Minggu, 12 April 2026

Kereta Kehidupan: Antara Tiket Sekali Jalan dan Penumpang yang Suka Hilang Tanpa Pamit

Kalau hidup ini benar-benar kereta seperti kata Jean d'Ormesson, maka jujur saja: kita semua ini penumpang kelas ekonomi rasa eksekutif—bayar mahal secara emosional, tapi tetap saja kadang berdiri karena kursinya diambil orang lain sejak kecil (biasanya kakak).

Naik Tanpa Tiket, Turun Tanpa Notifikasi

Kita semua “naik” ke kereta ini tanpa beli tiket. Tiba-tiba saja sudah duduk, masih pakai popok, dan di sebelah kita ada dua manusia yang kita panggil “orang tua.” Waktu itu kita polos sekali, mengira mereka adalah penumpang VIP yang tidak akan pernah turun.

Sampai suatu hari, hidup memberi pengumuman tanpa pengeras suara:
"Penumpang tercinta Anda akan turun di stasiun berikutnya."

Dan kita cuma bisa bengong, sambil berpikir: “Lho, kok nggak ada delay? Kok nggak bisa refund?”

Penumpang Silih Berganti: Ada yang Setia, Ada yang Ghosting

Masuklah fase kedua: kereta makin ramai. Ada teman, sahabat, gebetan, mantan, dan satu-dua orang yang kita sendiri lupa siapa tapi pernah curhat panjang di jam 2 pagi.

Masalahnya, tidak semua penumpang punya etika perkeretaapian.

  • Ada yang turun sambil drama, lengkap dengan air mata dan soundtrack galau.
  • Ada yang turun diam-diam—tahu-tahu kursinya kosong, seperti chat yang cuma dibaca tanpa dibalas.
  • Ada juga yang masih duduk, tapi secara emosional sudah turun sejak dua tahun lalu.

Hidup ini ternyata bukan hanya soal siapa yang naik, tapi siapa yang tidak tiba-tiba menghilang tanpa pamit seperti sinyal WiFi di tengah Zoom meeting.

Stasiun Misterius: Kita Tidak Tahu Kapan Dipanggil

Inilah bagian paling “menyenangkan”: kita tidak tahu kapan giliran kita turun.

Tidak ada notifikasi. Tidak ada countdown. Tidak ada pesan, “5 menit lagi Anda akan tiba di tujuan, silakan bersiap.”

Yang ada justru kebalikannya: kita sibuk cari colokan, pesan kopi, debat politik, atau overthinking masa depan—padahal bisa jadi kondektur kehidupan sudah berdiri di belakang kita sambil berkata pelan,
"Mas, ini stasiunnya."

Filosofi Bahagia: Ternyata Bukan Soal Kursi, Tapi Cara Duduk

Di sinilah Jean d'Ormesson memberi twist yang agak “nyeleneh tapi dalam”:
kita mungkin tidak bisa memilih keretanya, tidak bisa menentukan siapa yang naik atau turun… tapi kita bisa memilih sikap.

Bahagia itu bukan karena kita duduk di kursi paling nyaman, tapi karena kita berhenti protes tentang kursi dan mulai menikmati perjalanan.

Ini semacam versi dewasa dari:

“Ya sudah, nikmati saja.”

Tapi dengan tambahan bumbu eksistensial:

“Nikmati saja, karena semua ini akan berakhir tanpa kita tahu kapan.”

Kritik Halus: Jangan-jangan Kita Terlalu Pasrah?

Namun, ada satu masalah kecil.

Kalau terlalu menghayati metafora ini, kita bisa berubah jadi penumpang pasif:
duduk manis, lihat keluar jendela, lalu berkata,
"Ya memang sudah takdir relnya begini."

Padahal kadang hidup butuh sedikit “pindah gerbong”, sedikit keberanian untuk bilang:

“Mas, ini kursi saya dari tadi.”

Artinya, meski kita penumpang, bukan berarti kita tidak boleh mengatur posisi duduk, membuka percakapan, atau sesekali menolak duduk di sebelah orang yang hobi mengeluh tanpa jeda.

Relevansi Zaman Sekarang: Kereta Digital dan Budaya “Unfollow”

Di era sekarang, kereta kehidupan punya fitur baru: tombol unfollow.

Tidak suka? Tinggal geser.
Tidak nyaman? Tinggal mute.
Tidak sejalan? Tinggal blok.

Masalahnya, kita jadi lupa bahwa dalam kehidupan nyata, tidak semua penumpang bisa dihapus dengan satu klik. Ada hubungan yang harus diperbaiki, bukan di-archive.

D'Ormesson seperti ingin berbisik:

“Jangan cepat-cepat menurunkan orang. Bisa jadi dia cuma salah duduk, bukan salah orang.”

Jangan Lupa Menyapa Penumpang Sebelah

Akhirnya, kita semua akan turun. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Tanpa bisa nego.

Jadi sebelum kondektur kosmik itu menepuk bahu kita, mungkin ada baiknya kita melakukan hal-hal sederhana:

  • Menyapa penumpang di sebelah.
  • Tidak terlalu pelit senyum.
  • Memaafkan yang pernah menginjak kaki kita (secara literal maupun emosional).
  • Dan sesekali berkata dalam hati:
    “Lumayan juga perjalanan ini.”

Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang sampai di mana, tapi tentang siapa saja yang sempat duduk bersama kita—meski hanya satu atau dua stasiun.

Dan kalau nanti giliran kita turun, semoga kita bisa berkata dengan santai, tanpa drama berlebihan:

“Terima kasih ya, sudah satu gerbong. Maaf kalau sempat rebutan sandaran tangan.”

abah-arrul.blogspot.com., April 2026

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.