Manusia Modern: Sudah Bebas, Tapi Bingung Mau ke Mana

Ada satu prestasi besar manusia modern yang patut kita rayakan: ia sudah bebas.

Bebas dari tradisi.
Bebas dari Tuhan.
Bebas dari metafisika.
Bebas dari nilai-nilai lama.
Bahkan, kalau perlu, bebas dari nasihat orang tua.

Pokoknya bebas.

Masalahnya cuma satu: setelah bebas, dia tidak tahu mau ke mana.

Inilah salah satu kegelisahan yang terasa dalam kritik François Cheng dalam De l’âme. Manusia modern, dalam gambaran Cheng, adalah manusia yang merasa sudah “kembali dari segalanya”. Ia sudah mencoba segala macam gagasan, membongkar segala macam keyakinan, mencurigai semua tradisi, lalu akhirnya sampai pada kesimpulan yang sangat modern:

“Saya percaya pada diri saya sendiri.”

Kalimat ini terdengar gagah.

Tetapi ada pertanyaan kecil yang mengganggu:

“Diri sendiri yang mana?”

Sebab kalau setiap pagi kita bangun dengan nilai yang kita ciptakan sendiri, setiap siang mengubahnya karena algoritma media sosial, dan setiap malam menggantinya lagi karena membaca kutipan filsafat yang sedang viral, kita mungkin memang bebas.

Tetapi kita juga mungkin sedang sedikit kebingungan.

Kebebasan: Indah di Poster, Melelahkan dalam Praktik

Manusia modern sangat menyukai kata “kebebasan”.

Ia bisa dipasang di poster. Bisa dijadikan slogan. Bisa ditulis dengan huruf kapital. Bahkan bisa dibuat menjadi bio media sosial:

FREE SPIRIT.

Biasanya setelah itu orang tersebut mencantumkan dua puluh aturan tentang bagaimana orang lain tidak boleh berkomentar terhadap hidupnya.

Kebebasan memang indah kalau dibicarakan.

Tetapi kebebasan memiliki sisi yang jarang masuk poster motivasi: tanggung jawab.

Kalau tidak ada Tuhan, tradisi, norma, atau nilai yang dianggap mengikat, maka keputusan sepenuhnya berada di tangan kita.

Mau memilih apa?

Kita sendiri.

Mau percaya apa?

Kita sendiri.

Mau menentukan benar dan salah?

Kita sendiri.

Mau hidup untuk apa?

Nah.

Di sinilah mulai agak gelap.

Sebab manusia ternyata lebih mudah menentukan apa yang diinginkan daripada menjawab mengapa sesuatu layak diinginkan.

Kita bisa membeli mobil.

Tetapi belum tentu tahu mengapa kita membutuhkan mobil itu.

Kita bisa mengejar jabatan.

Tetapi belum tentu tahu mengapa jabatan itu penting.

Kita bisa mengumpulkan uang.

Tetapi setelah uang terkumpul, kita sering bertanya kepada Google:

“Cara mencari kebahagiaan setelah kaya.”

Mesin pencari pun akhirnya ikut bingung.

Raja Kecil di Tengah Alam Semesta

Cheng menangkap paradoks yang menarik.

Manusia modern ingin menjadi pusat bagi dirinya sendiri.

Ia tidak mau diperintah oleh sesuatu yang lebih tinggi darinya. Ia ingin menjadi penentu nilai. Alam harus tunduk kepada kebutuhannya. Teknologi harus mempermudah hidupnya. Dunia harus menyesuaikan diri dengan keinginannya.

Ia ingin menjadi raja.

Masalahnya, kerajaan itu cuma berisi satu orang.

Dan yang lebih menyedihkan, rakyatnya juga tidak ada.

Inilah ironi manusia modern: ia berhasil menjadi penguasa atas dirinya sendiri, tetapi kehilangan kerajaan tempat dirinya merasa menjadi bagian.

Dulu manusia bisa melihat langit dan merasa kecil.

Sekarang ia melihat langit sambil berpikir:

“Apakah Wi-Fi sampai sini?”

Dulu manusia melihat gunung sebagai sesuatu yang agung.

Sekarang ia melihat gunung dan bertanya:

“Spot foto bagus nggak?”

Alam yang dahulu dipandang sebagai sesuatu yang penuh misteri perlahan berubah menjadi katalog konsumsi.

Gunung menjadi destinasi.

Laut menjadi konten.

Hutan menjadi resort.

Matahari terbenam menjadi bahan caption.

Bahkan kesendirian pun sekarang bisa diproduksi menjadi konten:

“Healing sendirian di tempat yang tidak diketahui siapa pun.”

Kemudian lokasi tempat healing itu diberi tag.

Supaya semua orang tahu.

Manusia yang Putus dari Akarnya

Bagi Cheng, masalah manusia modern bukan hanya bahwa ia kehilangan keyakinan.

Masalahnya adalah ia juga kehilangan akar.

Memori yang dimaksud Cheng bukan sekadar kenangan masa kecil atau foto lama di album keluarga. Memori adalah hubungan manusia dengan sejarah, kebudayaan, tradisi, leluhur, bahasa, seni, dan pengalaman spiritual yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Manusia modern kadang menganggap semua itu sebagai barang antik.

“Tradisi? Kuno.”

“Nilai lama? Tidak relevan.”

“Nasihat orang tua? Generasi mereka berbeda.”

“Filsafat? Terlalu berat.”

Tetapi setelah semua dibuang, ia tiba-tiba bertanya:

“Kenapa hidup saya terasa kosong?”

Ya, karena ruang tamunya sudah dibersihkan.

Sampai tidak ada furnitur.

Kemudian ia menyalahkan ruang tamu.

Kita memang perlu mengkritik tradisi. Tidak semua warisan masa lalu harus diterima mentah-mentah. Tetapi membuang semua akar karena beberapa cabangnya bermasalah juga bukan tanda kemajuan.

Pohon yang terlalu sibuk membuktikan bahwa dirinya bebas dari tanah akhirnya memiliki masalah yang sangat sederhana:

Ia tumbang.

Transendensi: Barang yang Dianggap Tidak Perlu

Hal lain yang hilang menurut Cheng adalah transendensi.

Ini bagian yang agak merepotkan bagi manusia modern.

Sebab transendensi mengingatkan kita bahwa hidup mungkin tidak berhenti pada apa yang bisa dihitung, dibeli, dipamerkan, atau diunggah.

Ada sesuatu yang lebih besar daripada ego.

Ada sesuatu yang tidak bisa dimasukkan ke spreadsheet.

Ada sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan kartu kredit.

Ada sesuatu yang tidak bisa diselesaikan dengan produktivitas.

Dan bagi Cheng, hubungan dengan yang melampaui diri itu penting agar manusia tidak terkurung di dalam dirinya sendiri.

Sebab kalau satu-satunya dunia yang kita akui adalah dunia ego, maka ego akan menjadi alam semesta.

Masalahnya, ego adalah alam semesta yang sangat kecil.

Ia hanya berisi:

saya, saya, saya, dan notifikasi tentang saya.

Dari Relativisme ke “Ya Sudahlah”

Cheng juga mengingatkan tentang perjalanan yang agak berbahaya:

relativisme → sinisme → nihilisme.

Awalnya terdengar sangat intelektual.

“Tidak ada kebenaran tunggal.”

Kalimat ini bisa menjadi awal diskusi filsafat yang menarik.

Tetapi kalau tidak hati-hati, beberapa langkah kemudian kita sampai pada:

“Ya sudahlah, semua sama.”

Lalu berkembang menjadi:

“Ngapain dipikirin?”

Dan akhirnya:

“Yang penting saya.”

Ini bukan lagi kebebasan intelektual.

Ini sudah menjadi semacam kemalasan metafisik.

Sebab kalau semua nilai dianggap sama, kita tidak perlu repot membedakan antara yang luhur dan yang rendah, antara keadilan dan kesewenang-wenangan, antara pengorbanan dan egoisme.

Semuanya cukup diberi label:

“Itu kan perspektif.”

Kalimat ini sangat praktis.

Koruptor punya perspektif.

Orang jujur punya perspektif.

Penipu punya perspektif.

Korban penipuan juga punya perspektif.

Pada akhirnya kita tinggal berkata:

“Semua perspektif.”

Selesai.

Tidak perlu berpikir lagi.

Nietzsche Pun Bisa Salah Paham

Cheng memakai istilah Nietzsche, volonté de puissance—kehendak kuasa.

Tetapi ada ironi menarik di sini.

Di media sosial, Nietzsche sering dijadikan semacam vending machine kebijaksanaan.

Masukkan persoalan hidup.

Keluar kutipan Nietzsche.

Putus cinta?

Nietzsche.

Kesepian?

Nietzsche.

Dimarahi atasan?

Nietzsche.

Tidak dibalas WhatsApp?

Nietzsche.

Padahal gagasan Nietzsche jauh lebih rumit daripada sekadar “jadilah kuat dan jangan pedulikan orang lain”.

Kehendak kuasa bukan berarti manusia harus menjadi monster yang menginjak semua orang.

Namun dalam kehidupan modern, gagasan tentang kekuatan kadang menyusut menjadi:

“Saya melakukan apa yang saya mau karena saya bebas.”

Ini bukan filsafat.

Ini anak kecil yang baru mendapatkan remote televisi.

Teknologi Bertambah, Kebingungan Juga Bertambah

Manusia modern sebenarnya memiliki segala sesuatu yang dulu diimpikan manusia.

Informasi ada di ujung jari.

Kita bisa membaca buku tanpa pergi ke perpustakaan.

Bisa melihat dunia tanpa meninggalkan rumah.

Bisa berbicara dengan orang di benua lain.

Bisa mengetahui cuaca di tempat yang bahkan tidak tahu kita ada.

Tetapi anehnya, semakin banyak informasi yang kita miliki, semakin sering kita bertanya:

“Sebenarnya saya hidup untuk apa?”

Internet dapat menjawab hampir semua pertanyaan faktual.

Tetapi ia tidak otomatis menjawab pertanyaan tentang makna.

Google bisa memberi tahu kita berapa kilometer jarak Jakarta ke Paris.

Tetapi Google tidak bisa memastikan apakah perjalanan hidup kita sedang menuju tempat yang benar.

GPS bisa berkata:

“Belok kiri 300 meter lagi.”

Tetapi tidak pernah berkata:

“Sebaiknya pikirkan kembali tujuan hidup Anda.”

Mungkin karena algoritma pun takut kehilangan pekerjaan.

Kesepian di Tengah Keramaian

Inilah bagian paling menyakitkan dari kritik Cheng.

Manusia modern tidak benar-benar sendirian.

Ia justru dikelilingi manusia.

Ada jutaan pengguna media sosial.

Ada grup keluarga.

Grup kantor.

Grup alumni.

Grup pengajian.

Grup komunitas.

Grup yang tidak pernah dibaca tetapi tidak berani ditinggalkan.

Namun seseorang masih bisa merasa sangat kesepian.

Mengapa?

Karena koneksi tidak sama dengan keterhubungan.

Kita bisa memiliki lima ribu teman di Facebook dan tidak memiliki satu pun orang yang bisa kita telepon ketika hidup terasa runtuh.

Kita bisa mendapatkan seratus komentar:

“Semangat!”

Tetapi tetap merasa tidak ada yang benar-benar memahami kita.

Manusia modern mungkin bukan kekurangan koneksi.

Ia kekurangan makna hubungan.

François Cheng dan Ajakan untuk Pulang

Karena itu, kritik Cheng sebenarnya bukan ajakan untuk kembali menjadi manusia abad pertengahan.

Ia tidak mengatakan bahwa kita harus membuang teknologi, menolak ilmu pengetahuan, atau memusuhi kebebasan.

Yang dipersoalkan adalah ketika kebebasan kehilangan orientasi.

Manusia boleh bebas.

Tetapi kebebasan membutuhkan pertanyaan:

Bebas untuk apa?

Manusia boleh menentukan hidupnya sendiri.

Tetapi ia perlu bertanya:

Hidup seperti apa yang layak dijalani?

Manusia boleh menolak tradisi.

Tetapi sebaiknya bertanya:

Apa yang sedang saya tolak, dan apa yang akan menggantikannya?

Manusia boleh mengatakan bahwa dirinya tidak percaya pada apa pun.

Tetapi suatu hari ia mungkin menemukan bahwa manusia ternyata tidak bisa hidup tanpa mempercayai sesuatu.

Kalau bukan Tuhan, mungkin uang.

Kalau bukan agama, mungkin ideologi.

Kalau bukan tradisi, mungkin algoritma.

Kalau bukan kitab suci, mungkin komentar netizen.

Manusia selalu membutuhkan sesuatu yang dianggap lebih besar daripada dirinya.

Pertanyaannya hanya:

Apa yang dipilihnya?

Kebebasan yang Tidak Kesepian

Mungkin di sinilah pesan paling menarik dari Cheng.

Persoalannya bukan kebebasan.

Persoalannya adalah kebebasan yang terputus dari akar, memori, hubungan, dan transendensi.

Kebebasan seperti itu memang bisa terasa sangat hebat.

Kita bisa berkata:

“Tidak ada yang mengatur saya.”

Tetapi setelah mengatakan itu, kita mungkin duduk sendirian di kamar dan bertanya:

“Lalu siapa yang memberi tahu saya harus hidup untuk apa?”

Itulah paradoks manusia modern.

Ia berhasil membebaskan diri dari banyak ikatan, tetapi kemudian sibuk mencari sesuatu untuk mengikat hidupnya kembali pada makna.

Maka mungkin manusia tidak membutuhkan lebih banyak kebebasan tanpa batas.

Ia membutuhkan kebebasan yang berakar.

Kebebasan untuk memilih, tetapi juga keberanian untuk bertanggung jawab.

Kebebasan untuk berpikir, tetapi juga kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita tidak mengetahui semuanya.

Kebebasan untuk meninggalkan sesuatu, tetapi juga kebijaksanaan untuk mengetahui apa yang layak dipertahankan.

Dan mungkin yang paling penting:

kebebasan untuk menjadi diri sendiri tanpa harus menjadi satu-satunya pusat alam semesta.

Sebab menjadi pusat alam semesta ternyata pekerjaan yang sangat melelahkan.

Semua harus dipikirkan sendiri.

Semua nilai harus dibuat sendiri.

Semua keputusan harus dipertanggungjawabkan sendiri.

Dan tidak ada yang bisa disalahkan ketika semuanya berantakan.

Barangkali itu sebabnya manusia modern begitu sibuk.

Ia sedang mencoba mengelola sebuah kerajaan yang bernama “Aku”.

Sayangnya, rajanya cuma satu.

Rakyatnya tidak ada.

Dan di luar istana, alam semesta terus berjalan tanpa peduli.

Mungkin karena itu, sesekali kita perlu keluar dari istana ego.

Mengingat dari mana kita berasal.

Mengingat siapa yang datang sebelum kita.

Mengingat bahwa dunia tidak dimulai ketika kita lahir dan tidak akan selesai ketika kita mati.

Dan, kalau memungkinkan, menatap langit tanpa buru-buru mengambil foto.

Sebab mungkin ada saatnya manusia tidak perlu bertanya:

“Apa yang bisa saya kuasai?”

Melainkan:

“Dengan siapa saya terhubung, dari mana saya berasal, dan untuk apa saya hidup?”

Pertanyaan itu mungkin tidak membuat kita lebih berkuasa.

Tetapi setidaknya membuat kita tidak menjadi raja yang kesepian di kerajaan yang bahkan tidak pernah ada.

abah-arul.blogspot.com., September 2026

Manusia Modern: Sudah Bebas, Tapi Bingung Mau ke Mana Manusia Modern: Sudah Bebas, Tapi Bingung Mau ke Mana Reviewed by banyu bening Ajibarang on 9/21/2026 02:22:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Recent in Health

3/Health/post-list