Hidup Dulu, Mati Belakangan: Ketika Kemiskinan Lebih Menakutkan daripada Kematian
Ada kalimat-kalimat yang kalau dibaca sambil minum kopi terasa seperti renungan. Tetapi kalau dibaca setelah melihat saldo rekening, ia berubah menjadi laporan investigasi.
Salah satunya kutipan yang dibagikan akun @Paroles_auteurs, berasal dari Jack London dalam The People of the Abyss:
“Ce qui rend un homme malheureux, ce n’est pas de mourir, ni même de mourir de faim…”
Kurang lebih: yang membuat manusia sengsara bukan kematian, bahkan bukan mati kelaparan. Yang menyiksa adalah hidup dalam kemiskinan tanpa tahu mengapa, bekerja seperti binatang tetapi tidak mendapatkan apa-apa, hati aus, tubuh lelah, sendirian, tanpa teman, dalam sistem laissez-faire yang dingin dan menyeluruh.
Ini bukan kutipan untuk ditempel di dinding ruang tunggu klinik kecantikan.
Ini kutipan yang membuat kita bertanya: sebenarnya kita hidup atau hanya sedang memperpanjang masa berlaku kartu identitas?
Mati Itu Sederhana. Hidup yang Tidak Sederhana.
Kematian, dalam satu hal, memang sangat demokratis.
Orang kaya mati. Orang miskin mati. Bos mati. Buruh mati. Pemilik perusahaan mati. Karyawan yang belum sempat mengajukan cuti juga mati.
Tidak ada sistem antrean khusus.
Tidak ada:
“Maaf, Pak, kematian hanya tersedia untuk pelanggan premium.”
Semua manusia fana. Dalam urusan kematian, dunia akhirnya menjadi egaliter.
Masalahnya justru muncul sebelum itu.
Sebab manusia ternyata tidak hanya takut mati. Manusia juga takut hidup seperti orang yang sebenarnya sudah mati, tetapi masih diwajibkan masuk kantor Senin pagi.
Inilah yang ditunjukkan London melalui pengalaman hidupnya di kawasan kumuh East End London pada awal abad ke-20. Ia tidak sekadar melihat orang miskin sebagai orang yang kekurangan uang. Ia melihat sesuatu yang lebih mengerikan: manusia yang kehilangan tenaga, harapan, relasi, dan martabat.
Dengan kata lain, kemiskinan bukan cuma soal dompet tipis.
Kadang yang lebih tipis adalah harapan.
Bekerja Seperti Binatang, Digaji Seperti Nyamuk
Bagian paling menyakitkan dari kutipan itu adalah gambaran tentang manusia yang bekerja seperti binatang tetapi tidak mendapatkan hasil yang layak.
Kalimat ini terasa sangat kasar.
Tetapi hidup memang kadang punya selera humor yang lebih kasar.
Manusia sekolah bertahun-tahun supaya menjadi “sumber daya manusia”. Setelah bekerja, ia berubah menjadi “aset perusahaan”. Setelah asetnya aus, ia berubah menjadi “mantan karyawan”.
Binatang beban setidaknya kadang diberi makan setelah bekerja.
Manusia modern diberi email:
“Reminder: target bulan ini harus ditingkatkan.”
Lalu ketika mengeluh:
“Kita semua harus keluar dari zona nyaman.”
Kalimat “keluar dari zona nyaman” adalah salah satu penemuan bahasa paling ajaib dalam dunia korporasi.
Gaji tidak cukup?
Keluar dari zona nyaman.
Jam kerja bertambah?
Keluar dari zona nyaman.
Harga kebutuhan naik?
Keluar dari zona nyaman.
Atasan menghubungi pukul 23.47?
Kesempatan untuk berkembang.
Pada titik tertentu kita mulai curiga bahwa “zona nyaman” sebenarnya adalah istilah perusahaan untuk kehidupan manusia yang belum sepenuhnya dieksploitasi.
Laissez-Faire: Silakan Bebas, Silakan Menderita
London menggunakan pengalaman kaum miskin untuk mengkritik logika laissez-faire—gagasan bahwa negara sebaiknya tidak terlalu banyak campur tangan dalam urusan ekonomi.
Secara teori terdengar indah.
Biarkan pasar bekerja.
Biarkan individu berusaha.
Biarkan kompetisi berlangsung.
Biarkan semua orang menentukan nasibnya sendiri.
Masalahnya, ada satu kata yang sering hilang dari slogan tersebut:
“dengan syarat Anda punya modal.”
Pasar memang bebas.
Tetapi orang miskin juga bebas.
Bebas memilih:
makan atau membayar sewa;
berobat atau membayar listrik;
naik transportasi atau membeli makan siang;
bekerja lembur atau kehilangan pekerjaan;
tidur atau menyelesaikan laporan.
Betapa luasnya kebebasan!
Kalau begini caranya, kemiskinan memang demokratis sekali. Semua orang bebas memilih, tetapi sebagian orang hanya diberi pilihan yang berbeda-beda bentuk penderitaannya.
Yang Lebih Menyakitkan daripada Lapar adalah Tidak Tahu Mengapa
Ada satu bagian kutipan yang sangat penting: “tanpa tahu mengapa.”
Kemiskinan memang menyakitkan.
Tetapi lebih menyakitkan lagi jika seseorang miskin dan tidak tahu mengapa hidupnya selalu seperti itu.
Ia bekerja.
Ia bangun pagi.
Ia pulang malam.
Ia membayar tagihan.
Ia bekerja lagi.
Kemudian anaknya tumbuh dan mengalami hal yang sama.
Lalu cucunya.
Akhirnya kemiskinan menjadi semacam tradisi keluarga.
Bukan karena mereka malas, tetapi karena mereka tidak pernah memperoleh kesempatan yang cukup untuk keluar dari lingkaran itu.
Di sinilah kritik London menjadi lebih dalam.
Ia tidak sedang berkata:
“Kasihanilah orang miskin.”
Ia seperti bertanya:
“Mengapa orang yang bekerja keras tetap bisa miskin?”
Pertanyaan ini jauh lebih merepotkan.
Sebab kalau jawabannya hanya “karena dia kurang bekerja keras”, masalah selesai dengan menyuruh semua orang bekerja lebih keras.
Tetapi kalau ternyata ada persoalan struktural, jawabannya menjadi panjang.
Dan manusia modern paling tidak suka jawaban panjang.
Kita lebih suka infografik.
Burnout: Penyakit Zaman yang Bahkan Memiliki Bahasa Inggris
Lebih dari satu abad setelah London menulis The People of the Abyss, kita menemukan istilah baru: burnout.
Dulu orang bilang:
“Saya capek.”
Sekarang:
“Saya mengalami burnout.”
Bahasa Inggris ternyata membuat penderitaan terdengar lebih profesional.
Dulu:
“Saya tidak punya waktu untuk keluarga.”
Sekarang:
“Work-life balance saya terganggu.”
Dulu:
“Saya kesepian.”
Sekarang:
“Saya mengalami social disconnection.”
Dulu:
“Saya tidak tahu tujuan hidup saya.”
Sekarang:
“Saya sedang mencari purpose.”
Masalahnya sama.
Kamusnya saja yang naik kelas.
Dan mungkin inilah salah satu ironi terbesar kehidupan modern: teknologi membuat manusia semakin mudah berhubungan dengan siapa saja, tetapi tidak selalu membuat manusia semakin dekat dengan seseorang.
Kita memiliki ratusan teman di media sosial.
Ribuan pengikut.
Puluhan grup WhatsApp.
Notifikasi tidak pernah sepi.
Tetapi ketika hati benar-benar hancur, kita bingung harus menghubungi siapa.
Kita terhubung kepada internet, tetapi belum tentu terhubung kepada manusia.
Mayat yang Masih Membayar Cicilan
London menggunakan gambaran yang sangat kuat: manusia dapat tetap hidup secara biologis tetapi kehilangan kehidupan sosial dan emosionalnya.
Ia masih makan.
Masih bekerja.
Masih berjalan.
Masih berbicara.
Masih membayar tagihan.
Masih tersenyum ketika ditanya:
“Apa kabar?”
Jawabannya hampir selalu:
“Baik.”
Kata “baik” mungkin adalah salah satu kebohongan sosial yang paling efisien dalam sejarah manusia.
Sebab seseorang bisa berkata “baik” sambil memikirkan:
utang,
pekerjaan,
orang tua,
anak,
pasangan,
masa depan,
biaya sekolah,
harga rumah,
harga beras,
dan pesan dari atasan yang berbunyi:
“Bisa call sebentar?”
Pesan “bisa call sebentar?” adalah kalimat yang secara psikologis mampu membuat jantung bekerja lembur sebelum lembur benar-benar dimulai.
Kapitalisme Tidak Selalu Jahat, tetapi Pasar Tidak Punya Hati
Di sinilah kritik London perlu dibaca dengan hati-hati.
Masalahnya bukan sekadar bahwa “pasar itu jahat”.
Pasar adalah mekanisme.
Ia tidak punya hati, sebagaimana kalkulator tidak punya belas kasihan.
Kalkulator tidak membenci Anda ketika menghitung utang.
Ia hanya menghitung.
Pasar pun demikian.
Ia memberikan harga.
Memberikan insentif.
Mengalokasikan sumber daya.
Tetapi ketika seseorang jatuh miskin, pasar tidak otomatis memeluknya.
Karena pasar bukan ibu.
Maka masyarakat membutuhkan institusi lain: keluarga, komunitas, negara, serikat pekerja, lembaga sosial, dan berbagai bentuk solidaritas.
Sebab kalau seluruh kehidupan manusia diserahkan kepada mekanisme transaksi, lama-lama semua pertanyaan moral berubah menjadi pertanyaan ekonomi:
“Berapa harganya?”
Padahal tidak semua yang penting dalam hidup punya harga.
Persahabatan tidak punya harga.
Martabat tidak punya harga.
Kasih sayang tidak punya harga.
Tidur nyenyak setelah seharian bekerja juga sulit dimasukkan ke spreadsheet.
Kita Tidak Ingin Mati. Kita Hanya Ingin Berhenti Hidup Seperti Ini.
Di sinilah kutipan London terasa sangat modern.
Barangkali sebagian besar manusia tidak benar-benar meminta kehidupan mewah.
Mereka hanya ingin kehidupan yang masuk akal.
Bekerja dan mendapatkan penghasilan yang layak.
Punya waktu untuk keluarga.
Punya teman.
Bisa sakit tanpa langsung bangkrut.
Bisa tua tanpa merasa menjadi beban.
Bisa kehilangan pekerjaan tanpa kehilangan seluruh masa depan.
Bisa pulang ke rumah tanpa membawa seluruh kantor di dalam kepala.
Dengan kata lain, manusia tidak selalu menuntut surga.
Kadang mereka hanya meminta hidup yang tidak terasa seperti hukuman.
Dan itu permintaan yang sangat sederhana.
Kematian Tidak Perlu Kita Takuti Terlalu Cepat
Kematian pasti datang.
Tidak perlu dikejar.
Ia sangat disiplin.
Tidak pernah lupa alamat.
Yang menjadi persoalan adalah apa yang kita lakukan sebelum ia tiba.
Jika semua manusia akhirnya mati, maka pertanyaan moral yang lebih penting bukan:
“Bagaimana agar saya hidup selamanya?”
Melainkan:
“Bagaimana agar selama saya hidup, manusia lain tidak merasa sedang dihukum karena masih hidup?”
Pertanyaan ini membawa kita kembali kepada Jack London.
Ia masuk ke kawasan kumuh bukan untuk menemukan kutipan motivasi.
Ia menemukan manusia.
Manusia yang lapar.
Manusia yang bekerja.
Manusia yang lelah.
Manusia yang tersisih.
Dan manusia yang secara perlahan kehilangan alasan untuk berharap.
Itulah sebabnya kutipan ini terasa lebih tajam daripada sekadar keluhan tentang kemiskinan.
Ia mengatakan kepada kita bahwa ada perbedaan antara hidup dan sekadar tidak mati.
Jantung berdetak belum tentu berarti kehidupan sedang berlangsung dengan layak.
Orang bisa bekerja tanpa merasa hidup.
Bisa kaya tanpa merasa hidup.
Bisa terkenal tanpa merasa hidup.
Bisa memiliki ribuan koneksi digital tanpa memiliki seorang pun yang benar-benar dapat didatangi ketika dunia terasa runtuh.
Maka mungkin tugas peradaban bukan sekadar memperpanjang umur manusia.
Peradaban juga harus berusaha memperpanjang martabat manusia di dalam umur itu.
Sebab mati memang tidak bisa dihindari.
Tetapi hidup secara tidak manusiawi seharusnya tidak dianggap sebagai takdir.
Dan kalau suatu hari malaikat maut datang mengetuk pintu, semoga setidaknya kita bisa berkata:
“Saya belum selesai menikmati hidup.”
Bukan karena takut mati.
Melainkan karena, untuk sekali ini, hidup memang terasa seperti hidup.
abah-arul.blogspot.com., September 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
9/28/2026 03:06:00 PM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.