Ada dua hal yang paling menyebalkan di dunia modern: sinyal hilang saat kirim SMS, dan doa yang terasa “centang satu” terus di langit. Bedanya, yang satu bisa kita maki provider, yang satu lagi… kita malah kadang berani-beraninya nyalahin Tuhan. Padahal, kalau mau jujur, mungkin masalahnya bukan di “atas sana”, tapi di “ponsel” kita sendiri—yang kadang lebih sering lowbat iman daripada lowbat baterai.
Tulisan yang kita bahas ini cerdas sekaligus nyeletuk. Ia mengambil pengalaman paling membumi: SMS gagal terkirim. Kita semua pernah mengalaminya. Sudah ngetik panjang-panjang—bahkan mungkin pakai perasaan—eh, yang muncul malah tulisan menyakitkan: “gagal mengirim.” Langsung panik. Cek sinyal: nihil. Cek pulsa: kosong. Cek baterai: tinggal 2%, itu pun warna merahnya lebih galak dari dosen killer.
Lalu, penulis dengan santai tapi menusuk mulai “mengislamkan” teknologi ini. Katanya, kalau mau doa kita “terkirim”, syaratnya mirip-mirip SMS juga. Ponsel itu adalah diri kita sendiri. Kalau “mesin”-nya rusak karena maksiat, ya jangan heran kalau doa jadi error. Kartu SIM itu ibarat koneksi kita kepada Allah—yang, tentu saja, harus sesuai “provider resmi”, bukan SIM abal-abal hasil roaming ke dukun sebelah.
Pulsa? Nah ini yang sering bikin malu. Pulsa diibaratkan sebagai amal ibadah. Masalahnya, kita ini sering ingin kirim doa panjang—bahkan paket unlimited permintaan—tapi pulsanya versi “missed call doang”. Salat kadang bolong, sedekah nunggu diskon, tapi doa pengennya langsung tembus langit tujuh lapis. Ini bukan paket hemat, ini paket nekat.
Sinyal? Itu kualitas hubungan kita dengan Allah. Kadang kita merasa dekat, tapi sebenarnya lagi di “basement spiritual”. Mau kirim doa, tapi sinyalnya E alias Edge—itu pun putus-nyambung. Dan baterai? Ya iman dan takwa. Kalau iman tinggal 3%, jangan harap bisa streaming doa panjang-panjang tanpa nge-lag.
Bagian paling “jahat tapi jujur” dari tulisan ini adalah uji cobanya. Penulis menyarankan: coba doakan orang yang masih hidup, yang lagi sakit ringan. Kalau perlu, yang lagi di sebelah kita. Lalu lihat hasilnya. Kalau tidak ada perubahan, mungkin bukan karena Tuhan tidak mendengar, tapi karena “HP kita” lagi dalam mode pesawat—alias putus total dari koneksi langit.
Di sinilah kita mulai merasa sedikit tersindir. Selama ini kita sering mengira doa itu seperti tombol send di aplikasi chat: sekali klik, langsung terkirim, centang dua, bahkan biru. Padahal, ternyata doa lebih mirip SMS zaman dulu—banyak syaratnya, dan seringkali kita lupa isi pulsanya.
Namun, di balik kelucuannya, analogi ini sebenarnya sedang menampar dengan halus. Ia bilang: “Jangan-jangan yang bermasalah bukan langitnya, tapi kamu yang belum upgrade sistem.” Ini dakwah gaya baru—tidak pakai mimbar tinggi, tapi pakai ilustrasi yang bikin kita mikir sambil senyum kecut.
Tapi tentu saja, analogi ini tidak sempurna. Tuhan bukan operator seluler yang kalau sinyal hilang langsung angkat tangan. Dalam spiritualitas, doa tidak selalu “gagal terkirim”. Kadang justru terkirim, tapi dibalas dengan cara yang berbeda: ditunda, diganti, atau bahkan diam-diam dijawab dalam bentuk yang lebih baik. Bedanya dengan SMS, di sini tidak ada istilah message failed—yang ada hanya message misunderstood by the sender.
Dan soal “pulsa amal”, ini juga perlu hati-hati. Jangan sampai kita mengira hubungan dengan Tuhan seperti beli paket data: siapa bayar lebih, dapat sinyal lebih kencang. Tidak sesederhana itu. Kadang justru orang yang “pulsanya tipis” tapi hatinya tulus, lebih cepat tersambung daripada yang paketnya mahal tapi penuh spam riya.
Namun tetap saja, satu pesan dari tulisan ini sulit dibantah: sebelum protes ke langit, coba cek dulu perangkat sendiri. Jangan-jangan kita sedang kirim doa pakai “HP kayu”—kelihatannya bentuknya ada, tapi isinya kosong. Bunyinya pun bukan doa, tapi cuma “tulalit… tulalit…” yang bahkan kita sendiri tidak paham maksudnya.
Akhirnya, kita sampai pada kesimpulan sederhana tapi menohok: doa bukan sekadar soal menekan tombol kirim, tapi soal merawat perangkat setiap hari. Membersihkan hati, mengisi ulang iman, memperbaiki sinyal hubungan, dan—yang paling berat—jujur pada diri sendiri bahwa kadang kita ingin hasil instan tanpa proses.
Karena pada akhirnya, bukan Tuhan yang sulit dihubungi. Kita saja yang sering lupa menghidupkan ponsel batin kita.
abah-arul.blogspot.com., April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.