Kekuasaan yang Harus Bikin Orang Menderita


Renungan dari 1984: Ketika Penguasa Tidak Puas Kalau Kita Cuma Nurut

Ada sebuah kutipan dari 1984 karya George Orwell yang beredar di media sosial melalui akun @WorldWAdab. Bunyi dialognya kira-kira begini:

“Bagaimana cara manusia memaksakan kekuasaannya atas manusia lain, Winston?”

Winston menjawab:

“Dengan membuatnya menderita.”

Sekilas, kalau dibaca tanpa konteks, kalimat ini bisa disangka sebagai petuah kehidupan. Tinggal diberi latar belakang matahari terbenam, secangkir kopi, dan font kaligrafi Arab, jadilah ia quote of the day.

Padahal, astaga...

Itu bukan petuah.

Itu percakapan orang yang sedang disiksa.

Jadi kalau ada yang membagikannya sambil menulis, “Masyaallah, dalam sekali,” kita mungkin perlu bertanya: dalam apanya? Dalam maknanya atau dalam lubang penyiksaannya?

Orwell: Tolong Jangan Jadikan Ruang Interogasi sebagai Kata Mutiara

Dalam 1984, O’Brien sedang menyiksa Winston. Ia bukan sedang duduk santai di kafe sambil berdiskusi tentang filsafat politik.

Tidak ada cappuccino.

Tidak ada croissant.

Tidak ada kalimat, “Menarik sekali perspektif Anda, Winston.”

Yang ada adalah kekuasaan, penyiksaan, dan usaha menghancurkan kehendak seseorang.

O’Brien menjelaskan bahwa kepatuhan saja tidak cukup.

Ini bagian yang sangat mengerikan.

Penguasa totaliter tidak puas kalau kita melakukan apa yang diperintahkannya. Ia ingin memastikan bahwa kita tidak lagi memiliki kehendak sendiri.

Kalau rakyat berkata, “Baik, saya patuh,” itu belum cukup.

Penguasa seperti ini ingin sampai pada tingkat:

“Apakah kamu patuh karena kamu memilih patuh?”

“Tidak.”

“Bagus.”

“Lho?”

“Karena saya ingin memastikan bahwa bahkan pilihanmu pun sudah menjadi milik saya.”

Nah, di sinilah 1984 mulai terasa seperti horor.

Bukan karena ada monster.

Tetapi karena manusia biasa diberi kekuasaan untuk masuk sampai ke dalam kepala manusia lain.

Kekuasaan yang Sehat Tidak Perlu Membuat Kita Menangis

Dalam kehidupan normal, kekuasaan seharusnya mempunyai tujuan yang lebih masuk akal.

Misalnya mengatur lalu lintas.

Menjaga ketertiban.

Membuat pelayanan publik berjalan.

Atau setidaknya memastikan rapat tidak berlangsung selama empat jam hanya untuk memutuskan warna seragam.

Namun kekuasaan absolut mempunyai penyakit yang berbeda.

Ia tidak lagi bertanya:

“Untuk apa saya berkuasa?”

Ia mulai bertanya:

“Bagaimana saya membuktikan bahwa saya berkuasa?”

Ini perubahan kecil dalam kalimat, tetapi besar akibatnya.

Pada tahap pertama, kekuasaan adalah alat.

Pada tahap kedua, kekuasaan menjadi tujuan.

Dan ketika kekuasaan sudah menjadi tujuan, penderitaan orang lain bisa dianggap sebagai bukti keberhasilan.

Seolah-olah ada meteran kekuasaan:

0 persen: orang belum takut.

30 persen: orang mulai diam.

60 persen: orang mulai berhati-hati kalau bicara.

90 persen: orang mulai setuju sebelum ditanya.

100 persen: orang sudah tidak tahu lagi apakah ia setuju atau hanya takut tidak setuju.

Di titik terakhir inilah Orwell benar-benar mengerikan.

Penguasa Biasa Ingin Kita Menurut, Penguasa Total Ingin Kita Percaya

Ada perbedaan besar antara memaksa seseorang melakukan sesuatu dan menghancurkan kemampuan seseorang untuk berpikir berbeda.

Bos berkata:

“Kerjakan laporan ini.”

Kita mengerjakannya.

Selesai.

Tetapi rezim totaliter berkata:

“Kerjakan laporan ini.”

Kita mengerjakannya.

Kemudian ia bertanya:

“Apakah kamu senang mengerjakannya?”

“Senang.”

“Benarkah?”

“Benar.”

“Kalau begitu buktikan.”

Nah, mulai repot.

Karena kekuasaan sudah tidak puas mengatur tindakan. Ia ingin mengatur perasaan.

Bukan hanya ingin kita mengucapkan kalimat tertentu, tetapi ingin memastikan kita benar-benar mempercayainya.

Bukan hanya ingin kita diam, tetapi ingin memastikan kita tidak memiliki pikiran yang berbeda ketika sedang diam.

Ini yang membuat 1984 jauh lebih mengerikan daripada sekadar cerita tentang pemerintah yang kejam.

Yang hendak dikendalikan bukan hanya tubuh.

Melainkan kesadaran.

Kalau Rakyat Sudah Takut, Mengapa Masih Harus Disiksa?

Karena kekuasaan absolut punya masalah psikologis yang unik: ia sulit percaya pada kepatuhan.

Orang diam dicurigai masih berpikir.

Orang tersenyum dicurigai sedang mengejek.

Orang setuju dicurigai pura-pura setuju.

Bahkan orang yang terlalu cepat mengangguk mungkin dianggap menyembunyikan sesuatu.

Akhirnya muncul kebutuhan untuk membuat manusia menderita sebagai bukti.

“Kalau dia masih bisa berpikir, berarti dia belum sepenuhnya tunduk.”

Maka penderitaan menjadi alat untuk menguji kepatuhan.

Seperti ujian sekolah, hanya saja pengawasnya membawa alat penyiksaan.

Dan nilai akhirnya bukan:

A, B, atau C.

Melainkan:

“Apakah kamu sudah kehilangan dirimu sendiri?”

Media Sosial dan Kutipan yang Kehilangan Konteks

Di sinilah persoalan kutipan viral menjadi menarik.

Satu kalimat dari novel yang sebenarnya menggambarkan kekejaman bisa berubah menjadi kalimat motivasi setelah dipotong dari konteks.

Ini kemampuan luar biasa media sosial.

Novel 300 halaman dapat diperas menjadi satu gambar.

Dialog penyiksaan dapat berubah menjadi quote card.

Karakter antagonis dapat terdengar seperti guru kehidupan.

Dan kalimat yang sebenarnya sedang mengkritik kekuasaan bisa dibaca sebagai pujian terhadap kekuasaan.

Kalau diteruskan, mungkin suatu hari kutipan dari buku tentang kiamat akan diberi caption:

“Tips sukses menghadapi Senin pagi.”

Kita hidup di zaman ketika konteks adalah barang mewah.

Orang membaca kalimatnya.

Tidak membaca siapa yang mengucapkannya.

Tidak membaca kepada siapa.

Tidak membaca dalam situasi apa.

Dan akhirnya penjahat dalam novel bisa berubah menjadi motivator LinkedIn.

1984 Bukan Manual Menjadi Penguasa

Ini penting.

Kalimat O’Brien tidak boleh dibaca sebagai resep:

“Cara menjadi penguasa yang kuat: buat orang menderita.”

Justru sebaliknya.

Orwell sedang memperlihatkan kepada kita betapa mengerikannya sebuah sistem ketika kekuasaan tidak mempunyai batas moral.

O’Brien bukan guru kepemimpinan.

Ia adalah demonstrasi tentang apa yang terjadi ketika kekuasaan kehilangan rem.

Dalam sistem seperti itu, penderitaan bukan kecelakaan.

Ia menjadi metode.

Ketakutan bukan efek samping.

Ia menjadi instrumen.

Penghinaan bukan kesalahan.

Ia menjadi mekanisme.

Dan penghancuran kepribadian bukan kegagalan.

Ia justru dianggap keberhasilan.

Kita Tidak Harus Hidup di Oceania untuk Mengenali Gejalanya

Orwell memang menulis 1984 sebagai kritik terhadap totalitarianisme abad ke-20. Tetapi kekuatan novel itu justru terletak pada kemampuannya membuat kita mengenali pola yang lebih luas.

Kekuasaan yang tidak mau dikritik.

Kekuasaan yang menganggap perbedaan pendapat sebagai ancaman.

Kekuasaan yang menggunakan rasa takut.

Kekuasaan yang mempermalukan lawan.

Kekuasaan yang ingin mengontrol bukan hanya tindakan, tetapi juga narasi dan pikiran.

Semua itu dapat muncul dalam berbagai bentuk dan skala.

Bahkan dalam hubungan pribadi.

Ada orang yang kalau sedang marah berkata:

“Ya sudah, terserah kamu.”

Kalimat sederhana.

Tetapi kalau diterjemahkan secara psikologis kadang berarti:

“Silakan memilih, tetapi kalau pilihanmu bukan yang saya mau, hidupmu akan saya buat seperti season finale sinetron.”

Itu tentu bukan totalitarianisme ala Oceania.

Tetapi ada satu pola yang sama: keinginan mengendalikan kehendak orang lain.

Kekuasaan yang Paling Menakutkan Adalah Kekuasaan yang Masuk ke Dalam Kepala

Mungkin inilah inti paling dalam dari kutipan tersebut.

Kekuasaan paling brutal bukan hanya kekuasaan yang mampu memenjarakan tubuh.

Ia adalah kekuasaan yang membuat seseorang akhirnya menjadi sipir bagi pikirannya sendiri.

Tidak perlu ada polisi di depan pintu.

Orang sudah takut berbicara.

Tidak perlu ada sensor di setiap kalimat.

Orang sudah menyensor dirinya sendiri.

Tidak perlu ada perintah setiap pagi.

Orang sudah tahu apa yang boleh dipikirkan.

Di sinilah 1984 terasa sangat modern.

Karena manusia dapat dikendalikan bukan hanya dengan cambuk.

Kadang cukup dengan membuatnya takut.

Kadang cukup dengan membuatnya malu.

Kadang cukup dengan membuatnya merasa sendirian.

Dan dalam bentuk yang paling halus, cukup membuatnya yakin bahwa berpikir berbeda adalah sesuatu yang memalukan.

Penutup: Jangan Terlalu Cepat Bilang “Quote-nya Dalam”

Jadi, ketika menemukan kutipan dramatis dari 1984 di media sosial, sebaiknya jangan buru-buru berkata:

“Wah, dalam sekali.”

Periksa dulu: siapa yang berbicara?

Dalam situasi apa?

Kepada siapa?

Dan yang paling penting:

Apakah kalimat itu sedang menawarkan kebijaksanaan, atau sedang menggambarkan kebiadaban?

Karena tidak semua kalimat yang terdengar bijaksana adalah nasihat.

Sebagian adalah peringatan.

Sebagian lagi adalah pengakuan seorang penjahat.

Dan sebagian memang sengaja ditulis Orwell agar kita merasa tidak nyaman.

Kutipan tentang kekuasaan dan penderitaan dalam 1984 termasuk yang terakhir.

Ia bukan mengajarkan bahwa kekuasaan sejati harus membuat manusia menderita.

Ia justru menunjukkan betapa mengerikannya dunia ketika seseorang mulai percaya bahwa penderitaan orang lain adalah bukti keberhasilannya berkuasa.

Sebab kekuasaan yang sehat membutuhkan legitimasi.

Kekuasaan yang takut kehilangan dirinya membutuhkan ketakutan.

Dan kekuasaan yang sudah sampai pada tahap membutuhkan penderitaan untuk merasa berkuasa mungkin sebenarnya sedang mengatakan sesuatu yang sangat sederhana:

“Saya tidak cukup yakin bahwa Anda akan patuh, jadi saya harus memastikan Anda tidak lagi punya pilihan.”

Itulah sebabnya 1984 tetap mengganggu.

Bukan karena Orwell berhasil meramal masa depan.

Melainkan karena ia memahami satu kelemahan manusia yang tampaknya tidak pernah benar-benar kedaluwarsa:

ketika seseorang diberi kekuasaan tanpa batas, ia bisa mulai mengira bahwa kebebasan orang lain adalah masalah yang harus diselesaikan.

abah-arul.blogspot.com., September 2026

Kekuasaan yang Harus Bikin Orang Menderita Kekuasaan yang Harus Bikin Orang Menderita Reviewed by banyu bening Ajibarang on 9/18/2026 02:38:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list