Hak Tidak Diberikan, Katanya—Tapi Tolong Jangan Lupa Ambil Nomor Antrean
Ada satu kalimat yang sangat disukai manusia ketika sedang merasa tertindas:
“Hak tidak diberikan, melainkan direbut.”
Kalimat seperti ini memang terdengar gagah. Ia membuat dada mengembang, alis mengerut, dan jempol otomatis mencari tombol repost. Apalagi kalau di bawahnya tercantum nama Noam Chomsky. Mendadak sebuah kalimat yang tadi kita baca sambil rebahan menjadi seperti kuliah politik di universitas.
Akun @WorldWAdab pada 23 September 2026 mengunggah kutipan berbahasa Arab:
«من أكثر دروس التاريخ وضوحًا؛ أنَّ الحقوق لا تُعطى، بل تؤخذ بالقوّة.»
Kurang lebih: “Salah satu pelajaran sejarah yang paling jelas adalah bahwa hak tidak diberikan, melainkan diambil dengan kekuatan.”
Kalimatnya pendek. Napas membacanya pendek. Tetapi akibatnya panjang.
Sebab setelah membaca kalimat itu, kita mulai memandang kehidupan dengan kecurigaan baru. Ketika menerima pelayanan publik yang baik, kita bertanya: “Ini hak saya atau sedang dikasihani?”
Ketika gaji naik, kita bertanya: “Ini hasil perjuangan atau kemurahan hati?”
Bahkan ketika tetangga meminjamkan kursi, kita mungkin mulai curiga: “Apakah kursi ini diberikan atau berhasil saya rebut melalui diplomasi?”
Begitulah bahayanya kutipan politik. Ia bisa membuat orang melihat struktur kekuasaan bahkan di antara dua kursi plastik.
Penguasa dan Penyakit Memberi
Gagasan dasarnya cukup serius.
Dalam sejarah, penguasa memang tidak selalu terkenal karena kegemarannya membagikan kekuasaan. Ada alasan sederhana: kekuasaan itu enak.
Sulit membayangkan seorang penguasa duduk sendirian pada malam hari sambil berkata:
“Sudah terlalu lama saya menikmati privilese. Besok pagi sebaiknya saya bagikan kepada rakyat.”
Itu bukan mustahil. Tetapi jangan terlalu cepat berharap. Sejarah biasanya meminta kita menyediakan bukti.
Sebab ketika seseorang sudah memiliki kekuasaan, kecenderungannya adalah mempertahankan kekuasaan tersebut. Kalau kekuasaan bisa dipertahankan dengan aturan, aturan dipakai. Kalau dengan birokrasi, birokrasi dipakai. Kalau dengan pidato, pidato dipakai. Dan kalau semuanya gagal, biasanya muncul kalimat sakti:
“Demi stabilitas.”
Kata “stabilitas” dalam politik memang menarik. Ia bisa berarti keadaan yang tertib. Tetapi kadang-kadang ia juga berarti: tolong jangan banyak bertanya.
Karena itu, sejarah hak-hak sipil, hak buruh, hak perempuan, kebebasan berbicara, dan berbagai bentuk kebebasan lainnya memang menunjukkan satu hal penting: perubahan sering membutuhkan tekanan dari masyarakat.
Bukan karena penguasa selalu jahat.
Melainkan karena manusia yang sudah nyaman biasanya membutuhkan alasan yang cukup kuat untuk mengubah posisi duduknya.
“Direbut” Tidak Selalu Berarti Mengangkat Kursi dan Membawanya Pulang
Namun di sinilah kita perlu berhenti sebentar.
Kata “direbut” terdengar sangat heroik. Tetapi jangan buru-buru membayangkan revolusi, barikade, dan seseorang berdiri di atas meja sambil berteriak.
Kekuatan tidak selalu berarti kekerasan.
Kekuatan bisa berupa organisasi.
Bisa berupa serikat pekerja.
Bisa berupa pendidikan.
Bisa berupa gerakan sosial.
Bisa berupa demonstrasi damai.
Bisa berupa tekanan hukum.
Bisa berupa solidaritas.
Bisa juga berupa masyarakat yang akhirnya berkata:
“Tidak. Kami tidak setuju.”
Kalimat terakhir ini kelihatannya sederhana, tetapi dalam sejarah politik, “tidak” yang diucapkan bersama-sama bisa menjadi jauh lebih kuat daripada seribu orang yang menggerutu sendirian di grup WhatsApp.
Masalahnya, manusia modern kadang sudah merasa melakukan perjuangan politik hanya karena menulis komentar panjang dengan huruf kapital.
“KAMI MENUNTUT KEADILAN!!!”
Lalu setelah mengirim komentar, ia tidur.
Perjuangan selesai.
Minimal sampai baterai ponsel habis.
Hak Memang Tidak Gratis, Tetapi Tidak Semua Perjuangan Harus Berdarah
Ada bagian lain yang perlu kita perhatikan.
Kalimat “hak tidak diberikan, melainkan direbut dengan kekuatan” sangat kuat secara retoris. Tetapi kalau dibaca sebagai hukum sejarah yang mutlak, ia menjadi terlalu sederhana.
Sebab sejarah manusia tidak hanya terdiri dari revolusi.
Ada negosiasi.
Ada reformasi.
Ada perubahan hukum.
Ada kampanye pendidikan.
Ada perubahan kebudayaan.
Ada pengorganisasian masyarakat.
Ada tekanan ekonomi.
Ada litigasi.
Ada perubahan opini publik.
Bahkan ada penguasa yang pada titik tertentu menyadari bahwa mempertahankan suatu kebijakan lama justru lebih mahal daripada mengubahnya.
Jadi persoalannya bukan sekadar:
“Apakah hak diberikan atau direbut?”
Pertanyaan yang lebih menarik adalah:
“Kekuatan macam apa yang membuat hak itu akhirnya diakui?”
Sebab demokrasi juga mengenal kekuatan yang tidak berbentuk tinju.
Suara adalah kekuatan.
Organisasi adalah kekuatan.
Pengetahuan adalah kekuatan.
Solidaritas adalah kekuatan.
Dan kemampuan masyarakat untuk tidak mudah dibohongi juga merupakan kekuatan yang cukup merepotkan bagi siapa pun yang ingin memonopoli kebenaran.
Jangan Menunggu Hak Seperti Menunggu Paket
Pelajaran paling menarik dari kutipan ini mungkin bukan ajakan untuk menjadi keras.
Melainkan ajakan untuk tidak pasif.
Hak tidak selalu datang mengetuk pintu rumah sambil berkata:
“Permisi, saya hak Anda. Saya datang sendiri.”
Sering kali masyarakat harus memperjuangkannya.
Tetapi memperjuangkan hak tidak berarti setiap persoalan harus diselesaikan dengan amarah. Justru perjuangan yang matang membutuhkan organisasi, strategi, kesabaran, pengetahuan, dan kemampuan membedakan antara keberanian dengan sekadar emosi yang memakai jaket kulit.
Di sinilah kita bisa membaca pesan kutipan tersebut secara lebih dewasa.
Hak memang membutuhkan perjuangan. Tetapi perjuangan tidak identik dengan kekerasan.
Dan kekuatan tidak selalu berbunyi keras.
Kadang-kadang kekuatan adalah ribuan orang yang sabar mengorganisasi diri.
Kadang-kadang kekuatan adalah seseorang yang berani mengatakan “tidak”.
Kadang-kadang kekuatan adalah masyarakat yang terus bertanya ketika semua orang diminta diam.
Dan kadang-kadang kekuatan paling besar adalah kemampuan untuk memeriksa sumber kutipan sebelum ikut menyebarkannya.
Sebab kalau kita sedang memperjuangkan hak atas kebenaran, jangan sampai kita sendiri mengambil hak orang lain atas atribusi yang benar.
Pada Akhirnya
Kutipan yang diunggah @WorldWAdab menarik bukan hanya karena isinya, tetapi juga karena perjalanan gagasannya.
Ia mengingatkan bahwa kekuasaan jarang berubah hanya karena masyarakat berharap dengan sangat sopan.
Tetapi ia juga mengingatkan kita agar tidak menyederhanakan sejarah menjadi satu formula:
hak = kekuatan + keberanian + revolusi.
Sejarah jauh lebih cerewet daripada itu.
Hak bisa lahir dari perjuangan panjang, organisasi, tekanan publik, perubahan hukum, negosiasi, pendidikan, solidaritas, dan berbagai bentuk tindakan kolektif.
Sedangkan soal apakah kalimat itu benar-benar milik Chomsky, kita sebaiknya mengikuti prinsip yang agak tidak populer di media sosial:
cek dulu sebelum kagum.
Karena di internet, sebuah kutipan bisa kehilangan sumbernya jauh lebih cepat daripada kehilangan tanda petiknya.
Dan akhirnya kita sampai pada kesimpulan yang mungkin lebih berguna daripada kutipan itu sendiri:
Hak memang tidak selalu diberikan. Ia harus diperjuangkan.
Tetapi sebelum memperjuangkan hak dengan penuh semangat, ada satu hak intelektual yang jangan kita abaikan:
hak untuk mengetahui siapa sebenarnya yang mengatakan sesuatu.
Sebab kalau hak atas kebenaran saja kita serahkan begitu saja kepada algoritma, jangan heran kalau suatu hari algoritma mengutip kalimat kita sendiri—lalu menuliskannya di bawah nama Nietzsche.
abah-arul.blogspot.com., September 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
9/24/2026 01:48:00 PM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.