Pesantren: Benteng Islam, Bukan Benteng yang Takut Wi-Fi
Ada sebuah istilah yang menarik untuk menggambarkan pesantren: al-hisnul hasin—benteng yang kokoh.
Istilah ini terdengar gagah. Membayangkan pesantren sebagai benteng, kita mungkin membayangkan tembok tinggi, pintu gerbang besar, penjaga bersarung, dan sebuah papan bertuliskan:
“Yang Tidak Punya Adab, Harap Putar Balik.”
Tetapi pesantren zaman sekarang menghadapi musuh yang tidak datang membawa meriam. Musuhnya datang membawa Wi-Fi.
Ia masuk melalui telepon genggam.
Namanya: hoaks, fitnah, adu domba, kecanduan viral, FOMO, dan segala macam informasi yang membuat orang merasa harus berkomentar meskipun belum membaca.
Maka tantangan pesantren hari ini agak unik. Dulu menjaga benteng berarti menjaga pintu. Sekarang menjaga benteng berarti juga menjaga jempol santri.
Sebab kadang-kadang yang paling berbahaya bukan orang yang membawa senjata, melainkan orang yang membawa ponsel dengan kuota penuh dan kesimpulan yang setengah matang.
Pesantren Bukan Sekadar Sekolah
Dalam sebuah pidato tentang transformasi pesantren, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj menggambarkan pesantren sebagai salah satu benteng penting Islam di Indonesia.
Pesantren memang berbeda dengan sekolah biasa.
Sekolah bisa mengajarkan matematika.
Pesantren juga bisa mengajarkan matematika, tetapi santri sekaligus belajar bahwa hidup tidak selalu bisa dihitung dengan kalkulator.
Sekolah mengajarkan ilmu.
Pesantren mengajarkan ilmu sekaligus bagaimana membawa ilmu itu dalam kehidupan.
Di pesantren, ilmu tidak berhenti pada ijazah. Ada adab, keteladanan, kesederhanaan, keikhlasan, dan hubungan guru-murid yang dibangun dalam waktu panjang.
Karena itu, ukuran keberhasilan santri tidak selalu:
“Setelah lulus gajinya berapa?”
Ada pertanyaan yang lebih klasik:
“Setelah berilmu, akhlaknya bagaimana?”
Ini penting, sebab manusia modern kadang terlalu sibuk menghitung pendapatan sampai lupa menghitung kebermanfaatan.
Gaji memang penting.
Tetapi kalau gaji naik, sementara ego ikut naik, mungkin yang bertambah bukan kesejahteraan, melainkan masalah baru.
Al-Azhar Hebat, Pesantren Juga Punya Kehebatan Sendiri
Lembaga-lembaga pendidikan Islam besar seperti Al-Azhar dan Qarawiyyin memiliki sejarah dan reputasi akademik yang luar biasa.
Pesantren tidak perlu minder.
Sebab kekuatan pesantren memang tidak selalu berada pada gedung megah, laboratorium ber-AC, atau brosur penerimaan santri yang desainnya seperti iklan apartemen.
Kekuatan pesantren ada pada tradisi hidupnya.
Santri belajar dari kitab, tetapi juga belajar dari perilaku kiai.
Belajar tentang tawadhu, tetapi sekaligus mengalami sendiri bagaimana rasanya hidup sederhana.
Belajar ikhlas, meskipun mungkin pada awalnya ikhlasnya masih harus dibantu oleh jadwal piket.
Belajar mandiri, mulai dari mencuci pakaian sendiri sampai mengatur kehidupan bersama ratusan orang yang kebiasaan tidurnya berbeda-beda.
Itulah pendidikan yang tidak selalu masuk dalam rapor.
Tidak ada kolom:
“Mampu bersabar menghadapi teman sekamar: 87.”
Padahal justru kemampuan seperti itu yang sering menjadi ujian hidup sebenarnya.
Modal Sosial: Satu Santri Bisa Membawa Satu Keluarga
Pesantren juga memiliki kekuatan yang luar biasa: modal sosial.
Hubungan santri dengan kiai tidak berhenti ketika santri pulang.
Santri bisa membawa orang tua.
Orang tua membawa saudara.
Saudara membawa mertua.
Mertua membawa tetangga.
Tetangga membawa grup WhatsApp.
Akhirnya satu santri bisa menjadi jaringan sosial yang panjangnya melebihi kabel charger.
Fenomena jaringan alumni pesantren menunjukkan bahwa pesantren sebenarnya mempunyai aset sosial yang luar biasa besar.
Masalahnya, aset tersebut kadang belum dikelola secara optimal.
Jaringan alumni ada.
Organisasi alumni ada.
Pertemuan ada.
Foto bersama juga ada.
Yang kadang belum ada adalah database yang rapi dan program yang benar-benar terintegrasi.
Padahal kalau jaringan santri dikelola secara profesional, ia bisa menjadi kekuatan ekonomi, pendidikan, sosial, bahkan dakwah.
Jadi, jangan sampai alumni pesantren hanya aktif ketika ada undangan haul.
Setelah itu menghilang seperti sinyal di pelosok.
Modal Budaya: Kitab Kuning dan Syair yang Tidak Kalah dengan PowerPoint
Pesantren juga memiliki modal budaya yang luar biasa.
Ada tradisi membaca kitab, menghafal bait, berdiskusi, berdebat dalam forum ilmiah, dan memahami pemikiran ulama dari generasi ke generasi.
Bahkan konsep-konsep filsafat yang rumit seperti Maqulat al-'Asyarah—sepuluh kategori dalam tradisi Aristotelian—dapat dipelajari melalui bait-bait yang dihafalkan.
Ini sebenarnya metode pembelajaran yang sangat canggih.
Zaman sekarang orang menghafal password Wi-Fi saja bisa lupa.
Santri dahulu menghafal bait panjang.
Bedanya, password Wi-Fi biasanya tidak membawa kita kepada kebijaksanaan.
Kitab kuning, kalau dipahami dengan benar, bisa.
Begitu pula pembahasan tentang jihad.
Jihad dalam tradisi keilmuan tidak semestinya dipersempit menjadi urusan perang. Ada jihad intelektual, jihad menegakkan nilai agama, dan perjuangan melindungi kehidupan masyarakat.
Dalam konteks sosial, perjuangan menyediakan pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan juga merupakan bagian penting dari pengabdian.
Dengan demikian, jihad tidak menjadi slogan yang membuat orang marah-marah, tetapi energi untuk membangun kehidupan.
Ini penting sekali di zaman ketika satu kata bisa dipotong dari satu menit video, lalu dijadikan bahan perang komentar selama tiga hari.
Sarung, Kopiah, Bedug, dan Tradisi yang Tidak Perlu Di-upgrade Menjadi iPhone
Pesantren juga mempunyai kekayaan budaya yang kadang dianggap sederhana: sarung, kopiah, bedug, Barzanji, silaturahim, hadiah Al-Fatihah, penghormatan kepada kiai, dan berbagai tradisi keagamaan masyarakat.
Semua itu merupakan bagian dari identitas Islam Nusantara.
Tentu tradisi harus terus dikaji. Tidak semua kebiasaan otomatis menjadi ajaran agama.
Tetapi jangan pula setiap tradisi dianggap kuno hanya karena tidak memiliki tombol update.
Tidak semua yang lama harus dibuang.
Kalau begitu, kitab-kitab klasik sudah lama masuk tong sampah hanya karena tidak tersedia dalam format PDF.
Yang diperlukan bukan membuang tradisi, melainkan memahami mana substansi dan mana bentuknya.
Tradisi yang baik bisa menjadi jembatan antara agama dan kebudayaan.
Dan justru di situlah salah satu kekuatan pesantren: agama tidak hanya diajarkan sebagai teori, tetapi dihidupkan dalam kebiasaan masyarakat.
Masalah Pesantren: Spiritual Kaya, Rekening Kadang Bersahaja
Tetapi benteng juga membutuhkan biaya untuk dirawat.
Inilah bagian yang sering kurang romantis.
Pesantren membutuhkan uang.
Atap bocor tidak bisa diperbaiki dengan doa saja.
Doa penting.
Tetapi tukang bangunan juga perlu dibayar.
Kitab perlu dibeli.
Dapur perlu beras.
Kamar mandi perlu air.
Komputer perlu listrik.
Server perlu internet.
Dan internet, sebagaimana kita tahu, tidak menerima pembayaran dengan senyum.
Di sinilah persoalan modal finansial menjadi penting.
Pesantren memiliki modal spiritual dan sosial yang besar, tetapi sebagian masih menghadapi keterbatasan ekonomi.
Maka transformasi pesantren juga perlu menyentuh kewirausahaan, manajemen, profesionalisme, teknologi finansial, koperasi, pendidikan vokasi, dan pengembangan ekonomi produktif.
Bukan berarti pesantren harus berubah menjadi perusahaan.
Tetapi pesantren perlu memahami bahwa mengelola uang dengan baik bukan berarti materialistis.
Uang adalah alat.
Yang berbahaya bukan uangnya.
Yang berbahaya kalau uang sudah menjadi kiblat.
Politik: Pesantren Tidak Boleh Naif, Tetapi Jangan Pula Menjadi Licik
Persoalan lain adalah politik.
Pesantren tidak bisa sepenuhnya menghindari kehidupan politik karena pesantren juga bagian dari masyarakat.
Tetapi politik praktis memiliki dunia yang kadang berbeda dengan etika pesantren.
Di pesantren, orang diajarkan menjaga lisan.
Di politik, kadang lisan justru menjadi senjata.
Di pesantren, orang diajarkan menghindari gibah.
Di media sosial politik, gibah bisa mendapatkan ribuan like.
Di pesantren, orang belajar mencari kebenaran.
Di internet, orang kadang lebih sibuk mencari kelemahan lawan.
Karena itu, tantangannya bukan membuat pesantren menjadi jago politik dalam arti pandai memainkan segala taktik.
Tantangannya adalah bagaimana pesantren dapat berperan dalam kehidupan publik tanpa kehilangan adab.
Pesantren tidak harus menjadi naif.
Tetapi juga tidak perlu belajar licik hanya supaya dianggap modern.
Kemudian Datanglah AI
Kalau dulu santri takut tidak hafal pelajaran, sekarang ada masalah baru:
AI bisa membantu menjawab pertanyaan.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi:
“Apakah mesin bisa menjawab?”
Tetapi:
“Apakah manusia tahu kapan jawaban mesin harus dipercaya dan kapan harus diperiksa?”
Ini tantangan besar.
AI bisa membantu menerjemahkan kitab.
Bisa membantu membuat rangkuman.
Bisa membantu menyusun materi.
Bisa membantu administrasi pesantren.
Tetapi AI juga bisa menghasilkan informasi yang keliru dengan wajah yang sangat meyakinkan.
Itulah masalahnya.
Kebohongan manusia kadang terlihat gugup.
Kebohongan mesin bisa tampil dengan tata bahasa yang sangat rapi.
Maka pesantren tidak cukup hanya belajar menggunakan AI.
Pesantren juga perlu mengajarkan adab digital, literasi informasi, verifikasi, berpikir kritis, dan tanggung jawab dalam menyebarkan informasi.
Santri perlu menjadi manusia yang mampu memakai teknologi tanpa diperbudak teknologi.
Jangan sampai santri menguasai AI, tetapi AI yang akhirnya menguasai santri.
Ulama Dahulu Tidak Anti terhadap Hal Baru
Menariknya, tradisi Islam sendiri mempunyai sejarah panjang dalam menyerap ilmu dan teknologi dari berbagai peradaban.
Hal-hal yang datang dari luar tidak otomatis ditolak.
Yang baik diambil.
Yang tidak sesuai ditinggalkan.
Prinsipnya sederhana:
ambil manfaatnya, jangan kehilangan jati dirinya.
Inilah sikap yang sangat diperlukan pesantren menghadapi globalisasi.
Tidak perlu menjadi alergi terhadap teknologi.
Tetapi jangan pula setiap teknologi baru dianggap sebagai wahyu kedua.
Hari ini ada AI.
Besok mungkin ada teknologi yang lebih canggih.
Lusa mungkin ada sesuatu yang membuat kita bertanya:
“Ini sebenarnya manusia yang menggunakan mesin, atau mesin yang sedang menggunakan manusia?”
Pesantren harus siap menghadapi semuanya.
Benteng yang Sehat Bukan Benteng yang Menutup Semua Pintu
Pada akhirnya, pesantren sebagai benteng tidak berarti pesantren harus menutup semua pintu.
Benteng yang terlalu tertutup memang sulit diserang.
Tetapi juga sulit mendapatkan udara.
Pesantren membutuhkan pintu yang terbuka untuk ilmu, teknologi, ekonomi, dan perkembangan zaman.
Namun pintu itu membutuhkan penjaga.
Penjaganya adalah nilai, adab, tradisi keilmuan, dan prinsip agama.
Transformasi pesantren karena itu bukan berarti mengganti sarung dengan jas, kitab dengan tablet, atau mengubah kiai menjadi CEO.
Transformasi adalah membuat pesantren tetap menjadi pesantren sambil mampu menghadapi dunia yang berubah.
Santri boleh belajar coding.
Boleh belajar AI.
Boleh menjadi pengusaha.
Boleh menjadi ilmuwan.
Boleh masuk dunia profesional.
Tetapi jangan sampai setelah menguasai teknologi, ia kehilangan kemampuan sederhana untuk menghormati guru, menghargai orang lain, dan mengatakan:
“Saya belum tahu.”
Sebab mungkin itulah salah satu bentuk kecerdasan paling langka di zaman internet.
Pesantren memiliki modal sosial.
Memiliki modal budaya.
Memiliki modal spiritual.
Yang perlu diperkuat adalah modal ekonomi, tata kelola, kemampuan menghadapi ruang publik, dan literasi teknologi.
Jadi, benteng Islam Nusantara tidak harus menjadi benteng tua yang sibuk mempertahankan tembok.
Ia bisa menjadi benteng modern dengan pintu terbuka, Wi-Fi kencang, perpustakaan hidup, ekonomi sehat, santri melek teknologi, tetapi akhlaknya tetap offline dari kesombongan.
Sebab dunia boleh berubah.
Teknologi boleh berubah.
Algoritma boleh berubah.
Tetapi kalau pesantren berhasil menjaga ruh keilmuannya, adabnya, dan kemanusiaannya, maka ada satu hal yang tidak perlu di-update:
menjadi manusia yang baik.
abah-arul.blogspot.com., September 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
9/29/2026 02:50:00 AM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.