Jumat, 17 April 2026

Menjadi Pohon yang Rindang (Tapi Bukan Pohon Story): Tentang Seni Menghilang Sebelum Bersinar

Di zaman ketika orang lebih rajin menyiram story daripada menyiram tanaman, muncul sebuah nasihat yang agak “tidak sopan” bagi algoritma: diam dulu, tanam diri, baru tumbuh. Nasihat ini datang dari sebuah video pendek yang durasinya bahkan kalah panjang dari waktu kita memilih filter wajah. Judulnya sederhana: perumpamaan orang yang membentuk diri. Tapi isinya? Lumayan menampar, meski pakai sarung.

Bayangkan sebuah biji. Ia tidak membuat konten “Day 1 ditanam, doakan ya gaes πŸ™”. Ia juga tidak mengeluh, “Kok gelap banget sih di sini, mana sinyal WiFi lagi?” Tidak. Ia diam. Masuk ke tanah. Gelap. Lembap. Sepi. Bahkan mungkin tidak ada yang like. Tapi justru di situlah keajaiban terjadi: akar tumbuh, pelan-pelan, tanpa konferensi pers.

Sementara itu, manusia modern? Baru niat berubah sedikit, langsung bikin thread: “Journey memperbaiki diri (part 1/87)”. Padahal akarnya belum nancep, tapi sudah ingin panen validasi. Akhirnya, baru kena angin komentar sedikit saja, langsung tumbang—bukan karena takdir, tapi karena fondasi masih berupa caption motivasi.

Nah, video itu dengan santainya bilang: kalau mau jadi pohon rindang, ya harus berani jadi biji yang “tidak kelihatan”. Ini jelas kabar buruk bagi yang hidupnya bergantung pada notifikasi. Karena di fase paling penting—fase bertumbuh—tidak ada penonton. Bahkan mungkin tidak ada yang tahu. Kecuali cacing tanah, yang jujur saja, bukan target audiens kita.

Namun justru di situlah letak keindahannya. Pohon yang benar-benar tumbuh dari proses sunyi akan punya akar yang kuat. Ia tidak mudah roboh hanya karena badai komentar, hujan opini, atau angin cancel culture. Ketika sudah besar, ia tidak sibuk memperkenalkan diri: “Hai, aku pohon sukses hasil kerja keras ya!” Tidak. Ia cukup berdiri. Orang-orang datang sendiri. Berteduh. Makan buahnya. Bahkan kadang… melemparinya dengan batu.

Dan di sinilah puncak kedewasaan itu diuji. Pohon yang matang tidak membalas lemparan batu dengan story sindiran. Ia tetap memberi buah. Bayangkan kalau pohon punya akun media sosial—mungkin caption-nya akan berbunyi: “Dilempari batu? Ya sudah, sekalian saya kasih mangga. Semoga sehat 😊.” Ini bukan lemah, ini level sabar yang sudah di-upgrade ke versi premium.

Pesan utama dari perumpamaan ini sebenarnya sederhana, tapi sulit dijalankan: tidak semua proses harus diumumkan, tidak semua pertumbuhan harus ditonton. Ada fase dalam hidup yang memang harus dijalani tanpa tepuk tangan. Tanpa validasi. Tanpa komentar “keren banget kak πŸ”₯”. Karena justru di situlah karakter dibangun, bukan di kolom komentar.

Lucunya, kita sering kebalik. Kita ingin terlihat seperti pohon rindang—bijak, kuat, bermanfaat—tapi ogah menjalani fase jadi biji. Maunya langsung besar, langsung viral, langsung teduh. Padahal, dalam hukum alam (dan mungkin juga hukum kehidupan), tidak ada pohon yang lahir dari viralitas. Semua berawal dari kesediaan untuk “tidak terlihat”.

Tentu saja, bukan berarti kita harus benar-benar menghilang seperti sinyal di pelosok. Menyepi di sini bukan soal fisik, tapi soal fokus. Mengurangi kebisingan, baik dari luar maupun dari dalam kepala sendiri. Karena kadang yang paling berisik itu bukan dunia, tapi ekspektasi kita sendiri yang ingin cepat diakui.

Jadi, kalau hari ini hidup terasa sepi, proses terasa lambat, dan tidak ada yang memperhatikan usaha kita—mungkin itu bukan kegagalan. Mungkin itu tanda bahwa kita sedang ditanam. Dan kabar baiknya: tidak ada biji yang serius tumbuh, lalu gagal jadi pohon… kecuali dia keburu menyerah dan pindah jadi konten motivasi.

Akhirnya, pertanyaannya sederhana tapi agak mengganggu:
kita ini sedang benar-benar menumbuhkan akar, atau cuma sibuk menghias daun plastik agar terlihat rindang

abah-arul.blogspot.com., April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.