Di zaman ketika seseorang bisa belajar Vladimir Arnold hanya dengan satu klik—dan juga bisa lupa siapa itu Vladimir Arnold setelah dua swipe—kita dihadapkan pada ironi yang agak lucu: pengetahuan semakin mudah diakses, tapi semakin jarang dicerna.
Sebuah unggahan dari @natbes menghidupkan kembali gagasan provokatif: jangan-jangan pendidikan yang dangkal ini bukan kecelakaan, tapi strategi. Katanya, kalau semua orang terlalu pintar, ekonomi bisa batuk-batuk. Bayangkan saja, jika semua orang sibuk menikmati Wolfgang Amadeus Mozart, merenungi lukisan Vincent van Gogh, atau membaca William Shakespeare, siapa yang masih sempat tergoda beli blender baru hanya karena warnanya “sage green limited edition”?
Konsumen Ideal: Tidak Terlalu Pintar, Tidak Terlalu Bertanya
Dalam logika ini, konsumen terbaik adalah yang cukup tahu cara belanja, tapi tidak cukup kritis untuk bertanya: “Apakah saya benar-benar butuh ini, atau saya hanya butuh validasi dari algoritma?”
Kalau semua orang jadi filsuf, ekonomi bisa berubah drastis. Diskon 70% tidak lagi menggoda, karena yang didiskon bukan harga, tapi ketenangan batin. Iklan tidak lagi efektif, karena audiens sibuk mempertanyakan eksistensi diri, bukan eksistensi produk.
Dengan kata lain, kapitalisme modern tampaknya lebih nyaman dengan manusia yang bisa menghitung cicilan, tapi tidak terlalu rajin menghitung makna hidup.
Tapi Tunggu—Apakah Ini Konspirasi?
Di titik ini, teori Arnold terdengar seperti plot film: sekelompok elit berkumpul di ruang gelap, sambil berkata, “Mari kita buat kurikulum yang membosankan agar orang lebih suka belanja daripada berpikir.”
Sayangnya (atau untungnya), realitas tidak se-dramatis itu.
Pendidikan yang dangkal sering kali bukan hasil rencana jahat, melainkan hasil kompromi panjang: anggaran terbatas, kurikulum tambal sulam, dan fakta sederhana bahwa TikTok berdurasi 30 detik jauh lebih menggoda daripada buku 300 halaman.
Jadi mungkin bukan ada yang sengaja membodohi kita. Mungkin kita hanya lebih memilih yang mudah.
Mesin Cuci vs Shakespeare: Duel yang Tidak Perlu
Arnold seolah mengajak kita memilih: mau jadi penikmat budaya tinggi atau pembeli barang konsumsi?
Padahal, dalam kehidupan nyata, seseorang bisa saja membeli mesin cuci dan membaca Shakespeare. Bahkan, mesin cuci itu justru memberi waktu luang untuk membaca.
Masalahnya bukan pada barangnya, tapi pada apakah setelah mesin selesai mencuci, kita membuka buku… atau membuka aplikasi belanja lagi.
Pendidikan Tinggi, Konsumsi Tinggi
Ironi lain: orang-orang dengan pendidikan tinggi justru sering jadi konsumen paling “niat”. Mereka tidak membeli barang biasa—mereka membeli pengalaman. Bukan sekadar kopi, tapi “single origin ethically sourced coffee dengan notes citrus dan trauma masa kecil.”
Jadi jelas, hubungan antara pendidikan dan konsumsi tidak sesederhana yang dibayangkan Arnold. Orang pintar tetap bisa boros—hanya saja dengan alasan yang lebih filosofis.
Antara Kedalaman dan Keranjang Belanja
Gagasan bahwa pendidikan sengaja dibuat dangkal memang terdengar menggoda—seperti teori konspirasi yang kebetulan terasa masuk akal saat kita sedang lelah berpikir.
ketika kita punya waktu luang, kita memilih apa—membaca, berpikir, atau menambah isi keranjang?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.