita tidak membalas pesan.
Pokoknya semua harus mengerti.
Masalahnya, manusia bukan mesin penerjemah pikiran.
Orang lain hanya melihat potongan kecil dari kehidupan kita. Mereka tidak membaca seluruh babnya.
Mereka mungkin melihat kita diam, lalu mengira sombong.
Melihat kita bicara, mengira pamer.
Melihat kita pergi, mengira marah.
Melihat kita tetap tinggal, mengira tidak punya pilihan.
Begitulah hidup.
Kita bisa memberikan penjelasan, tetapi tidak bisa mengendalikan hasil penjelasan itu.
Karena itu, kedamaian mulai muncul ketika kita berkata:
“Tidak apa-apa kalau tidak semua orang memahami saya.”
Kalimat ini sederhana.
Tetapi bagi orang yang selama ini hidup dari validasi, kalimat tersebut rasanya seperti diet bagi penggemar gorengan.
Sulit, tetapi perlu.
Tidak Terlihat Bukan Berarti Tidak Berarti
Kutipan tersebut juga jangan disalahpahami sebagai ajakan menjadi manusia yang menghilang dari peradaban.
Bukan berarti kita harus mematikan telepon, pindah ke gunung, lalu berkomunikasi hanya dengan kambing.
Bukan itu.
Kita tetap membutuhkan manusia lain.
Kita membutuhkan keluarga, sahabat, guru, pasangan, tetangga, bahkan orang yang kadang-kadang membuat kita jengkel.
Yang perlu dilepaskan bukan hubungan sosialnya, melainkan ketergantungan batin terhadap penilaian mereka.
Kita boleh senang dipuji.
Tetapi jangan sampai pujian menjadi bahan bakar utama kehidupan.
Kita boleh kecewa ketika disalahpahami.
Tetapi jangan sampai seluruh hidup kita habis untuk membuktikan bahwa kita sebenarnya benar.
Sebab ada perang yang tidak perlu dimenangkan.
Kadang-kadang cara paling damai memenangkan sebuah perdebatan adalah tidak ikut bertanding.
Stoikisme dan Seni Tidak Ikut Ribut
Dalam semangat Stoik, ketenangan bukan berarti tidak punya masalah.
Ketenangan berarti kita tidak memberikan seluruh remote kehidupan kepada masalah.
Orang berkata buruk tentang kita?
Itu berada di luar kendali kita.
Kita bisa mengendalikan respons kita.
Orang tidak menyukai kita?
Itu bukan wilayah kekuasaan kita.
Kita bisa memilih tetap berbuat baik.
Postingan kita tidak mendapat respons?
Tidak masalah.
Dunia belum tentu sedang mengalami krisis hanya karena postingan kita sepi.
Mungkin orang sedang tidur.
Mungkin sedang bekerja.
Mungkin sedang makan.
Atau mungkin memang tidak tertarik.
Dan itu pun tidak apa-apa.
Kita tidak harus menjadi menarik bagi seluruh umat manusia.
Bahkan nasi goreng saja tidak disukai semua orang.
Ada Kebebasan Besar dalam Tidak Peduli pada Semua Penilaian
Ketika seseorang berhenti mengejar pengakuan, sesuatu yang menarik terjadi.
Ia menjadi lebih bebas.
Ia bisa berbuat baik tanpa harus diumumkan.
Bisa membantu tanpa harus difoto.
Bisa belajar tanpa perlu segera mengunggah sertifikat.
Bisa membaca buku tanpa membuat foto buku dengan secangkir kopi.
Bisa melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh meskipun tidak ada yang memberikan tepuk tangan.
Pada titik tertentu, kita mulai memahami bahwa hidup tidak selalu membutuhkan penonton.
Ada pekerjaan yang cukup diketahui oleh Tuhan dan hati kita sendiri.
Ada kebaikan yang tidak perlu menjadi konten.
Ada perjuangan yang tidak perlu menjadi status.
Dan ada keberhasilan yang justru terasa lebih nikmat karena tidak perlu dijelaskan kepada siapa-siapa.
Tetapi Ada Satu Hal yang Perlu Dikoreksi
Kutipan yang beredar itu memang menarik. Namun kita perlu berhati-hati ketika sebuah kalimat modern langsung ditempelkan kepada filsuf kuno.
Versi “The highest form of peace is having no desire to be seen, validated or understood by anyone” tidak dikenal sebagai kutipan kata demi kata dari karya asli Epictetus.
Lebih tepat menganggapnya sebagai parafrasa modern yang menangkap semangat tertentu dari filsafat Stoik.
Ini penting.
Sebab kalau semua kalimat bagus di internet langsung diberi nama filsuf terkenal, lama-lama Epictetus akan dituduh pernah berkata:
“Jangan lupa sarapan sebelum overthinking.”
Padahal mungkin beliau tidak pernah mengatakan itu.
Filsafat tidak menjadi lebih benar hanya karena ditempeli nama orang terkenal.
Justru kita perlu membaca gagasannya dalam konteks.
Kedamaian Bukan Ketika Semua Orang Menyukai Kita
Pada akhirnya, kedamaian tertinggi mungkin bukan keadaan ketika semua orang memahami kita.
Sebab itu hampir mustahil.
Kedamaian adalah ketika kita tidak lagi membutuhkan semua orang untuk memahami kita agar kita merasa berharga.
Kita tetap menerima nasihat.
Tetap mendengar kritik.
Tetap menghargai pendapat orang lain.
Tetapi kita tidak menyerahkan kemudi kehidupan kepada mereka.
Karena kalau setiap komentar menentukan arah hidup, kita akan seperti mobil yang dikemudikan oleh penumpang.
Yang satu bilang belok kiri.
Yang lain bilang kanan.
Yang lain lagi bilang putar balik.
Akhirnya mobil masuk sawah.
Maka, sesekali kita perlu berhenti dan bertanya:
“Kalau tidak ada yang melihat, apakah saya masih akan melakukan ini?”
“Kalau tidak ada yang memuji, apakah saya masih menganggapnya baik?”
“Kalau tidak ada yang memahami saya, apakah saya masih bisa hidup dengan prinsip saya?”
Jika jawabannya ya, mungkin kita sedang mendekati kebebasan yang dimaksud.
Sebab kedamaian bukan ketika seluruh dunia akhirnya berkata, “Kamu benar.”
Kedamaian adalah ketika kita bisa berkata:
“Tidak semua orang harus setuju. Saya tahu apa yang sedang saya lakukan.”
Dan setelah mengatakan itu, kita bisa meletakkan ponsel.
Tidak perlu mengecek siapa yang membaca.
Tidak perlu menghitung jumlah like.
Tidak perlu menunggu komentar.
Lalu tidur dengan tenang.
Kalau besok pagi ternyata tidak ada yang memberi like juga, kita tetap bangun.
Sarapan.
Minum kopi.
Bekerja.
Berbuat baik.
Hidup terus berjalan.
Ternyata dunia tidak berhenti hanya karena status kita sepi.
Barangkali, justru di situlah kedamaian mulai terasa.
Bukan ketika kita akhirnya dilihat oleh semua orang, melainkan ketika kita tidak lagi merasa harus terlihat oleh semua orang.
abah-arul.blogspot.com., 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
9/16/2026 03:06:00 PM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.