Kalau hidup ini benar-benar kereta seperti kata Jean d'Ormesson, maka jujur saja: kita semua ini penumpang kelas ekonomi rasa eksekutif—bayar mahal secara emosional, tapi tetap saja kadang berdiri karena kursinya diambil orang lain sejak kecil (biasanya kakak).
Naik Tanpa Tiket, Turun Tanpa Notifikasi
Kita semua “naik” ke kereta ini tanpa beli tiket. Tiba-tiba
saja sudah duduk, masih pakai popok, dan di sebelah kita ada dua manusia yang
kita panggil “orang tua.” Waktu itu kita polos sekali, mengira mereka adalah
penumpang VIP yang tidak akan pernah turun.
Dan kita cuma bisa bengong, sambil berpikir: “Lho, kok
nggak ada delay? Kok nggak bisa refund?”
Penumpang Silih Berganti: Ada yang Setia, Ada yang
Ghosting
Masuklah fase kedua: kereta makin ramai. Ada teman, sahabat,
gebetan, mantan, dan satu-dua orang yang kita sendiri lupa siapa tapi pernah
curhat panjang di jam 2 pagi.
Masalahnya, tidak semua penumpang punya etika
perkeretaapian.
- Ada
yang turun sambil drama, lengkap dengan air mata dan soundtrack galau.
- Ada
yang turun diam-diam—tahu-tahu kursinya kosong, seperti chat yang cuma
dibaca tanpa dibalas.
- Ada
juga yang masih duduk, tapi secara emosional sudah turun sejak dua tahun
lalu.
Hidup ini ternyata bukan hanya soal siapa yang naik, tapi
siapa yang tidak tiba-tiba menghilang tanpa pamit seperti sinyal WiFi di tengah
Zoom meeting.
Stasiun Misterius: Kita Tidak Tahu Kapan Dipanggil
Inilah bagian paling “menyenangkan”: kita tidak tahu kapan
giliran kita turun.
Tidak ada notifikasi. Tidak ada countdown. Tidak ada pesan,
“5 menit lagi Anda akan tiba di tujuan, silakan bersiap.”
Filosofi Bahagia: Ternyata Bukan Soal Kursi, Tapi Cara
Duduk
Bahagia itu bukan karena kita duduk di kursi paling nyaman,
tapi karena kita berhenti protes tentang kursi dan mulai menikmati perjalanan.
Ini semacam versi dewasa dari:
“Ya sudah, nikmati saja.”
Tapi dengan tambahan bumbu eksistensial:
“Nikmati saja, karena semua ini akan berakhir tanpa kita
tahu kapan.”
Kritik Halus: Jangan-jangan Kita Terlalu Pasrah?
Namun, ada satu masalah kecil.
Padahal kadang hidup butuh sedikit “pindah gerbong”, sedikit
keberanian untuk bilang:
“Mas, ini kursi saya dari tadi.”
Artinya, meski kita penumpang, bukan berarti kita tidak
boleh mengatur posisi duduk, membuka percakapan, atau sesekali menolak duduk di
sebelah orang yang hobi mengeluh tanpa jeda.
Relevansi Zaman Sekarang: Kereta Digital dan Budaya
“Unfollow”
Di era sekarang, kereta kehidupan punya fitur baru: tombol unfollow.
Masalahnya, kita jadi lupa bahwa dalam kehidupan nyata,
tidak semua penumpang bisa dihapus dengan satu klik. Ada hubungan yang harus
diperbaiki, bukan di-archive.
D'Ormesson seperti ingin berbisik:
“Jangan cepat-cepat menurunkan orang. Bisa jadi dia cuma
salah duduk, bukan salah orang.”
Jangan Lupa Menyapa Penumpang Sebelah
Akhirnya, kita semua akan turun. Mau tidak mau. Suka tidak
suka. Tanpa bisa nego.
Jadi sebelum kondektur kosmik itu menepuk bahu kita, mungkin
ada baiknya kita melakukan hal-hal sederhana:
- Menyapa
penumpang di sebelah.
- Tidak
terlalu pelit senyum.
- Memaafkan
yang pernah menginjak kaki kita (secara literal maupun emosional).
- Dan sesekali berkata dalam hati:“Lumayan juga perjalanan ini.”
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang sampai di
mana, tapi tentang siapa saja yang sempat duduk bersama kita—meski hanya satu
atau dua stasiun.
Dan kalau nanti giliran kita turun, semoga kita bisa berkata
dengan santai, tanpa drama berlebihan:
“Terima kasih ya, sudah satu gerbong. Maaf kalau sempat
rebutan sandaran tangan.”
abah-arrul.blogspot.com., April 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.