Belajar Sampai Dunia Berantakan
Benteng Terakhir Manusia Menurut Marguerite Yourcenar
Ada orang kalau sedang galau, belajar. Ada yang kalau sedang galau, makan. Ada yang lebih modern: membuat story dengan latar langit mendung, menambahkan lagu sedih, lalu menunggu seseorang bertanya, “Kamu kenapa?”
Marguerite Yourcenar tampaknya tidak memilih ketiganya.
Dalam kutipan yang dibagikan akun @KateriSeraphina dari Sources II (Gallimard, 1999), Yourcenar menawarkan resep yang agak tidak populer untuk menghadapi kekacauan jiwa: belajar.
Bukan scroll. Bukan stalking. Bukan membaca ulang pesan dari seseorang sambil berharap menemukan makna tersembunyi pada tanda baca. Belajar.
Dan ini cukup mengganggu.
Sebab belajar adalah kegiatan yang sering kita anggap penting, tetapi biasanya kita tempatkan di urutan paling bawah setelah makan, tidur, menonton, membalas WhatsApp, dan mencari tahu kehidupan orang yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kehidupan kita.
Yourcenar justru membalik urutan tersebut.
Menurutnya, tubuh boleh menua, malam boleh dipenuhi kegelisahan, cinta bisa pergi, harta bisa hilang, dunia bisa dirusak oleh orang-orang gila, bahkan kehormatan bisa diinjak-injak oleh pikiran yang hina. Dalam keadaan seperti itu, masih ada satu hal yang dapat dilakukan manusia:
Belajar.
Ini terdengar sederhana.
Tetapi kalau dipikir-pikir, agak kejam juga.
Bayangkan seseorang sedang kehilangan kekayaan. Kita bilang, “Sabar.”
Kehilangan cinta? “Sabar.”
Dihina orang? “Sabar.”
Dunia kacau? “Sabar.”
Lalu Yourcenar datang membawa buku:
“Belajar.”
Orang itu mungkin menjawab, “Madame, saya sedang patah hati.”
“Belajar.”
“Saya baru kehilangan pekerjaan.”
“Belajar.”
“Negara sedang kacau.”
“Belajar.”
“Dompet saya kosong.”
“Belajar.”
“Wi-Fi mati.”
Nah, untuk yang terakhir mungkin Yourcenar sendiri akan memahami bahwa itu sudah masuk kategori bencana peradaban.
Tubuh Boleh Tua, Otak Jangan Ikut Pensiun
Ada satu hal menarik dalam gagasan Yourcenar: ia tidak menjanjikan bahwa belajar akan menyelesaikan semua masalah.
Ini penting.
Sebab industri motivasi zaman sekarang sering menjual gagasan seolah-olah semua persoalan hidup dapat diselesaikan dengan tiga langkah, lima afirmasi, tujuh kebiasaan, dan sebuah jurnal yang sampulnya berwarna pastel.
Yourcenar lebih realistis.
Belajar tidak membuat kita kebal terhadap kehilangan.
Belajar tidak mengembalikan orang yang pergi.
Belajar tidak otomatis mengisi rekening.
Belajar juga tidak bisa membuat orang bodoh tiba-tiba sadar bahwa ia bodoh.
Tetapi belajar memberikan sesuatu yang lebih mendasar: kemampuan untuk tetap tumbuh ketika keadaan memaksa kita menyusut.
Tubuh mungkin melemah. Mata mungkin tidak setajam dahulu. Lutut mulai mengeluarkan suara ketika naik tangga, seperti sedang membaca puisi eksperimental. Rambut berubah warna tanpa meminta izin.
Tetapi pikiran masih bisa bergerak.
Inilah salah satu keindahan belajar: umur boleh bertambah, tetapi rasa ingin tahu tidak harus ikut menua.
Ada orang berusia dua puluh tahun yang sudah merasa mengetahui semuanya.
Ada pula orang berusia delapan puluh tahun yang masih bertanya.
Secara biologis, yang kedua mungkin lebih tua.
Secara intelektual, justru yang pertama sudah menjadi fosil.
Ketika Cinta Pergi, Buku Tidak Menanyakan: “Kenapa Kamu Begitu?”
Ada juga sisi yang cukup lucu dari belajar sebagai obat bagi gejolak jiwa.
Ketika seseorang patah hati, biasanya ia mencari teman.
Teman pertama berkata, “Lupakan saja.”
Teman kedua berkata, “Masih banyak yang lain.”
Teman ketiga berkata, “Sudah kubilang dari awal dia begitu.”
Teman keempat tidak berkata apa-apa karena diam-diam sedang membaca profil mantan kita.
Buku berbeda.
Buku tidak menghakimi.
Buku tidak mengatakan, “Aku sudah bilang.”
Buku juga tidak bertanya, “Jadi kalian putus gara-gara apa?”
Ia hanya terbuka ketika kita membukanya.
Mungkin itulah mengapa belajar dapat menjadi semacam terapi spiritual. Ketika hidup menyempit karena satu kehilangan, pengetahuan memperluas kembali cakrawala.
Kita yang semula hanya memikirkan satu orang, mulai memikirkan sejarah manusia.
Kita yang semula hanya menangisi satu kejadian, mulai memahami bahwa manusia sejak zaman dahulu memang punya hobi kehilangan, mencintai, kecewa, berperang, berdamai, lalu mengulangi semuanya.
Ternyata patah hati kita bukan penemuan baru.
Manusia sudah patah hati sejak zaman gua.
Hanya saja manusia gua belum punya fitur last seen.
Dunia Boleh Gila, Jangan Kita Ikut-ikutan
Bagian paling gelap dalam kutipan Yourcenar adalah gambaran tentang dunia yang dapat dihancurkan oleh “orang-orang gila yang berbahaya”.
Kalimat semacam ini terasa sangat relevan di zaman ketika setiap orang memiliki akses ke informasi, opini, propaganda, video pendek, dan tombol share.
Dahulu seseorang yang keliru mungkin hanya bisa berbicara kepada lima orang di warung.
Sekarang ia bisa membuat utas panjang.
Bahkan kalau beruntung, bisa menjadi viral.
Di sinilah belajar menjadi penting.
Belajar bukan sekadar menambah informasi. Sebab informasi tanpa kemampuan berpikir hanya membuat kebodohan memiliki koneksi internet berkecepatan tinggi.
Belajar berarti membangun kemampuan untuk membedakan fakta dari kabar burung, argumen dari kemarahan, pengetahuan dari sekadar kepercayaan diri, dan kebijaksanaan dari kutipan yang ditempelkan di atas foto matahari terbenam.
Kita hidup dalam zaman ketika semua orang dapat berbicara.
Karena itu, kemampuan untuk berpikir sebelum percaya menjadi semakin berharga.
Belajar Bukan Berarti Harus Kuliah Lagi
Untungnya, “belajar” dalam gagasan Yourcenar tidak harus berarti kembali menjadi mahasiswa.
Belajar bisa membaca buku.
Bisa membaca sejarah.
Bisa mempelajari bahasa.
Bisa memahami seni.
Bisa membaca sastra.
Bisa mempelajari agama dan filsafat.
Bisa belajar dari kesalahan.
Bisa mengamati diri sendiri.
Bahkan bisa belajar dari pengalaman yang paling memalukan.
Yang terakhir biasanya paling mahal.
Sebab sekolah memberi kita ujian di atas kertas.
Kehidupan memberi kita ujian tanpa kisi-kisi.
Dan nilai kehidupan kadang baru keluar setelah bertahun-tahun.
Ada orang yang baru memahami arti kesabaran setelah kehilangan sesuatu yang tidak bisa dikembalikan.
Ada yang baru memahami arti keluarga setelah rumah menjadi terlalu sepi.
Ada yang baru memahami pentingnya membaca setelah menyadari bahwa selama bertahun-tahun ia memiliki banyak pendapat tetapi sedikit pengetahuan.
Itulah sekolah kehidupan.
Masalahnya, sekolah ini tidak menyediakan rapor.
Kadang-kadang gurunya juga menyebalkan.
Dan uang sekolahnya bisa sangat mahal.
Belajar sebagai Bentuk Pembangkangan
Karena itu, belajar dapat dilihat bukan hanya sebagai kegiatan intelektual, tetapi sebagai bentuk pembangkangan yang sangat halus.
Ketika dunia mengatakan, “Sudahlah, tidak ada gunanya berpikir,” kita membaca.
Ketika kebencian mengatakan, “Jangan dengarkan pihak lain,” kita belajar.
Ketika propaganda mengatakan, “Percayalah tanpa bertanya,” kita bertanya.
Ketika pengalaman pahit mengatakan, “Tidak ada lagi yang perlu dipahami,” kita mencoba memahami.
Dan ketika hidup berkata, “Kamu sudah terlalu tua untuk berubah,” kita membuka halaman berikutnya.
Belajar adalah cara mengatakan kepada kenyataan:
“Saya mungkin tidak bisa mengendalikan dunia, tetapi saya belum menyerahkan pikiran saya.”
Ini mungkin inti terdalam dari pesan Yourcenar.
Sebab segala sesuatu dapat dirampas.
Uang dapat hilang.
Jabatan dapat hilang.
Popularitas dapat hilang.
Cinta dapat berubah.
Tubuh dapat melemah.
Reputasi dapat dihancurkan.
Bahkan sebuah peradaban dapat mengalami masa-masa gelap.
Tetapi selama manusia masih mampu berpikir, bertanya, membaca, memahami, dan belajar, ia belum sepenuhnya kalah.
Jangan Sampai Usia Bertambah, Tetapi Rasa Ingin Tahu Mati
Kita sering mengira kedewasaan berarti semakin sedikit bertanya.
Padahal mungkin justru sebaliknya.
Semakin banyak pengalaman, semakin kita sadar betapa sedikit yang kita ketahui.
Anak kecil bertanya, “Kenapa langit biru?”
Orang dewasa menjawab, “Sudah, jangan banyak tanya.”
Beberapa puluh tahun kemudian orang dewasa itu membuka media sosial dan menulis lima paragraf tentang politik, ekonomi, filsafat, agama, pendidikan, geopolitik, kecerdasan buatan, dan masa depan umat manusia.
Tanpa membaca satu buku pun.
Di sinilah kita membutuhkan kembali semangat anak kecil tadi.
Bukan karena anak kecil selalu benar, tetapi karena ia masih memiliki satu kemampuan yang sering hilang dari orang dewasa:
keheranan.
Belajar dimulai dari rasa heran.
Dari keberanian mengatakan, “Saya tidak tahu.”
Kalimat yang sederhana tetapi sangat sulit diucapkan oleh orang yang sudah terlalu lama menikmati status sebagai orang yang selalu benar.
Benteng Terakhir
Mungkin itulah sebabnya kutipan Yourcenar terasa kuat.
Ia tidak mengatakan bahwa belajar akan membuat hidup menjadi mudah.
Justru sebaliknya.
Ia mengakui bahwa hidup dapat menjadi sangat buruk.
Tubuh akan berubah.
Orang akan pergi.
Harta dapat lenyap.
Dunia dapat kacau.
Manusia dapat melakukan hal-hal yang mengerikan.
Namun, di tengah semua itu, manusia masih mempunyai satu pekerjaan yang tidak perlu menunggu dunia menjadi baik:
belajar.
Belajar untuk memahami.
Belajar untuk tidak mudah dibohongi.
Belajar untuk mengenali diri.
Belajar untuk menerima bahwa kita bisa keliru.
Belajar untuk melihat penderitaan tanpa kehilangan kemanusiaan.
Dan, mungkin yang paling penting, belajar agar ketika dunia semakin berisik, kita tidak otomatis ikut berteriak.
Pada akhirnya, belajar bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan.
Ia adalah cara menjaga api kecil di dalam diri agar tidak padam.
Sebab mungkin kita memang tidak dapat menyelamatkan seluruh dunia.
Kita juga tidak selalu bisa menyelamatkan rekening bank, hubungan cinta, reputasi, atau rambut dari kebotakan.
Tetapi kita masih bisa membuka sebuah buku.
Masih bisa membaca.
Masih bisa bertanya.
Masih bisa berpikir.
Dan selama itu masih mungkin, dunia belum berhasil mengambil semuanya dari kita.
Jadi kalau malam ini hidup sedang kacau, jangan buru-buru membuat status:
“Aku lelah dengan semuanya.”
Ambil buku.
Baca beberapa halaman.
Kalau masih kacau, baca lagi.
Kalau tetap kacau, mungkin memang masalahnya cukup besar.
Tetapi setidaknya sekarang kita kacau dengan sedikit lebih berpengetahuan.
Dan menurut Marguerite Yourcenar, itu bukan kemenangan kecil.
abah-arul.blogspot.com., September 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
9/27/2026 04:40:00 AM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.