Kesombongan yang Pakai Sarung
“Saya sih bukan siapa-siapa…”lalu menunggu orang lain menjawab,“Iya, tapi panjenengan luar biasa.”
Kesombongan jenis kedua ini seperti wifi: tidak kelihatan, tapi semua orang merasakannya.
Kisah Sikat Lantai: Ketika Ego Disapu Pakai Sabun
“Wah, aku ini bijak sekali ya.”
Alarm kesombongan langsung bunyi: ting!
Tanpa menunggu update status, beliau langsung ambil sikat dan berkata dalam hati:
“Kalau ego naik, ya diturunkan… sekalian sama kerak lantai.”
Tiga Jalan Menuju Sombong (Pilih Paket Anda)
Kesombongan itu seperti paket internet. Ada banyak pilihan:
1. Paket Materi: Sombong karena Dunia
Ciri khasnya:
“Saya tidak sombong kok… cuma lebih sukses.”
2. Paket Intelektual: Sombong karena Pintar
Jenis ini sering muncul setelah baca dua buku filsafat dan satu thread Twitter.
Kalimat favorit:
“Sebenarnya kalau dilihat dari perspektif epistemologis…”
Padahal yang dia maksud: “Saya lebih ngerti dari kamu.”
3. Paket Premium: Sombong karena Kebaikan
Nah, ini yang paling licin.
“Kayaknya aku lebih dekat sama Tuhan deh…”
Era Media Sosial: Surga Amal, Neraka Niat
Tahajud → status
Sedekah → reels
Nasihat → thread panjang + emoji 🤲
Tidak salah. Sama sekali tidak salah.
“Ya Allah, terimalah amal ini…”(…dan semoga juga dapat banyak likes.)
Solusi: Menjadi Biasa Itu Luar Biasa
Mau dikritik tanpa langsung bikin klarifikasi 7 halaman
Mau duduk dengan orang yang tidak “mengagumkan” secara sosial
Mau mengakui: “Saya juga masih belajar” (dan benar-benar maksud itu)
Refleksi: Jangan-Jangan Kita Ini Diam-Diam Tokoh Utama
Mari jujur sebentar.
Pernah tidak setelah memberi nasihat, kita merasa:
“Wah, aku ini berguna sekali bagi umat.”
Atau setelah berbuat baik:
“Orang lain kok nggak kayak aku ya?”
Sombong Itu Tidak Pernah Ngaku
Orang sombong tidak pernah bilang:
“Saya sombong.”
Yang ada:
“Saya hanya menyadari kualitas diri.”
Bisa jadi, sikat lantai lebih dekat ke surga daripada status motivasi kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.